Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Amarah Yocelyn 1


__ADS_3

Devan melajukan mobil sportnya meninggalkan gedung perkantoran FG corp. Yang tak lain adalah perusahaan yang di dirikan oleh Opanya, yang kini berada di bawah kekuasaannya. Meskipun belum resmi menjadi miliknya, karena Opa dan Oma masih hidup.


Mata Devan tak lepas dari kaca spionnya, untuk mengamati apakah masih ada yang mengikuti pergerakannya di luar kantor dan apartemen. Sampai dia masuk ke pintu gerbang apartemennya, Devan tak menaruh curiga pada satu mobil pun.


Berbeda dengan belakangan ini, dia selalu merasa di awasi oleh orang - orang yang tak di kenalnya. Devan masuk ke tempat parkir mobilnya dan langsung menuju apartemen Yocelyn.


"Sayang!" seru Devan setelah membuka pintu apartemen Yocelyn dan tidak menemukan Yocelyn di ruang tamu.


"Sayang!" panggil Devan membuka pintu kamar.


"Sayang!" panggil Devan membuka pintu walk in closed, dan barulah dia mendengar suara guyuran air shower dari dalam kamar mandi.


"Baru mandi rupanya!" gumam Devan dengan sedikit senyum di bibirnya.


Devan duduk di sofa yang ada di walk in closed. Dia melepas jas dan melemparnya ke keranjang baju kotor. Lalu melepas sepatu juga kaos kakinya dan meletakkan kembali di rak sepatu yang ada di sana.


"Sayang! kapan kamu datang?" celetuk Yocelyn yang keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk kimono nya, juga handuk yang melilit rambut basahnya.


"Baru saja!" jawab Devan setelah menutup pintu rak sepatu.


"Kamu mau langsung mandi?" tanya Yocelyn.


"Iya, Sayang! gerah!" jawab Devan.


Tapi bukannya masuk ke kamar mandi, dia justru mendekati kekasihnya. Melingkarkan tangan posesif di pinggang Yocelyn.


"Sayang! bau keringat!" ucap Yocelyn.


"Aku saja mau menjilat keringat mu yang asin, masak iya kamu tidak mau mencium bau keringat ku!" ucap Devan.


"Asin?" pekik Yocelyn.


"Keringat kan asin, Sayang!"


"Dari pelajaran ku di sekolah dulu memang begitu sih!"


"Nah, itu tau!" sahut Devan. "Jadi kamu masih tidak mau mencium bau keringat ku?"


"Sebenarnya mau! hanya saja aku malu mengakuinya! hehe!" ucap Yocelyn tersenyum kikuk. "Karena sebenarnya itu sangat menjijikkan bukan?"


"Kalau sudah cinta tidak akan ada kata menjijikkan, Sayang!" ucap Devan mengecup singkat bibir Yocelyn.


"Memang iya?" tanya Yocelyn dengan polosnya.


"Ya iyalah!" jawab Devan kembali mencium bibir Yocelyn.


Kali ini Devan bukan hanya mengecup atau mencium biasa. Devan mencium dalam bibir Yocelyn. Yocelyn mulai terbawa suasana, dengan natural dia melingkarkan tangan di leher Devan. Dan mencengkeramnya erat jika Devan memberi gigitan - gigitan kecil di bibirnya.


Lidah Devan dengan agresif menyusuri rongga mulut Yocelyn. Dan bahkan menghisap lidah Yocelyn kuat. Sesekali menggigit bibir Yocelyn yang kini menjadi candu baginya. Setiap pulang atau berangkat kerja dia tidak akan pernah lupa untuk mencium bibir kekasihnya terlebih dahulu.


Beberapa saat berlalu, Devan melepas pagutan bibir mereka. Devan mengusap lembut bibir Yocelyn yang basah dengan ibu jari tangan kirinya.


"Sudah pintar rupanya!" ucap Devan menatap lembut wajah cantik Yocelyn.


