
ð Sembilan bulan sudah Yocelyn mengandung . . .
Saat ini dia kembali berbaring di meja operasi caesar. Dengan Devan yang selalu setia menggenggam tangannya, mencium keningnya. Dan terus membisikkan kalimat - kalimat cinta dan semangat.
Devan lah yang memilih untuk istrinya kembali melahirkan secara SC. Karena kelahiran pertama SC membuatnya sedikit khawatir jika harus melahirkan normal. Meskipun dunia medis sudah canggih.
...ðđ[Perjuangan seorang ibu dari mengandung hingga melahirkan anak - anak mereka adalah perjuangan yang tak akan pernah terbalas oleh apapun....
...Tapi tak sedikit pun mereka menyesal memperjuangkan anak - anak mereka untuk tetap terlahir dengan sempurna....
...Wahai perempuan di muka bumi ini, yang kini sudah atau akan di panggil ibu, semoga kita selalu di beri kekuatan dan ketabahan dalam mendidik anak - anak kita....
...Dan satu lagi, kita juga terlahir dari seorang ibu. Bayangkan, mungkin saja ada air matanya yang menetes tanpa kita ketahui.] ðđ...
Tiga puluh menit berlalu, suara tegas tangisan seorang bayi menggema di ruang operasi itu. Ya! seorang bayi perempuan telah terlahir di dunia.
Beberapa saat berlalu, kini bayi itu berada dalam dekapan Devan. Devan dengan senyum bahagianya mendekatkan sang baby pada istrinya yang masih di bawah pengaruh obat bius.
"Hai, baby Jesselyn?" sapa Yocelyn pada putrinya.
"Halo, Mommy! terima kasih sudah mengandungku selama sembilan bulan!" Devan yang berkata, tapi seolah mewakili baby Jesselyn untuk menjawab.
"Terima kasih juga sudah hadir di dunia kami, nak!" balas Yocelyn dengan air mata yang menetes begitu saja. "Kami sangat mencintai mu." Ucap Yocelyn kemudian.
Setelah itu, Yocelyn pindah ke ruang rawat, begitu juga sang baby.
Di ruang rawat VVIP sudah ada para Nenek dan Kakek yang menunggu. Seperti biasa, mereka akan selalu berebut untuk menggendong baby yang baru terlahir.
Sementara di sudut kursi itu juga ada kakak Yocelyn, Reyhan dan istrinya. Dia tangah menatap heran dengan sang Mama yang seolah menatap lapar pada keponakan barunya itu.
"Rey, kamu kapan kasih Mama? Yocelyn sudah dua ini!"
Membuat Reyhan menyesal ikut datang ke rumah sakit.
"Bentar lah, Ma! Reyhan masih ingin bersenang - senang dengan istri ku!" jawab Reyhan yang entah kenapa belum juga ingin memiliki anak.
"Dengan istrimu atau dengan yang lain?" sahut Devan yang duduk di kursi samping istirnya berbaring.
"Jangan jadi kompor ya!" seru Reyhan.
"Aku juga kepengen cepet - cepet jadi ibu seperti Yocelyn, Sayang!" sahut istrinya yang jengah, karena sang suami melakukan vasektomi.
"Tuh, denger istrimu!"
Reyhan menghela nafasnya malas. "Ya sudah ayo!" Reyhan menarik tangan istrinya dan membawanya pada dokter dimana dia melakukan vasektomi. Dokter itu masih di rumah sakit yang sama dengan mereka sekarang.
Devan mengangkat sudut bibirnya, tersenyum sinis melihat Reyhan yang justru ingin menunda kehamilan.
Sementara dirinya dulu sangat ingin segera memiliki anak. Hanya saja dia tak ingin memperlihatkan semua itu di depan istrinya.
Bahkan di awal pernikahan, dia terlihat sangat santai urusan anak. Apalagi saat itu masih menikah siri. Meskipun dalam hati kecilnya dia sangat ingin memiliki Devan junior secepat mungkin.
Dan kini dia bersyukur, sudah memiliki sepasang putra putri. Yang akan menjadi raja dan ratu di hatinya, setelah posisi sang istri.
__ADS_1
# # # # # #
ð Sepuluh tahun kemudian . . .
Kaki mungil sepuluh tahun lalu, kini telah lincah bergerak. Naik turun dengan menggunakan jari - jari kakinya sebagai tumpuan untuk berdiri dan menari.
Ya, hari ini, Jesselyn Aurora Gibran, putri kedua Devan dan Yocelyn tengah melakukan les balet. Gadis berusia sepuluh tahun itu ingin menjadi seorang balerina. Dan itu benar terwujud. Sejak kecil dia selalu aktif di dunia balet.
Setiap gerak gerik dan lekuk tubuhnya, selalu membuat siapa saja terkagum - kagum. Mengingat tak semua perempuan mempunyai bakat itu.
Tapi kali ini dia benar - benar ingin segera pulang. Karena yang dia dengar, keluarga dari Indonesia akan datang ke London untuk mengurus kuliah kakak sepupunya, Qiandra Alexander Gibran.
