Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Menyambut Baby Ivander


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rumah sakit, Devan membawa Yocelyn pulang ke mansion Opa. Mulai hari ini mereka akan tinggal di sana.


Kamar bayi sudah di siapkan oleh Devan untuk baby boy mereka. Dengan warna biru yang mendominasi.


Bagai akan kedatangan seorang raja, rumah mengadakan pesta khusus keluarga untuk menyambut kedatangan baby Ivander Gibran. Karena dialah sang calon penerus FG corp kelak.


Di ruang utama mansion sudah ada seluruh keluarga dari Indonesia yang datang. Hanya Fellycia dan Bayu yang tidak ikut. Karena Fellycia baru saja melahirkan satu bulan yang lalu. Sehingga usia Ivander Gibran dan Vallencia Devries tidak jauh berbeda.


Tak lupa Papa Keanu dan istrinya juga hadir di sana. Mereka datang bersamaan dengan rombongan mobil limousine yang membawa Devan, Yocelyn, Ivander dan seorang baby sitter yang akan membantu Yocelyn merawat si boy.


Mereka masuk bersama - sama. Dengan baby Ivander yang berada di lengan Nyonya Keanu. Sedang Yocelyn berjalan pelan bersama Devan. Dan baby sitter sibuk membawa perlengkapan baby Ivander.


"Welcome home, boy?" seru Oma yang sudah tidak sabar menyambut cicitnya yang ke tiga itu.


Dengan kakinya yang mulai renta tapi masih cukup kuat, Opa ikut menyambut kehadiran Ivander. Usia Opa memang sudah menginjak kepala 7, tapi masih sangat mengagumkan. Selain jiwa bisnisnya yang mendarah daging, ketampanan dan kegagahan natural beliau semasa muda masih melekat pada diri beliau.


Mereka sangat bahagia, karena di usia senja mereka, akan ada yang menghibur di mansion itu. Mata bulat dan tajam Ivander, sangat mirip dengan mata Devan. Mengingatkan Opa dan Oma akan masa kecil Devan yang mereka rawat sejak bayi.


Mama Adelia yang sudah tidak sabar menyambut baby Ivander di mansion, segera merebutnya dari tangan sang besan.


Jova dan Indira pun tak luput untuk melihat betapa menggemaskannya baby Ivander yang baru berusia 3 hari itu.


Semua tampak sangat bahagia, canda tawa yang di hadirkan oleh twins, Arga dan Ivander menambah keceriaan untuk seluruh keluarga besar Gibran.


Di pojok ruang utama itu, tanpa di sadari oleh siapapun. Bahkan tanpa di sadari sang pemilik mansion. Sepasang anak manusia tengah asyik mengobrol. Mereka tampak saling bertukar cerita, sampai curi - curi pandang.


Meskipun masih sedikit terlihat kaku, tapi keduanya tampak sangat serasi. Siapa lagi kalau bukan Christian dan Erina.


Mereka mulai dekat beberapa minggu yang lalu. Akibat sering terlibat kerja sama untuk menjaga Yocelyn, mereka menjadi lebih sering bicara.


Awalnya Christ memang ogah berkenalan dengan Erina, karena menurutnya Erina gadis lasak dan cerewet. Tapi siapa sangka lama - lama dia terlihat menyukai Erina.


Entah jurus apa yang di buat oleh Erina, untuk menaklukkan seorang Christian yang bisa di bilang cukup kaku jika berhadapan dengan wanita.


"Kami tidak ada keinginan untuk kembali ke Indonesia?" tanya Christ pada Erina yang duduk di sampingnya.


"Bukan tidak ingin, aku hanya akan kembali ke Indonesia jika ternyata jodoh ku di Indonesia"


"Kamu sudah punya jodoh di sana?" Christ membulatkan matanya.


"Belum, maksud aku, aku akan mengikuti kemanapun suami ku pergi! jika jodoh ku ada di Indonesia maka aku ingin kembali ke Indonesia."


"Jika jodohmu ada di sini?"


"Ya, aku akan tetap di sini!" jawab Erina.

__ADS_1


"Oh!" Christ mengangguk, seulas senyuman tipis dari bibirnya.


Beberapa saat kemudian, datanglah sahabat terbaik Devan. Ya! Alfred dan Zayn. Mereka datang bersama kekasih masing - masing.


Tentu saja ini akan menjadi ajang reuni untuk mereka. Devander, Alexander, Rakha, Alfred dan Zayn adalah sahabat tanpa batas. Hubungan persahabatan setara dengan hubungan persaudaraan.


Saat ini mereka telah melingkar di sofa yang hanya di isi oleh mereka berlima. Sedang pasangan mereka saling mengobrol bersama kaumnya di sofa yang lainnya.


