
Dan malam itu juga, Charla membawa laki - laki masuk ke apartemennya untuk pertama kali. Apartemen Charla tidak terlalu besar, berukuran 10 m x 12 m. Hanya ada satu kamar berukuran 5 m x 6 m, satu walk in closed beserta kamar mandinya. Ruang tamu yang menyatu dengan pantry dan kamar mandi tamu di sudut ruangan. Tapi apartemen Charla di desain sangat mewah dengan barang - barang dan furniture mewah.
Charla mengunci pintu setelah Devan masuk.
"Duduklah!" ucap Charla, menunjuk sofa setelah melewati pantry dan meja makan kecil.
"Kau mau minum apa?" tanya Charla yang kepalanya masih sedikit berat.
"Apa saja!" jawab Devan.
Charla membuka kulkas kecil dan mengambil dua minuman kaleng. Dan meletakkan di atas meja.
"Kau tinggal sendiri?" tanya Devan pada Charla yang duduk di sampingnya.
"Ya iyalah!" jawab Charla sambil meneguk minuman kalengnya.
"Orang tua mu tidak pernah ke sini?"
"Aku bahkan tidak tau mereka ingat atau tidak denganku!"
"Maksudnya?"
"Tidak apa - apa!" ucap Charla spontan.
Devan hanya mengangguk, lalu berdiri dan melihat - lihat isi apartemen Charla.
"Cristal!" ucap Devan mengambil sebuah hiasan yang terbuat dari cristal asli.
"Itu hadiah ulang tahun ku yang ke 17 dari Papa!"
Devan meletakkan kembali dan beralih pada sebuah lukisan wajah Charla yang tidak tersenyum sama sekali, bahkan dengan tatapan kosong.
"Kenapa kau mengabadikan lukisan wajahmu tanpa senyuman?" tanya Devan.
"Karena itu kenyataan!" jawab Charla yang masih duduk sambil mengikuti gerak gerik Devan.
"Kenyataan?" tanya Devan menatap Charla. "Maksudmu kau tidak pernah bahagia dalam hidupmu?" tebak Devan.
"Ya!" jawab Charla dengan senyum menawannya.
"Kenapa begitu?"
"Ada beberapa orang bilang, bahagia jika kita punya banyak uang!" ucap Charla, "aku tidak pernah kekurangan uang! Papa ku memberi ku kartu platinum. Mama ku memberiku kartu gold! tapi aku biasa saja! tidak ada kebahagiaan yang berarti!"
"Kenapa Papa dan Mama mu memberi kartu masing - masing?"
Charla berdiri mendekati jendela dan menatap kelap kelip lampu kota Oxford saat malam hari.
"Mereka sudah bercerai saat aku berusia 15 tahun!" jawabnya tanpa melihat Devan, "Mama kembali menikah dan aku jatuh di tangan Papa! karena Mama ku mengikuti suami barunya berkeliling dunia!" jelas Charla. "Dan sejak saat itu, aku tidak percaya akan cinta!"
Devan merasa kasian dengan kisah Charla. Devan melihat ada luka di hatinya yang timbul oleh perpisahan orang tuanya.
"Jika sepasang suami istri bercerai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan, menurutku dari awal memang tidak ada cinta dan tidak cocok!" ucap Charla, "Karena cocok itu selamanya! tidak ada batasnya!" lanjutnya.
Devan menatap sendu pada punggung Charla.
"Jadi kau tidak pernah jatuh cinta?"
__ADS_1
"Tidak!" ucap Charla yakin sambil berbalik menghadap Devan yang berdiri menatapnya dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Charla menutup jendela ruang tamu yang terbuka. Lalu berjalan mendekati Devan dengan melepas jaketnya, menyisakan rok di atas lutut dan tank top nya. Lalu berdiri tegak di depan Devan. Devan mengerutkan keningnya menatap Charla yang 25 cm lebih pendek darinya.