"Siapa dulu gurunya!" ucap Yocelyn yang masih mengalungkan tangan di leher Devan.


"Hahaha!" Devan tergelak dengan ucapan polos kekasihnya.


Tuan Casanova! ucap Devan dalam hati.


Yocelyn kini sudah mahir berciuman, karena setiap hari Devan selalu menciumnya. Hanya sekedar ciuman saja, Devan tidak berani melakukan lebih dari itu. Entah apa yang membuatnya takut. Bahkan menyentuh bagian dada Yocelyn pun belum pernah di lakukan oleh Tuan Casanova itu.


Jika dia terlalu berhasrat saat berciuman dengan Yocelyn, maka dia akan memilih bermain solo di apartemennya atau di dalam kamar mandi Yocelyn. Sangat aneh memang, seorang Casanova yang di gilai banyak wanita itu kini tak berkutik di depan Yocelyn.


Devan sengaja tidak membawa Yocelyn tinggal di apartemennya. Karena Charla tau apartemen Devan. Sehingga Devan memilih untuk tinggal di apartemen Yocelyn. Hanya sesekali saja dia tinggal di apartemennya sendiri. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama di apartemen Yocelyn.

__ADS_1


"Cepat mandi!" ucap Yocelyn


"Siap, Sayang!" ucap Devan.


Devan memberi kecupan sekilas di bibir Yocelyn, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.


Sebelum Devan keluar dari kamar mandi, Yocelyn segera mengganti bajunya dengan baju santai. Dan langsung mengoles make up tipis dan menyisir rambutnya rapi.


"Sayang, baju bersih ku habis?" tanya Devan setelah keluar dari kamar mandi dan membuka almarinya.


"Belum di antar oleh bagian Laundry!" jawab Yocelyn.


"Ikut ambil aku ke apartemen yuk!"


"Dengan handuk seperti ini?" tanya Yocelyn melihat Devan yang hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


"Kalau begitu ambilkan, mau tidak?"


"Ya! biar aku saja yang ambil!"


"Sandinya 62xxxx!"


"Okey!" jawab Yocelyn yang langsung keluar dari walk in closed dengan masker yang selalu di pakainya saat keluar.


Yocelyn masuk ke dalam lift dan menekan angka 30. Lift bergerak ke atas menuju lantai 30 apartemen.


Lift terbuka, dan seketika mata Yocelyn menangkap seorang gadis cantik yang berdiri tepat di depan pintu apartemen Devan, sedang menekan tombol bel. Perasaan campur aduk langsung menyelimuti hati gadis polos itu.


Menyadari lift yang terbuka, gadis cantik yang berdiri di depan pintu apartemen Devan segera menolah ke arah lift. Dan tatapan mata mereka spontan bertemu.


Dengan perasaan ragu dan curiga, Yocelyn melangkahkan kakinya mendekati gadis yang masih berdiri menghadap pintu apartemen Devan.


"Kamu siapa?" tanya Yocelyn setelah sampai di depan pintu Devan.


Yocelyn hanya menatap tangan Charla tanpa berniat sedikitpun untuk menyambut, apalagi menyebutkan namanya.


"Kamu mencari siapa?" tanya Yocelyn kemudian.


Charla menarik tangannya kembali, setelah merasa tangannya di acuhkan oleh Yocelyn.


"Kamu pasti tau kan ini apartemen siapa?"


"Devan!" jawab Yocelyn.


"Jadi aku mencari Devan!" jawab Charla dengan sedikit ketus.


"Kamu siapanya Devan?"


"Kamu sendiri siapanya Devan?" tanya Charla tanpa menjawab pertanyaan Yocelyn.


"Pacarnya!" jawab Yocelyn yakin.


"Pacar?" tanya Charla dengan mengerutkan keningnya, menutupi rasa kesal mendapati dugaannya selama ini benar.


