Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Menjerat Mertua


__ADS_3

Setelah percintaan pertama mereka, Devan mengangkat tubuh Yocelyn ke dalam kamar mandi. Dengan hati - hati Devan meletakkan tubuh istrinya ke dalam bathub.


Ini bukan kali pertama mereka mandi bersama, tapi biasanya Yocelyn berendam dengan memakai dalaman. Dan kali ini tanpa benang sehelai pun.


"Iiishh!" desis Yocelyn mendekap kakinya erat, saat air yang di nyalakan Devan mulai mengalir.


"Kenapa Sayang?" tanya Devan melihat Ekspresi Yocelyn seperti menahan rasa sakit.


"Perih!" lirih Yocelyn.


Devan langsung mencium kening Yocelyn, selain merasa bersalah juga mencoba untuk membuat Yocelyn lebih rileks.


Devan langsung masuk ke dalam bathub setelah menuang sabun dan aromatherapy. Devan duduk di belakang istrinya. Dan menarik tubuh istrinya agar bersandar pada dadanya yang bidang.


Yocelyn menyandarkan kepalanya di pundak Devan. Yocelyn memejamkan matanya, dengan menahan rasa perih di bawah sana.


Sementara tangan Devan dengan lembut mengusap lengan dan tubuh Yocelyn. Devan menciumi pundak dan leher Yocelyn yang tepat berada di bawah dagunya.


"Sayang!" celetuk Yocelyn karena merasa geli.


"Emm" jawab Devan yang masih asyik dengan aksinya.


"Geli!"


Devan tergelak kecil. "I love you" bisik Devan.


Yocelyn membuka matanya lalu dengan cepat mencium pipi Devan.


"I love you more!" ucap Yocelyn tegas.


Devan menatap dalam wajah istrinya yang terlihat bahagia. Seutas senyum tipis juga tak luput dari bibir Devan. Devan mendekap erat tubuh istrinya. Seolah enggan melepasnya.


# # # # # #


Setelah sesi mandi bersama, kini Yocelyn sudah terlelap dalam pelukan Devan. Sementara Devan sendiri hanya tertidur sesaat lalu kembali terjaga.


Devan meletakkan kepala istrinya di bantalnya secara perlahan. Setelah memastikan istrinya masih benar - benar terlelap, Devan turun dari ranjang dengan hati - hati, agar istrinya tidak bangun.


Devan keluar dari kamar mereka, dan duduk di balkon kamar Yocelyn. Mengeluarkan rokok dari kantong celananya. Lalu mengangkat satu kakinya untuk bertumpu di lutut satunya.


Devan menyalakan rokok menggunakan pematik, lalu mengisapnya dan membuangnya dari mulut. Matanya menatap langit sore yang terlihat cerah. Seutas senyum licik terbit dari bibirnya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu.


Flashback On . . .


"Katakan pada Tuan mu, jika dia melarang aku masuk, aku akan memutus seluruh akses bisnisnya dengan ku sekarang juga!" ucap Devan tegas pada pengawal yang berjaga di depan pintu gedung perusahaan Keanu. "Kau tau kan apa yang akan terjadi pada gedung ini jika aku memutusnya? dan kau juga akan menjadi korban!"


Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya pengawal itu menghubungi atasannya. Dan langsung tersambung pada Keanu.


"Suruh dia masuk!" ucap Keanu dengan menghela nafas beratnya. "Pastikan dia masuk seorang diri!"


"Baik, Tuan!" jawab pengawal itu.


"Hanya Tuan Devan yang boleh masuk!" ucap pengawal itu pada Devan dan Christ yang berdiri di depan pagar menjulang tinggi.


"Apa kau tidak tau siapa aku!" ucap Christ kesal karena di larang masuk.


"Tidak masalah Christ, kamu cukup tunggu aku di mobil!" ucap Devan.


"Baiklah, Tuan!" jawab Christ mengangguk pada Devan, lalu melempar tatapan membunuh pada pengawal itu.


Mereka kembali masuk ke mobil dan memasukkan mobil ke tempat parkir tamu setelah pintu gerbang di buka oleh pengawal.


"Kau tunggu di sini Christ!" ucap Devan sebelum turun. "Jika kau melihat aku keluar dari gedung laknat itu langsung datangi aku di depan lobby!"


"Baik, Tuan!" jawab Christ mengangguk.


Devan turun dari mobilnya dan berjalan dengan senyum sinis menuju lobby. Tak di sangkanya, banyak pengawal yang di terjunkan hanya untuk menyambut Devan. Devan semakin menyungging senyum licik.


Meskipun banyak penjagaan, tak satupun dari mereka berani menyentuh Devan. Mereka hanya memantau jika jika Devan melakukan tindakan licik.


Devan masuk ke sebuah lift di ikuti dengan dua orang lainnya yang terus berdiri di belakang Devan. Devan menatap sinis pada dua pengawal itu melalui pantulan dinding lift.


Ting!


Lift terbuka tepat di ruangan Keanu.


Tok tok tok


Salah satu pengawal mengetuk pintu ruangan Keanu.


