
"Sayang, ini ponsel buat kamu" ucap Devan yang kembali setelah membuka pintu utama.
"Wow!" seru Yocelyn menerima ponsel barunya, "kapan kamu belinya?"
"Barusan di antar Christ!" jawab Devan sambil duduk di samping Yocelyn.
"Oh, terima kasih, Sayang!" ucap Yocelyn.
"Iya, ayo makan dulu!" ucap Devan merebut kembali box ponsel keluaran terbaru yang baru saja di buka Yocelyn segelnya.
"Baiklah" Yocelyn menatap ponsel yang di letakkan Devan di atas meja makan yang kosong.
"Sayang! dua hari lagi kita akan menikah secara agama! istilah kasarnya kawin lari!" ucap Devan setelah keduanya selesai menyantap makan malam mereka di ruang makan apartemennya.
"Kawin lari!" pekik Yocelyn yang tidak paham maksud Devan.
Devan meraih tangan Yocelyn yang duduk di sampingnya. Dan menatap matanya dalam.
"Setelah kita menikah secara agama, kita akan mendatangi orang tua kamu dalam keadaan sah sebagi suami istri! dan itu artinya kamu adalah seutuhnya milikku! Dan aku suamimu, berhak atas dirimu! Papa mu tidak akan lagi bisa memisahkan kita!"
"Tanpa sepengetahuan Papa?"
"Iya, Sayang!"
"Apa itu bisa?"
"Christ akan mengurusnya!"
"Kamu seperti mencuri ku dari Papa begitu?"
"Sayang, ini adalah salah satu usaha untuk mendapatkan restu dari Papa kamu!"
"Apa kamu yakin akan berhasil?"
"Sebenarnya akhir - akhir ini aku sudah melakukan beberapa penekanan pada perusahaan Papa kamu! Tapi dia belum juga menyerah!" jawab Devan membuang pandangan dari mata Yocelyn. "Dan aku pikir menikah diam - diam adalah cara terbaik!"
"Kenapa kita tidak menikah secara hukum sekalian?" tanya Yocelyn, "bukankah ikatannya akan jauh lebih kuat? dan Papa tidak akan lagi berkutik!"
"Aku mau saja kita menikah secara sah di hukum, justru itu yang aku inginkan. Tapi kamu kan tau Papa mu masih hidup, jika kita mendaftarkan pernikahan secara hukum maka kita butuh kehadiran Papa kamu sebagai wali! Dan lagi kamu ini anak perawan, belum pernah menikah, mana bisa menikah tanpa wali kandung."
"Begitu kah?"
"Iya, Sayang!" Devan mengangguk pelan. "Dan satu lagi, jika kamu tidak yakin pernikahan diam - diam kita ini benar - benar sah karena menggunakan wali hakim, aku janji aku tidak akan meminta hak ku sebagai suami, sampai Papa kamu bersedia memberi kita restu!"
"Hemm!" Yocelyn mengangguk dengan senyumnya.
"Dan aku janji! aku tidak akan lagi menyentuh wanita selain kamu!" ucap Devan serius.
"Kamu boleh memintanya dariku!" sahut Yocelyn.
"Ha?" Devan mengerutkan keningnya.
"Kalau tanpa ada pernikahan saja tadi aku sengaja menggoda mu, apalagi kalau ada, walaupun hanya sah di mata agama!" lanjut Yocelyn dengan senyum polosnya.
Devan mengangkat kedua sudut bibirnya, menatap setiap lekuk wajah polos dari gadis yang sangat dia cintai itu.
"Kamu bukan gadis sembarang di mataku, Sayang!" ucap Devan mengusap lembut puncak kepala Yocelyn. "Kamu adalah segalanya untukku. Aku tidak mau memperlakukan kamu seperti gadis - gadis di luaran sana!" lanjut Devan mencium dalam kening Yocelyn, satu tangannya mengunci leher Yocelyn.
