
Tiga hari berlalu . . .
Devan membawa sang istri ke Jakarta. Untuk kesekian kalinya Yocelyn mendatangi Jakarta bersama Devan.
Ada banyak oleh - oleh yang di bawa Yocelyn untuk ketiga keponakannya yang lucu itu. Yakni Twins dan Arga. Mereka sudah nampak tumbuh dengan menggemaskan.
Yocelyn membaur dengan ketiga bocah itu yang sedang berkumpul di rumah Papa Haidar. Dia sangat senang ketika Queenara mencium perut buncitnya.
"Ada baby?" tanya Queenara menunjuk perut Yocelyn dengan nada bicara yang khas balita usia dua setengah tahun.
"Ada sayang! kalau sudah keluar, Queenara harus lihat ya?"
"Iya! Aya (Queenara) akan ajak Daddy cama Mommy naik pecawat te sana!" jawab Queenara dengan pipi gempilnya yang mengembang.
"Kakak Queenara emang baik dan cantik!"
"Namanya ciapa?" tanya Queenara dengan lidah pelatnya.
"Yaah ... baby nya belum punya nama" jawab Yocelyn yang memang belum menyiapkan nama.
"Tenapa?"
"Mom Yocelyn dan Dad Devan belum cari nama yang pas untuk si baby"
"Nama cama kayak Queenaya aja!"
"Queenara kan cewek, ini si adek baby nya cowok!"
"Oh cama kayak Kakak Andha dan Aga?"
"Iya, Sayang! betul!" Yocelyn mencubit gemas pipi Queenara.
"Queenaya tida punya teman dong?"
"Nanti Dad Devan buatkan lagi yang sama kayak Queenara!" sahut Devan yang muncul dari belakang Queenara.
Devan melempar senyuman jahil pada sang istri yang membuka matanya lebar karena pernyataan itu muncul di hadapan balita.
"Benerl?" tanya Queenara.
"Ya Sayang! tentu saja!" jawab Devan sembari mengangkat tubuh kecil Queenara dan menggendongnya di lengan kirinya. Spontan Yocelyn ikut berdiri mendengarkan percakapan dua orang beda usia itu.
"Yeay! Aya punya teman!" seru Queenara mengangkat kedua tangannya.
"Queenara mau berapa?" tanya Devan.
"Dhini!" menunjukkan lima jari kirinya tepat di depan wajah tampan Devan.
"Banyak sekali!" celetuk Yocelyn gemas dengan tingkah Queenara.
"Coba deh tanya Mom Yocelyn, mau punya dede cewek segini?" ujar Devan.
"Mom Ocyn mau?" tanya Queenara menoleh Yocelyn.
"Mom Yocelyn nggak sanggup Sayang! kalau kebanyakan kan repot. Tangan mom Yocelyn cuma dua!"
"Tangan mom Ocyn cuma dua!" ucap Queenara kembali menghadap Devan.
"Kan ada banyak baby sitter!" jawab Devan.
Puk!
__ADS_1
Yocelyn memukul pelang lengan suaminya. Gemas dengan ulah Devan yang menanggapi lebih jauh ucapan seorang bocah yang belum tau apa - apa.
Sementara Devan hanya terkekeh dan mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
# # # # # #
Hari - hari berlalu . . .
Devan dan Yocelyn sudah kembali berada ke London. Kota dimana terciptanya cinta mereka. Cinta suci yang tidak pernah tergoyahkan oleh apapun.
Tak terasa sudah sembilan bulan Yocelyn, si gadis polos itu sudah mengandung buah cinta seorang Devan. Yang mana semua orang tau siapa Tuan Devan.
Karena suatu hal, saat ini Yocelyn tengah berbaring di ruang operasi. Devan dengan sabar duduk di belakang meja operasi. Menciumi wajah cantik sang isti dan mengajaknya berbicara berbisik.
Kalimat - kalimat untuk menguatkan Yocelyn, terbit dari bibir Devan yang berada di dekat telinga istrinya. Sehingga Yocelyn merasa rileks dengan keadaan itu.
"Semuanya akan baik - baik saja, Sayang" bisik Devan lembut.
"Dia pasti sehat kan?" tanya Yocelyn lirih.
"Tentu saja, karena Mommy nya juga sehat! saangat sehat!"
"Aku takut"
"Ada aku, Sayang! aku di sini! kita akan selalu bersama" ucap Devan mencium dalam kening istrinya.