"Aku tidak mencintaimu Devan!" ucap Charla yang membuat Devan semakin bingung. "Karena aku tidak ingin jatuh cinta!" lanjutnya. "Tapi kau laki - laki pertama yang bisa membuat aku penasaran"
"Aku tidak tau apa maksudmu"
Charla menyentuh dada Devan dengan kedua tangannya dan mengusapnya ke atas hingga melingkar di leher Devan.
"Ajari aku menikmati hidup seperti dirimu, Mr. Devan!" ucap Charla dengan menyungging senyum menawannya.
Devan mengangkat sudut bibirnya, menatap Charla yang memang terlihat sangat cantik malam itu. Jika saja Charla gadis bebas seperti umumnya, Devan sudah pasti memangsanya tanpa di minta.
"Charla?" panggil Devan pelan, "aku tau gadis baik - baik! kenapa menyerahkan dirimu padaku?" tanya Devan.
"Karena kamu tidak mungkin mencintaiku!"
"Kau juga tidak mencintaiku! kenapa ingin melakukannya denganku!"
"Karena pada dasarnya, kita sama - sama tidak percaya akan cinta bukan!"
"Bagaimana jika suatu hari ternyata kau mencintaiku?" tanya Devan.
"Never!" jawab Charla yakin, "tapi aku juga perempuan normal yang ingin di sentuh laki - laki!"
"Jadi ini hadiah yang kamu maksud?" tanya Devan.
"Ya!" jawab Charla dengan senyum manisnya.
Devan menatap mata Charla intens. Lalu melepas tangan Charla yang melingkar di lehernya dengan senyum manis di bibirnya. Seketika mata Charla terlihat memancarkan kekecewaan, karena Devan melepas tangannya.
"Kalau kamu ingin melakukan itu, lebih baik kamu merubah perasaanmu!" ucap Devan, "belajarlah untuk mencintai seseorang! dan lakukan itu dengannya!"
Devan mengangkat sebelah sudut bibirnya. Menyentuh rambut Charla dari dahi hingga yang menjuntai di depan dada.
"Kamu cantik, masih muda, dan perawan!" ucap Devan, "sangat sayang jika berikan padaku untuk pertama kali!"
"I don't care!" jawab Charla yakin.
"Bagaiman jika orang tua mu tau! anak gadisnya sendiri yang menyerahkan diri pada seorang Casanova seperti ku!"
"Mereka hanya perlu kabar dari ku, kalau aku masih hidup!" jawab Charla, "dia tidak akan peduli pergaulan hidup seperti apa yang aku jalani!"
Devan menarik nafas panjang, lalu membuangnya perlahan.
"Sebaiknya aku pulang!" ucap Devan, "kamu dalam pengaruh minuman!" lanjutnya mengusap kepala Charla.
"Tidak!" ucap Charla cepat, "sepenuhnya aku sadar!"
"Charla?" panggil Devan lembut.
"Devan!" balas Charla tegas.
"Tidurlah!" ucap Devan membalikkan badannya menghadap pintu utama apartemen Charla.
"Kamu tidak akan bisa keluar dari apartemen ini, Devan!" ucap Charla yang membuat Devan menghentikan langkahnya.
Charla berjalan mendekati Devan, dan memeluk tubuh atletis Devan dari belakang. Menyandarkan kepalanya di sana.
__ADS_1
"Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya!" ucap Charla lirih.
Devan membalikkan badannya, menatap mata Charla dalam. Devan menundukkan kepalanya, mencium kening Charla dalam.
"Lepaskan aku!" ucap Devan lirih memeluk Charla, "aku terlalu tidak pantas mendapatkannya tanpa pernikahan!" ucap Devan.
"Lagi pula aku tidak mau menikah!" ucap Charla yang melepas pelukan Devan.
Charla langsung menarik tengkuk leher Devan dan mencium bibir Devan. Meskipun dia tidak terlalu pandai berciuman. Dia hanya mencium paksa bibir Devan. Menirukan film layar lebar yang dia tonton di Bioskop. Charla memang masih perawan, bukan berarti tidak pernah berciuman di masa lalu.