Yocelyn memejamkan matanya, meresapi kecupan lembut dari bibir Devan. Beberapa saat kemudian Devan beralih mengecup setiap inchi dari wajah Yocelyn. Yocelyn semakin mengangkat sudut bibirnya. Dan terakhir sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Yocelyn. Devan menyatukan kening mereka, dan saling memejamkan matanya.
"I love you, baby!" lirih Devan.
"I love you more!" balas Yocelyn yakin.
# # # # # #
Keesokan harinya, Devan membawa Yocelyn ke pusat penjual perhiasan. Devan menggandeng tangan Yocelyn, memasuki sebuah toko perhiasan berkelas. Kali ini keduanya memakai kacamata hitam. Beberapa pengawal mengikuti mereka dari jarak yang cukup aman dan menyebar.
"Kamu suka yang mana?" tanya Devan pada Yocelyn yang memandangi beberapa desain cincin pernikahan yang sudah siap.
Karena mendadak, mereka tidak punya waktu untuk memesan desain cincin pernikahan.
"Emm..." Yocelyn memajukan bibirnya saking bingungnya. "Semuanya cantik!" ucapnya.
"Kamu mau semua?" tanya Devan.
"Ck!" Yocelyn berdecih dengan candaan Devan. "Yang ini saja!" ucap Yocelyn memilih salah satu desain sepasang cincin pernikahan.
"Baiklah!" jawab Devan.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka melanjutkan dengan makan siang mereka di salah satu restoran.
"Sayang, yang tau tentang pernikahan kita hanya kita, Christ dan Oma Opa ku! selebihnya tidak ada!"
"Papa dan Mama kamu?"
"Mereka di Indonesia! mereka akan datang hanya berdua. Mungkin besok pagi sudah sampai. Aku juga memintanya untuk tidak memberi tahu siapa pun!" ucap Devan.
"Saudara kamu bagaimana?"
"Alexander?"
"Saudara kamu bukankah namanya Rakha?"
"Rakha saudara angkat ku, Alexander kembaran ku!"
"Hah! kembaran!" Yocelyn membulatkan mata.
"Iya! bukankah kamu sudah tau?"
"Masak sih?" Yocelyn menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengingat apa benar Devan pernah memberi tahunya. "Aku lupa!" jawab Yocelyn.
"Duh!" Devan tersenyum dan menggeleng pelan. "Istri Alexander sedang hamil! 3 bulan lagi akan melahirkan!"
"Oh! aku sudah mengingatnya!" seru Yocelyn merasa senang.
"Bagus!" sahut Devan. "Kita akan beri tahu mereka, saat kita benar - benar menikah secara resmi secara hukum!"
"Baiklah!" Yocelyn mengangguk.
# # # # # #
H - 1 Akad
Sore hari, Devan baru pulang dari kantornya. Yocelyn dengan setia membantu melepas jas kerja Devan. Devan yang kelelahan karena harus bekerja keras agar besok bisa tidak perlu ke kantor, langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Sayang, mandi dong! kan bau keringat!" ucap Yocelyn yang duduk di sampingnya.
"Aku sangat lelah, Sayang!" jawab Devan yang justru membaringkan tubuh dan menjatuhkan kepalanya di paha Yocelyn dengan memejamkan matanya.
Yocelyn tersenyum kecil sembari mengusap rambut Devan. Memandangi wajah tampan yang menutup matanya itu.
"Apa Alexander setampan dirimu, Sayang?" pertanyaan aneh Yocelyn.
"Ck! kalian kan kembar! pasti sama!"
"Lalu kenapa bertanya?" tanya Devan sembari membuka matanya, menatap gemas pada sang kekasih polosnya itu.
"Hehehe!" Yocelyn hanya tergelak dengan masih terus mengusap kepala Devan.
Ting!
Bunyi bel pintu utama terdengar dari kamar Devan.
"Biar aku buka pintu dulu, Sayang!" ucap Yocelyn mencoba menurunkan kepala Devan.
"Biar aku saja, Sayang!" sahut Devan yang langsung bangun dan meninggalkan kamar mereka.
"Baiklah!" jawab Yocelyn kembali merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
Devan membuka pintu apartemennya dan langsung menebar senyum begitu melihat siapa yang datang.
