
Beberapa saat kemudian, Yocelyn sudah berada di kamar rawat. Devan, Charla dan Erina menyusul ke ruang rawat VVIP yang di minta Devan. Hanya saja Charla dan Erina duduk di luar. Sedang Devan menemani istrinya masih di bawah pengaruh obat bius total.
"Kemana saja kau selama ini?"
"Di kota ini lah!"
"Kau yakin akan meninggalkan London?" tanya Erina pada Charla yang duduk berjarak dua kursi darinya.
"Iyalah!"
"Bukankah Papa mu di sini?"
"Iya!" jawab Charla, "aku bosan tinggal bersama orang tua ku! kau tau kan mereka sudah punya anak dari pasangan baru mereka. Dan aku terbuang begitu saja!"
"Mereka pasti tidak bermaksud membuang mu!"
"Tetap saja intinya seperti itu! lebih baik aku tinggal bersama Opa dan Oma! hanya mereka yang sering menanyakan kabarku!" jawab Charla.
"Kenapa kamu tidak menikah?"
"Entahlah, aku tidak pernah jatuh cinta!"
"Lalu perasaan mu pada Tuan Devan?"
"Aku memang mencintainya, tapi setelah melihat Devan benar - benar berubah dan takluk oleh Yocelyn, perasaan itu memudar begitu saja!" ucap Charla.
"Kok bisa?" tanya Erina.
"Entahlah, aku merasa Yocelyn memang pantang memenangkan Devan di banding aku!" jelas Charla.
"Dulu aku pikir masa lalu Tuan Devan sangat tidak pantas untuk Nona, tapi setelah melihat hubungan mereka yang begitu harmonis, saling melengkapi dan Tuan begitu lembut pada Nona, jadi aku merasa mereka memang jodoh!"
"Aku rasa juga begitu!" sahut Charla.
"Kau benar sudah ikhlas?"
"Kalau aku tidak ikhlas, aku tidak akan memberikan darah ku untuk Yocelyn!" ucap Charla. "Aku ingin Yocelyn selamat, dan kembali memberi kebahagiaan untuk Devan. Dan aku bisa meninggalkan kota ini dengan tenang"
"Terima kasih, Charla!" ucap Erina, "maaf atas sikapku selama ini!"
"Tidak masalah! itu memang harus kau lakukan!" ucap Charla.
Erina mengangguk, membenarkan ucapan Charla.
# # # # # #
Di dalam ruang rawat, Devan tengah duduk di kursi samping istrinya. Mengusap lembut perut istrinya, dengan menatapnya pilu. Sesekali Devan mencium punggung tangan istrinya.
Sampai akhirnya mata Yocelyn terbuka secara perlahan. Yocelyn mengerjap kan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu ruangan.
"Sayang?" panggil Devan lembut.
Yocelyn tidak bergeming, dia menatap wajah Devan tanpa berkedip dengan tatapan yang teduh.
"Sayang?" panggil Devan lagi dengan mengusap pipinya dengan punggung jarinya.
Yocelyn tetap tak menjawab, dia membuang wajahnya ke sisi lain dari Devan. Entah apa yang dipikirkan Yocelyn saat ini. Dia begitu enggan melihat suaminya.
"Sayaang?" panggil Devan lebih lembut.
"Susah payah kita mendapatkannya, semudah itu kita kehilangannya" ucap Yocelyn dengan air mata yang meluncur begitu saja.
__ADS_1
"Sudahlah Sayaang.. mungkin belum saatnya kita untuk memilikinya" ucap Devan mengusap air mata istrinya dengan begitu lembut.
"Kamu menahan marah padaku kan? karena aku ceroboh?" tanya Yocelyn tanpa melihat Devan.
"Sama sekali tidak, Sayang" ucap Devan dengan nada serius. "Semua ini sudah takdir, bahkan menurutku ini adalah hukuman untuk ku, Sayang" ucap Devan sembari mengusap lembut rambut kepala Yocelyn.
Yocelyn semakin menangis sesenggukan. Tapi dia masih enggan melihat wajah suaminya. Dia masih teringat saat melihat wajah Devan dan Charla saat berdekatan.
"Sayaang... berhentilah menangis," ucap Devan lembut. "Yang terpenting adalah kamu selamat, jadi kita masih punya kesempatan untuk bisa punya anak lagi"
"Kenapa aku juga di selamatkan?"
"Sayang, aku bisa gila kalau aku kehilangan kalian berdua!" ucap Devan memberi penjelasan. "Yang terpenting dalam hidupku adalah kamu, soal anak itu adalah titipan Tuhan. Tuhan akan memberi di waktu yang tepat nanti!"
"Bagaimana jika aku tidak bisa hamil lagi?"
"Sayang please! jangan membahas tentang hal itu! kita punya anak atau tidak, itu tidak akan membuat kadar cintaku padamu berkurang"
"Bohong!" ucap Yocelyn sembari mengusap air matanya.
Devan menarik nafasnya dalam, mencoba mencari cara untuk membuat istrinya berhenti berfikiran buruk.