Dimana saat ini dia sudah sangat merindukan Mommy Jova, yang selalu menyayanginya sepeti anak kandung.
Bersama dua pengawal yang selalu mengikutinya kemana - mana, akhirnya mobil miliknya sampai di depan mansion.
Gadis berusia 10 tahun itu berlari masuk ke dalam mansion. Dan langsung mendapati sepupu twins kesayangannya, juga Uncle dan Onty yang juga dia sayangi.
Sedangkan Ivander, remaja 13 tahun itu asyik dengan ponselnya di salah satu sofa. Dia cukup cuek dengan keributan yang terjadi di ruang keluarga itu.
Ivander tubuh dengan tampan, dan juga cukup ramah. Dan dia juga memiliki kecerdasan di atas rata - rata. Terbukti dengan nilai sekolah dan nilai ekskul yang bagus.
Ivander memang lebih dominan dengan Devan. Hanya saja dia tidak terlalu suka dekat dengan lawan jenis.
Bukan berarti tidak normal, dia hanya sedikit dingin dengan gadis - gadis yang mencoba mencuri - curi perhatiannya. Dan mungkin sifat Uncle nya ikut sedikit menurun padanya.
# # # # # #
ð Empat tahun kemudian . . .
Hari ini dia menyusul para sepupunya yang sudah lebih dulu berkuliah di Oxford University.
Qiandra, Queenara, dan Arga menyambut kehadiran Ivander dengan bangga. Ivander datang bersama Devan dan Yocelyn juga Jesselyn.
"Selamat menempuh pendidikan ya, nak!" ucap Yocelyn mencium kening putranya.
"Thanks Mom!" jawab Ivander sembari mencium pipi Mommy nya.
Setelah kedua orang tua dan adiknya kembali ke London. Ivander menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Di sebuah apartemen yang satu lantai dengan para sepupunya.
"Kuliah?" gumam Ivander menatap langit - langit kamarnya.
"Ok! selamat bergabung dengan Oxford University Ivander!" lanjutnya menyemangati diri sendiri.
Menjelang malam, Ivander mempersiapkan diri untuk kegiatan Ospek hari pertamanya besok. Hanya ada beberapa Mahasiswa yang seperti Ivander di Oxford.
# # # # # #
ð Pagi pun tiba . . .
Kali ini Ivander memilih untuk berangkat dengan para sepupunya dengan menggunakan satu mobil saja. Dan Qiandra yang mengemudikannya.
"Semangat!" ucap Qiandra pada Ivander.
__ADS_1
"Iya!" jawab Ivander.
"Sampai bertemu ya junior!" ucap Queenara yang menjadi Tim pembina Ospek tahun ini.
"Jangan aneh - aneh ya, kakak!" ucap Ivander.
"Eemm... kita lihat saja nanti!" Queenara tersenyum misterius. "Untung kamu jadi peserta Ospek paling tampan tahun ini. Jadi sepertinya teman - teman ku akan sedikit santai padamu, haha."
Ivander hanya menyebikkan bibirnya. Karena dia memang malas membahas perempuan yang hanya tertarik dengan ketampanannya.
"Hemm... siap - siap jadi buruan, bro!" sahut Arga yang juga masuk dalam tim pembimbing Ospek.
"Awas saja kalau kalian berdua sekongkol!"
"Hahah!" Arga dan Queenara terkekeh.
Sementara Qiandra mengulum senyuman. Tanpa melakukan apapun, sosok Ivander pasti akan menjadi peserta spektakuler dalam Ospek tahun ini.
Mereka berpencar menuju ruangan masing - masing. Dan benar saja. Dari sekian banyak anak laki - laki yang memakai seragam SMA, Ivander mempunyai daya tarik yang berbeda dari yang lain.
Ivander menghela nafas sembari mengangkat kedua alisnya. Terus berjalan seolah tanpa dosa, karena sudah membuat beberapa mata calon mahasiswi menatapnya tanpa berkedip. Dan sebagian bahkan diam mematung.
Sebenarnya apa yang mereka lihat dariku?
Ucap Ivander dalam hati.
"Ivander?" sapa seseorang dari belakang yang kemudian berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Ivander.
"Hem?" jawab Ivander setengah cuek.
"Aku nggak nyangka kita kembali satu kampus!" ucapnya.
"Kuliah bisa dimana saja."
"Tapi kan kalau bukan takdir, belum tentu bisa satu kampus. Apalagi masuk ke kampus ini tidak mudah!"
"Eh, aku mau ke kelas ku!" potong Ivander berlalu dari gadis yng berasal dari sekolah yang sama dengannya di London.
"Tch! Ivander?" panggil gadis yang sebenarnya kakak kelas Ivander.
Berhubung Ivander loncat satu kelas, membuat mereka lulus bersamaan.
Untung beda prodi!
Ucap Ivander dalam hati.
.
.
ðŠīðŠīðŠī
Part - part akhir kita fokus pada kisah para pemuda ya kakak reader ð
__ADS_1
Happy reading ðđðđðđ