
"Dok, Nona beneran hamil?" tanya Yocelyn setelah keluar dari pintu utama apartemen.
"Iya!" jawab dokter sedikit mengangguk dengan seulas senyuman.
"Alhamdulillah!" Erina mengucap syukur dengan mata berbinar.
"Saya permisi!" ucap sang dokter.
"Iya, dok! terima kasih!" ucap Erina.
"Sama - sama!"
Dokter itu berlalu menuju lift. Sementara Erina merasa sangat senang dengan berita yang ia dengar. Sungguh Erina adalah asisten yang sangat setia. Bagi Erina Yocelyn adalah sebagian dari nyawanya.
# # # # # #
Setelah tiga hari gagal ke kantor, karena lebih memilih menemani istrinya yang kembali di nyatakan hamil. Hari ini Devan kembali melajukan mobilnya ke kantor.
Dengan jas lengkap, Devan melenggang memasuki lobby. Dimana Christ sudah menunggu di depan pintu lobby.
"Selamat datang kembali, Tuan!"
"Hemm! apa jadwalku hari ini, Christ?" tanya Devan sembari berjalan memasuki lobby menuju lift.
"Hari ini tidak ada meeting penting, Tuan! Tuan hanya perlu mengecek laporan - laporan selama Tuan tidak masuk kantor! dan nanti jam sepulu Tuan Keanu akan datang!" jawab Christ tegas, jelas dan cepat.
"Baiklah!" jawab Devan sembari masuk ke dalam lift khusus atasan.
# # # # # #
"Sayang, tidak lupa pesan ku kan?" tanya Devan yang tengah duduk di singgasananya sembari menghadap layar ponsel, di mana wajah Yocelyn memenuhi layar itu.
"Iyaa.. ini aku cuma tiduran di kamar" jawab Yocelyn yang bersandar di sandaran tempat tidur.
"Setelah aku berangkat kerja tadi, muntah lagi nggak?"
"Iya tadi, tapi cuma sekali kok"
"Obat dari dokter masuk kan?"
"Masuk kok, Sayang?"
"Baguslah" jawab Devan tersenyum manis, dengan ibu jari yang mengusap - usap wajah Yocelyn di layar ponselnya. "Bentar lagi Papa mau kesini katanya."
"Oh, ya? ngapain?"
"Nggak tau"
"Apa papa tau aku hamil lagi?"
"Emang siapa yang ngasih tau?" tanya Devan.
"Erina mungkin!"
"Heemm.. dasar Erina!" celetuk Devan.
"Sayang, aku sudah rindu" ucap Yocelyn mendadak mellow.
"Aku juga" jawab Devan tersenyum manis pada sang istri.
"Cepet pulaang"
"Iya, Sayaang" jawab Devan. "Hari ini juga tidak ada meeting penting kok!"
__ADS_1
"He'em!"
Ceklekk!
Pintu terbuka tanpa ketukan, memperlihatkan Keanu yang berdiri di ambang pintu. Dan Grace yang terlihat menunduk karena takut di marahi Devan.
"Sayang, Papa datang, nanti di lanjut ya?" ucap Devan.
"Ok, Sayang! bye bye!"
"Bye!" balas Devan dengan senyum menawannya.
"Pergilah!" ucap Keanu pada sekretaris Devan.
"Tapi .." Grace tampak tergagap.
"Pergilah Grace!" ucap Devan.
"Baik, Tuan muda!" ucap Grace.
Keanu menutup pintu dan langsung berjalan menghampiri Devan yang terlihat sangat santai. Seperti tidak ada tunduk hormat sama sekali pada Keanu. Keanu berdiri di samping kursi tamu depan meja Devan. Dan melempar tatapan tajam pada Devan.
"Duduklah, Pa!" ucap Devan santai sembari merapikan berkas - berkas di mejanya.
Tanpa berkata, Keanu langsung duduk sembari merapikan jas nya.
"Ada sesuatu yang penting kah, yang membuat Papa datang kemari?" tanya Devan dengan bersandar santai di singgasananya.
"Kenapa kau tidak bilang!" tanya Keanu menatap tajam Devan.
"Bilang apa, Paa?"
"Yocelyn hamil lagi!" ucap Keanu ketus.
"Termasuk dengan Papa dan mamanya sendiri?"
"Justru istriku tidak mau lagi mengecewakan Papa dan Mamanya sendiri."
"Kau benar - benar menantu laknat, Dev!" ketus Papa. "Aku tidak ingin jika suatu hari nanti kau mengkhianatinya dan anak yang dia kandung!"
"Sudahlah Papa mertua, stop menyebut aku menantu laknat! bukankah sebenarnya kita sama - sama laknat?" tanya Devan dengan senyum sinis sembari berdiri dari duduknya dan mendudukkan sebelah bokongnya di meja kerjanya.
"Cih!" Keanu berdecih. "Masalahnya istrimu itu anak ku!"
