Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Teman Baru


__ADS_3

Siang harinya, Devan dan Yocelyn tengah bersantai di ruang tengah. Dengan sebuah tv besar yang menyala dengan tontona berita tentang negara Inggris.


Tap tap tap tap


Suara langkah sepatu memasuki area ruang tengah.


"Nona!" seru seseorang dari belakang.


"Erina!" pekik Yocelyn. "Kemana saja kamu baru muncul!" ucap Yocelyn.


Erina berjalan mendekat sebelum menjawab pertanyaan Nona mudanya.


"Tuan memindahkan saya untuk bekerja di peusahaan!" jawab Erina yang menjatuhkan tubuhnya di samping Yocelyn. "Tapi jujur lebih enak mengikuti Nona kemanapun!"


"Aku sudah punya suami, tidak perlu lagi di ikuti kamu!"


"Aku tau, Nona!" jawab Erina, "Aku sangat merindukan Nona!"


"Tapi aku tidak!" jawab Yocelyn tanpa rasa bersalah.


"Haha!" Devan tergelak mendengar jawaban sang istri.


"Nona jahat!"


"Tapi itu memang benar Erin!" jawab Yocelyn. "Sejak aku mengenal Devan aku rasa tidak perlu lagi mengingat nama orang lain selain suamiku!" Yocelyn langsung merangkul lengan suaminya itu.


"Hemm! gini nih manusia yang baru jatuh cinta pertama kali!"


"Kamu juga dong! buruan cari laki - laki!"


"Sabarlah!" jawab Erina cuek. "Laki - laki banyak, tapi gak pernah ada yang pas!"


"Kenapa?"


"Entahlah!"


"Kalau tidak mau menjelaskan, sudahlah! kami mau ke kamar!" ucap Yocelyn menarik tangan suaminya.


"Tapi dia!" sahut Devan menunjuk Erina.


"Biarkan saja!"


"Yaah! padahal aku kesini untuk melepas rindu! malah di tinggal ke kamar!" celetuk Erina.


# # # # # #


Beberapa minggu kemudian . . .


"Nanti aku jemput lagi!" ucap Devan saat mengantar Yocelyn ke kampus setelah sekian lama di penuhi drama kabur.


"Iya, Sayang! aku akan telfon kalau aku sudah selesai kuliah!"


"Hemm.." jawab Devan mengusap kepala istrinya. "Ingat! aku tidak memberi pengawasan ketat! tapi kamu harus bisa menjaga diri dan jaga jarak dari teman laki - laki di kelas dan di tempat manapun!"


"Siap Suami ku tersayang!" jawab Yocelyn memeluk tubuh Devan.


"Selamat belajar!"


"Heemm!" Yocelyn mengangguk sambil melepas melepas pelukan mereka. "Bye - bye!" ucap Yocelyn melangkah ke arah gerbang kampus.


Devan hanya membalas dengan melambaikan tangannya singkat. Tapi matanya terus mengawasi Yocelyn sampai Yocelyn tak lagi terlihat. Dan barulah Devan meninggalkan area kampus Yocelyn.


Yocelyn masuk ke area kampusnya. Dan dia berhasil menarik perhatian beberapa mahasiswa di sana. Yocelyn berjalan dengan senyum di bibirnya.


Semua mahasiswa tau, jika biasanya Yocelyn akan di ikuti seorang gadis dan beberapa pengawal. Tapi kali ini tak ada satupun yang terlihat mengikutinya.


Dan beberapa Mahasiswa yang tadi sempat melihat Yocelyn dengan seorang laki - laki di penuhi pertanyaan. Karena jelas mereka terlihat seperti sepasang kekasih.


Dan ada beberapa Mahasiswa yang tau identitas seorang Devan. Mereka di penuhi pertanyaan yang sangat mengganjal.


Tapi mereka ragu untuk bertanya pada Yocelyn. Mengingat sebelumnya Yocelyn tak pernah bicara dengan siapapun di kampus itu selain dengan dosen kelas atau pun dosen pembimbing.


Yocelyn langsung masuk ke kelasnya dengan menebar senyum pada teman - temannya yang sudah berada di kelas.


"Selamat pagi semua!" sapa Yocelyn untuk pertama kali.


"Pagi!" jawab mereka serentak setengah ragu. Mengingat sebelumnya akan ada pengawal yang melotot tajam pada mereka yang berani mengajak ngobrol Yocelyn.


Yocelyn yang masih tersenyum langsung duduk di kursinya. Meletakkan tas nya di atas meja, dan langsung mengeluarkan buku yang berhubungan dengan mata kuliah nya saat ini.