"Kita harus berfoto! kemudian di sandingkan dengan foto kita saat masih kuliah dulu!" ucap Zayn.


"Saat tampang - tampang kalian masih mesum - mesumnya!" sahut Rakha. "Cobain sana - sini!"


"Kau pun sama!" sahut Alfred.


"Yeee... aku mah cuma coba - coba bibirnya! nah kalian? di cobain semua!" ucap Rakha.


"Padahal itu sungguh merugikan untuk junior mu, Kha!" ucap Zayn.


"Yang penting kan sekarang sudah berguna dan ada hasilnya!" jawab Rakha melirik baby Arga yang tengah di pangku istrinya, Indira. "Kalian?" Rakha menunjuk Alfred dan Zayn.


Yang di tunjuk tampak saling pandang, kemudian bingung harus menjawab apa. Karena sampai detik ini keduanya belum menikah. Dan baru berpacaran saja.


"Aku juga akan melamarnya sebentar lagi!" jawab Zayn menunjuk kekasihnya.


"Yakin?" sahut Alexander yang sedari tadi tak ikut campur jika berurusan dengan kemesuman para sahabatnya.


"Zayn palingan juga cuma bercanda!" sahut Devan


"Aku juga nggak yakin dia akan menikahi pacarnya!" ucap Alfred.


"Heh! aku pun juga tak yakin kau akan menikahi dia!" ujar Zayn tidak terima.


"Sudahlah, menikahlah bersama - sama!" sahut Alexander.


"Haha! harusnya kita mencontoh sahabat kita yang paling setia ini! Tuan Alexander Gibran. Yang hanya pernah jatuh cinta sekali dalam seumur hidup!" ucap Rakha.


Spontan Alfred dan Zayn menoleh Alexander yang duduk bersandar dengan santainya. Menatap Alex dengan tatapan penuh selidik. Seolah mencari sesuatu yang di sembunyikan.


"Eh, Lex, kau tak bosan hanya pernah mencintai satu wanita dalam hidupmu?" tanya Alfred


"Nggaklah! aku akan mencintainya seumur hidupku!"


"Padahal laki - laki bisa dengan mudah loh membagi hati! kau yakin tidak pernah jatuh cinta pada wanita manapun?" sahut Zayn.


"Kau meragukan aku?" Alexander justru balik bertanya pada sahabat - sahabatnya itu.

__ADS_1


"Nggak sih! cuma menurutku lelaki normal pasti akan pernah jatuh cinta pada wanita lain!"


"Jadi menurutmu aku tidak normal?"


"Normal lah! sudah ada hasilnya! bahkan langsung dua!" jawab Zayn. "Tapi heran saja, bagaimana bisa begitu?"


"Apa yang tidak bisa di bumi ini!" sahut Devander yang merasa dirinya adalah kebalikan dari Alexander.


Seketika Alfred, Zayn, dan Rakha menoleh pada Devan, meneliti wajah Devan dengan seksama. Kemudian menoleh Alexander, dan meneliti dengan seksama.


"Mirip sekali!" ucap Alfred.


"Tapi kalian punya masa lalu yang sangat berbeda!" sahut Zayn.


"Apapun bisa terjadi, kami mirip! tapi jika berurusan dengan wanita, kami sangat berbeda!" ucap Devan.


"Bukankah kau sudah berniat merubah dirimu?" tanya Rakha.


"Tentu saja, Kha! apalagi sekarang ada pangeran kecil ku! aku tak ingin dia seperti ku! aku akan mengajari dia untuk mencintai ibunya!tidak seperti aku, yang sempat melupakan rasa cintaku pada Mama!" ucap Devan dengan nada yang cukup sendu. Seperti ada penyesalan tersendiri, yang sampai saat ini belum terhapuskan.


"Karena kau tak setiap hari melihat Mama mu, Dev!" sahut Zayn yang melihat Devan menunduk.


"Alexander juga tidak setiap hari melihat Mama! tapi dia sangat menghargai perempuan!" jawab Devan.


"Sudahlah, yang terpenting kita semua harus bersikap jauh lebih baik dari masa lalu!" potong Alexander yang tak ingin saudara kembarnya larut dalam penyesalan.


"Benar itu, Dev!" ucap Rakha menepuk pundak Devan yang duduk di sampingnya.


"Aku pun sudah berniat mencontoh dirimu, Dev!" sahut Alfred.


"Aku pun!" sahut Zayn.


Alexander tersenyum mendengar ucapan para sahabatnya itu.


.


.




...**Semua manusia pasti punya kesalahan di masa lalu. Dan penyesalan pasti datangnya di belakang. Tapi lebih baik menyesal di belakang, daripada terus larut dalam kesalahan**....


__ADS_1


...**Happy reading 😇**...


__ADS_2