
"Sayang, aku tidur di sini boleh tidak?" tanya Devan yang tengah membuka sepatunya di sofa.
"Di mana?" tanya Yocelyn balik sambil membuka paper bag miliknya.
"Di kamar kamu lah, Sayang!"
"Apa!" pekik Yocelyn yang seketika menghentikan pergerakannya.
"Kenapa?" tanya Devan berpindah duduk di samping Yocelyn.
"Tapi Mama pernah bilang kalau laki - laki dan perempuan yang bukan suami istri tidak boleh tidur bersama!" ucap Yocelyn dengan polosnya. "Nanti bisa ..." Yocelyn menggantung kalimatnya.
"Bisa apa?" tanya Devan.
"Hamil!" ucap Yocelyn dengan ragu dan malu - malu.
Seketika sudut bibir Devan terangkat. Dia hampir lupa kekasihnya adalah gadis lugu dan polos. Meskipun dari awal dia tidak pernah ada niatan untuk melakukan kebiasaannya pada Yocelyn. Tapi dia sedikit tercengang dengan penuturan kekasihnya.
"Kalau hanya tidur tidak masalah, Sayang!" ucap Devan, "selama tidak melakukan hal seperti itu, kamu tidak akan hamil!"
"Hal seperti itu?" Yocelyn mengerutkan keningnya menatap mata Devan.
"Hemm!" Devan mengangguk pelan.
"Yang bagaimana?"
"Berhubungan suami istri!"
"Tapi kalau tertidur dan tidak sadar melakukan sepertu itu, bagaimana?"
"Mana mungkin tidak sadar! manusia normal kalau ingin melakukan hal itu pasti bangun dan sadar! selain karena keinginan juga untuk menikmatinya!" jelas Devan, "kecuali kalau mabuk! mereka bisa melakukan seperti dengan setengah sadar!"
"Kamu tidak mabuk kan?"
"Tentu saja tidak, Sayang!" sahut Devan, "dari tadi aku bersamamu, bagaimana aku bisa mabuk!"
"Iya sih!"
"Jadi bagaimana?" tanya Devan, "boleh aku tidur dengan mu? hanya tidur saja! aku janji tidak akan melakukan hal yang aneh - aneh kepadamu! aku hanya ingin memelukmu!"
"Promise?"
"I promise, Honey!" ucap Devan dengan wajah meyakinkan.
"Oke!" jawab Yocelyn dengan polosnya. "Kamu boleh tidur di sini!"
"Thank you, Sayang!"
Pikiran Yocelyn langsung tertuju saat Devan bertanya laki - laki dan perempuan ke hotel untuk apa.
"Sayang? apa laki - laki dan perempuan yang bukan suami istri datang ke hotel untuk melakukan hal seperti itu?" tanya Yocelyn.
"Kebanyakan seperti itu, Sayang!"
"Yaa ampun!"
"Itu biasa, Sayang!"
"Hemm!" Yocelyn kembali melanjutkan membuka paper bag nya dan mengeluarkan satu per satu apa yang dia beli dan menatanya di etalase yang ada walk in closed. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 10 malam waktu London.
"Sayang, aku mau tidur sekarang!" ucap Yocelyn pada Devan yang menunggunya sambil memainkan ponsel di atas tempat tidur Yocelyn dengan posisi acak adul.
"Sudah selesai!" tanya Devan pada Yocelyn yang sudah mengganti bajunya dengan setelan baju tidur.
"Sini!" ucap Devan memperbaiki posisinya.
"Kamu janji tidak macam - macam?" tanya Yocelyn mengintimidasi.
"Janji!"
__ADS_1
Yocelyn merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring di dekat Devan. Ada rasa ragu di hatinya, tapi dia merasa sangat nyaman berada di dekat Devan. Dan perasaan hangat menjalar di tubuhnya, saat Devan menariknya ke dalam pelukan.
"Good night, Honey!" ucap Devan mengecup. kening Yocelyn.
"Good night too!" blas Yocelyn mencium pipi Devan.
Spontan Devan mengangkat sudut bibirnya. Merasa terkejut dengan ciuman Yocelyn yang tanpa dia minta. Devan langsung menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya dan Yocelyn di tengah dinginnya kota London malam ini.
Sudah banyak gadis yang pernah menemaninya tidur ataupun menciumnya mendadak. Tapi tak ada satupun yang bisa membuat hatinya berbunga seperti Yocelyn, kekasih polosnya.
Bahkan hanya sekedar kecupan di pipi yang di berikan Yocelyn tanpa meminta, suda mampu membuatnya seperti remaja sedang jatuh cinta.
Dan apa yang di rasakan Devan saat ini, sama sekali tidak di sadari Yocelyn yang memang belum terlalu peka. Dia tidak menyadari hal seperti itu bisa membuat kekasihnya bahagia.
Dengan lembut Devan mengusap rambut kepala Yocelyn yang mulai tertidur dalam dekapannya. Menjadikan dadanya sebagai bantal, dan tubuhnya sebagai guling. Devan kembali mencium dahi Yocelyn dalam dan penuh cinta.
Aku tidak tau, bagaimana aku bisa mencintai gadis polos seperti mu! ucap Devan dalam hati sambil membelai wajah cantik Yocelyn yang terlelap.
Kalau saja aku menemukan mu dari dulu, mungkin aku tidak akan menjadi Casanova! lanjutnya.
Kalau saja aku tidak pernah bertemu dengan Ainsley itu mungkin aku tidak akan seperti itu!
Tapi pada saat aku berusia 15 tahun, aku yakin kamu masih menjadi Yocelyn gadis 8 tahun yang lucu dan jauh lebih polos dari sekarang! haha! Devan tergelak lirih dengan pikirannya sendiri.
