Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Mengalami Hal yang Sama


__ADS_3

Jam sepuluh siang, barulah Charla mengerjapkan matanya. Ia segera memeluk apa yang sedari tadi ia peluk. Tapi ...


Kok rasanya beda?


Batin Charla.


Ia langsung membuka matanya, dan benar saja seonggok bantal lah yang tengah ia peluk erat. Charla duduk dengan kesalnya. Menutup bagian depan dadanya dengan selimutnya.


"KAAAAAKKK!" teriak Charla sangat kencang. "Kakaakkk kamu berbohong!" jerit Charla meneteskan air matanya.


Clekk!


"Ada apa, sayang!" sahut Ivander yang muncul dari pintu utama kamar dengan wajah paniknya.


"Heemmh!" Charla mengendus setengah lega tapi sedikit kesal. "Kenapa kamu bangun duluan?" tanya Charla dengan wajah yang di tekuk total.


"Aku lapar, sayaang" jawab Ivander sembari mendekati ranjang dan duduk di samping istri manjanya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Charla melihat pakaian Ivander yang sudah terlihat bersih.


"Sudah, tadi bangun langsung mandi"


"Kenapa aku nggak di ajak?"


"Kan kamu tidur?"


"Kan bisa di bangunin!"


"Iyaa iyaa maaf, sayang"


"Aku mau mandi" ucap Charla dengan gaya manjanya.


"Aku bantu" Ivander menyingkap selimut, dan mengangkat tubuh polos istrinya ke arah kamar mandi.


Charla teramat senang di manjakan oleh suaminya. Karena Ivander melayani Charla layaknya tuan putri. Bahkan membantu istrinya itu memakai baju dan menyisir rambut panjangnya.


"Udah!" celetuk Charla berdiri di depan meja rias dengan make up tipisnya.


"Istri ku memang cantik sekali!" ujar Ivander berbangga.


"Hihi!" Charla melompat memeluk Ivander yang berdiri di belakangnya. "Suapi aku makan yaaa?" rengek Charla.


"Siap, sayang! mau makan apa?"


"Sandwich!"


"Boleh!"


***


Hingga malam menjelma, Charla masih saja menjadi baby Charla yang super manja. Tak sedikitpun ia lepas dari Ivander.


Bahkan saat ini ia tengah duduk di pangkuan Ivander yang tengah merancang bisnis pertamanya di depan layar laptop.


Charla peluk leher Ivander erat. Menyandarkan pipinya di pundak Ivander. Hidungnya asyik mengendus bau parfum woody yang di pakai Ivander.


"Sayang, kamu sudah dua jam lebih duduk di sini, nggak capek apa?" celetuk Charla kesal.


"Sebenarnya sih enggak, sayang! tapi apa kamu tidak capek dengan posisi seperti ini? sudah setengah jam lebih kamu nempel terus begini."


"Nggak! aku maunya sama kamu terus!"


"Udah ngantuk belum?"


"Kamu berharap aku tidur? dan kamu kembali asyik dengan itu?"


"Bukan begitu, sayang! kalau kamu ngantuk sebaiknya kita tidur saja yuk!"

__ADS_1


"Ya udah, gendong!" manja Charla yang membuat Ivander geleng - geleng kepala dengan menahan senyum gemas.


"Mau langsung tidur atau main dulu?" goda Ivander sambil menggendong Charla di depan menuju ranjang.


"Main apa?"


"Bikin dedek!" jawab Ivander tersenyum menggoda.


"Hehe!"


"Kok senyum aja sih?" tanya Ivander, "mau nggaakk?"


"Mau lah! nggak mungkin nolak! hehe" jawab Charla lantang dengan menunjukkan jajaran gigi putihnya


"Hahahah! I love you, baby!" bisik Ivander mengecup bibir Charla.


Permainan panas kembali bergulir di malam yang dingin. Tanpa mereka sadari, apa yang tengah mereka usahakan itu sudah mulai tumbuh di dalam sana.


Maklum mereka adalah pasangan muda yang baru menjelang 23 tahun. Tentu belum terlalu peka dengan hal - hal aneh di awal kehamilan.


***


Pagi hari, Charla bangun dari tidurnya. Ia menggeliat lembut di pelukan suaminya. Hidungnya mengendus nyaman menciumi leher suaminya.


Namun beberapa saat kemudian semua berubah. Mendadak perutnya mual, sesuatu seperti ingin menyembur keluar.


"Ugh!"


Charla turun dari ranjang tanpa sempat memakai bajunya.


"Ugh!" ia memuntahkan isi perutnya di closed.


Ivander yang mendengar suara itu segera berlari ke kamar mandi. Dan hal yang sama dengan istrinya pun ia lakukan. Yakni, berlari ke kamar mandi tanpa baju.


Ya, karena mereka selalu terlelap tanpa sempat memakai baju, setelah menyelesaikan duel panas di atas ranjang.


Charla menggeleng pelan, lalu membersihkan mulut dan mencuci mukanya di wastafel. Ivander dengan sigap memakaikan handuk kimono di tubuh Charla, begitu juga untuk dirinya.