"Masuk!" teriak Keanu dari dalam.


Cekleek


Pintu terbuka, dan memperlihatkan Keanu yang duduk di singgasananya dan seorang laki - laki duduk di salah satu kursi depannya yang di ketahui Devan sebagai Kakak Yocelyn, Reyhan.


Devan masuk dengan menyungging senyum misterius. Pengawal kembali menutup pintu ruangan orang tertinggi di perusahaan itu.


"Selamat siang, Papa!" ucap Devan dengan senyuman mempesonanya.

__ADS_1


"Papa!" pekik Keanu dan Reyhan bersamaan dengan saling tatap dengan mata yang membulat.


"Apa maksudmu memanggilku Papa?" tanya Keanu sengit.


"Papa.. jangan suka marah - marah!" ucap Devan dengan santainya.


"Cepat katakan!" ucap Keanu tegas.


Dengan tak berdosa nya, Devan langsung duduk di kursi samping Reyhan.


"Eghm!" Devan berdehem dengan sengaja. Lalu mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Kami sudah menikah!" ucapnya kemudian.


"Apa!" pekik Keanu dan Reyhan bersamaan.


Keanu bahkan berdiri dengan hati yang tiba - tiba bergemuruh.


"Biasa saja dong!" ucap Devan dengan senyum misteriusnya sambil menurunkan tangannya.


"Jangan bercanda!" ucap Keanu tegas.


"Mana mungkin aku bercanda, Papa!" jawab Devan, "aku Devander Gibran telah sah menjadi menantu mu!" ucap Devan.


"Aku tidak rela Yocelyn menikah dengan laki - laki seperti mu!"


"Memangnya Papa pikir Opa Yocelyn mau punya menantu licik seperti Papa Keanu ini!" ucap Devan dengan senyum mengejek.


"Tutup mulutmu brengsek!"


"Kita sama - sama brengsek! untuk apa saling mengatai! termasuk kamu kan Kakak ipar?" ucap Devan dengan senyum sinisnya.


"Apa maksudmu?" tanya Reyhan.


"Sudahlah Reyhan, kita ini sama!" ucap Devan. "Sama - sama Casanova!" lanjut Devan. "Bedanya Papa senior dan kita junior!"


"Jangan sembarang mengatai ku!"


"Hahaha! aku bahkan baru tau kalau kau Casanova juga! buah yang jatuh memang tidak jauh dari pohonnya!"


"Siapa yang bilang padamu?" tanya Reyhan.


"Apa kalian sudah siap mendengar tujuan ku ke sini?" tanya Devan merubah ekspresinya menjadi serius.


Keanu kembali duduk di singgasananya. Dia bahkan tidak bisa menjawab antara siap dan tidak siap. Devan datang dengan cara memaksa masuk, pasti karena membawa bencana bak gunung meletus.


"Cepat katakan!" ucap Reyhan.


Dengan ekspresi dingin, Devan mengeluarkan sebuah ponsel. Lalu mengusap layar sesaat. Sebelum Devan meletakkan ponsel di atas meja, Devan mengamati ekspresi kedua orang itu dengan tatapan misterius. Senyum santai di bibirnya sudah menghilang.


.


.


"Casanova?" tanya Devan serius.


"Aku tahu kalau Papa dulu juga sama seperti mu!" ucap Yocelyn.


"Oh, ya?"


"Iya! bahkan aku tau Papa masih sering godain cewek - cewek genit di klub malam!"


"What!" pekik Devan.


"Dari mana kamu tahu?"


"Jejak digital sangat susah di musnahkan bukan?"


"Jadi?"


"Jadi aku tau saat diam - diam meminjam ponsel Erina, untuk mencari arti Casanova. Dan aku tidak menyangka foto Papa muncul di beberapa artikel lama!"


"Wow!" Devan mengangkat sudut bibirnya sebelah. Seringai licik muncul di balik bibirnya.


"Dan Kak Rey juga!" ucap Yocelyn. "Dia sangat protective pada ku, eh ternyata dia sendiri suka main sama teman kencannya! pantas tidak pernah mengenalkan seorang kekasih pada keluarga. Ternyata dia cuma main sana main sini!"


"Memang ada artikel menceritakan tentang Rey?"


"Tidak ada, tapi aku tau dari salah satu postingan teman kencannya yang curhat tentang kekecewaannya pada Kak Rey yang meninggalkannya setelah beberapa minggu menjalin cinta!"


"Oh, ya?"


"Hemm!" Yocelyn mengangguk. "Dan aku tidak suka dengan Papa yang melarang ku dekat dengan kamu. Tapi dia sendiri Casanova yang menikahi Mama yang sangat polos sejak muda!"


"Sama seperti kamu!"


"Iya! anggap saja Papa kena karma dari permainannya sendiri!"


"Sayang, jangan mengatakan Papa kamu kena karma. Bagaimanapun dia Papa kandung kamu!"


"Iya, maaf!" ucap Yocelyn. "Dan bahkan sampai sekarang Papa masih suka ke klub! Tapi aku tidak tau apa dia masih suka meniduri ja..lang!"

