
Devan memarkirkan mobilnya di parkiran depan di gedung apartemennya, agar nanti lebih cepat membawa Yocelyn keluar. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Devan berjalan cepat ke apartemen miliknya di lantai 30. Dengan buru - buru Devan mengganti bajunya.
"Matikan CCTV lantai 30, 20, lobby, depan lobby juga parkiran mobilku!" ucap Devan melalui panggilan seluler.
"Siap, Tuan!" jawaban dari sebrang.
Devan mengakhiri panggilan ponselnya, lalu keluar dari apartemennya. Tak butuh waktu lama bagi Devan untuk sampai di apartemen Yocelyn.
Ting!
Devan menekan bel apartemen Yocelyn, tak perlu menunggu lama untuk Yocelyn membuka pintu. Karena dia sudah menunggu Devan di ruang tamu.
Wew! cantik! batin Devan.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Devan yang masih berdiri di depan pintu.
"Sudah?"
"Sarapan di sini!" jawab yocelyn, "pesan dengan cara yang seperti perintah kamu!" lanjutnya.
"Bagus!" jawab Devan mentoel hidung Yocelyn.
"Kamu pakai ini!" Devan menyerahkan masker.
"Untuk apa?"
"Bagaimana kalau ada yang mengenali mu?"
"Hehe! oke!" Yocelyn menerima masker yang di serahkan Devan.
Dengan segera Charla memakainya. Devan meraih tangan Yocelyn keluar dari apartemen Yocelyn, lalu mengunci apartemen Yocelyn.
Mereka bergandengan keluar dari lobby apartemen dan langsung menuju tempat Devan memarkirkan mobilnya. Devan membukakan pintu untuk Yocelyn. Dengan buru - buru Yocelyn masuk ke dalam mobil Devan.
Karena sedari tadi banyak mata melihat ke arah mereka. Sebagian besar penghuni apartemen mengenal sosok Devan sang casanova. Sehingga mereka pasti melirik siapa gadis yang bersamanya. Dan karena itu juga Devan menutupi wajah Yocelyn. Devan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran di halaman apartemennya.
"Finally!" seru Yocelyn girang melihat keramaian kota London di jam pagi menjelang siang itu.
"Akhirnya apa?" tanya Devan penasaran.
"Keluar dari apartemen tanpa di kawal dan di ikuti Erina!" jawab Yocelyn.
"Owh!" Devan mengangguk sambil terus fokus pada jalanan di depannya.
"Kita mau kemana?" tanya Yocelyn antusias.
"Kamu maunya kemana?"
"Terserah kamu mau membawaku kemana?"
"Ke hotel bagaimana?" tanya Devan bercanda.
"Ke hotel? ngapain?" tanya Yocelyn dengan polosnya. "Keluar apartemen hanya untuk pindah ke hotel?" tanya Yocelyn.
"Hahahaha!" Devan tertawa sambil menggelengkan kepalanya, tak sanggup menahan gemas dengan kepolosan Yocelyn.
"Kenapa tertawa?"
"Menurutmu kalau laki - laki dan perempuan datang ke hotel untuk apa?" tanya Devan.
"Menginap lah!" sahut Yocelyn, "hotel kan tempat orang untuk menginap!" lanjutnya. "Kita sudah punya tempat tinggal di sini, untuk apa menginap di hotel!"
"Hahahaha!" Devan kembali tertawa mendengar jawaban Yocelyn.
"Kenapa kamu tertawa lagi?" tanya Yocelyn menatap Devan yang masih tergelak. "Aku bukan anak kecil! dan pertanyaan mu itu sangat bodoh untuk di tanyakan pada Mahasiswi seperti ku!"
"Hahaha!" Devan semakin terbahak - bahak mendengar kalimat yang di ucapkan Yocelyn.
"Devan!" pekik Yocelyn memukul lengan Devan yang menyetir.
Devan menoleh pada Yocelyn dan mengusap puncak kepala Yocelyn dengan gemas.
"Devan! nanti rambutku berantakan!" ucap Yocelyn menyingkirkan tangan Devan.
"Kamu benar - benar menggemaskan! jadi aku tidak sanggup menahan rasa ingin tertawaku!" ucap Devan.
"Gemas kok di ketawai!"
"Lalu harus aku apakan?" tanya Devan menghardik Yocelyn.
Yocelyn spontan menjadi bingung dengan pertanyaan Devan.
"Setahuku jika aku gemas dengan seorang bayi, maka aku akan mencubit pipinya atau mencium pipinya yang gembul!" ucap Yocelyn mencubit pipinya sendiri.