Devan dengan berusaha melepas tangan Charla dan menjauhkan bibirnya yang di cium paksa oleh Charla.
"Charla, stop!" ucap Devan saat berhasil memberi jarak pada bibir mereka.
Tapi Charla kembali meraih dan menciumnya. Charla mendorong tubuh Devan hingga jatuh di sofa. Charla duduk di pangkuan Devan, menghadap Devan sepenuhnya. Langsung saja jiwa normal seorang Casanova membuncah. Devan berusaha menahannya.
"Charla!" ucap Devan dengan sekuat tenaga mendorong kepala Charla.
"Are you kissing me, or are you killing me!" ucap Devan menatap Charla yang melingkarkan tangah di lehernya.
"I want everything to you!" jawab Charla, "except your love!" lanjutnya.
"Akan lebih indah jika melakukan dengan cinta!" ucap Devan.
"I don't care!" jawab Charla.
Charla membuka kancing baju Devan satu persatu. Hingga semua kancing Devan terlepas. Mengusap lembut dada bidang Devan, dan menyingkirkan baju yang menutupi dada dan pundak bidang Devan.
Menatap gadis cantik yang menggoda di pangkuannya, pada akhirnya pertahanan sang Casanova runtuh juga.
Devan mulai mengusap lembut paha Charla yang tengah mengunci tubuhnya. Charla mendekatkan wajahnya, dan Devan mulai memajukan bibirnya. Dan memulai ciuman yang saling balas.
Devan mengangkat bok*ng Charla, lalu berdiri dan membawa Charla masuk ke kamar Charla tanpa melepas ciuman mereka. Devan meletakkan Charla pelan di atas ranjang. Devan melepas kemejanya dan mulai menciumi leher jenjang Charla. Charla mulai kegelian, karena ini pertama kalinya bagian itu di cium. Kecupan demi kecupan mendarat di dada mulus Charla. Hingga Devan mulai menyingkap tank top Charla. Memperlihatkan br* kemben yang di pakai Charla.
Rasa hangat mulai menjalar di antara keduanya. Charla menerkam punggung Devan karena merasakan kegelian luar biasa, saat Devan meremas kedua dada Charla yang masih tertutup br* kemben. Pelan - pelan Devan melepas br* kemben itu. Menampakkan dada kenyal yang seketika membuat senjata Devan menegang.
Dengan rakus Devan mulai menghis*pnya bergantian. Dan tangannya bermain di dada yang menganggur. Memainkan puncak dada yang masih berwarna ranum. Devan mulai lupa diri, dan Charla semakin berusaha membuat Devan lupa diri. Devan terus bermain di dada Charla, hingga Charla mencapai ******* pertamanya.
Setelah membiarkan Charla menikmati ******* pertamanya, Devan turun mencium perut dan membuka rok Charla, lalu melepas sisa baju yang melekat di tubuhnya, hingga keduanya sudah polos tanpa benang sehelai pun.
Dan malam itu terjadi untuk pertama kalinya bagi Charla. Darah suci yang menetes di sprei membuat Devan merasa bersalah saat menatap wajah teduh Charla yang sedang terlelap di pelukannya.
Devan membuka selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Melihat tubuh indah Charla yang memang membuatnya ingin kembali bercinta dengan Charla. Tapi dia menahan dirinya untuk tidak melakukan itu secara sepihak. Apalagi tidak ada cinta diantara mereka. Devan mengusap lembut kepala Charla.
Gadis malang! gadis kesepian yang tidak tau harus bagaimana menikmati hidupnya. Luka akibat perceraian orang tua nya benar - benar membuatnya kacau. Di tambah tidak ada perhatian dari mereka! ucap Devan dalam hati, sambil mengusap lembut pipi Charla dengan ibu jarinya.
Author ingatkan, Kisah Devan berpacu pada kehidupan bebas di luar negeri ya. Jadi berbeda dengan kisah Alexander yang tinggal di Indonesia. Dan anggap saja mereka berbicara Bahasa Inggris sepanjang percakapan.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.