
Tok tok tok!
Devan turun dari ranjang mendekati pintu kamarnya dan membukanya.
"Tuan, ini pesanan Nona" ucap Erina sembari mencuri - curi pandang ke tempat tidur, di mana Yocelyn tengah berbaring membelakanginya.
"Hemm" Devan menerima nampan yang di sodorkan Erina.
"Tuan!" panggil Erina saat Devan hendak menutup pintu.
Devan hanya melihat Erina tanpa berkata sepatah katapun, tapi sudah menggambarkan untuk mempersilahkan Erina bicara.
"Tuan, apa tidak sebaiknya Nona di periksa lebih lanjut?" tanya Erina pelan. "Bisa saja Nona tidak sedang jet lag! karena setau saya Nona tidak pernah mengalami jet lag selama ini."
"Kalau tidak jet lag lalu kenapa?"
"Emmm..." mendadak lidah Erina terasa kilu, dia tidak berani mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya dan pelayan. Dia takut jika ternyata prediksinya salah, maka akan membuat kecewa Devan dan Yocelyn.
"Pergilah!" ucap Devan kemudian, karena Erina hanya menggigit bibir bawahnya dan tak kunjung bicara.
Jreet!
"Yah! gimana sih!" gumam Erina menatap pintu yang tertutup tepat di depan mukanya.
# # # # # #
"Enak?" tanya Devan pada Yocelyn yang terlihat begitu antusias makan mangga muda hanya dengan garam. Dan sama sekali tidak terlihat kemasaman.
Sementara Devan hanya bergidik ngeri. Mendadak gigi - giginya terasa ngilu. Membayangkan masamnya mangga muda itu.
"Enak, Sayang!" jawab Yocelyn sembari mencolek kan mangga muda dengan garam lalu memasukkan ke mulut dan mengunyahnya seperti makan mangga masak.
Devan menelan ludahnya dengan amat susah. Sembari mata yang sesekali membulat dan sesekali mengedip beberapa kali.
"Mau coba?" tawar Yocelyn menjulurkan irisan mangga dengan sedikit garam.
"Nggak, Sayang!" jawab Devan cepat menjauhkan kepalanya dari sang istri. "Kamu aja!" Devan bergidik ngeri melihat irisan mangga di depan mulutnya.
"Aaah... katanya sayang istri!" ucap Yocelyn merajuk. "Tapi di suapi istrinya nggak mau!" Yocelyn memanyunkan bibirnya dengan raut muka memelas.
"A..." Devan bingung harus berbuat apa.
"Ayoo!" rengek Yocelyn manja, masih mempertahankan irisan mangga muda di tangannya untuk Devan.
"Ba..." Devan menelan ludahnya dengan sangat susah saat hendak menjawab.
"Ayoo" rengek Yocelyn kembali.
"Baiklah" jawab Devan pasrah.
Devan membuka mulutnya dengan ekspresi ngeri membayangkan sesuatu yang siap meledak di mulutnya.
Hap!
Satu irisan mangga beserta sedikit garam masuk ke mulutnya. Pelan - pelan Devan mengunyahnya. Dan saat itu juga ekspresi wajahnya berubah. Mata yang semua menyipit, berubah menjadi biasa - biasa saja.
"Kok enak ya?" gumam Devan sembari terus mengunyah mangga muda itu.
"Enak kan?" tanya Yocelyn yang tersenyum senang melihat Devan mengunyah suapannya.
"Iya" jawab Devan. "Tidak masam! jauh dari bayangan ku!" lanjut Devan.
"Di bilangin istri nggak percaya!" seru Yocelyn kembali mengambil irisan mangga muda lagi.
"Hehe!" Devan nyengir kuda.
"Mau lagi?"
"Boleh!"
__ADS_1
Devan kembali di suapi istrinya setelah menelan suapan pertama. Dan malam itu keduanya asyik dan sibuk memakan buah mangga muda. Dimana buah yang sangat masam itu, terasa sangat manis di mulut keduanya.
Tak terasa, jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Keduanya sudah menghabiskan sepiring irisan mangga muda yang berasal dari dua mangga muda berukuran besar.
Keduanya pun tertidur setelah meneguk segelas air untuk berdua. Entah seperti apa nasib perut mereka, yang mereka isi dengan mangga muda tengah malam.
# # # # #
Pagi hari, Yocelyn menggeliat di pelukan Devan yang masih tertidur. Dan gerakan istrinya membuat Devan ikut bergerak. Kemudian perlahan membuka matanya. Terlihat sang istri masih memejamkan matanya.
Devan beralih menyalakan lampu tidur, dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 05.20 waktu London.
Perlahan Devan mengangkat kepala istrinya yang ada di dadanya. Dia hendak pergi ke kamar mandi. Karena hari ini harusnya dia kembali ke kantor. Sudah seminggu lebih kantor ia tinggalkan.
