
Pagi harinya, Devan sudah berada di kantor. Lebih tepatnya di ruang meeting gedung yang menjulang tinggi itu. Devan duduk berhadapan dengan Keanu, sesekali Devan tersenyum misterius pada Keanu.
Di ruangan itu juga ada beberapa orang pemegang saham lainnya. Mereka menyadari gelagat yang tak biasa dari seorang Devan. Karena ruangan itu di penuhi para pebisnis handal, tentu mereka memiliki insting yang kuat untuk mengamati klien nya.
Saat meeting selesai, entah kenapa Keanu justru pergi meninggalkan ruangan itu bersamaan dengan yang lainnya. Yang mana biasanya dia akan mengobrol lebih dulu dengan Devan.
Devan menatap punggung semua klien yang meninggalkan ruang meeting nya. Tatapan Devan tak lepas dari punggung tegap Keanu. Di ruangan itu menyisakan Devan dan Christ sang asisten.
"Kau cari kelemahan Keanu!" ucap Devan melirik Christ.
"Keanu?" tanya Christ, "untuk apa Tuan? bukankah hubungan kalian baik - baik saja? dalam bisnis juga tidak ada masalah!"
"Cepat atau lambat mungkin tidak akan baik - baik saja!"
"Hah!" pekik Christ yang merasa heran, karena selama dia bekerja bersama Devan tak pernah sekalipun mereka terlibat perselisihan. Bahkan sebelum Devan mengambil alih perusahaan, tak pernah sekalipun FG corp bermasalah dengan perusahaan Keanu.
"Lakukan saja perintahku!"
"Baik, Tuan!"
Mereka berjalan keluar meninggalkan ruang meeting dengan Devan yang berjalan satu langkah lebih cepat di depan Christ.
Devan duduk di singgasananya, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya menatap langit - langit ruang kerjanya.
"Kenapa aku harus mencintai gadis polos itu?" gumamnya lirih.
"Begitu banyak gadis cantik dan berpengalaman yang pernah bersamaku! tapi tak satupun yang mampu menjatuhkan hatiku! bahkan Charla sekalipun!"
"Charla?" gumam Devan tiba - tiba kembali teringat tentang Charla yang waktu itu hampir menjual dirinya.
"Apa kabarnya gadis itu?" Devan mengetuk gagang kursi tampa melihatnya, lalu meraih ponsel di saku jasnya.
# # # # # #
Yocelyn tengah berjalan - jalan di sekitar apartemen dengan memakai kaca mata hitam yang menempel di hidungnya. Yocelyn duduk sendirian di Cafe depan apartemen, tentu saja tak luput dari mata pengawal yang mengikutinya secara diam - diam bahkan tanpa memakai seragam pengawal.
"Hai!" jawab Yocelyn mengangkat vidio call dari Devan.
"Halo, Sayang!" balas Devan, "Kamu dimana?" tanya Devan yang melihat background Yocelyn bukan area apartemennya.
"Di cafe depan apartemen!" jawab Yocelyn mengarahkan kamera ke sekeliling cafe, dan sekilas Devan dapat melihat pengawalnya yang menyamar sebagai pengunjung duduk di meja yang tidak jauh dari Yocelyn.
"Owh!" Devan mengangguk. "Ingat! jika tidak sedang bersama ku jangan terlalu lama di luar!"
"Iya! sebentar lagi aku akan pulang!"
"Sipp! kamu sudah makan siang?"
"Ini!" ucap Yocelyn menunjukkan piring bekasnya makan siang. "Kamu sudah makan?"
"Belum! Christ masih memesannya!"
"Owh! Devan, boleh tidak nanti malam antar aku beli aksesoris! aku sudah bosan aksesoris ku hanya sedikit!"
"Tentu saja boleh, Sayang!" jawab Devan. "Apapun yang kamu inginkan akan aku wujudkan, selagi aku sanggup!"
"Beneran?"
"Iya dong! everything for you!" ucap Devan mengedipkan satu matanya.
"Haha" Yocelyn tertawa kecil dengan menutup mulutnya.
"Sayang?" panggil Devan.
"Apa?"
"I miss you!" ucap Devan.
"Baru juga tadi pagi ketemu!"
"Aku mau nya setiap saat!" ucap Devan.
"Tapi kan memang kamu harus bekerja!"
"Besok kamu ikut aku ke kantor ya!"
"Emang boleh?" tanya Yocelyn antusias.
__ADS_1
"Ini kantor ku, siapa yang berani melarang mu!"
"Aaa! yes!" seru Yocelyn.
"Sekarang kamu pulang dulu, jangan terlalu lama di luar tanpa aku!"
"Baiklah! bye bye!"
"Iya honey, bye bye!"
# # # # # #
Menjelang malam, Yocelyn duduk di sofa dekat jendela apartemennya menatap jalanan di luar apartemen. Lampu jalanan mulai menyala di bawah langit yang akan segera berubah gelap.
"Devan pulang jam berapa ya?" gumamnya menyandarkan dagu di tangan sofa.
Yocelyn sesekali melirik gerbang masuk gedung apartemen. Berharap mobil Devan segera memasuki gerbang itu.