"Mungkin kamu masuk angin, sayang. Sebaiknya kamu segera memakai baju, jika masih tidak nyaman kita ke dokter saja."


Charla hanya mengangguk dan langsung masuk ke walk in closed dan mengambil baju untuk ia kenakan.


Baru saja selesai ia menguncir rambutnya asal. Mendadak Ivander berlari ke kamar mandi. Charla mengikutinya dan benar saja yang dia lihat adalah apa yang baru saja terjadi padanya. Ivander memuntahkan seluruh isi perutnya di closed.


"Sayang, kamu juga masuk angin?" tanya Charla tak kalah panik.


Ivander hanya menggeleng, kemudian berdiri dan membersihkan mulutnya di wastafel.


"Apa kita keracunan makanan, sayang?" tanya Ivander.


"Hah! yang benar saja. emang kita makan apa semalam?"


"Aneh sekali bukan, kita bisa muntah bersamaan pagi - pagi begini"


"Kita ke dokter saja bagaimana?" tanya Charla, "sebelum makin parah"


"Tapi aku harus ke kampus, sayang!"


"Ya sudah pulang dari kampus saja!" jawab Charla cemberut dan kesal dengan membuang muka.


"Kok kamu jadi ngambek?"


"Kamu sih, udah tau kita muntah - muntah, kenapa harus ke kampus? siapa yang menemani aku kalau kamu ke kampus? bagaimana kalau aku pingsan dan nggak ada yang tau!" Charla menghentakkan kakinya kesal lalu keluar dari kamar mandi.


"Sayaaang?" panggil Ivander lirih sambil mengikuti langkah istrinya ke tempat tidur.


"Males sama kamu!" ucap Charla yang langsung masuk kembali ke dalam selimut. Dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

__ADS_1


"Teru kamu maunya gimana, sayang?" tanya Ivander dengan sabar.


"Kamu bolos!" jawab Charla tanpa melihat Ivander.


"Tapi kan kemarin sudah," jawabnya, "kemarin kamu bilang sehari saja, masa sekarang nambah lagi. Kalau aku ketinggalan banyak materi gimana?"


"Pokoknya libur! kita ke dokter!"


"Satu mata kuliah aja deh, ya?" tawar Ivander.


"Nggak!"


"Sayaang?" panggil Ivander lirih penuh rayuan. "Aku kuliah tinggal setahun lo, sayang, masa di tinggal terus? aku harus mendapatkan banyak materi sendiri lo, sayang! kamu kan tau kuliah S3 tidak semudah kuliah S1."


"Huh!" Charla menghela nafasnya kasar. "Baiklah, Tiga jam saja, setelah itu kamu harus pulang!"


"Siap, komandan!"


***


Empat jam berlalu, Ivander tak kunjung pulang. Charla resah dan kesal. Sedari tadi ia hanya mondar - mandir menunggu suaminya pulang. Dengan bibir yang menggerutu atau bahkan mungkin mengutuk suaminya.


"Kemana aja sih, kak!" gumamnya kesal dengan memutar jari jemarinya.


Entah kenapa, saking kesalnya atau bagaimana, mendadak pandangan matanya menggelap. Kakinya pun terasa lemas dan lentur bagai jelly.


"Kenapa ini?" gumamnya meraba dinding untuk di jadikan sandaran. "Kak! cepat pulang! kepala ku pu..." gumamnya ambruk ke lantai bahkan belum sempat mendapat sandaran.


***


Di tempat lain, petugas UKK tengah di gemparkan dengan sosok Ivander yang di temukan pingsan di area parkir.


Semua pada sibuk menerka - nerka apa gerangan yang terjadi dengan mahasiswi populer itu. Meskipun semua tau dia sudah menikah, tetap saja ketampanannya mampu menghipnotis setiap mahasiswa yang baru masuk.


Apalagi sejak istrinya dinyatakan lulus sarjana dan tidak lagi berada di kampus. Banyak mahasiswi yang curi - curi pandang padanya.


"Apa yang terjadi?" tanya salah seorang dosen yang sangat mengenal akrab Ivander, sekaligus teman Devan saat kuliah dulu.


"Dia pingsan, pak!"


"Baru kali ini, aku melihat dia pingsan seperti ini."


"Apa ada keluarga yang bisa di hubungi, pak?"


"Oh, saya hubungi papanya dulu."


***


Beberapa menit berlalu . . .


"Papanya bilang suruh telfon istrinya, tapi tidak di angkat oleh istrinya!" ucap dosen itu.


"Oh, kalau tidak salah, Ivander punya sepupu di sini, Pak! namanya Vallencia, Mahasiswi MBA dan satu lagi yang biasanya mencari Ivander itu loh, Anandhita mahasiswi Ilmu komputer!"


"Cari mereka!" perintah dosen itu.


"Baik, pak!"


.


.


🪴🪴🪴


Eng ing eng!


kebetulan sekali ya! 🤔

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2