"Sayang, anugrah terbesar dalam hidupku adalah mendapatkan kamu, memilikimu seutuhnya!" ucap Devan lembut. "Aku tidak ingin yang lain lagi! apa aku pernah memaksa kamu untuk segera hamil?" tanya Devan.
Yocelyn mengedipkan matanya beberapa kali. Karena memang benar jika Devan tidak pernah memaksa untuknya segera hamil. Justru dia sendiri yang ingin cepat hamil. Yocelyn menoleh dan menatap dalam mata tulus suaminya.
Tok tok tok!
"Masuk!" ucap Devan.
Clekk!
Pintu terbuka memperlihatkan Erina dan Charla berdiri di ambang pintu. Spontan Yocelyn kembali membuang muka saat wajah Charla.
"Sayang, Charla yang membatu kita!"
"Membantu apa?" tanya Yocelyn ketus.
"Dia yang mendonorkan darah supaya kamu bisa di selamatkan" ucap Devan lembut.
Seketika mata Yocelyn membulat dan menatap tajam mata Devan. Mencari tau dari ucapan Devan yang membuat darahnya mendidih.
"Sayaang..." panggil Devan lembut, menyadari istrinya tengah di landa emosi.
"Kenapa harus dia?" tanya Yocelyn dengan nada tinggi. "Kamu belum bisa melupakan dia kan?" hardik Yocelyn.
"Bukan begitu, Sayang! rumah sakit kehabisan stok darah A+ dan dia satu - satunya di antara kami yang memiliki darah yang sama dengan kamu" jelas Devan dengan tenang.
"Tidak seharusnya dia!" ucap Charla tegas. "Kamu lupa! aku lari karena ingin muntah saat melihat dia! dan secara tidak langsung aku jatuh karena dia! aku keguguran karena dia!" teriak Charla.
Yocelyn menatap tajam mata Charla yang menatapnya lembut dan penuh ketulusan.
"Sayang, Charla hanya ingin berteman dengan kamu, sebelum dia meninggalkan kota ini" jelas Devan. "Dia tidak akan lagi muncul di depan kita!"
Deg!
Seketika mata tajam Yocelyn untuk Charla berubah menjadi teduh saat menatap Devan. Seolah bertanya maksud dari ucapan suaminya.
"Dia akan pergi dari London dan menetap di Swiss, negara ibunya berasal!" ucap Devan. "Kamu percaya padaku, aku sama sekali tidak ada niat untuk mengulang masa lalu ku yang buruk! begitu juga Charla. Kamu tidak perlu cemburu"
Yocelyn menatap Charla dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Spontan Charla tersenyum dan pelan - pelan berjalan mendekati Yocelyn.
__ADS_1
"Minggu depan aku akan berangkat Yocelyn," ucap Charla, "kita tidak akan bertemu lagi! aku hanya tidak ingin meninggalkan kota ini dengan menyisakan orang yang masih membenciku!" jelas Charla. "Aku tidak akan mengganggu kalian lagi."
"Kenapa kamu pergi?" tanya Yocelyn tiba - tiba.
"Perusahaan Opa tidak ada melanjutkan, dan aku adalah cucu tertua, jadi mereka mengandalkan aku untuk meneruskan perusahaan."
Yocelyn menghembuskan nafasnya. Emosinya mulai mereda saat tau alasan Charla ingin berteman dengannya.
"Aku minta maaf, Charla!" ucap Yocelyn.
"Tidak perlu minta maaf, Yocelyn! aku mengerti perasaan kamu yang sedang hamil."
"Tetap saja aku terlalu egois!"
"Tidak masalah!" ucap Charla. "Kita berteman!" Charla mengulurkan tangannya.
"Teman!" ucap Yocelyn menyambut uluran tangan.
"Semoga kamu segera hamil kembali!" ucap Charla tulus.
"Aamiin!" ucap Devan dan Yocelyn bersamaan.
"Kamu lanjut istirahat saja, Yocelyn! aku harus pergi!" pamit Charla.
"Sekali lagi terima kasih ya, Charla!"
"Tidak perlu terima kasih lagi!" jawab Charla. "Bye!"
"Bye bye!" jawab Yocelyn.
Charla keluar dari kamar rawat VVIP yang di tempati Yocelyn. Setetes air mata Charla menetes, saat melewati lorong rumah sakit sendirian.
Jika di korek lebih dalam, sungguh dia tidak bisa melupakan perasaannya pada Devan. Hanya saja dia berfikir, cinta tak harus memiliki. Karena bisa saja orang yang kita cintai bukanlah yang terbaik untuk kita.
Charla meninggalkan area rumah sakit, dan mempersiapkan hatinya untuk meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan manis bersama Devan dan sahabat - sahabatnya.
Terlintas dalam benaknya, saat Devan menyelamatkannya dari klub malam saat dia berniat menjual dirinya. Dan juga saat - saat indah yang pernah dia lewati bersama Devan sejak di Oxford sampai pindah ke London.
Semoga kalian bahagia!
Ucap Charla dalam hati.
.
.
.
**Goodbye Charla 😘**
**Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya Kakak 🥳🥳**
**Lebih - lebih vote nya juga di kasih, hehe 🤩😍🥰**
__ADS_1
**Happy reading 🌹🌹🌹**