"Hemm" Devan menghela nafas. "Papa mertua tenang saja, lagi pula aku sudah benar - benar bertobat!" ucap Devan tegas, kemudian sedikit menunduk dan mendekatkan kepalanya pada telinga Keanu. "Berbeda dengan Papa mertua" bisik Devan, kemudian menyungging senyuman sinis.
Spontan Keanu menarik nafas dalam, kemudian mendongak Devan yang tersenyum misterius dengan tatapan mata yang mengejek.
"Aku akan menjaga putrimu, Papa!" ucap Devan. "Bukankah aku berjanji, tidak akan mengkhianatinya! aku sudah tidak lagi tertarik dengan gadis manapun! berbeda dengan Papa mertua ku yang masih tampan di usianya saat ini!" ucap Devan tersenyum mengejek.
"Aku melihat dari segi diriku sendiri Devan!" ucap Keanu.
"Ingatlah Papa Keanu, mungkin kita pernah mendapat julukan yang sama. Tapi darah yang mengalir di tubuh kita, jauh berbeda!" ucap Devan dengan sinis.
"Aku dulu juga sama seperti mu, Devan! tapi semua itu bisa kembali meracuni otak mu suatu saat nanti!" ucap Keanu.
"Kita berbeda!" tegas Devan dengan nada yang cukup dingin di telinga Keanu. Bahkan senyum sinis di bibir Devan menghilang secepat kilat.
"Aku tidak ingin putri ku menggung dosa ku!" ucap Keanu.
"Never!" jawab Devan cepat dan tegas. "Aku sama sekali tidak menuntut apapun untuk apa yang aku ketahui tentang mu, Papa mertua! Papa mertua cukup ingat, jangan pernah mencoba memisahkan Yocelyn dari ku!"
"Baiklah!" jawab Keanu sembari berdiri dari duduknya. "Aku percayakan putri ku pada mu!" ucap Keanu dengan nada serius. "Aku juga akan memperbaiki diriku!" lanjut Keanu.
__ADS_1
"Hem.. cepatlah selesaikan urusan mu dengan gadis itu Papa Keanu! Tentu kau tau hubungan Yocelyn dengan gadis itu!"
"Ya! aku tau!" jawab Keanu.
Tanpa berpamitan, Keanu pergi meninggalkan ruangan Devan. Devan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan Papa mertuanya itu.
"Aku akan menjaga putri mu dengan baik, itu janji ku! aku tidak akan seperti mu Papa mertua!" gumam Devan tegas dengan pandangan mata tertuju pada pintu yang baru saja tertutup itu.
"Putri mu akan kecewa jika mengetahui kenyataan seperti ini!" lanjut Devan sembari melepas jas mahalnya.
# # # # # #
Jam pulang kerja tiba, Devan kembali melajukan mobil sportnya meninggalkan gedung perusahaannya.
Devan membawa cake dan ice cream pesanan Yocelyn di bangku sebelahnya. Devan turun dengan menenteng kantong itu.
Sungguh Devan merasa senang melayani masa ngidamnya sang istri. Dia sungguh bahagia bisa menjadi suami sigap untuk istrinya yang tengah hamil.
Ceklek!
Devan membuka pintu kamar, dimana terlihat Yocelyn tengah memejamkan matanya di atas tempat tidur.
Setelah membersihkan diri dan mandi, barulah Devan menghampiri sang istri yang masih terlelap.
Dia tidak tega untuk membangunkan istrinya yang katanya terkahir muntah dua jam yang lalu. Biarlah dia tertidur dari pada harus kembali muntah - muntah pikir Devan.
Dengan perlahan Devan menaiki tempat tidur di samping Yocelyn. Dan dengan pelan Devan berbaring di sana. Menatap dalam wajah cantik sang istri.
Ada perasaan bangga dalam dirinya karena memiliki istri secantik itu. Dia sungguh bahagia memiliki seperti Yocelyn.
Jika di tanya apa yang membuat Devan bisa sebucin itu pada sang istri, dia juga tidak tau. Yang jelas dia seperti menemukan air di tengah oase.
Yocelyn yang rela menerima kekurangannya di masa lalu, dan sifat manja dan cemburunya yang membuat Devan begitu mencintai sang istri.
Perlahan Devan meletakkan tangannya di atas perut rata Yocelyn. Dan mengusapnya lembut. Seolah tidak sabar ingin mengusap kulit bayi mereka.
"Emmh!" Yocelyn menggeliat karena merasakan sesuatu di perutnya. Yocelyn merabanya dan langsung membuka mata begitu sebuah tangan kekar yang dia dapat.
"Selamat sore?" sapa Devan dengan senyuman manis.
"Sayang, sudah pulang?"
"Iya, Sayang!" jawab Devan kembali mengusap lembut perut istrinya.
"Kamu bahagia dengan kehadirannya?"
"Tentu saja, Sayang!" jawab Devan. "Terima kasih Sayang, kamu mau mengandungnya"
"Aku bahagia!" ucap Yocelyn tersenyum senang.
Devan mendaratkan kecupan di kening Yocelyn.
.
.
.
**Happy reading 🌹🌹🌹**
__ADS_1