
"Ini daftar Mahasiswi London University yang bernama Yossy, Tuan!" ucap Christian menyodorkan map berisi biodata dan foto Mahasiswi yang memiliki nama Yossy.
"Hemm!" Devan menerimanya dan langsung membuka halaman pertama.
Lembar demi lembar Devan membaca nama lengkap dan memperhatikan foto mereka secara seksama. Tapi tak satupun ada yang mirip dengan gadis yang dia bawa ke apartemen.
"Apa kau yakin hanya ini?" tanya Devan pada Christian yang duduk di depannya.
"Yakin, Tuan!" ucap Christian yakin.
"Kau cek lagi!" ucap Devan menyerahkan map itu kembali pada Christian. "Apa ada yang mirip dengan gadis yang kau lihat tadi!" lanjutnya.
"Baik, Tuan!"
Christian membuka satu persatu lembaran kertas di dalam map yang ada di tangannya.
"Tidak ada, Tuan!" ucap Christian setelah sampai di halaman terakhir. "Apa Yossy hanya nama samaran?"
Seketika Devan menoleh pada Christian, dan menatap mata Christian, seolah ucapan Christian ada benarnya.
"Mungkin saja!" jawab Devan.
"Apa saya perlu menyelidiki lebih jauh, Tuan?" tanya Christian. "Melihat semua foto Mahasiswi misalnya!"
"Tidak perlu!" jawab Devan setelah berfikir beberapa saat. "Kau pesankan saja ponsel keluaran terbaru yang sama dengan punyaku! sebelum makan siang harus sudah ada di ruangan ku!"
"Baik, Tuan!" jawab Christian, "ada lagi, Tuan?"
"Kau suruh Grace untuk membelikan beberapa baju yang seukuran dirinya sekarang juga!"
"Apa itu untuk Nona Yossy, Tuan?"
"Kalau bukan buat Yossy, apa mungkin itu buat aku?" tanya Devan menahan kesal.
"Hehe!" tawa Christian menutup mulutnya dengan punggung tangannya, karena tidak mampu menahan rasa ingin tertawanya, membayangkan Tuannya memakai baju wanita.
"Beraninya kau menertawai ku!" ucap Devan.
"Maaf, Tuan!" ucap Christian yang langsung menghentikan senyumnya.
"Cepat kerjakan perintahku!"
"Siap, Tuan! permisi!"
Christian meninggalkan ruangan Devan. Dan langsung menghubungi pihak perusahaan ponsel yang bekerja sama dengan FG corp untuk mengirimkan ponsel keluaran terbaru yang sama dengan milik bosnya sekarang juga.
"Grace! beli 10 atau 20 baju seukuran badanmu di butik terdekat! dan sebelum jam makan siang baju - baju itu harus sudah ada di ruangan Tuan!"
"Tapi saya tidak tau selera Tuan Devan, Tuan!"
"Pilihkan yang menurutmu paling bagus! dan sesuai dengan ukuran badan mu!"
"Apa yakin seukuran saya, Tuan?"
"Ya! badannya kecil sama seperti dirimu!"
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
"Ini kartu untuk membayar!"
"Baik, Tuan!" ucap Grace menerima kredit card yang di berikan Christian dan langsung meninggalkan meja kerjanya yang berada di luar ruangan Devan.
# # # # # #
Di dalam ruangan Devan, dia masih duduk di singgasananya. Pikirannya hanya berisi gadis yang kini ada di apartemennya, yang tak lain adalah Yocelyn.
"Sampai segitunya dia berniat kabur!" gumamnya, "dia bahkan menggunakan nama samaran! lalu siapa nama aslinya!"
Devan mengusap dagunya dengan jari telunjuknya.
"Lama - lama aku pasti tau sendiri siapa dirimu sebenarnya, Nona!" gumamnya lagi. "Aku akan mengikuti jalan cerita yang kau inginkan!"
# # # # # #
Jam 9 pagi, Devan keluar dari ruang kerjanya bersama Christian untuk pergi ke ruang rapat yang berada di lantai 27.
Ceklekk
Christian membuka pintu ruang rapat yang sudah ada beberapa orang duduk di kursi yang memutari ruang rapat.
"Selamat pagi, Tuan Devan!" sapa Keanu Anderson.
