
Devan menarik tangan Charla dengan kasar keluar dari Klub, karena ada gumpalan rasa kesal di dadanya melihat Charla yang tiba - tiba muncul di pesta seperti itu sebagai gadis VIP.
"Devan!" pekik Charla yang merasakan sakit di pergelangan tangannya karena Devan terlalu kuat menggenggam.
Dengan kasar Devan menghempaskan tangan Charla dan langsung menghadap Charla yang memegangi pergelangan tangannya yang terasa panas.
"Apa yang kamu lakukan!" tanya Devan tegas dan tersulit emosi.
"Devaan.. aku hanya ingin mencari hiburan!" jawab Charla yang bergelayut di lengan Devan. "Kamu sudah lama tidak mencari ku!"
Devan menarik tangannya yang di peluk Charla dengan kasar.
"Apa kamu tidak tau pesta seperti ini sangat berbahaya!" bentak Devan dengan nada tinggi.
"Bukankah di sini hanya berisi puluhan atau mungkin ratusan orang seperti mu, Devan" ucap Charla menjatuhkan kepalanya di dada Devan.
"Tapi bisa saja mereka memperlakukanmu dengan gila!" ucap Devan dengan menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
"Kenapa? aku bahkan puluhan kali meladeni kegilaan mu" lanjut Charla dengan menepuk pelan pipi Devan dengan senyum di bibirnya.
"Hemmh!" Devan membuang nafas beratnya, "mereka terbiasa bermain dengan pelacur! apa kau mau di perlakukan seperti pelacur!"
"Hahaha!" Charla tertawa dengan melingkarkan tangan di leher Devan. "Bukankah aku pelacur mu Devan sayaangg!" ucap Charla mengendus leher Devan.
Spontan Devan menjauhkan lehernya dari hidung Charla. Karena Devan sangat mudah di pancing dari leher dan telinganya.
"Stop!" ucap Devan tegas.
"Kenapa?" tanya Charla yang justru menciumi leher Devan.
Devan menahan pundak Charla dan menegakkan cara berdiri Charla begitu menyadari sesuatu.
"Apa yang kamu minum?" tanya Devan.
"Minum?" tanya Charla menyipitkan matanya, "mereka hanya memberiku sedikit alkohol sebelum aku keluar!" jawab Charla dengan suara lebih serak. "Itu tidak akan membuat aku mabuk, Sayang!"
"Itu bukan sekedar alkohol!" bentak Devan lagi.
Devan melihat Charla dari ujung kaki hingga kepala, kemudian langsung melepas jas nya dan memakaikan pada Charla yang memakai baju sangat mini.
"Devaan! tubuhku!" ucap Charla yang mendadak terasa lemas.
Devan membuang nafas panjangnya, lalu menarik tangan Charla dan membawanya ke tempatnya memarkirkan mobil miliknya.
"Devan! bantu aku! aku tidak tahan!" Charla memeluk lengan Devan sangat erat.
"Sialan kau Erastus!" umpat Devan lirih.
Devan kembali meraih tangan kiri Charla dan menariknya menuju hotel di sebrang jalan. Sementara Charla kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Dengan nafas menggebu menahan kesalnya pada Erastus karena sudah memberi obat perangsang pada Charla, Devan membawa Charla masuk ke lobby hotel.
"Berikan aku satu kamar!" ucap Devan pada resepsionis.
"Baik, Tuan muda!" jawab Resepsionis itu dengan buru - buru mengambil satu kartu VIP.
Tanpa banyak kata Devan membopong Charla yang lemas bercampur hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Devan masuk ke dalam lift tanpa seorang pun yang ikut masuk ke dalam lift itu.
__ADS_1
"Siapa yang bersama Tuan Devan? kenapa dia seperti itu?" tanya salah seorang resepsionis.
"Aku tidak tau! kamu jangan lupa siapa Tuan muda Devan! sebaiknya jangan banyak bicara!"
"Iya! dari pada kita di pecat!"
Di dalam lift Charla kesulitan mengatur gerak gerik tubuhnya. Dia di selimuti rasa ingin yang menggebu. Dia berulang kali berusaha mencium Devan dengan menarik kerah baju Devan. Tapi Devan selalu berusaha menahan pergerakan Charla. Hanya sesekali saja bibir Devan dan Charla berpautan.
"Charla!" panggil Devan mencoba membuat Charla netral, tapi sudah pasti gagal.
Devan kembali membopong Charla keluar dari lift dan masuk ke dalam kamar VIP dengan nomor yang sesuai dengan kartu di tangannya. Mereka masuk ke dalam ruang tamu kamar hotel itu.
Dengan sekuat tenaga Charla menarik kerah baju Devan dan mencium bibir Devan dengan rakus. Devan tidak bersikap kasar, tapi dia berusaha menolak dengan cara menyadarkan Charla yang di penuhi hawa *****.
"Umh!"
"Charla, stop!" ucap Devan di tengah serangan Charla.
