Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Ke - 19 part 1


__ADS_3

Sore hari, setelah mandi dan berganti baju, Charla menghampiri Ivander yang tengah menghadap laptop dan tumpukan buku untuk melanjutkan tugasnya di meja belajar sejak pulang kuliah tadi.


"Kak?" panggil Charla duduk di gagang kursi Ivander.


"Apa, sayang?" tanya Ivander tanpa menoleh Charla.


"Sejak pagi tadi kamu di kelas?"


"Iya, emangnya kenapa?"


"Gak papa!" jawab Charla yang masih ragu untuk bertanya, kenapa Argha menghakimi Lea di belakang kampus.


"Kenapa sih, sayang?" tanya Ivander menoleh Charla, karena tak biasanya Charla hanya bertanya sebatas itu.


Charla hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Tangan Ivander terangkat dan menarik Charla untuk duduk di pangkuannya.


"Lihat, Yank!" ucap Ivander dengan mata mengarah pada layar laptopnya. "Ini adalah prodi yang harus ku kejar untuk setara semester lima!" ucap Ivander yang terlihat tak ada sesuatu pun yang mengganjal.


"Aku mana paham sih, kak!" jawab Charla yang ikut menghadap laptopnya.


"Haha!" Ivander terkekeh. "Jelas sajalah kita kan beda minat dan bakat!" ucap Ivander mendaratkan kecupan di pipi kiri Charla.


"Aku pusing melihat data seperti itu!" celetuk Charla memperhatikan laptop dan buku - buku Ivander.


"Jari jemariku tak berkutik dengan kuas dan cat air!" balas Ivander.


"Hehehe! padahal itu sangat gampang dan seru lo ayang! dengan menggunakan kuas dan cat air di bantu kanvas kita bisa mengekspresikan diri kita, perasaan kita, ataupun apa yang sedang kita pikirkan!" ucap Charla antusias.


"Oh, ya?" tanya Ivander menanggapi antusias kekasihnya dalam bercerita.


"Iyaa!"


"Kamu bisa melukiskan wajah ku tanpa melihat aku dan tanpa melihat foto ku?"


"Bisalah!" jawab Charla cepat.


"Terus? kok nggak pernah menjadikan aku sebagai objek melukis?"


"Heheh! nggak kepikiran!" jawab Charla kikuk dengan menunjukkan semua gigi putihnya.


"Bisa - bisanya bikinin kak Queenara sketsa wajahnya, sementara tunangannya sendiri di lupakan!" Gerutu Ivander.


"Hehe, maaf!" ucap Charla dengan di tambah kecupan - kecupan di wajah Ivander. Salah satu cara untuk meluluhkan laki - laki itu.


Beberapa saat berlalu, Charla mulai merasa bosan menemani Ivander yang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Aku mau ke bawah dulu ya, kak?" pamit Charla.


"Iya! jangan keluar apartemen!"


"Iya iya! cuma mau nonton tv di bawah, biar nggak ganggu kamu belajar!" ucap Charla.


"Ok, sayang!"


Charla beranjak dari pangkuan Ivander, lalu keluar dari kamar mereka. Menuruni tangga dan berjalan mendekati pintu kamar bawah. Charla masuk ke kamar dimana ia menyimpan semua alat lukis dan tugas - tugas kuliahnya.


Charla duduk di kursi, dan menghadap papan kanvas yang masih kosong. Charla menuang cat air di tempatnya.


Satu detik, dua detik, tiga detik dan jari - jari lentik itu mulai memainkan kuas di atas papan kanvas. Tanpa melihat objek, tangan dan mata Charla fokus pada papan kanvas dan cat air.


Satu jam, dua jam, tiga jam hingga perutnya mulai terasa lapar. Charla melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

__ADS_1


Lukisan yang ia inginkan pun sudah selesai ia buat, hingga ada dua buah dengan model berbeda.


Charla memesan makan malam di restauran apartemen. Charla menunggu sembari merapikan sisa kegiatan melukisnya.


Beberapa saat berlalu, semua pesanannya datang bersamaan. Charla menata makan malam di salah satu piring berukuran besar. Dan menuang jus jeruk ke dalam gelas tinggi.


Charla meletakkan piring dan gelas jus di atas nampan. Dan kemudian membawanya ke atas, di mana Ivander belum juga terlihat mencarinya.


Clekk!


Charla membuka pintu, dan kembali menutupnya. Ivander reflek menoleh ke arah Charla.