Jari jemarinya masih bermain - main di wajah dan rambut Yocelyn. Ada perasaan yang sangat sulit dia jelaskan. Seolah baru pertama kali merasakan hal itu.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Devan ikut terlelap. Dengan posisi yang tidak berubah sama sekali. Dia tetap mendekap tubuh Yocelyn, dengan menikmati pelukan tangan Yocelyn yang melingkar di atas perutnya.
# # # # # #
Langit masih gelap, saat Yocelyn menggeliat di pelukan Devan. Dia ingat, jika dirinya tengah tidur bersama Devan. Spontan Yocelyn membuka matanya, takut jika omongan Devan hanya bualan.
Yocelyn membuka selimut dan dia masih memakai pakaian utuh, begitu juga Devan. Bahkan posisi mereka pun tak banyak berubah.
Ah! aku yakin Devan bukan laki - laki yang suka memanfaatkan gadis sepertiku!
Yocelyn tersenyum manis menatap wajah tampan Deva yang masih tertidur lelap. Dengan jarinya Yocelyn menyentuh dan mengusap wajah Devan.
Merasakan ada yang memainkan wajahnya, Devan menggerakkan sedikit wajahnya tanpa membuka mata. Yocelyn kembali tergelak, lalu kembali menekan hidung Devan juga menekan pipinya dengan jari telunjuk. Barulah Devan teringat jika dia tengah tidur dengan Yocelyn.
Tanpa berkata apapun, Devan semakin mendekap erat tubuh Yocelyn. Membuat Yocelyn kaget dan tertawa lirih.
"Haha! Sayang sakit!" ucap Yocelyn.
"Siapa suruh membangunkan ku!" ucap Devan tanpa membuka matanya.
"Haha! kamu sangat lucu kalau tidur!"
"Bukankah aku sangat tampan?"
"Ya! semuanya!" ucap Yocelyn menggoyangkan hidung Devan beberapa kali.
"Sayang, ini bahkan belum pagi, tapi kamu ingin aku bangun? apa yang kamu inginkan?" tanya Devan membuka sedikit matanya.
"Tidak ada!" jawab Yocelyn tanpa rasa bersalah sudah membangunkan Devan yang bahkan masih merasakan kantuk.
"Bilang saja kamu merindukan aku!" ucap Devan sambil mengecup singkat bibir Yocelyn.
"GR!" ucap Yocelyn mentoel hidung Devan, "kamu di sini! bagaimana bisa aku merindukan orang yang ada di sampingku!"
"Bisa saja kan kamu merindukan suara ku!" ucap Devan. "Ataauu..."
"Atau apa?"
"Atau kamu rindu aku mencium mu!"
"Ck! dasar aneh!" ucap Yocelyn mendorong tubuh Devan, meskipun tidak menimbulkan jarak.
"Bilang saja iya!" ucap Devan mengubah posisi kepalanya menjadi di atas wajah Yocelyn, dengan tangan yang menggelitik perut Yocelyn lalu mengunci kedua tangan Yocelyn.
__ADS_1
"Hahaha!" Yocelyn tertawa geli dengan ulah Devan.
"Bangun tidur pun kamu tetap cantik!" ucap Devan.
"Ya iyalah! emangnya kamu!"
"Kenapa aku?"
"Jelek!"
"Kamu gadis pertama yang bilang aku jelek! beraninya ya kamu!" ucap Devan mencium leher Yocelyn.
"Hahahaha!" Yocelyn tertawa geli.
"Apa aku masih tetap jelek?"
"Iya!" jawab Yocelyn lagi. "Hahahaha!" Yocelyn kembali tertawa karena Devan kembali mencium leher Yocelyn.
"Masih jelek?"
"Tidak! tidak! kamu sangat tampan!" ucap Yocelyn menyerah karena dia tidak kuat memberontak.
"Haha! sekarang aku tau caranya supaya kamu terus bilang aku tampan!"
"Eh! jangan kurang ajar ya!"
"Hahahah!" Devan gemas sendiri dengan kekasihnya itu.
"Sayang! hari ini aku jadi boleh ikut kamu ke kantor kan?" tanya Yocelyn pada Devan yang masih berada di atas wajahnya.
"Kalau kamu mau, tentu saja boleh!" jawab Devan melepas tangannya yang mengunci tangan Yocelyn.
"Yeay!" ucap Yocelyn yang langsung melingkarkan tangan di leher Devan dan mencium singkat bibir Devan.
Devan selalu tidak sanggup menahan sudut bibirnya untuk tersenyum setiap mendapat kecupan mendadak dari kekasihnya itu.
"Sayang! berjanjilah untuk selalu bersama ku!" ucap Devan lirih.
"Janji!" ucap Yocelyn dengan penuh keyakinan.
Devan mendekatkan bibirnya pada bibir Yocelyn. Sementara Yocelyn yang masih kesulitan mengatur nafas sesekali mendorong tubuh Devan.
"Rileks, Sayang! tarik nafas di sela - sela ciuman kita!" ucap Devan, "tarik nafas dan buang nafas seperti biasanya kamu bernafas!"
"Hemm!" Yocelyn mengangguk.
"Kita coba lagi"
Devan kembali mendekatkan bibirnya, dan mulai memagut bibir Yocelyn. Sedikit demi sedikit akhirnya Yocelyn bisa mengatur nafasnya meskipun, dengan durasi ciuman yang singkat.
"Bagus!" bisik Devan.
.
.
Happy reading!
Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan dukungan lainnya. Supaya Author semangat buat up.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.