Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Investigasi yang Nihil


__ADS_3

Seperti biasa, Charla dan Ivander berangkat ke kampus dalam satu mobil. Pikiran Charla masih mengganjal tentang peringatan Argha pada Lea kemarin.


Apa aku bertanya pada Kak Argha saja, ya?


Batin Lea.


Di kampus, setelah berpamitan pada Ivander untuk ke kelasnya, bukannya ia pergi ke Fakultas Seni Rupa dan Desain. Melainkan ia mengikuti langkah Argha yang berjala ke arah kelasnya yang kini berada di semester 5.


Namun saat melangkah ke kelas Argha, mata Charla menangkap Lea dan dua temannya tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


Mata mereka bertemu, namun mata Lea tak seperti biasa. Lea memang menatapnya tajam, tapi saat berpapasan tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut tiga mahasiswi paling berulah itu.


Mata mereka tak saling pandang saat mereka saling berpapasan.


Sungguh berbeda dari biasanya. Padahal kemarin pagi ia masih mendapat sedikit cibiran dari Lea saat bertemu di toilet.


Apa yang terjadi?


Kenapa mereka berbeda?


Sungguh itu seperti bukan Lea!


Ucap Charla dalam hati masih dengan penuh tanda tanya.


"Kak Argha?" panggil Charla saat Argha hampir saja memasuki kelasnya.


"Charla!" Argha menghentikan langkahnya dan menunggu langkah Charla sampai di tempatnya berdiri.


"Kak, bisa kita bicara?" tanya Charla setelah sampai di hadapan Argha.


"Bicara apa?" tanya Argha pada Charla yang tingginya hanya sebahunya saja.


"Penting!" bisik Charla.


"Baiklah!" jawab Argha, memberi kode untuk mencari tempat bicara yang tepat.


"Kak, sebelumnya aku minta maaf!" ucap Charla yang saat ini tengah berada di ujung koridor.


"Kenapa?"


"Sebenarnya sedikit banyak kemarin aku mendengar peringatan Kak Argha pada Lea."


Argha mengernyitkan keningnya. "Peringatan?"


"Iya, di belakang kampus!"


Argha menarik nafasnya dalam. Sebenarnya kemarin ia sempat melihat Charla berlari ke arah perpustakaan. Hanya saja ia tak menyangka jika Charla berlari setelah mendengar pembicaraannya.


"Tidak ada yang penting!" jawab Argha santai.


"Tapi ucapan Kak Argha seperti batu panas menghantam Lea! dia bahkan sampai menangis! apa yang di lakukan Lea pada Ivander dan aku Kak?" tanya Charla penuh hardikan. "Sedangkan Ivander tampak tak seperti mengalami satu kejadian pun!"


"Karena memang tidak ada yang penting, Charla." jawab Argha dengan santainya. "Percaya deh!"


"Nggak! aku nggak akan semudah itu percaya!" seru Charla dengan bibir yang mengerucut.


"Haha, sudahlah calon adik ipar ku yang cantik! semua akan baik - baik saja! tidak ada yang perlu di khawatirkan soal Lea!" jawab Argha dengan menyandarkan punggungnya pada tiang koridor.


"Tidak mungkin!" kekeh Charla.


"Kembalilah ke kelas mu, sebentar lagi kelas akan di mulai!" ucap Argha.

__ADS_1


Charla memanyunkan bibirnya menahan kesal pada Argha yang tak mau menjelaskan pokok permasalahan.


"Tuh, dosen ku sudah datang!" ucap Argha.


"Pokoknya aku akan terus mengejar Kak Argha sampai kak Argha menyerah! karena sikap Lea barusan sangat tidak biasa!" ucap Lea.


Argha hanya menanggapi dengan senyuman, Charla terlalu polos untuk mengetahui cerita sebenarnya. Argha takut jika Charla akan salah paham, dan bertindak gegabah dalam mengambil sikap.


Argha mendekati Charla dan mendekatkan bibirnya pada kepala Charla.


"Kamu hanya perlu mencintai Ivander dengan tulus, berikan dia yang terbaik!" bisik Argha, sembari berlalu dari hadapan Charla yang masih terbengong dengan bisikan Argha.


Charla menatap punggung Argha dengan kesal.


Tidak mungkin jika kesalahan Lea adalah kesalahan sederhana!


Batin Charla.


***


Jam sembilan malam, Charla menghampiri Ivander yang masih saja sibuk di depan laptop dengan membawa segelas jus alpukat di tangannya.


