Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Friday Night 1


__ADS_3

"Ini!" ucap Devan meletakkan kantong makanan di atas meja makan.


"Apa ini?"


"Untuk makan malam!" jawab Devan, berkacak pinggang melihat Yocelyn dari bawah hingga atas, yang sudah memakai baju sesuai kodratnya, alias baju yang dia belikan. Bukan lagi kemeja - kemeja miliknya.


Kalau saja malam ini adalah pesta biasa, pasti aku membawamu! kamu terlihat sangat cantik meskipun tanpa make up! ucap Devan dalam hati.


"Oh!" Yocelyn mengangguk, "Thanks ya Devan!" ucap Yocelyn tersenyum manis.


"Heemm!" Devan mengangguk.


"Eh, tapi kenapa cuma satu?" tanya Yocelyn setelah membuka kantong plastik.


"Maaf, aku tidak bisa menemani mu makan malam," jawab Devan, "aku akan makan di pesta nanti!"


"Oh!" Yocelyn mengangguk.


"Kamu mau makan sekarang atau nanti saja?"


"Aku belum lapar!" jawab.


"Em.." Devan mengangguk lalu duduk di sofa.


"Kamu belum mandi?"


"Hehe! belum!" jawab Yocelyn tersenyum kikuk.


Belum mandi saja secantik ini! batin Devan menatap lekat wajah cantik Yocelyn.



"Apa ada yang kamu butuhkan lagi?"


"Tidak ada! kenapa?"


"Tidak apa - ala! barang kali kamu membutuhkan sesuatu katakan padaku! jangan sungkan!"


"Oh! iya" Yocelyn ikut duduk di sofa. "Maaf ya Devan, aku sudah banyak merepotkan kamu!" ucap Yocelyn.


"Aku sama sekali merasa tidak di repot kan!"


"Bagaimana bisa?"


"Nyatanya bisa!"


"Hehe! terima kasih!"


"Hemm!" Devan mengangguk, "boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa kamu punya pacar?" tanya Devan serius.


"Pacar?" Yocelyn mengerutkan keningnya.


"Iya!" Devan mengangguk.


"Pacar dari mana!" jawab Yocelyn, "kamu saja laki - laki asing pertama yang aku kenal!" lanjutnya.


"Hah!" pekik Devan menatap tak percaya pada Yocelyn. "Teman sekelas?" tanya Devan yang merasa tidak masuk akal dengan jawaban Yocelyn.


"Erina selalu ikut masuk ke kelasku, dan pengawal selalu berjaga di depan pintu! sehingga tidak ada yang berani berkenalan dengan ku!"


"Ada yang seperti itu?" tanya Devan menatap mata Yocelyn dengan keheranan.


"Nyatanya ada!" balas Yocelyn yang membuat Devan tersenyum tipis. "Apa kamu pikir yang aku ceritakan semalam itu bohong!" yocelyn melirik Devan lalu memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Jadi orang tua mu benar - benar membatasi pergaulan mu?"


"Tentu saja!" jawab Yocelyn cepat, "mereka takut aku terbawa pergaulan bebas!"


"Kalau kamu tidak pernah mengenal laki - laki asing sebelumnya, bagaimana bisa kamu punya keberanian untuk mengenalku bahkan tinggal di sini, dan membiarkan aku keluar masuk apartemen ini tanpa kamu batasi sedikitpun!"


"Memangnya kenapa?" tanya Yocelyn yang bingung dengan maksud Devan. "Kamu pasti orang baik!"


"Yossy! aku ini laki - laki normal, bagaimana kalau aku tergiur dengan dirimu!"


"Tergiur?" gumam Yocelyn. "Tergiur bagaimana?" tanya Yocelyn balik.


Sebenarnya ga**dis ini benar - benar polos apa bodoh sih? batin Devan.


"Lupakan saja!" pungkas Devan, "aku harus bersiap untuk memenuhi undangan pesta malam ini!" lanjutnya berdiri dari duduknya.


"Hemm ok!" jawab Yocelyn mengangguk.


Devan berjalan ke arah pintu utama. Sementara Yocelyn menatap punggung tegap Devan, hingga Devan menghilang di balik pintu apartemennya.


"Devan memang sangat tampan! hihihi!" gumam Yocelyn lirih dengan senyum manisnya.


"Ah! apa yang aku pikirkan! bukankah dia bilang aku seperti adiknya!" lanjutnya yang masih duduk bersandar di sofa.


"Hahaha! Yocelyn Yocelyn! mimpi mu terlalu tinggi!" ucapnya menepuk bantal sofa di pangkuannya.


Yocelyn langsung membuka kotak makan yang di bawa Devan. Dia ingin melihat menu apa yang di bawa Devan untuk makan malam ini.


"Wow! seafood!" Yocelyn tampak sangat puas dengan pilihan menu Devan.


"Dia selalu bisa memilih menu sesuai waktu makan!"


Yocelyn kembali menutup kotak nasi itu dan bergegas masuk ke kamarnya untuk mandi.