Meskipun selama dia di Paris, Opa turun tangan ke kantor untuk memback up pekerjaan Devan. Tetap saja Devan berkewajiban untuk mengecek kembali semua kinerja di perusahaan.
Clekk!
Devan membuka pintu kamar mandi. Namun secepat kilat bukan dia yang masuk ke dalam kamar mandi. Tapi istrinya Yocelyn, yang sungguh tidak ia sadari kapan istrinya itu terbangun.
Huek! huek!
Yocelyn memuntahkan isi perutnya di closed dengan duduk berjongkok.
"Sayang! kamu kenapa?" tanya Devan panik sembari menghampiri istrinya. Dan dengan sigap memijat bagian belakang lehernya.
Huekk!
Yocelyn masih terus memuntahkan isi perutnya. Sampai wajahnya berubah terlihat cukup lelah. Bahkan beberapa tetes air mata keluar dari mata lentiknya.
"Sayang!" panggil Devan menatap wajah Yocelyn dengan penuh kekhawatiran. Namun seketika dia mengingat ucapan Erina semalam.
Apa benar ini bukan jet lag? lalu kenapa?
Tanya Devan dalam hati.
Tiba - tiba Devan teringat beberapa bulan yang lalu. Dimana Yocelyn juga muntah - muntah saat pagi hari.
Batin Devan, seulas senyuman terbit dari bibirnya.
Setelah selesai dengan sesi muntahnya, Yocelyn berdiri dan mencuci mulutnya. Dengan nafas yang naik turun.
"Sayang kamu kenapa?"
"Perut ku sangat mual!" jawab Yocelyn lirih.
"Kita duduk yuk!"
Devan menggiring istrinya untuk kembali ke kamar mereka dengan perasaan yakin jika Yocelyn tengah hamil. Karena saat itu, Yocelyn mengatakan hal yang sama.
Devan membaringkan tubuh Yocelyn di ranjang, menutupi dengan selimut tebal sampai sebatas perut.
"Aku panggil dokter pribadi kuta ya?" ucap Devan yang hanya di angguki Yocelyn.
Yocelyn kembali memejamkan matanya. Seolah tubuhnya tidak sanggup walau hanya untuk membuka mata dan berkedip.
# # # # # #
Erina membuka pintu, setelah mendengar bel berbunyi.
"Dokter?" pekik Erina.
"Tuan Devan ada kan?"
"Ada, tapi Tuan dan Nona belum keluar kamar sama sekali!" jawab Erina.
"Tapi Tuan Devan sudah menghubungi saya untuk segera datang!"
"Oh! berarti Tuan dan Nona sudah bangun." gumam Erina. "Kalau begitu mari saya antar!" ucap Erina.
__ADS_1
"Terima kasih!"
"Iya"
Erina berjalan dua langkah lebih cepat dari sang dokter. Pikirannya menjalar kemana - kemana.
Dia kan dokter kandungan, jadi apa Nona muda benar - benar hamil lagi? Ah! semoga saja iya.
Ucap Erina dalam hati.
Tok tok tok!
Erina mengetuk pintu kamar Devan. Tak berapa pintu terbuka. Memperlihatkan Devan yang masih memakai piyama polos berwarna biru.
"Masuk!" ucap Devan.
Sang dokter masuk, sedangkan Erina meninggalkan kamar Tuannya. Tak butuh waktu lama, dokter itu sudah menarik kesimpulan.
"Saya yakin, Nona Yocelyn kembali hamil! selamat ya Tuan dan Nona!" ucap sang dokter.
"Serius?" tanya Devan.
"Iya, Tuan!"
Spontan Devan melompat ke atas tempat tidur tepat di samping istrinya.
"Sayang, kamu hamil lagi!" ucap Devan gembira.
"Iya, Sayang!" air mata Yocelyn meluncur begitu saja. "Aku janji, kali ini aku tidak akan ceroboh!" ucap Yocelyn.
"Kita jaga calon anak kita sama - sama!" ucap Devan sembari menciumi wajah cantik Yocelyn.
Yocelyn memejamkan matanya, meresapi kecupan Devan yang sama sekali tidak malu di lihat oleh sang dokter.
"Saya turut bahagia dengan kehamilan Nona!" ucap sang dokter dengan senyuman tulus.
"Terima kasih, dok!" ucap Yocelyn.
"Sekali lagi selamat ya Nona!"
"Iya, dokter! terima kasih juga sudah membantu selama ini!"
"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai dokter kandungan, Nona!"
"Hem!" Devan dan Yocelyn saling pandang dengan sama - sama mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan dan Nona!"
"Iya!" jawab Devan dan Yocelyn bersamaan.
Devan mengantar dokter sampai keluar kamarnya. Kemudian di lanjutkan oleh Erina untuk mengantar sang dokter keluar dari apartemen itu.
.
.
.
**Happy reading 🌹🌹🌹**
**Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kakak 😍**
__ADS_1
**Salam Lovallena 🥰**