__ADS_1


"Mungkin saja dia hanya menggoda!" ucap Devan. "Yang aku tau Papa kamu sangat mencintai istrinya!"


"Iya! tapi dia juga sangat mencintai hobinya!"


"Lalu kenapa waktu itu kamu menampar ku dengan cara seperti itu!"


"Sebenarnya waktu itu aku punya rencana untuk membongkar masa lalu Papa yang di sembunyikan dari aku dan Mama. Masa lalu yang sangat menjijikkan. Tapi aku takut Mama shock dan jantungnya kambuh!"


"Oh!" Devan mengangguk. "Maafkan aku, Sayang! aku begitu menjijikkan untu kamu." ucap Devan menyesali perbuatannya di masa lalu. "Tapi aku janji, aku tidak akan lagi menyentuh gadis lain, selain kamu!" ucap Devan serius dengan mengecup puncak kepala Yocelyn yang masih bersandar dadanya.


"Aku percaya!" Yocelyn mengangguk. "Untuk itu aku lebih nekat meninggalkan mansion dan ikut kamu! sekarang Papa tidak lagi punya alasan untuk mencegah putrinya menikahi seorang Casanova!" lanjutnya.


"Aku sempat berfikir kita tidak akan bertemu lagi, saat kamu menamparku waktu itu!"


"Itu hanya acting! bagus kan acting ku?" tanya Yocelyn mendongak suaminya.


"Sangat bagus! sampai pipiku terasa panas" jawab Devan gemas.


"Hehehe! itu namanya totalitas dalam berakting suami ku, Sayang!"


"Yaa.. kamu benar!" jawab Devan. "Termasuk harus totalitas menjadi seorang istri, Sayang!" ucap Devan dengan seringai licik.


"Maksudnya?"


"Ah! dasar istri polos ku!" ucap Devan membuang muka menatap langit - langit kamarnya. "Tempat tidur ini butuh totalitas istri yang baik!" jawab Devan menggoda.


.


.


"Cukup!" Keanu mengambil ponsel Devan membantingnya ke lantai dengan kekuatan super. Sehingga ponsel itu pecah.


Devan menyungging senyum tipis melihat ponselnya yang berantakan.


"Bagaimana jika istrimu, alias Mama mertua ku mendengar rekaman itu? pasti shock dan jantungan bukan?" tanya Devan.


"Rekaman itu sudah hancur!" ucap Keanu mengeratkan giginya.


"Oh Papa, kau lupa siapa menantu mu in?" tanya Devan sinis. "Devander Gibran! itu hanya copyan!"


"Brengsek!" pekik Keanu menatap tajam mata Devan.


"Aku tidak mau Mama mertua ku mati cepat, tapi kalau kau mau aku bahkan bisa membongkar kebusukan mu di masa lalu!" ucap Devan. "Termasuk penyebab kematian mertua mu!"


"Dasar licik!"


"Kau sudah tidak punya pilihan lain, selain merestui ku sebagai menantu mu, Tuan Keanu!" ucap Devan. "Oh, maksud ku Papa mertua!"


"Kau benar - benar licik Devan!" ucap Reyhan.


"Bukankah itu hal yang biasa dalam dunia bisnis Kakak ipar?" tanya Devan mengejek.


Keanu dan Reyhan hanya bisa menghela nafas. Mereka benar - benar takut jika Mamanya jantungan.


"Beberapa hari lagi aku akan membawa Yocelyn ke mansion mu, Papa!" ucap Devan kemudian berdiri dari duduknya dengan ekspresi dingin. "Dan pastikan tidak ada satu orang pun yang menghalangi anak dan menantu mu ini untuk datang!" lanjutnya yang langsung berjalan keluar dari ruangan Keanu tanpa pamit.


"Shii**t!" umpat Keanu meninju meja kerjanya.


Sementara Reyhan menghela nafas berat. Dia sendiri tidak tau harus berbuat apa untuk sang Papa yang menentang Yocelyn bersama Devan.


Setelah kepulangannya dari kantor Keanu, Devan langsung menemui tetangga mansion. Yang Devan ketahui sebagai Pelanggan di butik Mama Yocelyn.


"Tante sudah boleh bilang pada Mama istri saya, kalau Yocelyn sudah menikah dengan saya!"


"Baiklah, Devan! Tante kan bicara menggunakan bahasa yang baik!"


"Terima kasih, Tante!" ucap Devan.


"Sama - sama Devan!"


Tetangga itu yang diketahui Devan sebagai pelanggan setia butik mertuanya, sengaja di undang agar menyaksikan langsung pernikahan itu. Dan bisa membantunya untuk bicara pada Mama mertuanya.


Tentu Devan mengeluarkan kocek cukup dalam untuk satu tetangga itu. Karena wanita itu harus bisa menyampaikan tanpa membuat Mama Yocelyn shock.


Flashback Off . . .


Devan kembali menghisap rokok yang ada di sela - sela jari tangan kirinya. Seutas senyuman licik kembali terbit.


.


.


.


.


.


__ADS_1



Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2