Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Ikut ke Kantor


__ADS_3

Devan melajukan mobil sportnya meninggalkan apartemen menuju kantor. Yocelyn duduk di sampingnya dengan senyum yang tak lepas dari bibir manisnya. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi waktu London.


"Dari tadi kamu senyum - senyum terus, kenapa Sayang?" Devan melirik Yocelyn sekilas lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


"Hehe, aku senang bisa ikut ke kantor kamu!" jawab Yocelyn mengatupkan kedua tangannya.


"Apa senangnya ke kantor ku?"


"Aku bisa melihatmu bekerja!" jawab Yocelyn.. "Aku boleh menunggu mu di ruang kerja kamu kan, Sayang!"


"Tentu saja, Sayang!" sahut Devan. "Masa iya kamu di lobby!"


"Lebih baik aku pulang dari pada nunggu kamu di lobby!" celetuk Yocelyn membuang muka ke jendela.


"Hahah!"


"Sayang, boleh tidak kita mampir beli cake untuk aku makan sambil menemani kamu kerja?" tanya Yocelyn memajang wajah imutnya.


"Boleh dong, Sayang!"


Devan menghentikan mobilnya di depan Renkoff Bakery yang ada di pinggir jalan. Devan keluar dari mobil lebih dulu untuk membuka pintu Yocelyn.


"Pakai masker, Sayang!" ucap Devan saat melihat Yocelyn yang lupa memakai maskernya.


"Eh, lupa!" Yocelyn segera memakai maskernya dan keluar dari mobil Devan.


Devan menggenggam tangan Yocelyn memasuki toko bakery itu. Beberapa saat kemudian merek keluar dengan satu kantong cake di tangan kanan Devan.


Devan kembali membuka pintu penumpang untuk Yocelyn dan menyerahkan kantong cake nya. Devan menutup pintu dengan pelan dan beralih masuk ke pintu kemudi. Dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.


"Wow!" seru Yocelyn, "kantor kamu besar sekali!" ucap Yocelyn ketika Devan hendak masuk ke pintu gerbang kantornya.


"Bukankah sama hampir sama dengan gedung kantor milik Papa mu?"


"Iya sih!" jawab Yocelyn tersenyum kikuk.


Devan mengehentikan mobil sportnya di depan lobby, dan langsung keluar dari pintu kemudinya, bahkan saat security belum sempat membukakan pintunya. Hal itu membuat security sedikit kaget.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa security yang berdiri di samping Devan.


"Hemm!" jawab Devan tanpa melihat yang menyapanya.


Devan berputar ke pintu penumpang dan hendak membukanya. Tentu saja hal itu membuat karyawan yang berada di sekitarnya merasa penasaran, siapa yang datang bersama Tuan mereka.


Hampir sebagian karyawan tau siapa Devan. Tapi tak pernah sekalipun Devan datang ke kantor dengan membawa seseorang di sampingnya, bahkan sampai harus di bukakan pintu oleh Tuannya.


Clekkk!


Pintu terbuka, Devan mengulurkan tangan untuk meraih kantong cake di pangkuan Yocelyn, hal itu sudah membuat karyawan yang ada di sekitarnya semakin penasaran.


Kemudian seorang gadis cantik bermasker keluar dari pintu itu. Meskipun sebagian wajahnya di tutupi masker, tetap saja aura cantiknya tetap terpancar.


"Ayo, Sayang!" ucap Devan meraih tangan kanan Yocelyn dengan tangan kirinya.


Sontak saja kata sayang yang terucap dari bibir Devan membuat para karyawan yang berseliweran di buat heran dan penasaran dengan gadis muda yang di bawa Tuannya.


Devan menggenggam tangan Yocelyn memasuki lobby. Devan hanya mengangguk sedikit, pada setiap karyawan yang menyapanya. Sementara mata para karyawan fokus pada gadis di samping Devan.


Dan hal itu membuat Yocelyn sedikit malu. Meski begitu dia tetap tersenyum di balik masker, pada mereka yang menatapnya dengan tatapan seolah ingin menelannya hidup - hidup.


"Siapa yang bersama Tuan?" itulah kalimat yang pertama muncul dari bibir mereka setelah Devan masuk ke dalam lift khusus atasan.


Dan mereka semua berujung dengan jawaban saling mengangkat pundak masing - masing, alias sama - sama tidak tau.


"Sayang, kenapa semua karyawan mu menatapku seperti itu?" tanya Yocelyn setelah keduanya masuk ke dalam lift yang bergerak naik.

__ADS_1


"Mungkin mereka penasaran siap kamu?"


"Penasaran?"


"Aku tidak pernah membawa gadis cantik ke kantor!" lanjut Devan.


"Oh ya?"


"Iya, Sayang!"


"Kamu tidak pernah punya pacar?" tanya Yocelyn penasaran.


"Pernah!" jawab Devan, "saat aku masih berusia 15 tahun!"


"Hah! 15 tahun sudah boleh pacaran?"


"Memangnya siapa yang akan melarang ku?"


"Papa dan Mama kamu?"


"Mereka di Indonesia, aku tinggal bersama Opa dan Oma yang tidak pernah melarang ku, kalau hanya sekedar pacaran saja!"


"Ooh!" Yocelyn mengangguk. "Setelah itu kamu tidak punya pacar lagi?"


"Tidak ada yang bisa menarik perhatianku!" jawab Devan.


"Serius?"


"Heemm!" Devan mengangguk, "Untung kamu datang! jadi aku bisa jatuh cinta lagi!"


"Aaa! jadi aku menarik perhatian kamu?" tanya Yocelyn dengan senyum imut dan polosnya.


"Hemm!" Devan mengangguk dengan senyum tipis melihat tingkah lucu Yocelyn.


