
Satu tahun kemudian . . .
Baby Ivander sudah mulai belajar berjalan meskipun dengan langkah gontai. Dan tentu saja masih sering goyang dan jatuh.
Namun setiap bayi tidak akan pernah menyerah begitu saja. Seperti baby Ivander, yang entah sudah berapa kali dia jatuh terduduk, atau bahkan goyang dan terbentur, dia terus mencoba untuk berjalan.
Mendekati apapun yang menurutnya sangat menarik untuk di sentuh atau sesuatu yang hanya sekedar menarik perhatiannya.
Devan dan Yocelyn begitu kompak merawat baby Ivander yang menggemaskan. Pipinya yang gembul, matanya yang bulat dan bahkan tangan juga kakinya yang tampak sangat berisi itu.
"Kemari boy!" ucap Dad Devan pada Ivander yang tengah berjalan tertatih selangkah demi selangkah, dengan Mom Yocelyn yang berdiri di belakangnya.
Mereka tengah berada di Regent's park. Salah satu taman di London yang sangat cocok untuk anak - anak bermain dan menghabiskan hari libur mereka. Selain itu tempatnya juga dekat dengan kebun binatang London.
Dengan langkah gontai, baby Ivander berjalan mendekati Devan yang membawa sebuah mainan berbentuk dinosaurus, lebih tepatnya brontosaurus.
"Haks haks!" dengan tawa khas baby Ivander, sampailah dia di pelukan sang Daddy.
"Yeay!" sorak Yocelyn di ikuti kecupan di pipi gempil Ivander.
Beberapa saat berlalu, baby Ivander kembali melorot dan mencoba kembali berjalan sendiri. Kali ini Devan dan Yocelyn kompak mengikuti langkah baby Ivander dari belakang baby Ivander. Mengikuti kemanapun langkah batita itu pergi.
Baby sitter Ivander pun selalu siap siaga di belakang mereka berdua. Dengan membawa beberapa perlengkapan bayi. Seperti susu juga popok bayi.
Puk!
Baby Ivander menepuk pelan kaki mungil bayi perempuan yang berusia sekitar enam bulan. Bayi itu tengah dipangku oleh sang Papa di sebuah kursi taman. Dan ada seorang baby sitter yang berdiri tidak jauh dari pria itu.
"Eh, maafkan anak saya Tuan!" ucap Yocelyn spontan mengangkat tubuh Ivander dan menggendongnya.
"Oh! tidak masalah Nyonya, dia sungguh menggemaskan!" ucap laki - laki itu sembari tersenyum mentoel pipi Ivander.
"Baby girl ini juga tampak sangat menggemaskan!" ucap Devan yang memainkan pipi bayi perempuan itu menggunakan punggung jari telunjuknya.
Pria itu tampak tersenyum senang menanggapi ucapan Devan.
"Siapa namamu, girl?" tanya Devan sembari duduk di samping pria itu.
"Charla, uncle!" jawab pria itu.
__ADS_1
Spontan senyum di bibir Devan berangsur - angsur menghilang. Seketika itu juga terlibat saling tatap dengan istrinya.
"Charla?" tanya Devan lebih jelas dan serius.
"Iya, memangnya kenapa dengan nama Charla, Tuan?" tanya pria itu.
"Oh, tidak" Devan menggelengkan kepalanya pelan, "namanya mirip dengan nama teman saya!" lanjut Devan.
"Memangnya namanya Charla juga?" tanya pria itu.
"Iya, Charla Caroline!" jawab Devan mulai asyik berbicara dengan pria itu.
"Charla Caroline?" tanya pria itu menajamkan pendengaran telinganya.
"Iya!" Devan mengangguk pelan.
"Tuan, itu adalah nama ibu kandung anak kami. sekarang saya jadikan nama anak kami!" jawab pria itu.
"Tunggu.. tunggu," Devan tampak berfikir.
Sementara Yocelyn masih berdiri sambil menghadapkan Ivander pada bayi perempuan di pangkuan pria itu. Dua batita tampak asyik mengoceh menggunakan bahasa bayi.
"Sebelumnya kami tinggal di Swiss, Tuan! dan baru 8 bulan ini kami di London!"
"Swiss?" Devan semakin tertegun, di ikuti Yocelyn yang juga mulai menebak - nebak.
"Sebentar!" Devan mengeluarkan ponselnya. Dan membuka salah satu aplikasi sosial media miliknya. Setelah menggeser beberapa kali menggunakan ibu jari, Devan menunjukkan layarnya pada pria itu. "Apa dia istri Tuan?" tanya Devan menunjukkan sebuah foto dari aplikasi ige.
"Benar, Tuan!" jawab pria itu cepat. "Anda mengenalnya?" pria itu merasa takjub ada yang mengenal istrinya.