# # # # # #


"Aku berharap ini adalah pesta gila terakhir yang aku hadiri!" gumam Devan.


"Sepertinya hati ku mulai tersentuh oleh Yossy!" Devan membuang nafasnya kasar.


"Tapi bagaimana kalau Yossy tau aku ini Casanova? apa dia akan lari dari ku?"


Devan memijat pelipisnya yang terasa berat saat memikirkan ini.


"Tapi aku sendiri tidak yakin! itu cinta atau ... " Devan menghentikan gumaman lirihnya. Lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa menghadap langit - langit kamar.


"Atau ... " Devan menggeleng pelan, "atau hanya ***** saja?" lanjutnya.


"Huuufff!" Devan membuang nafas panjang dari mulutnya.


"No!" ucap Devan kembali duduk dengan tegap. "Jangan gegabah Devan! pastikan dulu siapa gadis ini!" ucapnya tegas.


"Sangat langka ada gadis yang bukan hanya menarik matamu untuk melihat!" Devan menghembuskan nafasnya kasar. "Tapi hati kecilmu pun ikut goyah!"


"Aku harus segera mencari tau, siapa dia sebenarnya! kenapa nama Yossy di London University tidak ada satupun yang mirip dengannya!"


Devan berdiri dan memasukkan undangan ke dalam saku jasnya, untuk kemudian keluar dari apartemennya.


Devan melajukan mobilnya ke Klub malam yang menjadi tempat di adakan nya pesta Friday night yang di gelar oleh Erastus. Seorang Casanova yang berusia 10 tahun lebih tua dari Devan.


"Tuan Devan, sang Casanova muda!" sapa Erastus merentangkan tangannya saat melihat Devan masuk ke dalam Klub miliknya itu.


"Hai!" sapa Devan dengan gaya cool nya, menyambut uluran tangan Erastus.


"Terima kasih sudah datang, Tuan!" ucap Erastus, "pesta ini tidak akan meriah tanpa kehadiran Tuan Casanova tampan seperti anda!"


"Haha! kau ini bisa saja!"

__ADS_1


"Karena memang hanya anda yang paling menarik perhatian banyak wanita!"


Devan hanya menyungging senyum miring sambil menepuk lengan Erastus pelan.


"Mari!" ucap Erastus mengarahkan Devan untuk naik ke lantai dua tempat di adakan nya pesta.


"Hem!" Devan mengangguk dan berjalan beriringan dengan Erastus menaiki tangga.


"Halo Bro!" teriak Alfred dan Zayn bersamaan saat melihat Devan selesai menyerahkan undangannya.


Tanpa menjawab Devan berjalan mendekati tempat duduk di mana Alfred dan Zayn duduk. Dan duduk di samping Alfred.


"Aku pikir kau tidak akan datang!" ucap Alfred.


"Aku juga tidak tau kenapa aku datang!" jawab Devan santai mengambil satu gelas berisi minuman di atas meja, dan meneguknya sedikit.


"Sangat sayang kalau kau tidak datang, Bro!" sahut Zayn. "Kata Asisten Erastus, akan banyak mangsa baru malam ini!"


"Oh ya?" tanya Devan yang tidak terlalu antusias.


"Hemm!" jawab Alfred menepuk pundak Devan.


"Kau pasti akan mengambil salah satu dari mereka!" ucap Zayn.


"Maybe!" jawab Devan meneguk minuman di tangannya hingga habis.


"Tuan Devan" sapa manja seorang gadis berpakaian seksi yang langsung duduk di samping Devan, dan dengan beraninya langsung memeluk lengan Devan.


Devan hanya melirik tanpa berminat mengajak gadis itu berbicara.


"Tuan, malam ini sama Joice ya!" ucap gadis yang bernama Joice itu.


"Kenapa aku harus dengan mu?" tanya Devan dingin.


"Hemm!" Joice memanyunkan bibirnya, "semenjak Joice mendapatkan undangan pesta seperti ini, Joice sering mendengar nama Tuan Devan, Tapi Joice selalu kalah cepat dengan yang lainnya!" jelas Joice yang masih bergelayut manja di lengan Devan.


Devan hanya menyebikkan bibirnya mendengar penjelasan gadis itu. Devan sama sekali tidak tertarik dengan gesekan yang sengaja di lakukan gadis itu di lengannya.


Kenapa tubuh ku sama sekali tidak merespon! batin Devan yang merasa heran dengan dirinya sendiri.


Sementara Alfred san Zayn saling memberi kode, seolah tau apa yang terjadi pada Devan.


"Tuan?" panggil Joice lembut karena Devan tidak meresponnya sama sekali.


"Pergilah!" ucap Devan datar.


"Tuan Devan kenapa begitu?" tanya Joice manja.


"Pergilah!" jawab Devan mulai dingin.


"Tuan?"


"Sebaiknya kau pergi! jangan buat dia marah!" sahut seseorang yang tiba - tiba muncul di hadapan mereka.


Spontan semua menoleh ke arah pria di yang berdiri itu. Membuat seketika pria itu menyungging senyum di bibirnya.




Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Kakak 🥰



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena


__ADS_2