
Setelah makan siang berakhir, Devan dan Yocelyn juga yang lainnya meninggalkan area restauran. Devan berjalan dengan menggenggam tangan Yocelyn.
"Yocelyn! Devan!" teriak seseorang dari belakang.
Spontan semua menoleh ke belakang.
"Tuh kan!" lirih Yocelyn memanyunkan bibirnya, melihat Charla yang menyapa mereka.
Devan terus membawa Yocelyn untuk berjalan semakin cepat, saat menyadari Yocelyn pasti akan terbawa emosi.
"Devan, tunggu!" teriak Charla.
Devan dan Yocelyn berhasil di hentikan oleh Charla. Devan menghembuskan nafas kasarnya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Devan ketus.
"Devan, Yocelyn, aku hanya ingin berteman dengan kalian!" ucap Charla menatap Yocelyn yang membuang muka darinya.
"Tidak akan pernah ada kata teman di antara kita!" ucap Yocelyn ketus tanpa melihat Charla.
"Tapi Yocelyn, aku serius ingin berteman dengan kalian!" ucap Charla. "Lupakan masa lalu, anggap semua tidak pernah terjadi!"
Yocelyn menoleh Charla lalu menoleh Devan. Dan tiba - tiba perutnya terasa mual.
"Uuk!' Yocelyn menutup mulutnya yang ingin muntah.
"Uuk!" Yocelyn segera berlari mencari toilet tanpa peduli lagi dengan sekitarnya.
"Sayang!" teriak Devan mengejar istrinya.
Bugh!
Yocelyn terpeleset dan langsung jatuh terduduk di lantai.
"Aaakh!" Yocelyn menjerit kesakitan.
"Sayang!" teriak Devan yang dapat menduga hal buruk apa yang akan terjadi dengan istrinya.
"Sayang!" pekik Devan.
Spontan Charla dan Erina menghampiri Devan yang sudah menopang tubuh Yocelyn.
"Hiiks, sayang sakit!" Yocelyn merintih memegangi perutnya.
"Kita ke rumah sakit!" ucap Devan pada Erina.
"Baik, Tuan!"
Dengan cepat Devan mengangkat tubuh Yocelyn. Seketika mereka menjadi pusat perhatian. Sedang pengawal sudah berlari ke tempat parkir saat melihat Yocelyn terjatuh.
"Aku ikut!" ucap Charla.
"Tidak perlu!" bentak Erina. "Nona jatuh itu gara - gara kamu!" ucap Erina sambil terus berjalan di belakang Devan.
"Aku sungguh tidak ada niat untuk membuat Yocelyn jatuh. Dan aku juga tidak tau kalau Yocelyn hamil!" ucap Charla, "jadi biarkan aku ikut!"
"Bisa diam tidak!" bentak Devan.
"Pergilah!" pungkas Erina. "Kau tidak perlu ikut!"
Akhirnya Charla berhenti dari jalan cepatnya karena mengikuti Devan dan Erina. Charla menatap punggung mereka. Ada rasa bersalah di hatinya. Sedikit pilu melihat tetesan darah di lantai.
Dengan buru - buru dan panik Devan masuk ke dalam mobil di ikuti Erina yang duduk di depan.
"Sayang, sakit!" ucap Yocelyn meremas erat lengan Devan, dengan air mata yang terus menetes sedari tadi.
"Kita akan segera sampai, Sayang!" ucap Devan yang tidak peduli dengan rasa sakit di lengannya akibat kuku - kuku tajam istrinya.
"Hiks! Aaakh!"
__ADS_1
"Lebih cepat!" ucap Devan pada pengawalnya.
"Baik, Tuan!"
Citt!
Mobil terparkir tepat di depan UGD rumah sakit terdekat dari mall itu. Dengan sigap para perawat membawa brankar pasien.
Satu tangan Yocelyn mencengkeram tangan Devan dan satu tangan lainnya memegangi perutnya.
Yocelyn langsung di bawa masuk ke ruang pemeriksaan dokter kandungan. Sementara demi kenyamanan dokter saat memeriksa, Devan harus menunggu di luar bersama Erina.
"Sayang, bagaimana jika ..." ucap Yocelyn tertatih.
"Sstt! semua akan baik - baik saja, Sayang!" ucap Devan mencium kening istrinya sebelum Yocelyn masuk ke ruang dokter.
Devan begitu panik berada di luar. Dia tidak bisa membayangkan jika terjadi hal - hal yang tidak dia inginkan. Devan duduk, berdiri, mondar mandir dan terus begitu. Menunjukkan betapa gelisah hatinya saat ini.
Apa ini hasil dari dosa - dosa ku di masa lalu? Andai kita manusia bisa tau masa depan, tentu kita tidak akan ceroboh di masa muda!
Ucap Devan dalam hati. Matanya menatap atap rumah sakit.
"Devan!" panggil seseorang dari lorong rumah sakit.
Devan hanya menoleh sekilas, lalu kembali menyandarkan belakang kepalanya ke dinding.
"Bagaimana keadaan istri kamu?" tanya Charla yang langsung duduk di samping Devan.
"Menjauhlah!" ucap Devan sembari menutup matanya.