Dengan seksama dia mempelajari mata kuliah yang sudah cukup lama dia tinggalkan. Hanya sesekali dia meminta metode daring pada dosen kelasnya yang baik hati.


"Eghm!" seorang Mahasiswi di samping berdehem.


Yocelyn cuek saja, karena tidak merasa dia di panggil.


"Yocelyn?" panggil mahasiswi itu lirih.


"Ya?" spontan Yocelyn menoleh karena namanya di panggil.

__ADS_1


"Emm.. boleh tanya?" tanya gadis itu ragu - ragu.


"Boleh, tanya apa?"


"Dimana asisten dan para pengawal mu?"


"Mereka sudah bekerja di kantor! tidak lagi mengikuti kemana - mana!" jawab Yocelyn santai.


"Oh!" gadis itu mengangguk. "Jadi kalau aku bertanya padamu itu akan aman kan?"


"Tenang saja, aku sudah tidak di ikuti siapapun!"


"Baguslah! selama ini aku takut dengan pengawal mu!"


"Bukan hanya kamu!" sahut Yocelyn cemberut. "Tapi semua jadi menjauhi ku gara - gara para pengawal yang di berikan Papa!"


"Iya!" gadis itu mengangguk. "Eh iya, btw kamu tau siapa nama ku?"


"Tentu saja tau, Lolita kan?"


"Hah!" Lolita tersentak kaget, "kamu tau nama ku? padahal kita tidak pernah mengobrol!" Lolita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku selalu memperhatikan setiap dosen mengabsen dan melempar tanya jawab pada kalian! jadi aku tau nama kalian satu persatu!"


Lolita mengangguk paham. Dia meneliti setiap inchi dari wajah Yocelyn yang tampak sumringah. Tak seperti dulu yang selalu terlihat bete di tengah - tengah para pengawal bermuka seram.


Dua teman kelas Yocelyn masuk ke dalam kelas. Mereka melihat Yocelyn lalu melihat sekitar untuk mencari keberadaan asisten dan para pengawal Yocelyn. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti Yocelyn, mereka langsung menghampiri Yocelyn.


"Pagi Yocelyn!" sapa dua gadis itu.


"Pagi!" jawab Yocelyn sembari menoleh kedua gadis itu yang duduk di kursi depannya.


"Yocelyn, tumben kamu tidak di ikuti Erina?"


"Dia bekerja di kantor Papa ku!'


"Ooh!" dua gadis itu saling pandang dan seolah memberi kode untuk bertanyalah.


"Yocelyn, boleh aku tanya?"


"Boleh lah!" jawab Yocelyn singkat.


"Emm.." gadis itu melirik temannya lalu kembali melihat Yocelyn. "Tadi kami melihat kamu di antar oleh Devander Gibran! kalian pacaran? karena kalian tadi terlihat romantis!" ucap gadis itu ragu.


"Iya!" Yocelyn mengangguk, "kalian kenal Devan?" tanya Yocelyn melihat keduanya.


"Tentu saja kenal! siapa yang tidak mengenal casanova setampan Tuan Devan! eh!" gadis satunya langsung menutup mulutnya merasa salah bicara.


"Dia asal bicara!" ucapnya kemudian.


Yocelyn mengangkat sudut bibirnya. Terlihat biasa saja dengan ucapan teman - temannya.


"Maaf, Yocelyn!"


"Tidak masalah, aku tau kok siapa Devan sebenarnya!" jawab Yocelyn.


"Oh ya?" kedua gadis itu tampak heran.


Yocelyn mengangguk kecil dengan senyum manisnya.


"Di mana kalian mengenal Devan?"


"Dulu kami sering melihatnya di salah satu klub malam! dia selalu terlihat paling menonjol di antara teman - temannya, karena itulah dia sangat di kenali oleh orang - orang yang suka main ke klub itu, seperti kami!"


"Oh!" Yocelyn mengangguk.


"Tapi sudah lama kami tidak melihat dia datang ke klub itu!"


"Kenapa? sejak kapan?" tanya Yocelyn mencari tau lebih jauh tentang suaminya.


"Kami tidak tau, yang jelas hampir sama seperti saat kamu tiba - tiba tidak masuk kuliah berbulan - bulan!" jawab gadis itu.


"Jangan - jangan kamu pergi bersama Tuan Devan?" tebak gadis satunya.


"Iya!" jawab Yocelyn santai.