"Wow! makan malam di sini?" tanya Ivander menyambut kedatangan Charla.


"Iya, kak!"


Charla meletakkan makan malam di atas meja dan bersiap untuk makan malam bersama.


***


Jam setengah dua belas malam, keduanya telah terlelap. Namun Charla tak sepenuhnya memejamkan matanya.


Charla membuka matanya, menatap wajah Ivander yang tidur dengan menghadapnya.


Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Kenapa Kak Argha sampai menghakimi Lea seperti itu? Sementara kamu terlihat biasa saja.


Charla menatap Ivander dengan penuh pertanyaan.


Beberapa saat kemudian, Charla turun dari tempat tidur. Berjalan ke arah pintu, dan keluar menuruni tangga.


Mengambil kue tart yang ia simpan di kamar bawah. Kue yang ia pesan bersamaan dengan memesan menu makan malam tadi.


Ia membawa kue tart itu naik ke atas tempat tidur saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dan jari jemarinya kini mulai usil di wajah tampan Ivander.


"Kakaak?" panggil Charla lirih. "Sayang?" Charla mentoel hidup Ivander. Menepuk - nepuk pipinya, dan kembali menggoyang hidungnya.


"Apa sih, sayang?" jawab Ivander bergerak tanpa membuka matanya.


"Bangun dong!"


"Masih malam, Sayang!" jawab Ivander dengan suara serak yang khas.


"Buka mataa!" rengek Charla.


Ivander mengerjapkan matanya dengan malas. Dan sekelebat cahaya di dalam ruangan yang gelap pun membuatnya tersadar, jika saat ini usianya telah bertambah.


"Happy birthday to you!" seru Charla.


Ivander tersenyum melihat wajah Charla yang tetap terlihat cantik meskipun hanya terkena kilatan cahaya lilin.


Ivander duduk sambil mengusap wajahnya yang masih terlihat sangat mengantuk.


"Make a wish dulu dong, kak!" ucap Charla.


Ivander memejamkan matanya sejenak, untuk meminta do'a terbaik untuknya. Kemudian mengusapkan kedua tangannya di wajah.


"Aamiin!" sahut Charla.


Ivander meniup lilin berangka 19 itu. Seketika ruangan menjadi gelap gulita. Charla meraba nakas untuk mengambil remote lampu. Dan ruangan kembali terang.


"Selamat bertambah usia!" ucap Charla mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri Ivander. Terakhir mendaratkan kecupan di bibir Ivander.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang!" ucap Ivander.


"Ada hadiah buat kamu!" ucap Charla mengambil papan di lantai. "Taaraaa!" Charla menunjukkan hasil lukisannya barusan.


"Wow! kamu langsung mewujudkannya?" tanya Ivander yang di angguki Charla.


Ivander mengambil alih papan kanvas itu, lalu menatap dengan seksama, wajahnya yang terlukis indah di papan kanvas itu.


"Terima kasih, sayang! kamu sangat berbakat!" ucap Ivander mencium pipi Charla.


"Hehe!" Charla tersenyum puas melihat Ivander yang menyukai hasil jerih payahnya.


"Aku akan memajangnya di dinding besok!"


"Nggak malu?"


"Malu? why?" tanya Ivander. "Aku justru bangga mendapatkan ini dari gadis yang paling aku cintai!"


"Heheh!" Charla tersenyum.


"Aku juga akan menyiapkan hadiah terbaik di ulang tahun mu nanti!"


"Masih lama!".


"Tapi aku sudah merancangnya, sayang!"


"Apa?"


"Kalau kasih tau sekarang bukan surprise namanya!" jawab Ivander tersenyum devil.


"Hehe iya sih!" Charla terkekeh. "Eh, aku suapi!" ucap Charla mengambil potongan kue kemudian menyodorkan pada Ivander.


Hap!


Ivander memakan langsung potongan kue yang di sodorkan Charla.


"Enak?"


"Enak!" jawab Ivander, "kamu harus coba!" Ivander mengambil alih piring kue tart di tangan Charla.


"Nggak nggak!" belum apa - apa Charla sudah menolak keras potongan kue itu.


"Ayo dong, sayang!"


"Nanti aku gemuk makan kue tart!"


"Gapapa! makin gemuk aku makin sayang!" ucap Ivander.


"Bohong!"


"Ayo dong! kali ini aja!" pinta Ivander memelas.


"Heemm!" Charla memanyunkan bibirnya, tapi kemudian membuka mulutnya dan memakan sepotong kue tart dari Ivander.


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2