"Devan, aku minta maaf! sungguh aku tidak tau jika pertemuanku dengan Yocelyn akan seperti ini jadinya!" ucap Charla yang tadi mengejar mobil Devan.
"Diamlah!" ucap Devan.
"Dev, please!" ucap Charla. "Aku tulus ingin berteman dengan Yocelyn!" ucap Charla.
Clek!
"Istri anda membutuhkan golongan darah A+! setok golongan darah A+ di rumah sakit sedang kosong! apa Tuan memiliki darah A+?" tanya suster tanpa jeda.
"Saya A+!' sahut Charla. "Dan saya tidak punya riwayat penyakit yang melarang saya untuk donor darah!"
"Apa kau yakin?" hardik Devan.
"Yakin!" jawab Charla tegas tanpa menoleh Devan.
"Kapan anda terakhir donor darah?"
"Enam bulan yang lalu!"
"Silahkan ikut saya untuk memastikannya!" ucap suster dengan nada yang tidak bisa lagi pelan di saat gawat darurat.
Charla mengikuti langkah suster itu, bahkan tanpa pamit pada Devan. Sedangkan Devan menatap punggung Charla dengan perasaan tak menentu.
Charla, gadis yang dulu selalu ada untuknya, dan dia tinggalkan saat gadis itu mulai mencintainya. Dan kini gadis itu dalam perjalanan untuk berusaha menyelematkan istrinya.
Devan memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam. Seolah meratapi kebodohannya di masa lalu.
Sungguh, jika waktu dapat di putar dia tidak akan memilih memikirkan dendamnya pada cinta pertamanya dengan cara seperti itu.
Devan menggelengkan kepalanya pelan. Dengan gusar, Devan kembali duduk di kursi tunggu dengan perasaan campur aduk.
Semoga keduanya baik - baik saja! Dan istri ku terselamatkan! Aamiin!
Ucap Devan dalam hati.
Beberapa saat berlalu, Charla sudah kembali dengan memegangi lengannya yang sebelumnya menjadi jalan untuk donor darah.
"Terima kasih!" ucap Devan pada Charla yang duduk berjarak dua kursi dengannya.
__ADS_1
"Hemm!" Charla mengangguk pelan. Lalu menatap Erina yang kini menatapnya teduh. Tidak seperti sebelumnya, yang selalu memberi tatapan tajam padanya.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar menemui Devan dan yang lain.
"Istri anda terselamatkan, Tuan!" ucap Dokter. "Sekarang masih di bawah pengaruh obat bius"
"Alhamdulillah!" ucap Devan lirih.
"Tapi maaf, janinnya tidak terselamatkan!" jelas dokter.
"Aaakh!" pekik Devan menghembuskan nafasnya kasar.
"Tapi kalian masih punya kesempatan untuk memiliki anak kembali dengan cepat!" jelas Dokter.
"Tetap saja aku sudah kehilangan salah satunya!" ucap Devan lirih.
Semua menatap wajah Devan yang jelas memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
"Saya permisi, Tuan! sebentar lagi pasien akan segera di pindah ke ruang rawat!" pamit Dokter yang tidak di hiraukan Devan.
"Devan, aku minta maaf!" ucap Charla yang berdiri di samping Devan. "Aku tidak menyangka kehadiran ku kali membawa petaka untuk kamu!"
"Sudahlah, semua sudah terjadi!" ucap Devan sembari kembali duduk.
"Aku janji tidak akan muncul di hadapan kalian lagi!"
"Tidak perlu begitu, bagaimanapun kau sudah memberikan darah mu untuk istri ku! aku tidak melupakan itu!" ucap Devan.
"Sebenarnya aku memang hanya ingin berteman dengan kalian!" ucap Charla kembali duduk di kursinya semula. "Aku memutuskan untuk pindah ke Swiss! tempat Mama ku di lahir kan!"
Spontan Devan dan Erina menatap wajah Charla yang terlihat serius dengan ucapannya.
"Kenapa kau pindah ke Swiss?"
"Opa ku sudah tua, dan aku adalah cucu tertua, sehingga mau tidak mau aku harus meneruskan perusahaan Opa di sana! karena Mama memilih mengikuti suaminya!"
"Kapan?" tanya Devan.
"Minggu depan!" jawab Charla.
"Tapi kau pasti akan kesini sesekali kan?" tanya Devan.
"Mungkin hanya untuk sekedar jalan - jalan!" jawab Charla. "Dan mengenang kalian, orang - orang yang pernah aku kenal di kota ini!"
"Charla, aku harap kamu dan Yocelyn bertemu lebih dulu sebelum kamu pergi!" ucap Devan. "Dia akan sedih jika tau kau pergi meninggalkan darah untuknya tanpa dia sempat mengucapkan terima kasih!"
"Aku takut istri mu akan kembali emosi jika melihat ku!"
"Aku akan membuatnya mengerti"
"Benar Charla, temui Nona terlebih dahulu!" sahut Erina.
Charla menatap mata Devan dan Erina bergantian, sebelum akhirnya mengangguk setuju.
.
.
.
**Semangat untuk Devan dan Yocelyn 💪💪💪**
**Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kakak 🥳**
__ADS_1
**Happy reading!🌹🌹🌹**