"Kami berteman" jawab Devan tersenyum tipis.
Ada rasa lega di dalam dadanya. Karena Charla telah menikah dan memiliki keluarga kecil yang terlihat bahagia. Melihat namanya yang juga di gunakan untuk nama anaknya.
"Kalau boleh tau, dimana Charla sekarang, Tuan?" tanya Yocelyn yang tidak melihat adanya Charla di sekitar mereka.
Pria itu menunduk sambil menghela nafas berat. Raut wajahnya berubah menjadi sedih dan pias. Seperti tengah mengingat suatu kejadian yang menyedihkan.
"Istri saya meninggal saat melahirkan, little Charla!" jawab pria itu menatap wajah mungil putrinya.
__ADS_1
"Apa!" pekik Devan dan Yocelyn bersamaan.
Bagai di hantam meteor dari luar angkasa. Tubuh mereka seperti terbakar dalam waktu singkat. Sungguh kabar panas yang membakar telinga mereka.
Tubuh keduanya mendadak menegang dengan nafas yang tidak beraturan. Mata keduanya fokus pada pria itu tanpa berkedip. Denyut jantung mereka pun seolah berpacu sangat cepat.
Kaki Yocelyn mendadak lemas, bahkan tangannya jelas gemetar hebat. Spontan baby sitter Ivander mengambil alih baby Ivander. Khawatir jika sang baby itu terjatuh.
Pria itu melihat Devan dan Yocelyn bergantian. Bingung dengan reaksi sepasang suami istri itu. Pria itu memberi kode pada baby sitter putrinya untuk mengambil alih sang anak.
"Tuan yakin, istri anda adalah Charla teman kami?" tanya Yocelyn masih dengan tatapan tak percaya.
"Benar, Nyonya!" jawab pria itu.
"Bagaimana bisa dia meninggal, Tuan?" tanya Devan dengan nafas yang masih naik turun.
"Tolong ceritakan lebih detail, Tuan! Charla adalah sahabat kami!" sahut Yocelyn. "Bahkan darahnya mengalir di tubuhku!" lanjut Yocelyn dengan air mata yang tiba - tiba meluncur bebas di pipinya.
Melihat air mata yang menetes di pipi istrinya, Devan segera menarik tangan Yocelyn dan mendudukkan Yocelyn di salah satu pahanya. Karena kursi taman itu hanya muat untuk dua orang saja.
Devan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Dia sendiri merasa shock dan hancur, tapi memberi ketenangan pada sang istri adalah hal utama baginya.
Pria itu tampak menarik nafas dalam. Menatap langit cerah yang menyelimuti kota London. Ingatannya kembali pada wajah cantik Charla sang istri yang sangat dia cintai. Bayangan kebersamaan dan penyesalan masih menghantui pria itu sampai saat ini.
"Nama saya Darren Abraham. Pertama kali kami bertemu dua tahun yang lalu, di Swiss!" pria itu mulai bercerita dengan nada pelan dan menghayati setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. "Saat itu kami tidak sengaja bertemu di Danau Zurich, Dia duduk sendirian. Awalnya dia tidak peduli ketika saya mencoba untuk mengajak bicara. Namun lama - lama dia mulai merespon. Perkenalan itu berlanjut dengan pertemanan. Kami sering bertemu dan saling bertukar cerita." Darren kembali menarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan.
"Saat itu dia bilang baru beberapa minggu kembali ke Swiss untuk melanjutkan bisnis Opanya, setelah sebelumnya dia di London selama belasan tahun. Pertemanan itu akhirnya berlanjut dengan jalinan asmara. Saya yang lebih dulu jatuh cinta padanya, karena dia tidak pernah memandang harta. Tidak lama dari hari itu, saya mengajaknya untuk menikah, dan dia langsung menerimanya. Saya sungguh bahagia dia menerima saya dengan segala kekurangan saya." Setetes air mata Darren meluncur begitu saja.
"Sebagai wujud kebahagiaan saya, saya menggelar pesta pernikahan itu dengan sangat mewah! itu sebagai lambang betapa besar rasa cinta saya untuknya. Awal - awal pernikahan kami, kami begitu bahagia. Saya membawanya keliling dunia, kemanapun yang dia inginkan. Tapi di negeri manapun kami berada, dia selalu menginginkan ke rumah sakit terbaik di kota itu. Awalnya saya tidak tau, kenapa dia selalu mengunjungi rumah sakit. Sampai akhirnya saya tau, dia ingin bisa memiliki anak! saya sungguh terharu, padahal saya tidak pernah menuntut hal itu." Air mata Darren kembali menetes.
.
.
**Happy reading 🥺😥**
__ADS_1