
Tok tok tok!
Devan berdiri di depan pintu dengan kantong berisi kotak makanan yang dia beli di restoran bawah. Dia mengetuk pintu utama apartemen yang di tempati Yocelyn.
Tok tok tok!
Devan kembali mengetuk pintu karena tidak mendapat jawaban maupun tanda - tanda akan di buka.
Dengan terpaksa, Devan memasukkan sandi apartemen Yocelyn. Dan membuka pintu perlahan. Terlihat hanya lampu tidur yang menempel di dinding ruang tamu saja yang menyala. Devan meletakkan kantongnya di meja makan lalu mematikan lampu itu dan membuka gorden yang masih tertutup rapat. Seketika cahaya Matahari yang baru saja muncul menerobos masuk ke ruangan itu.
Tok tok tok!
Devan mengetuk pintu kamar Yocelyn yang masih tertutup rapat.
"Yossy?" panggil Devan sedikit keras.
"Yossy!" panggil lagi karena tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
"Apa dia tidur seperti kerbau?" gumamnya lirih.
"Yossy?" panggil Devan lagi dengan suara lebih keras.
"Apa mungkin dia pergi?" gumamnya lagi.
Tanpa berfikir panjang Devan langsung membuka pintu kamar Yocelyn.
Glekk!
Devan menelan ludahnya dengan sangat susah, mendapati Yocelyn yang tidur menggunakan kemeja yang dia berikan. Mata Devan membulat menatap paha mulus Yocelyn yang terlihat sangat jenjang hingga kaki nya.
Kesialan pagi macam apa ini! batin Devan.
Devan menggosok matanya dengan jarinya. Berusaha menetralkan hawa panas yang menjalar di tubuhnya.
Kuatkan batin mu Devan! Kau sudah berjanji untuk tidak merusak gadis polos seperti ini! batin Devan seakan memberontak dengan ucapan Devan di dalam hatinya.
Devan berjalan mendekati tempat tidur Yocelyn. Devan duduk di tepi ranjang.
"Yossy?" panggil Devan.
Yocelyn hanya sedikit bergerak tapi tetap tidur dengan lelapnya.
"Yossy?" panggil Devan menggoyangkan pelan pundak Yocelyn yang membelakanginya.
"Erin! berhentilah menggangguku tidur!" ucap Yocelyn tanpa membuka matanya. "Aku malas kuliah hari ini!" lanjutnya.
"Erin?" pekik Devan mengerutkan keningnya, "Yossy! ini aku, Devan!"
Yocelyn membuka matanya dan langsung mengingat sesuatu. Spontan Yocelyn terduduk menghadap Devan yang menyungging senyum misterius.
Glekk!
Devan menelan ludahnya dengan sangat susah melihat penampilan polos Yocelyn saat bangun tidur.
"Maaf! aku lupa kalau aku sedang kabur!" ucap Yocelyn yang menyadarkan dirinya.
"Tidak masalah!" jawab Devan, "aku hanya membawa sarapan untuk kita!" ucap Devan. "Bangunlah cuci muka mu dan ayo kita sarapan!"
Yocelyn tersenyum kikuk, bingung harus bicara apa.
"Sepertinya aku jadi merepotkan mu" ucap Yocelyn yang merasa tidak enak hati pada Devan.
"Tidak masalah!" ucap Devan santai, "aku tunggu di meja makan!"
"Iya!" jawab Yocelyn mengangguk dengan senyum kikuk di bibirnya.
Devan keluar dari kamar Yocelyn, dan langsung duduk di meja makan. Devan membuka kotak makan sambil menunggu Yocelyn keluar dari kamar.
Di dalam kamar Yocelyn, masih berdiam di atas tempat tidurnya. Memikirkan yang baru saja terjadi. Merasa malu dengan Devan yang sudah rapi di saat Matahari baru saja muncul. Sementara dia terbiasa bangun seenaknya, meskipun Mamanya selalu berusaha menerapkan bangun pagi.
__ADS_1
"Apa orang hebat selalu bangun pagi?" gumamnya lirih. "Seperti Devan, Papa dan Kak Rey!" lanjutnya memiringkan bibirnya.
Setelah itu Yocelyn turun dari tempat tidurnya, dan masuk ke walk in closed lalu ke kamar mandi. Dia hanya mencuci mukanya dan gosok gigi. Lalu keluar dan menyisir rambutnya asal.
Yocelyn keluar dari kamarnya tanpa mengganti bajunya. Dia tetap menggunakan kemeja Devan yang kebesaran di tubuhnya.
Glekk!
"Hai!" sapa Devan menetralkan dirinya. "Maaf aku membangunkan mu!" lanjut Devan.
"Tidak masalah! justru aku yang akan tidak enak hati jika tidak bangun! hehe!" Yocelyn tersenyum kikuk, lalu duduk di depan Devan tanpa mengerti Devan sedang menahan dirinya untuk tidak tergoda dengan tubuh Yocelyn.
"Kamu terbiasa bangun siang?" tanya Devan.
"Aku terbiasa bangun sesuka ku," jawab Yocelyn, "kamu rajin sekali, jam segini sudah rapi, bawa sarapan pula!"
"Aku sudah terbiasa bangun pagi jika hari kerja!"
"Oh!" Yocelyn mengangguk paham.
"Ayo, makan!"
"Iya!" jawab Yocelyn menarik kotak makannya.
Devan memulai makan tanpa bersuara, Begitu juga Yocelyn. Sesekali Devan melihat Yocelyn yang tengah menikmati sarapannya dengan santai dan anggun. Devan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Kamu masih ngantuk?" tanya Devan setelah menyelesaikan makanannya.
