Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Perasaan yang Tak Biasa


__ADS_3

🍄 Hari - hari berlalu . . .


Sudah dua minggu Ivander memiliki kesibukan lain di kampus selain untuk kuliah. Yakni menjahili Charla. Meskipun tak setiap hari bertemu, tapi Ivander selalu berusaha bertemu.


Keduanya tampak semakin akrab, namun bukan sebagai sahabat atau apalah. Tapi hanya sekedar jahil - menjahili.


Ivander yang saat ini tengah berjalan di koridor tak sengaja melihat Charla, yang tengah duduk di halaman kampus. Dia terlihat sibuk berselancar dengan ponselnya.


"Kamu tidak punya teman lain selain aku di sini?" tanya Ivander menghampiri Charla.


Charla yang merasa suara itu tertuju padanya segara mendongak untuk melihat wajah tampan yang akhir - akhir ini cukup menyebalkan di matanya.


"Teman selain kamu?" Charla memicingkan matanya menatap Ivander yang masih berdiri. "Banyaklah! jangan kepedean ya!" lanjut Charla kembali menunduk.


"Eh, jangan di kira aku tidak tau kalau kamu satu - satu nya Maba dari Swiss!" ucap Ivander duduk bersila di samping Charla dengan menghadap Charla.


"Tch!" Charla berdecih tanpa melihat Ivander. "Memangnya apa urusan kamu!"


"Kamu bilang, kamu berasal dari London! kenapa asal sekolah mu Swiss? tapi tempat kelahiran mu London. Aku jadi bingung!" ucap Ivander.


"Bukan urusan kamu!"


"Apa keluarga mu pindah ke London?" tanya Ivander lagi.


"Itu juga bukan urusan kamu!"


"Pindah ke London, kuliah nya di Oxford, kenapa tidak pindah di Oxford saja? kalau sampai kau jawab bukan urusan ku, aku akan mencium mu di sini!" lanjut Ivander saat gadis itu hendak membuka mulutnya dan mengatakan hal yang sama.


"Tch! aku tidak peduli! yang jelas semua itu rahasia wahai Tuan harimau mesum! untung saja tampan kalau tidak tampan aku pasti sudah mencakar wajah mu!" ucap Charla tanpa jeda menghadap Ivander yang menatap dalam matanya yang memperlihatkan kekesalan.


Cup!


Jarak yang dekat membuat Ivander mudah mencium singkat bibir yang mengomel itu.


Seketika mata lentik Charla membulat, dan mulutnya menganga tak percaya. Laki - laki yang di julukinya itu baru saja menciumnya tanpa dosa. Terbukti dengan laki - laki itu yang tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil mencuri sebuah kecupan di bibirnya.


"Kau!" seru Charla menunjuk wajah Ivander. "Beraninya kau mencuri ciuman pertamaku!" seru Charla menatap tajam laki - laki yang seperti meremehkan dirinya itu. "Dasar harimau mesum!" ucap Charla.


Bug!


Bug!


Bug!


Pukulan demi pukulan di berikan Charla pada lengan Ivander.


"Rasakan ini, harimau mesum!" ucap Charla dengan gigi yang mengerat. Sembari tangan yang terus memukul Ivander sekenanya.


Pukulan yang terasa seperti sentuhan di tubuh Ivander itu membuat Ivander semakin terkekeh dan gemas. Dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis pukulan Charla.


"Stop! stop! kecil stop!" ucap Ivander yang tidak di hiraukan oleh Charla.


Hap!


Tangan Ivander berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Charla. Dan menarik tangan itu sampai menempel sempurna di dadanya.


Deg!


Deg!


Deg!


Jarak wajah keduanya hanya dalam hitungan senti meter saja. Jantung keduanya saling berpacu siapa yang paling cepat. Namun keegoisan di hati kecil mereka, membuat mereka enggan menyadari arti deguban jantung itu.

__ADS_1


Tatapan mereka bertemu dalam sepersekian detik. Bahkan nafas keduanya bisa di rasakan oleh lawannya.


"Lihat, kita jadi pusat perhatian! atau kamu suka kita menjadi pusat perhatian?" ucap Ivander berbisik di depan wajah Charla yang tampak salah tingkah.


Charla menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri, mencari kebenaran dari ucapan Ivander. Dan seketika itu juga wajah cantiknya memerah karena malu.


"Mereka akan berfikir, berani sekali junior memukuli senior!" ucap Ivander.


"Tch!" Charla berdecih mengejek pada Ivander. "Kamu pikir aku tidak tau, kalau kita lahir di tahun yang sama? kamu hanya beruntung karena lolos program akselerasi! jadi kamu bisa lulus satu tahun lebih cepat!" Charla menjulurkan lidahnya mengejek Ivander.


"Hah?" Ivander memperhatikan kata demi kata yang keluar dari bibir Charla. "Dari mana kamu tau, kalau aku lolos akselerasi dan kita lahir di tahun yang sama?" tanya Ivander menatap dalam wajah Charla yang seketika berubah menjadi pucat pasi.


Gadis itu seketika membuang pandangan dari tatapan dalam Ivander yang seolah menelisik matanya mencari jawaban.