"Inikah anak Mama yang akan menikah?" tanya Mama Adelia begitu melihat Devan membuka pintu kamar dengan kemeja yang berantakan dan terlihat belum mandi sepulang dari kerja.
"Hehe!" Devan tersenyum, "I miss you, Mom!" ucap Devan yang langsung memeluk Mamanya erat.
"Eh! bau keringat!" ucap Mama mendorong tubuh Devan.
"Belum sempat mandi, Ma! baru juga pulang!"
"Ini kita tidak di suruh masuk?" sahut Papa Haidar.
"Kenapa harus tanya sih, Pa! masuk dong!" ucap Devan yang langsung menarik tangan Mamanya.
"Mana calon menantu, Mama?" tanya Mama saat memasuki area ruang tengah. "Kamu bilang dia tinggal di sini juga!"
"Di atas, Ma!"
"Di kamar kamu?" sahut Papa.
"Iya!"
__ADS_1
"Ck!" Mama berdecih, "jangan bilang kamu minta kawin lari, karena kekasih kamu hamil!" hardik Mama.
"Maaa... Devander tau, Devander anak Mama yang kurang ajar! Tapi Mama jangan salah, Devander belum pernah menyentuh kekasih Devander ini!" jelas Devan.
"Kamu yakin?"
"Yakin, Ma! dia masih Virgin!" bisik Devan yang masih bisa di dengar Papanya.
"Keenakan kamu dong dapat Virgin!" sahut Papa Haidar.
"Papa jangan iri deh!" celetuk Devan.
"Hahaha!" Mama tergelak. "Benar juga ya! kok enak sekali kamu dapat Virgin!"
"Maa.." rengek Devan seperti anak kecil.
"Ayo! Mama ingin bertemu calon menantu Mama!" ucap Mama yang langsung nyelonong menaiki tangga.
Papa dan Devan berjalan beriringan di belakang Mama Adelia.
"Cantikan Mama kamu atau calon istrimu?" tanya Papa iseng saat menaiki tangga.
"Tentu saja cantikan calon menantu Papa;" jawab Devan.
Buugh
Devan menabrak tubuh Mamanya.
"Maksud kamu Mama jelek!" sahut Mama yang tiba - tiba berhenti dan berbalik menghadap dua pria itu.
"Hehe; Mama paling cantik di dunia!" ucap Devan merentangkan tangan seolah menunjukkan luasnya dunia.
"Huh!" Mama membuang nafas dan kembali berjalan ke arah kamar Devan.
Cleekk!
Devan membuka pintu sepenuhnya. Dan yang pertama kali di tangkap oleh mata Mama bukan dimana keberadaan Yocelyn.
"Pink!" pekik Mama melihat tempat tidur Devan dengan ekspresi seolah - olah mengejek setengah shock.
"Maa.. itu.. emm..!" Devan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Spontan Papa dan Mama saling pandang. Beberapa detik kemudian ekspresi mereka berubah.
"Hahahahaha!" Papa dan Mama tertawa terbahak - bahak melihat ada warna pink di kamar Devan.
Devan menghela nafasnya melihat orang tuanya yang terlihat sangat bahagia menertawainya.
"Sejak kapan kamu suka warna pink, boy?" tanya Mama mengejek.
"Demi calon istri Devander, Ma!" sahut Devan yang menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Spontan Papa mengulum senyumnya.
"Oh, iya! dimana dia? kamu bilang dia di kamar!" ucap Mama.
"Mungkin masih di kamar mandi!"
Cleekk!
Pintu walk in closed yang juga mengarah ke kamar mandi terbuka.
Wajah gadis cantik, berkulit putih mulus, berambut hitam kecoklatan menyembul dari balik pintu.
Seketika bola mata Yocelyn membulat melihat dua orang yang belum pernah dia temui ada di kamar Devan.
.
.
.
.
**Happy reading 🌹🌹🌹**
__ADS_1
**Bantu dukung novel othor ya, Kak 😍**
**Tinggalkan like dan komentarnya 🥰🥰🥰**