Charla melepas jas hitam Devan dan menjatuhkannya di lantai. Dan kembali berusaha mencium bibir Devan dengan sekuat tenaganya. Devan sekuat hati menahan dirinya agar tidak terpancing.
"Charla!" Devan menjauhkan kepala Charla yang mulai turun menciumi lehernya yang sensitif.
"Kenapa!" tanya Charla dengan nada tinggi. "Aku berulang kali membantumu melepas hasrat mu setiap ada pelacur yang menjebak mu dengan obat perangsang!" ucap Charla. "Sekarang aku yang di jebak, dan kau tidak mau membantuku!"
Devan memijat pelipis kepalanya yang pusing menghadapi Charla. Sementara Charla kembali menyerangnya dan melepas kancing baju Devan satu persatu. Devan pasrah sampai kancing baju Devan semua terlepas.
"Charla, stop!" ucap Devan lagi saat Charla menciumi dada bidang Devan.
"No!" ucap Charla sambil melepas kancing rok mininya. "Aku mau kamu!" ucap Charla yang hasratnya semakin memuncak.
"Devan!"
Devan mendorong masuk Charla ke dalam ruang kaca, dan mengguyur tubuh Charla di bawah shower.
"Devan!"
"Diam!" ucap Devan.
Bukannya diam, Charla justru memeluk tubuh Devan erat dan kembali menciumi bibir dan leher Devan.
"Charla stop!"
"Kamu sudah bosan dengan ku? hemm!" tanya Charla lirih.
"Bukan begitu!"
"Aku merindukan mu Devan!" ucap Charla, "sudah berbulan - bulan kita tidak bercinta! aku pikir kamu sudah melupakan aku!" lanjutnya dan kembali menciumi dada Devan yang ikut basah oleh guyuran shower.
"Ayo kita bercinta di bawah guyuran shower saja!" ucap Charla menggoda.
"Charla, aku tidak bisa bercinta dengan mu lagi, atau dengan siapapun!"
"Kenapa?" tanya Charla melepas pelukannya.
"Aku ingin merubah diriku!" jelas Devan menatap dalam mata Charla.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu datang ke pesta itu!" tanya Charla yang mulai tersulut emosi.
"Aku hanya ingin menghargai undangan Erastus!"
"Bohong!" sahut Charla dengan berteriak.
"Aku bukan Devan yang dulu!"
"Lalu kenapa kamu membawa ku keluar dari tempat itu!"
"Aku tidak suka kamu seperti itu!" jawab Devan tegas, "lebih baik, kamu mencari kekasih yang benar - benar mencintaimu!"
"Kenapa bukan kamu saja yang mencintai ku?"
"Karena dari awal hubungan kita bukan untuk saling mencintai!"
"Ya!" sahut Charla dengan nada tinggi, "dari awal aku memang hanya tempat sampah pribadi mu!" ucap Charla menekan kata tempat sampah.
"Charla!" bentak Devan hingga menggemparkan kamar mandi itu. "Aku tidak suka siapapun termasuk dirimu sendiri menyebutmu tempat sampah!" teriak Devan dengan tatapan tajam pada Charla.
"Kalau begitu sekarang aku yang meminta kepadamu! layani aku, Devan!" ucap Charla kembali mencium bibir Devan, dan kedua tangannya berusaha melepas sabuk celana Devan.
Devan tidak tau harus melakukan apa, dia mulai terbawa suasana saat Charla memasukkan tangan dan mengusap senjata miliknya dengan lembut, serta memberi gesekan - gesekan menggunakan ibu jari di puncaknya, yang membuat senjata Devan seketika berdiri tegak.
Charla menciumi leher dan turun ke dada Devan, semakin lama semakin turun hingga sampai di pusat perut Devan. Tubuh keduanya sudah basah oleh guyuran air shower. Charla mulai menurunkan sedikit CD Devan.
Sett!
Devan menjauhkan kepala Charla dari miliknya yang tengah berada di genggaman Charla.
"Stop, Charla!" ucap Devan melepas genggaman Charla. "Kamu harus menetralkan dirimu!"
Devan langsung memperbaiki CD nya, dan melepas celananya. Devan berjalan keluar dari kamar mandi. Dia mengambil handuk kimono di dalam almari dan mengunci Charla di dalam kamar itu.
Devan menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu kamar hotelnya, dengan mengusap wajahnya kasar.
"Devan!" teriak Charla kesal, karena hasratnya tak tersalurkan. "Devaaan!"
Devan merasa tercubit dengan teriakan Charla yang dia tinggalkan di dalam kamar. Sesekali Devan menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. Mengingat selama bertahun - tahun dia selalu di beri kepuasan oleh Charla. Tapi saat Charla di kondisi seperti sekarang, dia justru tidak ingin lagi melakukan hubungan intim dengan siapapun.
Sampai di sini dulu episode hari ini.
Selamat membaca.
Mumpung hari senin, jangan lupa tinggalkan Vote nya ya.. Hehe🤩🤩ðŸ¤
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.