"Ooh! baiklah!" jawab Devan sambil menepikan mobilnya.
"Eh, kenapa berhenti di sini?" tanya Yocelyn mengamati sekitar yang tidak menunjukkan tempat wisata.
Devan melepas sabuk pengamannya, dan mendekatkan wajahnya pada Yocelyn, dengan menyandarkan satu lengannya pada sandaran bangku Yocelyn, satu tangannya lagi pada bagian depan mobil. Yocelyn yang semula melihat arah jendela, langsung kaget oleh ulah Devan yang tiba - tiba membuat jarak wajah mereka semakin dekat.
__ADS_1
"Devan? kenapa kamu begini?" tanya Yocelyn tiba - tiba gugup.
"Karena aku gemas!" jawab Devan dengan senyum menawannya.
Ya Tuhan tampan sekali makhluk ciptaan - Mu ini! ucap Yocelyn dalam hati.
"Lalu?" tanya Yocelyn.
"Jadi aku ingin mencubit pipi mu!" ucap Devan mencubit pipi Yocelyn.
"Au!" pekik Yocelyn yang kaget karena cubitan Devan. "Sakit Devan!" ucap Yocelyn memukul pelan pundak Devan.
Devan hanya tersenyum menanggapi pukulan Yocelyn yang semakin membuatnya gemas.
"Kalau begitu yang tidak sakit!" ucap Devan.
"Maksudnya?" tanya Yocelyn.
Cup!
Devan mencium singkat pipi kiri Yocelyn. Spontan tubuh Yocelyn serasa membeku. Dia menatap jalanan di depan tanpa gerakan sedikitpun, hanya mulutnya yang sedikit terbuka. Pikirannya entah kemana perginya, matanya seolah menatap kosong ke depan. Tubuhnya bagai tak mampu bergerak.
Devan menggoyangkan tangannya di depan wajah Yocelyn, menyadari Yocelyn yang terlihat aneh.
"Yossy?" panggil Devan lirih di telinga Yocelyn. Tapi Yocelyn tak merespon sedikitpun, tubuhnya tetap tak bergerak.
"Yossy?" panggil Devan lagi. "Kamu kenapa?"
"Baru kali ini ada yang mencium pipi ku selain Papa, Mama dan Kakak ku!" jawab Yocelyn yang masih terlihat seperti orang kikuk.
"Hah!" pekik Devan mengerutkan keningnya.
"Kamu orang asing pertama yang mencuri pipi ku!" ucap Yocelyn menoleh pada Devan.
"Serius?"
"Iya!" jawab Yocelyn.
"Maafkan aku, Yossy!" ucap Devan salah tingkah. "Aku pikir kehidupan di kita ini adalah wajar mencium pipi orang lain!" jelas Devan. "Apa kamu marah?" tanya Devan yang mendadak terlihat panik.
Yocelyn menatap wajah Devan intens. Dia sulit mengartikan tatapannya pada Devan. Sementara Devan semakin bingung dengan Yocelyn yang terlihat aneh.
"Aku tidak menyesal!" ucap Yocelyn yang ekspresinya langsung berubah menjadi sumringah.
"Hah!"
Cup!
"Kita impas!" ucap Yocelyn dengan polosnya.
Devan menatap Yocelyn dengan mengerutkan keningnya. Terheran - heran dengan tingkah Yocelyn yang aneh tapi sangat menggemaskan di matanya.
Sesaat kemudian Devan tergelak sambil menggelengkan kepalanya pelan menatap Yocelyn yang senyum - senyum tidak jelas.
Devan kembali memperbaiki posisi duduknya, dan kembali memasang seat belt nya. Pandangan kembali fokus ke depan. Perlahan Devan kembali menginjak gas dan melepas kopling secara perlahan pula.
"Hari ini aku akan menjadi kan kamu Tuan Puteri!" ucap Devan di sela - sela menyetirnya. "Aku akan membawamu jalan - jalan sampai kamu puas!"
"Serius?" tanya Yocelyn yang di angguki Devan. "Yes!" Yocelyn menarik kepalan tangan ke bawah.
"Pertama aku akan membawa mu ke Kebun Binatang London! Kebun Binatang tertua di dunia!"
"Hah? apa iya tertua?" tanya Yocelyn heran.
"Hemm!" Devan mengangguk, "Lalu kita akan ke London Eye! terkahir kita pergi ke Taman Hyde!"
"Waaah! pasti akan seru!" ucap Yocelyn bertepuk tangan kecil.
"Semoga kamu suka!" ucap Devan.