Tanpa bertanya dulu Charla langsung menjatuhkan bok*ngnya di pangkuan Ivander dan mengarahkan bibir gelas pada mulut Ivander yang merespon ulah Charla dengan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Charla.


Ivander pun menyeruput jus itu tanpa melihat Charla. Karena ia masih teramat sibuk dengan tugas kuliah yang katakanlah menumpuk akibat kejar target.


"Masih banyak?" tanya Charla dengan nada sedikit merajuk karena Ivander tak kunjung turun dari kursinya sejak tadi sore.


"Kenapa memangnya, sayang?"


"Ngobrol sama aku dong! sibuk terus!" Charla mengerucutkan bibirnya kembali.


Ivander meletakkan Charla di atas tempat tidurnya dengan perlahan sembari mendaratkan kecupan di dahi Charla.


Kemudian Ivander merangkak naik melewati tubuh Charla dan berbaring di sampingnya. Ia menarik selimut untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya malam kota Oxford.


"Kak? boleh aku tanya?" Charla memiringkan tubuhnya menghadap Ivander yang menggunakan satu tangannya sebagai bantal.


"Apa?"


"Apa kamu ada masalah dengan Lea?"


"Lea? dari dulu aku punya masalah dengannya. Kenapa, sayang?"


"Apa kemarin Lea melakukan sesuatu pada Kamu?"


"Kemarin?" Ivander mengingat - ingat peristiwa yang terjadi kemarin.


"Tidak ada, sayang!"


"Yakin?"


"Yakin!" jawan Ivander jujur.


"Tapi kak Argha ..."


"Oh, Argha?" Ivander menyela. "Setau ku kemarin dia memang punya masalah dengan Lea. Tapi aku tidak tanya dengan detail apa permasalahan mereka! aku hanya lihat Argha menarik tangan Lea dan entah membawanya kemana!"


"Kak Argha membawanya ke belakang kampus!" sahut Charla.


"Kok kamu tau?"

__ADS_1


"Aku lihat pas aku mendatangi kelas kamu!"


"Oh, terus?"


"Terus kak Argha menghakimi Lea dengan cukup menegangkan kak! Kaki ku sampai serasa bergetar. Bahkan Lea sampai menangis sesenggukan!"


"Masa sih?"


"Iya!" jawab Charla tegas.


"Terus kenapa tanya ke aku?"


"Karena Kak Argha mengancam Lea. Dia bilang : Jika berani melakukan hal itu lagi pada Ivander dan Charla maka urusanmu bukan hanya dengan Ivander, tapi juga dengan aku, Qiandra bahkan Queenara. Kau tau kan seperti apa Queenara?" ucap Charla menirukan cara dingin Argha mengancam.


"Benarkah?" Ivander tampak tak percaya akan yang ia dengar.


"Iya kak! mangkanya dari kemarin aku tanya kamu. Tadi aku tanya Kak Argha, eh buka. ya dapat jawaban malah di suruh mencintai kamu dengan tulus dan memberikan yang terbaik!"


"Memberikan yang terbaik?"


"Iya! apa aku kurang baik buat kamu?"


"Hah! kamu kan yang terbaik!"


Charla memanyunkan bibirnya, rasa penasarannya tak kunjung terjawab.


"Besok aku akan tanya Argha! sekarang sudah malam, dia pasti sudah tidur!"


"Iya!" jawab Charla yang tidak puas dengan hasil hari ini.


# # # # # #


Keesokan harinya, seperti rencana semalam, Ivander mendatangi Argha di kelasnya. Karena Argha dan Queenara berangkat lebih dulu.


"Ada apa, bro?" tanya Argha.


"Charla kemarin!" jawab Ivander.


Argha menghela nafasnya, tersenyum kecil menatap sepupu angkatnya itu. Meskipun mereka tak ada hubungan darah. Tapi ikatan mereka seperti sedarah dan bahkan sepemikiran.


"Sebenarnya kemarin kau hampir celaka!"


"Hah! apa maksud mu, kak?"


"Lebih tepatnya hampir masuk perangkap Lea!"


"What!" pekik Ivander. "Kapan?" Ivander seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kemarin pagi!"


"Kok bisa! beri aku penjelasan!" hardik Ivander.


Argha menutup buku yang baru saja ia buka. Kemudian memperbaiki posisi duduknya dan bersiap untuk bercerita pada Ivander yang sudah tidak sabar menunggu bibirnya terbuka.


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2