"Kalau aku, saat 15 tahun justru sibuk dengan home schooling! tidak boleh keluar rumah tanpa Papa dan Mama!"


"Iya! Papa dan Mama melarang ku bersekolah di sekolah umum!" tutur Yocelyn. "Baru saat kuliah, aku memaksa untuk kuliah di luar rumah! itupun datanglah Erina dari Indonesia! dan kamu adalah teman sekaligus pacar pertama ku!" lanjutnya dengan bergelayut manja dan senang di lengan Devan.


"Kasian sekali sayangku ini!" ucap Devan mengecup singkat puncak kepala Yocelyn.


"Hemm!" Yocelyn mengangguk.


Sampai akhirnya pintu lift terbuka, dan Devan keluar bersama Yocelyn dengan di sambut Grace, sekretaris Devan.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Grace sambil membuka pintu ruangan Devan.


"Hemm!" jawab Devan.


Sementara Yocelyn tersenyum dan mengangguk pada Grace. Spontan Grace melakukan hal yang sama. Karena dia sedikit shock mendapati bos nya membawa seorang gadis ke kantor dengan saling menyatukan tangan mereka. Bahkan tampak tangan Devan membawa kantong bakery.


"Sungguh seperti bukan Tuan Devan!" gumam Grace saat kembali duduk di kursinya.


Di dalam ruangan Devan meletakkan kantong bakery di meja sofa. Sementara Yocelyn langsung melangkahkan kaki ke arah dinding kaca yang memperlihat suasana kota London di pagi hari ini.


"Wow! pemandangan dari sini benar - benar menunjukkan bahwa ini adalah London!"


"Kamu suka, Sayang?" tanya Devan yang langsung memeluk Yocelyn dari belakang.


"Suka sekali!" Yocelyn mengangguk dengan menyandarkan kepalanya di dada Devan.


Beberapa saat memandangi suasana di luar, Devan memutar tubuh Yocelyn menjadi menghadapnya penuh. Devan mengangkat kedua tangan Yocelyn dan melingkarkan di lehernya, kemudian Devan melingkar di pinggang Yocelyn.


Yocelyn yang polos itu sedikit kikuk dengan ulah Devan. Dia sering melihat adegan di drama film yang dia tonton, tapi untuk praktek dia benar - benar nol besar. Dan Devan si ahli bahasa tubuh itu tentu tau gelagat Yocelyn.


"Sayang, kalau kamu ingin memelukku, peluklah!" ucap Devan, "kalau kamu ingin mencium ku, cium lah!" lanjutnya. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku! asal ..."

__ADS_1


"Asal apa?"


"Asal jangan pernah meninggalkan aku!" ucap Devan serius.


"Tapi bagaimana kalau ternyata kamu yang meninggalkan aku?"


"Never!" sahut Devan spontan. "I promise you!"


Sudut bibir Yocelyn terangkat menatap dalam mata Devan yang menatapnya dengan tatapan serius.


"Berjanjilah untuk terus bersama ku!" ucap Devan, "kalau pun seandainya Papa dan Mama mu tidak merestui cinta kita, aku akan melakukan segala cara supaya mereka menyetujui!"


"Aku yakin mereka akan merestui kita!" ucap Yocelyn mengusap lembut pipi Devan.


Devan tersenyum lalu mencium tangan Yocelyn yang mengusap pipinya.


"Aku tidak pernah jatuh cinta hanya dengan waktu sesingkat ini!" ucap Devan. "Sejak pertama kali melihat mu di ruang ATM dekat taman kota waktu itu, aku merasa sepertinya hatiku terpaut olehmu!" lanjutnya membelai wajah cantik Yocelyn.


"Benarkah?"


"Iya!" jawab Devan kembali melingkarkan tangan di pinggang Yocelyn. "Waktu itu aku mengikuti mu sampai kamu ke kampus!"


"Wow!" seru Yocelyn.


"Dan saat menemukan kamu di mobilku, hidupku bagai kejatuhan berlian!"


"Hihi!" Yocelyn tersenyum lucu mendengar cerita Devan.


"I love you, Sayang!" ucap Devan dengan menatap dalam wajah cantik Yocelyn.


"I love you too!" ucap Yocelyn memasang wajah menggemaskan.


Langsung saja Devan mendaratkan ciuman di bibir Yocelyn. Sedikit demi sedikit Yocelyn mulai bisa mengimbangi ciuman yang di mainkan Devan. Tanpa ragu lagi Yocelyn membuka mulutnya tanpa perlu di pinta Devan. Devan tersenyum dengan kemajuan kekasihnya itu.


Devan memperdalam ciumannya, dan kedua tangannya mendekap erat tubuh Yocelyn, seolah enggan untuk melepasnya. Devan mulai memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Yocelyn. Kali ini Yocelyn sedikit gelagapan, karena Devan belum pernah melakukan itu sebelumnya.


Devan melepas pautannya, juga merenggangkan pelukannya dan nafas keduanya sudah memburu. Devan benar - benar menginginkan lebih dari itu. Naluri laki - laki seorang Devan bukan hanya menginginkan bibir kekasihnya, tapi juga tubuhnya. Devan menatap dalam wajah kekasihnya yang tengah mengatur nafasnya.


Haruskah aku melakukan itu kepadamu? batin Devan.


Tapi aku tak ingin merenggutnya! lanjutnya dalam hati.


Devan mendaratkan ciuman dalam di dahi Yocelyn, dan memeluk tubuhnya erat.


.


.


.




Author kalau nulis yang romantis - romantis gini jadi baper loh!


Hadduuuh! sayangnya terkadang cerita romantis hanya ada di novel! heheh.



Jangan lupa tinggalkan like komentar dan dukungan lainnya.



Terima kasih,

__ADS_1



Salam Lovallena.


__ADS_2