"Sudah tidak!" jawab Yocelyn sambil meletakkan gelas yang baru saja di minumnya.
"Kalau masih ngantuk, tidurlah!" ucap Devan, "aku juga akan berangkat sebentar lagi"
"Ah, tidak! aku sudah tidak ngantuk lagi" jawab Yocelyn yang di angguki Devan.
Devan mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa email yang masuk ke ponselnya. Devan tampak asyik dengan ponselnya. Yocelyn mengambil kotak makan bekas mereka makan, hendak di buangnya.
"Aku bisa!" sahut Yocelyn
"Yakin anak Mommy bisa membuang sampah?" ucap Devan dengan senyum mengejek.
"Kamu mengejekku!"
"Hehehe!" Devan tersenyum lalu membuang sampah yang ada di tangannya.
"Devan?" panggil Yocelyn lirih.
"Hemm?" jawab Devan menoleh pada Yocelyn.
"Boleh aku minta tolong?"
"Apa?"
"Tunggu sebentar!" Yocelyn berdiri dari kursinya.
Devan mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu. Beberapa saat kemudian Yocelyn keluar dengan uang segepok. Yocelyn duduk di samping Devan, menarik satu tangan Devan dan meletakkan segepok uang di tangan Devan. Devan bingung dengan maksud Yocelyn.
"Apa ini?" tanya Devan kebingungan.
"Uang!" jawab Yocelyn.
"Aku juga tau ini uang!" ucap Devan, "maksudku untuk apa uang ini?"
"Aku belum berani keluar! jadi belikan aku ponsel, aku bosan cuma bisa lihat TV," ucap Yocelyn, "jadi belikan aku ponsel dan aku akan membuat akun fake! supaya aku tidak bosan" jelas Yocelyn dengan gaya centil nya yang setengah ke kanak - kanakan.
"Jadi kamu mengambil banyak uang waktu itu untuk mempersiapkan diri saat kabur?"
"Iyalah!" jawab Yocelyn tanpa rasa bersalah, "kalau aku aku menarik uang setelah aku kabur, pasti dapat di lacak oleh Papa!"
"Pintar juga isi kepalamu ya?" ucap Devan menyungging senyum.
__ADS_1
"Sudah lama aku merencanakan ini!" ucap Yocelyn.
"Jadi tas ransel mu itu isinya hanya uang?"
"Iya!" jawab Yocelyn mengangguk. "Mangkanya aku tidak punya baju ganti!" lanjutnya, "di tambah aku tidak punya teman sama sekali, jadi aku tidak tau harus minta tolong pada siapa jika aku butuh uang! sehingga hampir setiap hari aku menarik uang dari kartu - kartu ku!"
Devan meletakkan uang Yocelyn di atas meja. Lalu melirik Yocelyn dengan tatapan yang sulit di artikan. Yocelyn menatap uangnya dan Devan bergantian.
"Kamu simpan saja uang itu! aku akan belikan ponsel untukmu," ucap Devan, "nanti aku akan pulang saat jam makan siang!"
"Eh! tidak bisa begitu!" ucap Yocelyn mengambil uangnya kembali dan menyerahkan pada Devan lagi. "Kamu sudah banyak mengeluarkan uang untuk ku! sewa apartemen ini juga pasti tidak murah!"
"Jangan banyak bicara!" sahut Devan meletakkan kembali uang Yocelyn. "Aku berangkat dulu!" ucap Devan berdiri dari duduknya.
"Devan!" panggil Yocelyn, "maaf merepotkan mu!" ucap Yocelyn tulus.
"Tidak ada teman yang merepotkan bukan!"
"Teman?" Yocelyn tampak berfikir sekilas lalu tersenyum. "Seperti nya kamu lebih pantas jadi kakak ku daripada teman! usia mu pasti lebih tua dari ku kan? haha!"
"Iya!" ucap Devan tergelak, lalu mengusap lembut puncak kepala Yocelyn.
"Terima kasih, Kak Devan!" ucap Yocelyn dengan senyum manis dan jahilnya.
"Hahaha!" Devan tergelak, "kamu sangat mirip dengan sepupu ku yang sangat manja padaku!"
"Kamu tidak punya adik?"
"Tidak!" jawab Devan. "aku hanya punya sepupu perempuan berusia 22 tahun!"
"Satu tingkat di atas ku!" celetuk Yocelyn. "Kalau begitu aku mau jadi adikmu! bukan lagi teman!"
Kalau bisa jadi kekasih ku saja! ucap Devan dalam hati.
"Boleh!" jawab Devan kemudian.
"Yeay!"
"Ya sudah, aku berangkat dulu!" ucap Devan. "Ingat, jangan sembarangan membuka pintu!"
"Siap!" jawab Yocelyn.
Devan sangat baik! pasti sangat bahagia yang menjadi kekasihnya! Dia sangat baik padaku walaupun kami baru berkenalan! ucap Yocelyn dalam hati, menatap punggung Devan.
Devan keluar dari kamar Yocelyn, dan kembali masuk ke dalam lift ke lantai dasar gedung apartemen. Devan keluar dari lift dengan di sambut Asisten pribadi Devan yang sudah berdiri di samping sofa tempatnya menunggu Devan.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa sang Asisten.
"Hemm!" jawab Devan mengangguk.
Devan berjalan ke arah pintu, dan seketika matanya membulat mendapati beberapa orang yang turun dari mobil dengan seragam yang sangat familiar. Seketika ingatan cerdasnya tau mereka siapa.
"Ikut aku!" ucap Devan pada Asistennya, dan langsung berjalan cepat kembali ke lift.
"Baik, Tuan!" jawab sang Asisten ikut berlari di belakang Devan memasuki lift.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan Like dan Komennya.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1