"Iya!" jawab Yocelyn.


Charla menatap Yocelyn dari ujung rambut hingga ujung kaki. Terlihat modis walau jauh dari kesan seksi, dan juga cantik meskipun sebagian wajahnya tertutup masker. Tapi jelas terlihat pula kalau gadis di depannya ini terlihat sangat polos dan bukan gadis nakal seperti kebanyakan gadis yang pernah di bawa Devan ke hotel.


Sejak kapan Devan merubah kriteria gadis yang menemaninya! Dan bagaimana bisa Devan menjalin cinta dengan gadis polos seperti ini? Apa selera Devan benar - benar berputar 180 derajat! ucap Charla dalam hati.


"Apa Devan ada?" tanya Charla yang tidak tau harus berbuat apa pada gadis yang terlihat polos di depannya itu.


"Tidak ada!" jawab Yocelyn yang di rasuki perasaan cemburu setiap Charla menyebut nama Devan. Ditambah melihat dress yang terkesan seksi yang sedang di pakai Charla.


"Apa kamu yakin?" tanya Charla yang tidak percaya dengan jawaban Yocelyn.

__ADS_1


"Kalau Devan ada, dia pasti sudah membuka pintu untuk kamu!"


Charla mengangguk pelan, merasa ada benarnya yang di ucapkan Yocelyn.


"Kamu tinggal bersama Devan?"


"Iya, kami tinggal di sini!" jawab Yocelyn dengan rasa cemburu yang semakin memuncak.


"Oh!" Charla mengangguk, "baiklah, kalau Devan tidak ada, aku pergi dulu!" ucap Charla menyungging senyum hambar pada Yocelyn.


"Iya!" jawab Yocelyn ketus.


Charla berlalu dari pintu apartemen Devan, dengan melangkahkan kaki dengan elegan menuju lift. Sementara Yocelyn mengamati pergerakan dan lekuk tubuh seksi yang di perlihatkan Charla.


Charla masuk ke dalam lift, dan membalikkan badan menghadap Yocelyn yang masih menatapnya dengan mata yang jelas terlihat memendam rasa cemburu.


Gadis yang polos! dia bahkan tidak bisa menutupi rasa cemburunya! batin Charla saat pintu lift kembali tertutup.


Sementara dengan rasa kesal bercampur cemburu yang memuncak, Yocelyn menekan tombol sandi pintu apartemen Devan dengan kasar. Dan dengan perasaan campur aduk Yocelyn berlari ke kamar Devan dan mengambil baju tanpa memilih. Bagai sedang tersambar petir, hati Yocelyn benar - benar terasa panas.


"Awas saja kalau kamu berani selingkuh!" ucap Yocelyn dengan nada tinggi.


"Matanya saat mengamati ku benar - benar seperti sedang mengejekku!"


"Jangan mentang - mentang berani berpakaian seksi di depan umum, lalu menganggap ku kolot dengan pakaian seperti ini!" ucap Yocelyn kesal sambil keluar dari kamar Devan dengan baju Devan di dekapannya. Dia bahkan lupa untuk membungkusnya.


Yocelyn meninggalkan apartemen Devan dengan hati yang di penuhi api. Dia menekan tombol lift dengan kasar. Lalu masuk dengan wajah kesalnya.


Clekkk!


Dengan kasar Yocelyn membuka pintu apartemennya dan langsung masuk ke kamarnya. Dengan tatapan amarah Yocelyn mencari keberadaan Devan.


Devan yang tengah bersandar di tempat tidur menunggu kekasihnya, spontan terperanjat kaget saat Yocelyn membuka pintu kamar seperti orang kerasukan. Di tambah tatapan Yocelyn yang seperti ingin menelannya hidup - hidup.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Devan panik.


.


.


.


.


.




Selamat membaca 🥰


Lanjutannya besok ya ..



Jangan lupa like, komentar, dan dukungan lainnya ya Kakak.



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2