"Pagi, Tuan Keanu!" jawab Devan duduk di kursi utama dari meja rapat itu.
Berbagai perbincangan cukup alot terjadi di ruang rapat itu. Sesekali terjadi perbedaan pendapat antara Devan dan Keanu selaku pimpinan perusahaan masing - masing.
Baiklah, yang penting perusahaan ku masih masih bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan Casanova satu ini! Benar - benar lebih mudah menghadapi Presdir dari pada CEO nya! batin Keanu.
"Bagaimana Tian Keanu?" tanya Devan.
"Deal!" ucap Keanu yakin.
"Baiklah! silahkan tanda tangani berkasnya!" ucap Devan memberi kode pada Christian.
Christian menyerahkan berkas pada Keanu yang langsung di tanda tangani.
"Baiklah, meeting hari ini selesai sampai di sini! Kalian bisa kembali bekerja" ucap Christian mengakhiri meeting pada beberapa Karyawan inti Devan yang ikut meeting.
"Baik, Tuan!" jawab mereka serentak.
Sementara Devan dan Christian, juga Keanu dan Marko Asisten pribadinya masih melanjutkan obrolan santai non formal di ruang meeting itu.
"Senior?" panggil Devan pada Keanu.
"Apa Junior?" jawab Keanu.
Dan obrolan santai itu berlanjut hingga 30 menit kemudian. Saat jam hampir menunjukkan jam makan siang, Keanu dengan kesadaran dirinya, mengundurkan diri dari ruang rapat Devan, dan meninggalkan perusahaan Devan yang menjulang tinggi itu.
Devan kembali ke ruang kerjanya, setelah Keanu meninggalkan ruang rapat.
"Tuan?" sapa Grace berdiri dari duduknya, "baju yang anda pesan sudah saya letakkan di sofa ruang kerja Tuan Devan" ucapnya sopan saat Devan sampai di depan pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
"Hemm!" jawab Devan mengangguk, dan langsung berlalu dari hadapan Grace.
Ceklekk
Devan membuka pintu ruang kerjanya. Dan langsung menghampiri beberapa paper bag di atas sofa. Lalu menoleh pada meja kerjanya yang sudah ada satu paper bag kecil berisi ponsel keluaran terbaru yang sama dengan yang dia pakai.
"Kerja bagus, Chris!" gumam Devan lirih.
Devan mengambil semua paper bag pesanannya dan membawanya keluar dari ruang kerjanya.
"Tuan, biar saya bantu bawakan!" ucap Grace mengambil beberapa paper bag di tangan Devan.
"Ok!" ucap Devan, menyerahkan semua paper bag yang berisi baju. Dia hanya membawa paper bag berisi ponsel saja.
Devan menuruni lift dengan Grace di belakangnya. Hingga Devan sampai di mobilnya yang sudah siap di depan lobby.
Devan melajukan mobilnya meninggalkan gedung perkantoran nya setelah semua paper bag masuk ke dalam mobilnya.
Dalam perjalanan Devan mendial nomor restoran lobby apartemennya untuk menyiapkan menu makan siang untuknya.
Ciit!
Devan menghentikan mobilnya di parkiran khusus mobilnya, tepat jam 12 siang. Dia mengeluarkan semua paper bag di dalam mobilnya. Dan membawanya sendiri masuk ke lobby. Sesampai di lobby Devan memberi kode pada Waiters untuk mengikutinya dengan membawa troli makanan yang dia pesan.
"Pergilah!" ucap Devan pada Waiters, saat sudah sampai di depan pintu apartemennya.
"Baik, Tuan. Permisi!" ucap Waiters itu.
"Ya!" jawab Devan singkat.
Barulah Devan menekan sandi apartemennya.
Cekleekk
pintu terbuka, dan terlihat apartemen mewah itu tampak sepi. Devan meletakkan paper bag di sofa ruang tamu. Lalu menarik troli makanan, dan kembali mengunci pintu utama apartemennya.
"Dimana dia?" gumam Devan mengedarkan pandangannya.
"Yossy?" panggil Devan dengan nada santai, namun tidak ada jawaban dari Yossy.
Sampai di sini dulu hari ini.
Selamat membaca! semoga suka dengan jalan ceritanya.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.