Sementara 8 dokter tengah sibuk mengerjakan tugas masing - masing. Yocelyn baru saja suntik anestesi di punggungnya.
Beberapa saat berlalu, suara tangisan yang sangat kuat dari seorang bayi, memenuhi ruang operasi itu.
Devan mendaratkan ciuman yang dalam kening Yocelyn sembari menutup matanya dalam. Dengan telinga yang fokus mendengarkan tangisan bayi mereka itu.
Sesaat kemudian, Devan mengangkat kepalanya. Menatap lekat wajah istrinya yang seketika meneteskan air matanya.
Devan memberi kecupan di bibir Yocelyn. Kemudian menghujani seluruhnya dengan kecupan.
Devan menoleh bayi yang kini tengah di bersihkan oleh dua perawat perempuan.
Kemudian seorang perawat memberikan bayi laki - laki itu pada Devan untuk di adzan i, sesuai dengan aturan agama yang di anut kedua orang tuanya.
Setelah proses penutupan bekas operasinya, Yocelyn di pindahkan, dimana ada Devan dan bayinya yang sudah di bersihkan.
Yocelyn kembali menangis terharu, melihat pipi mungil dan hidung mancung yang menurun dari sang Daddy.
"So handsome!" ucap Devan menundukkan kepalanya menatap bayi kecilnya.
"Siapa namanya?" tanya Yocelyn.
"Ivander Gibran"
"Kok kamu semua sih? namaku nggak ada!" Yocelyn memanyunkan bibirnya.
Devan terkekeh, "terus kamu maunya siapa?" tanya Devan sembari mengusap dahi istrinya.
"Nggak tau!" jawab Yocelyn yang memang tidak punya ide.
"Hahah! lucu kamu!" ucap Devan.
"Mari pindah ke ruang rawat Nona, Tuan!" ucap salah seorang suster.
Kemudian mereka keluar, dengan Yocelyn yang di dorong oleh beberapa perawat. Begitu pintu terbuka, Mama Yocelyn dan Mama Devan langsung merebut bayi yang tengah di gendong oleh seorang suster.
__ADS_1
Kedua Mama itu sama - sama Mama yang heboh. Namun saat ini Mama Adelia lah yang berhasil mendapatkan baby Ivander pertama kali.
Dengan menimang sang cucu, Mama Adelia berjalan beriringan bersama Mamanya Yocelyn menuju ruang rawat Yocelyn. Si belakangnya ada Papa Haidar dan Papa Keanu yang tak kalah antusias menyambut cucu mereka.
"Siapa namanya, Dev?" tanya Mama Adelia.
"Ivander Gibran!" jawab Devan.
"Kok hampir sama kayak nama kamu sih!" celetuk Mama Yocelyn.
"Biar semua orang tau Maa, dia anak Devander Gibran!"
"Tidak masalah! asal kelakuannya jangan kayak kamu saja!" sahut Papa Haidar.
"Hehe! Papa apaan sih!" Devan cengar cengir sendiri.
"Semua orang juga kan tau siapa kamu, boy!" sahut Mama Adelia.
Sementara Papa Keanu menelan ludahnya dengan sangat susah mendengar ucapan besannya itu.
"Mamaa... please deh! jangan bahas aneh - aneh di depan Ivander!"
"Iyaaa. iyaa..! lagian dia juga nggak ngerti"
"Pokoknya jangan!"
"Iyaaa!"
"Sayang minum!" ucap Yocelyn yang mana sebagian tubuhnya masih di bawah pengaruh obat bius/anestesi.
"Iya, sayang!"
Devan dengan sigap melayani sang istri. Devan juga menyuapi istrinya makan sedikit demi sedikit.
"Kita akan langsung cetak anak kedua, Pa, Ma!" celetuk Devan.
"What!" pekik semua orang yang ada di ruangan itu.
"Ngawur!" celetuk Yocelyn memukul lengan suaminya itu.
"Hehe!"
"Nggak masalah sayang, biar kayak kembar!" ,
"Kamu pikir hamil itu se enak membuatnya apa!" ujar Yocelyn lupa dia berada di mana.
"Wah! haha pinter kamu!" sahut Mama Adelia.
"Aku nggak nyangka istri ku sekarang sudah berani mengakui hal itu!" ucap Devan dengan senyum menggoda.
Spontan semua tertawa kecil. Sedang Yocelyn merasa malu dengan ucapannya sendiri.
"Kamu sih! mancing - mancing!"
"Nggaaakk!" Devan menggelengkan kepalanya.
.
.
.
__ADS_1