
"Soal anak kan bisa di tunda! tunggulah minimal sampai Charla selesai sarjana!"
"Kalau begitu sih aku setuju! hahaha!" Ivander tertawa tak berdosa mendapat hukuman yang sesuai harapan batinnya.
"Tapi mereka sama - sama masih labil, Nyonya!" potong Darren. "Bagaimana jika suatu saat godaan datang, terutama pada Ivander! sebagai laki - laki biasanya banyak sekali godaannya bukan? apalagi dia putra mahkota dari seorang Tuan .... eh!" Darren menutup mulutnya, hampir dia keceplosan.
"Ucapkan saja Uncle, aku sudah tau! putra seorang Tuan Casanova kan?" sahut Ivander.
Sontak Yocelyn dan Devan terlibat aksi saling tatap.
"Kenapa? Daddy kaget?" tanya Ivander setengah mengejek. "Ivander sudah tau semuanya Daddy!" ucap Ivander.
"Apa maksud kamu, boy!" tanya Devan.
"Daddy dan Mommy Charla punya masa lalu kan?" tanya Ivander yang membuat Devan, Darren dan Yocelyn saling tatap bergantian. "Tidak usah panik, Dad! Ivander sudah tau semuanya! belajar dari pengalaman Daddy, Ivander berjanji!" Ivander menarik tangan Charla untuk berdiri. Kemudian menarik pinggangnya hingga menempel pada tubuhnya. "Ivander akan menjaga putrinya! Ivander berjanji, akan mencintai Little Charla seperti mencintai Mommy!" ucapnya tegas.
Sontak Charla dan semuanya menatap wajah Ivander. Seolah tak percaya laki - laki 19 tahun itu bisa bicara seperti itu.
"Kamu yakin boy?" tanya Yocelyn.
"Yakin, Mom!" jawab Ivander.
"Malam ini semua harus kembali ke London! Tiga hari lagi kita gelar pesta pertunangan! Untuk urusan pernikahan biar mereka yang menentukan tanggalnya!" ucap Devan tegas.
"Esok harinya bagaimana?" tanya Ivander.
"Ngawur!" seru Charla memukul pelan perut Ivander.
"Auwh! haha!" Ivander terkekeh. "Aku kan sudah tidak sabar ingin menyatukan cinta kita, Sayang!" ucap Ivander tanpa malu.
"Memalukan!" ucap Charla lirih, namun masih bisa di dengar para orang tua.
"Hahaha!" Ketiga orang tua itu terkekeh melihat sepasang remaja jatuh cinta itu.
# # # # # #
Dengan menggunakan private jet, seluruh keluarga kembali ke London setelah Devan menyelesaikan tujuan lain dari kepergiannya ke Oxford. Qiandra, Argha, Queenara, dan Jesselyn termasuk dalam rombongan pesawat FG corp.
Sedang Charla dan Daddy nya pulang menggunakan private jet mereka sendiri, siang tadi. Karena mereka harus segera membuat gaun pertunangan.
"Cerdas juga otak mu!" puji Argha di tengah pesawat yang tengah mengudara.
"Hahaha! aku puas! tapi sungguh aku tak menyangka semua akan berjalan secepat ini!"
"Gila sih! sekalinya jatuh cinta, nggak nyampek sebulan nikah!" sahut Qiandra.
"Iya, kita aja masih jomblo aktif!" celetuk Queenara.
"Hahahah! jual mahal sih!" ledek Ivander.
"Hah, Emang kakak enggak!" sahut Jesselyn.
"Tapi Kakak sudah mulai berubah! tidak kaku lagi seperti kanebo kering!"
"Sekalinya lembek langsung nikah loh!" ucap Argha, "Aku aja yang open dari dulu masih jomblo!"
"Nah, kau mah emang sebenarnya cuma nugguin Vallencia!" sahut Qiandra.
Argha terkekeh, "padahal nggak juga sih! aku cuma suka, karena dia cantik dan baik!"
"Ya, intinya sih suka dan cinta! nggak usah pake alibi cantik dan baik segala!" sahut Queenara.
"Ah, jangan membayangkan terlalu jauh!" sahut Ivander menoyor kepala Argha.
"Sadar diri aku sih!" jawab Argha.
# # # # # #
__ADS_1
Dengan persiapan cepat dan kilat, dengan bantuan banyak tangan, akhirnya pesta itu siap untuk di laksanakan malam ini.
Banyak yang bertanya - tanya memang, kenapa harus di lakukan pertunangan dalam waktu singkat. Dan Devan selalu menjawab apa adanya.
Termasuk kehadiran keluarga dari Indonesia dan Singapura yang sampai di London kemarin pagi.
"Kau generasi pertama yang akan menikah di usia belia, boy!" ucap Alexander yang menemui Ivander di kamarnya.
"Dari pada nggak laku - laku, Dad!" sahut Ivander.
"Betul itu! dari pada harus jadi Casanova!" sahut Rakha.
"Heheh! betul Uncle!"
"Kau benar - benar ya, Kha!" sahut Devan.
"Mau bagaimana lagi, itu akan sulit di lupakan brother!"