Charla seperti baru saja mengeluarkan kartu as yang sudah lama dia pendam, agar tak satu orang pun tau. Namun sialnya kartu as itu justru keluar di depan tuannya sendiri.


"Dari...." Charla melirik kanan dan kiri


"Dari?" tanya Ivander dengan tangan yang masih mendekap tangan Charla di dadanya.


"Dari..." Charla tampak semakin bingung. "Lepas dulu!" ucap Charla kemudian menarik tangannya.


"Jawab dulu!"


"Lepas dulu!" rengek Charla.


"Jawab dulu, kecil!" titah Ivander.


"Lepas!" pekik Charla lirih.


"Emm!" Ivander menggeleng pelan dengan senyum misteriusnya.


"Harimau mesum, ini sangat memalukan!"


"Aku akan jawab kalau kamu lepas tangan ku!" tawar Charla.


"Baiklah!" Ivander melepas tangan Charla.


Charla memperbaiki posisi duduknya. Namun kesulitan untuk bisa lepas dari jeratan mata Ivander yang seolah tak memberinya peluang untuk bergerak bebas dan lolos dari pertanyaan itu.


"Dari mading itu!" ucap Charla menunjuk mading yang jauh di belakang Ivander.


Ivander menoleh ke belakang, dan secepat kilat gadis itu berdiri dan mengambil langkah seribu meninggalkan Ivander yang masih menoleh ke belakang.


Lima langkah cepat yang di capai Charla, Ivander menoleh karena menyadari gadis kecilnya itu kabur.


Ivander tersenyum tipis menatap punggung Charla yang berlari menjauh darinya.


Namun seper sekian detik, Charla menoleh. Menyadari Ivander masih menatapnya, Charla menjulurkan lidahnya. Mengejek Ivander karena berhasil kabur dari harimau mesumnya.


Ivander mengarahkan kedua tangannya ke belakang. menjadikan telapak tangannya sebagai tumpuan.


Sedang matanya masih menatap punggung berbalut baju putih itu yang terlihat semakin jauh. Detik demi detik gadis berambut pirang itu menghilang di antara dinding - dinding coklat kampus.


Ivander mendongak ke atas, menatap langit biru yang menyelimuti kota Oxford. Lebih tepatnya di atas Oxford University.


Yaa Tuhan, ada apa dengan diriku?


kenapa aku selalu ingin dekat dengan gadis itu?


Siapa dia? apa dia tulang rusuk ku yang hilang?


Baru kali ini aku seperti ini.

__ADS_1


Ivander tersenyum tipis menatap birunya langit yang begitu cerah. Secerah hatinya siang ini.


"Ivander?" panggil Lea yang tiba - tiba sudah di duduk sampingnya. "Ternyata kamu di sini!" ucapnya.


"Ada apa?" tanya Ivander cuek. Dia masih asyik menatap langit.


"Aku mau ajak kamu makan siang!" ucap Lea menyentuh pundak Ivander.


"Sorry, aku mau jemput adik ku! dia ingin berlibur di sini!" ucap Ivander memperbaiki posisinya sembari berdiri dari duduk santainya.


"Jesselyn mau ke sini?" tanya Lea yang spontan ikut berdiri.


"Iya!" jawab Ivander sembari memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan.


"Aku ikut jemput ya?" tawar Lea.


"Sorry! aku bersama saudara - saudaraku!" jawab Ivander sembari melangkah cepat menjauh dari Lea.


"Ivander aku ikut ya! aku bawa mobil sendiri deh!"


"Tidak! saudara - saudara ku tidak suka orang asing ikut!" jawab Ivander sembari berlari semakin cepat.


"Ivander!" teriak Lea yang tak di hiraukan Ivander.


"Ish!" Lea menghentakkan kakinya kesal. Dengan mata yang masih fokus menatap punggung Ivander yang bergoyang karena berlari ke arah tempat parkir mahasiswa.


"Sudahlah Lea, dua tahun lebih kau mengejarnya, tapi tak ada sinyal sedikitpun!" ucap sahabat Lea.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja! Papa bilang aku harus berusaha mendekati Ivander!"


"Kamu mau aja di suruh Papa mu!"


"Tanpa di suruh oun aku akan mendekatinya! kamu tau kan, selain tampan dan pintar, dia juga kaya raya!" ucap Lea.


"Tentu saja aku tau, aku juga tau siapa saudara - saudara nya itu! pasukan super tajir!"


"Nah, kalai kita bisa masuk ke keluarga mereka, hidup kita akan seperti ratu!"


"Yeah, I know that!" jawab sahabatnya. "Tapi kamu tidak lupa kan, kalau Ivander mengejar si gadis Maba itu? Eh, gimana kalau kita kenalan sama gadis itu?"


"Kenalan?" Lea mengerutkan keningnya.


Sahabatnya menggerakkan alisnya seolah memberi kode.


"Aaah! ayo!"


Mereka berdua meninggalkan halaman kampus dan mencari Charla yang entah sekarang ada di mana.


.


.


🪴🪴🪴


Dear kakak reader, kita di kisah Ivander dan Little Charla sampai tamat ya?


Sayang kan kalau kisah Ivander berhenti. Heheh 🤭


Happy reading 🌹🌹🌹


Jangan lupa mampir di Aku Pelakor?


__ADS_1


__ADS_2