"Jadi benar kamu tidak masuk kuliah karena pergi bersama Tuan Devan itu?"


"Iya" jawab Yocelyn mengangguk santai.


"Bahkan kata dosen, ujian semester enam kemarin kamu online!"


"Iya, memang!" jawab Yocelyn apa adanya. "Aku sengaja tidak mau masuk kuliah supaya bisa pergi bersama Devan!"


Sontak bibir kedua gadis yang mengenal siapa Devan membulat, begitu juga matanya.


"Yocelyn kamu sepolos apa sih sampai mau di bawa pergi Tuan Devan berbulan - bulan? kalian pacaran?"


"Iya! memangnya kenapa?" tanya Yocelyn dengan polosnya.

__ADS_1


"Memangnya siapa sih Tuan Devan itu?" sahut Lolita.


"Dia itu casanova!" sahut gadis pertama.


"Suka gonta - ganti pasangan maksudnya?" tanya Lolita.


"Iya!" jawab dua gadis itu bersamaan.


"Yaa ampun Yocelyn, kok kamu mau sih pacaran sama casanova?" ucap Lolita.


"Memangnya kenapa kalau dia casanova?"


Dua gadis di depannya menghembuskan nafas mereka panjang.


"Iya sih memang dia tampan dan kaya raya! aku juga mau kalau hanya sekedar menemaninya semalam dan dapat tas branded! Tapi kalau untuk menjalin kasih lalu di ajak menikah, aku rasa No!"


"Kenapa?"


"Bisa - bisa kami di tinggal di tengah jalan!"


"Masa sih?"


"Tuan Devan sang casanova itu kaya raya, tampan, gagah sudah pasti dia tidak akan puas dengan satu kekasih!"


"Tapi kami saling mencintai!" jawab Yocelyn, "setelah ujian kami akan menikah!"


"What!" pekik tiga temannya itu.


"Menikah!" seru Lolita.


"Iya! bahkan kami sudah menikah secara agama!"


"What!!" pekik mereka kembali.


"Berarti kalian suami - istri?"


"Iya!" jawab Yocelyn mengangguk.


"Apa ini mimpi!" ucap gadis kedua menepuk pipinya.


"Bagaimana kalau ternyata dia masih suka main sana - sani?" tanya gadis pertama.


"Jujur ya Yocelyn, meskipun ini percakapan pertama kita, tapi aku juga ingin memberitahumu! aku tidak ada maksud buruk pada kamu sama sekali! yang jelas orang seperti Tuan Devan itu tidak akan puas hanya dengan satu istri!"


"Sok tau kalian!" ucap Yocelyn.


"Yocelyn! mulai sekarang kita berteman!" ucap gadis pertama. "Aku tidak mau kamu terjerumus dengan bujuk rayu Tuan Devan! aku takut kamu di tinggal saat kamu hamil atau bahkan saat sudah ada anak!"


"Iya Yocelyn! jujur nih ya! di luaran sana, tepatnya di klub tempat kami nongkrong, masih banyak gadis - gadis yang mengharapkan Devan kembali datang! banyak di antara mereka yang belum kesampaian untuk bisa tidur atau sekedar berkencan dengan Tuan Devan!"


"Iya! pasti banyak godaannya!"


"Termasuk kalian?" tebak Yocelyn.


"Emh, kami dulu pernah berharap sih!" jawab gadis pertama dengan senyum kikuk.


"Tapi kalau kami tau dia suami kamu, mana mungkin kami mau!" lanjut gadis satunya.


"Aku tidak peduli sih!" jawab Yocelyn santai. "Yang jelas, sekarang dia adalah suami ku! aku yakin dia pasti bisa berubah! dan kami akan menikah secara sah di mata negara setelah ujian semester tujuh nanti!"


"Oh my God!" dua gadis itu menjatuhkan kepalanya di atas meja mereka.


"Semoga sih!" sahut Lolita dengan kepala yang masih menempel di atas meja.


"Selamat pagi!" ucap seorang dosen dari arah pintu membuyarkan pikiran dan percakapan empat gadis itu.


Sontak semua kembali pada posisi rapi.


"Pagi, Pak!" ucap satu semua Mahasiswa di kelas itu.


.


.


.


.


.


.




Mulai ada temen nih Yocelyn. Kira - kira bawa efek baik apa buruk nih para teman - teman barunya.


Pantengin terus ya episode - episode selanjutnya.

__ADS_1



Terima kasih, untuk teman - teman yang sudah meninggalkan like juga hadiahnya.


__ADS_2