Dan benar saja, 30 menit memandangi gerbang itu, akhirnya mobil sport Devan memasuki halaman apartemen.
"Yes!" pekik Yocelyn senang.
Yocelyn segera bangkit dari sofa bersiap berdiri di samping pintu untuk mengagetkan Devan. Yocelyn sudah hafal, selama seminggu ini sepulang kerja Devan akan langsung menuju apartemennya.
"Daarrr!' teriak Yocelyn saat Devan membuka pintunya.
"Eh!" pekik Devan yang merasa sedikit kaget oleh ulah Yocelyn. "Kamu ya!" ucap Devan sambil mengunci pintu kembali.
"Hahaha!" Yocelyn cekikikan berhasil mengagetkan Devan.
Tanpa aba - aba Devan mengangkat tubuh Yocelyn yang masih menertawainya.
"Devaan!" ucap Yocelyn yang spontan melingkarkan tangan di leher Devan.
"Beraninya kamu mengagetkan ku!" ucap Devan, "kamu harus mendapat hukuman!"
Devan membawa Yocelyn ke dalam kamar.
"Devan, turunkan aku!"
"Kenapa harus begitu!"
"Ayo! panggil aku sayang!"
"No!"
"Ok kalau begitu!" ucap Devan tersenyum sinis.
Devan meletakkan tubuh Yocelyn di atas tempat tidur. Devan ikut menjatuhkan dirinya di samping Yocelyn dengan posisi tengkurap. Devan menindih kaki Yocelyn yang memberontak dengan satu kakinya. Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Yocelyn.
"Cepat panggil aku sayang!"
"Nggak!" jawab Yocelyn sambil tergelak jahil.
"Ayo!" ucap Devan meniup telinga Yocelyn.
"Hahahaha!" Yocelyn tertawa renyah menahan geli di telinganya.
"Ayo!" Devan kembali meniup telinga Yocelyn pelan.
"Sa....." Yocelyn menggantungkan ucapannya.
"Hemm?" Devan mengarahkan telinga kanannya ke bibir Yocelyn.
Bukannya melanjutkan kalimatnya, Yocelyn justru membalas meniup telinga Devan. Spontan Devan tergelak, menahan gemas pada gadis di sampingnya itu.
"Sayang, jangan sembarangan!" ucap Devan. "Kamu tidak sadar, kamu sedang bermain api, honey!"
"Aku hanya membalas kamu!" ucap Yocelyn.
"Cepat panggil aku sayang! atau kamu akan menyesal!"
"Tapi aku tidak percaya diri memanggil seperti itu!"
"Dengarkan aku?" ucap Devan, "kamu senang tidak, jika aku memanggilmu sayang?"
__ADS_1
"Senang sekali!"
"Kenapa?"
"Aku seperti sangat di cintai!"
"Begitu juga aku, Sayang!" tutur Devan.
"Baiklah, Sayang!" ucap Yocelyn.
"Ulangi lagi?" ucap Devan tersenyum jahil.
"Sayang!" ucap Yocelyn.
"Lagi!"
"Sa..!"
Devan membungkam bibir Yocelyn dengan bibirnya. Mencium bibir Yocelyn dengan lembut. Sesaat kemudian Devan melepas ciumannya karena Yocelyn masih kesulitan mengatur nafasnya.
"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri memanggilku Sayang!" bisik Devan membelai wajah cantik Yocelyn.
"Iya, Sayang!" ucap Yocelyn mengecup hidung Devan.
"Good girl!" ucap Devan mengecup singkat bibir Yocelyn. "Aku mandi dulu!"
"Iya! aku sudah lapar!"
"Baiklah!"
Devan melepas tangan dan kaki nya yang mengunci Yocelyn. Devan beranjak dari tempat tidur Yocelyn. Dan langsung masuk ke walk in closed, untuk mandi.
Beberapa saat kemudian, Devan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, dan melihat Yocelyn yang mengambilkan bajunya yang tertata rapi di salah satu almari Yocelyn. Yang memang sengaja di tinggal Devan di salah satu almari Yocelyn.
"Pakai ini saja, Sayang!" ucap Yocelyn.
"Terima kasih, Sayangku!" ucap Devan mencium singkat pipi kanan Yocelyn.
"Di kamar mandi dong!" ucap Yocelyn saat melihat Devan akan memakai pakaian dalamnya.
"Kenapa?"
"Malu lah!" ucap Yocelyn.
"Tapi aku enggan ganti baju di dalam kamar mandi!"
"Kalau begitu aku saja yang keluar!" ucap Yocelyn yang langsung berjalan cepat keluar dari walk in closed.
Devan menatap punggung Yocelyn yang jelas terlihat kekasih polosnya itu masih malu - malu. Devan segera menyelesaikan aktivitasnya di walk in closed. Devan keluar dengan di sambut Yocelyn yang sudah siap dengan jaket dan tas kecilnya, tak lupa masker untuk menutupi setengah wajahnya.
"Ayo, Sayang!" ucap Devan memberikan tangannya agar di sambut Yocelyn.
"Ayo!" Yocelyn meraih tangan Devan.
Mereka berjalan bersama keluar dari apartemen dan langsung menuju tempat Devan memarkirkan mobilnya.
.
.
Selamat membaca Kakak.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.