"Pastilah!" sahut Yocelyn tanpa ragu.
Devan melirik Yocelyn di sampingnya, kemudian senyum kecil terbit dari bibir manisnya.
Devan memarkirkan mobilnya di parkiran kebun binatang London. Devan keluar lebih dulu lalu membuka pintu untuk Yocelyn. Tak lupa Yocelyn kembali memakai maskernya.
Mereka berjalan memasuki area kebun binatang setelah membeli dua karcis. Yocelyn tampak sangat antusias, berlibur di akhir pekan bersama Devan.
Sepanjang perjalanan tak sedikitpun Devan melepas genggaman tangan mereka. Yocelyn tak sedikit pun curiga dengan genggaman tangan Devan. Dia hanya berfikir agar mereka tidak sampai berpencar. Dia pun tak menghiraukan tatapan orang di sekitarnya, yang mungkin saja mengenal Tuan Devan.
Devan pun tampak cuek dengan tatapan orang - orang di sekitarnya. Dia justru terlihat sangat natural bertingkah laku bersama Yocelyn.
"Lihat Jerapah itu!" ucap Yocelyn.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Aku bisa melihatnya secara langsung!" ucap Yocelyn bergelayut manja di lengan Devan.
"What!" pekik Devan bingung. "Ada ya manusia tidak pernah melihat Jerapah secara langsung.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berlibur di tempat umum seperti ini!" jawab Yocelyn, "biasanya Papa akan membawaku berlibur di pulau pribadi, dimana orang - orang yang aku lihat tetap itu - itu saja!"
"Hehe!" Devan tersenyum heran dengan aturan orang tua Yocelyn. "Kalau begitu tetaplah bersama ku, aku akan membawa mu keliling dunia!" ucap Devan memasang wajah serius.
"Beneran?" Yocelyn tersenyum tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iyaaa!" jawab Devan mencubit pipi Yocelyn dengan gemas.
"Devan!" celetuk Yocelyn menyentuh pipinya dengan telapak tangannya.
Devan tersenyum melihat bibir Yocelyn yang manyun.
"Mau minum dulu?" tawar Devan.
"Boleh!"
Devan membawa Yocelyn menghampiri stand minuman, dan memesan dua minuman untuk mereka. Mereka duduk di bawah payung besar, di depan stand itu.
"Minum!" perintah Devan.
"Siap, Kakak!"
Kakak! kenapa dia selalu memanggilku Kakak! batin Devan menatap Yocelyn yang tengah meminum orange juice.
"Boleh aku bertanya?" tanya Devan.
"Apa?"
"Kenapa kamu sering sekali memanggilku Kakak?"
"Karena kamu baik! dan kamu laki - laki sama seperti Kakak laki - laki ku yang baik!"
"Tapi aku orang asing bukan?"
"Iya! tapi tetap saja kami baik!"
"Apa kamu tidak pernah merasa menyukai ku?" tanya Devan.
"Menyukai?" tanya Yocelyn mengerutkan keningnya.
"Lupakan!" pungkas Devan dengan senyum kecil di bibirnya.
Dia benar - benar polos atau bodoh sih! kenapa aku jadi gemas sendiri! ucap Devan dalam hati menatap wajah polos Yocelyn.
"Lanjut lagi?" tanya Devan menengadahkan tangan pada Yocelyn.
"Tentu!" jawab Yocelyn.
Mereka berjalan - jalan, sampai kaki Yocelyn terasa lelah.
"Istirahat dong!" ucap Yocelyn. "Kaki ku capek!"
"Baiklah, sekalian kita makan siang di sana!" ucap Devan menunjuk stand makanan.
"Hemm!" Yocelyn mengangguk setuju.
Jam Dua siang, mereka keluar dari area Kebun Binatang.
"Sekarang kita London Eye!" ucap Devan di tengah melajukan mobil sportnya.
"Siap!" ucap Yocelyn. "Aku tidak sabar melihat kota London dari ketinggian!"
Beberapa saat berlalu, kini mereka sudah di dalam kapsul London Eye. Hati Yocelyn bak di taburi bunga mawar yang merekah.
"Waah! ini benar - benar menakjubkan!" ucap Yocelyn.
"Kamu suka?" tanya Devan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Yocelyn.
"Suka!" jawab Yocelyn dengan senyum bahagianya.
"Sungai Themes terlihat sangat jelas dari atas!" seru Yocelyn lagi.
Devan tersenyum melihat bahagianya wajah Yocelyn.
Selamat membaca 🤩
Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Dukungannya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.