"Ya lah! terserah kau!" jawab Devan.
Gaun yang di rancang dan di buat oleh perancang terkenal secara mendadak pun sudah di melekat di tubuh Charla dengan anggunnya.
Sedang Ivander sudah siap dengan setelan jas berwarna senada dengan Charla, yakni warna navy.
Pesta pertunangan itu pun berlangsung sesuai rencana. Sepasang cincin bermata berlian pun sudah melekat di jari manis masing - masing.
Queenara, Qiandra, Argha, Jesselyn, Vallencia, Anandhita dan Ferrow pun sudah berkumpul di meja khusus generasi muda.
Menyaksikan pertunangan sepasang muda - mudi yang bahkan belum genap 19 tahun itu. Ada rasa iri namun juga lucu menyaksikan pasangan itu.
Tapi mereka tetap bahagia melihat saudara mereka melangkah lebih baik. Daripada harus berlama - lama pacaran dan berhubungan tanpa status masa depan yang jelas.
"Kak Argha pulang ke mansion atau menginap di hotel?" tanya Vallencia yang duduk di sampingnya.
"Di mansion saja, karena mereka juga kembali ke mansion." Jawab Argha menunjuk twins.
"Oh!" Vallencia mengangguk.
"Di mansion saja!" jawab Vallen.
"Ya udah, nanti bareng kita aja!"
"Iya, kak!" jawab Vallencia dengan senyum malu - malu.
Yeay!
Seru Vallencia dalam hati.
# # # # # #
Setelah pesta itu berakhir, Ivander sudah siap dengan baju tidurnya. Namun rasa lapar membuat matanya tak bisa terpejam. Akhirnya ia keluar dan memilih ke restauran hotel.
Sudah tidur belum ya?
Tanya Ivander dalam hati.
Saat melewati kamar Charla, Ivander mencoba untuk mengetuk pintu kamarnya. Dua kali ketukan, suara seseorang membuka kunci membuat Ivander tersenyum kecil.
Dan senyum itu melebar, manakala Charla keluar dengan baju tidur yang sudah melekat di tubuhnya.
"Ada apa kak?" tanya Charla.
"Aku laper, sayang! makan di resto bawah yuk!" ucap Ivander bersandar pada daun pintu.
"Ini kan udah malem, kak! Charla bisa gendut kalau makan tengah malem begini."
"Memangnya kenapa kalau gendut? aku tetap cinta sama kamu!"
__ADS_1
"Gombal! kebanyakan cowok yang di lihat body ceweknya!" ucap Charla bersandar pad daun pintu satunya.
"Serius nggak, sayang! kalau gitu temani aja deh!" pinta Ivander.
"Ya udah deh!"
Ivander menarik tangan Charla, dan menggandengnya sampai pada lift, dan turun menuju restauran di hotel.
Suasana restauran sangat sepi, karena sudah tengah malam. Jika tidak melihat cincin yang melingkar di jari manis mereka, maka orang akan melihat mereka seperti pasangan remaja nakal yang sedang check in hotel.
Tapi di luar negeri hal itu adalah hal biasa. Sehingga orang - orang tidak akan mengusik atau membicarakan kegiatan mereka.
"Aa.." Ivander menyodorkan garpu nya ke mulut Charla.
"Nggak!" Charla menggeleng dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Satu aja, sayang! please!"
"Nggak!"
"Sayang nggak sama aku?"
"Ya sayang!" jawab Charla malas mendengar senjata Ivander.
"Ya udah ayo"
Hap!
Satu potongan daging masuk ke mulut Charla.
"Gitu sayang! kamu gendut pun aku tetap cinta sama kamu!"
Charla menyebikkan bibirnya, karena terpaksa mengunyah dan menelannya.
# # # # # #
Dua hari kemudian, private jet berlogo FG corp. mengudara menuju kota Oxford. Pesawat pribadi itu membawa para calon penerus sang pemilik private jet, termasuk calon anggota baru. Yaitu Little Charla.
Bagaikan amplop dan perangkonya, maka Ivander dan Charla terus saja menempel. Apalagi Ivander yang terlihat sangat manja pada kekasihnya.
Dia tengah duduk di kursi pesawat dengan membawa Charla di pangkuannya. Dengan manjanya ia menempel di dada Charla dengan memeluk tubuhnya.
"Qi, mata ku panas!" celetuk Argha melirik Qiandra yang asyik mendengarkan music melalui headphone.
"Jangan di lihat!" sahut Queenara.
"Namanya bucin baru!" sahut Qiandra.
"Jomblo syirik!" celetuk Ivander.
Kemesraan Ivander dan Charla terus berlanjut sampai mobil yang menjemput mereka mengantarkan mereka ke apartemen.
"Charla, malam ini tidur di apartemen ku saja!" ucap Queenara.
"Nggak! di apartemen ku saja!"
"Wah! bahaya!" sahut Qiandra.
"Emangnya kenapa?" tanya Ivander.
"Wah! bilangin Mommy sama Daddy nih!" celetuk Queenara.
"I don't care!" jawab Ivander menarik tangan Charla masuk ke pintu apartemennya.
.
.
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