
Ivander geram mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir Charla. Tangan kirinya yang berada di sandaran sofa tepat di belakang kepala Charla itupun terkepal kuat. Giginya pun ikut mengerat.
Sedang tangan kanannya terangkat, menyentuh lembut pipi kiri Charla, yang mana menjadi tempat berlabuh persatuan lima jari Lea.
Ivander menatap pipi yang terlihat sangat mulus itu, seolah menyesal kemarin tidak mengejar Charla. Namun bagaimana lagi, saudaranya sudah menunggunya di mobil untuk menjemput sang adik.
"Masih sakit?" tanya Ivander lirih.
Charla hanya menggeleng pelan. Mata Ivander menelisik kebenaran dari gelengan Charla. Tapi sepertinya memang sudah tidak terasa sakit.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku! yang menyakitimu berarti menyakiti ku juga!" ucap Ivander penuh penekanan.
"Tolong jangan lakukan apapun padanya." Ucap Charla. "Mereka akan mengejek ku jika, mereka tau aku mengadu padamu."
"Tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu!" jawab Ivander dengan gigi yang mengerat.
"Please, jangan lakukan apapun padanya! aku akan terlihat lemah di mata mereka." Charla merengek dengan menggoyangkan kerah kemeja Ivander dengan kedua tangannya. Yang mana jarak mereka memang sangat dekat.
"Lalu? apa aku harus membiarkan orang lain menyakiti mu?" tanya Ivander dingin. "Hah? membiarkan pipi ini menjadi sasaran mereka menjatuhkan harga dirimu?" hardik Ivander.
Charla tidak bisa menjawab, dia hanya memanyunkan bibirnya. Dan membuang pandangan matanya dari tatapan Ivander yang seolah menahan kesal.
"Aku akan membalas dengan caraku!" ucap Ivander setelah yakin Charla tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Charla memanyunkan bibirnya sembari menatap dinding di belakang Ivander. Dan seketika itu matanya membulat. Membuat Ivander mengerutkan keningnya.
"Ya ampun, kak! lihat!" seru Charla menunjuk jam dinding. "Sudah jam setengah sebelas! cepat pergi, ini sudah sangat malam!" ucap Charla mendorong tubuh Ivander yang mengunci tubuhnya di pojokan sofa.
Charla segera berdiri setelah tubuh Ivander tidak mengunci tubuhnya lagi. Dia bingung harus berbuat apa. Sungguh ini kali pertama teman laki - laki datang ke apartemennya. Apalagi sampai selarut itu.
"Memangnya kenapa? ini friday night di Oxford! sudah biasa muda mudi menghabiskan malam bersama!" jawab santai Ivander.
"Kamu pasti sering!" hardik Charla.
"Tidak! aku biasa menghabiskan friday night bersama para saudara ku di tempat - tempat tongkrongan sampai lewat tengah malam." Ivander masih duduk santai di sofa.
Sementara Charla sudah di landa kepanikan. Dia bergerak ke kanan dan kiri. Memikirkan cara agar si harimau mesum itu keluar dari apartemennya.
"Sudahlah, sayang! memangnya kenapa kalau aku di sini sampai jam 12 malam nanti?" Ivander menyilangkan tangan di dada. Dengan kepala mendongak menatap Charla yang mondar mandir tidak karuan.
"Tapi aku tidak pernah menerima tamu sampai selarut ini!" ucap Charla. "Apa lagi laki - laki!"
Ivander menghela nafasnya. Merasa lucu dnegan Charla yang ternyata tidak seperti gadis pada umumnya. Yang akan semakin senang jika di temani sampai larut malam. Atau bahkan menghabiskan friday night bersama sampai pagi.
"Duduk!" Ivander menarik tangan Charla, namun Charla menahannya, ia enggan untuk duduk kembali. "Duduk, baby!" ucap Ivander menarik paksa tangan Charla hingga Charla kembali duduk di pangkuan Ivander.
Sangat canggung berada di posisi seperti ini.
Ucap Charla dalam yang tak berani melihat mata tegas Ivander.
Charla kembali melihat jam di dinding sembari menghela nafas. Jarum merah itu terus berputar. Detik demi detik sudah berlalu menjadi menit. Sampai lima menit sudah dia duduk di pangkuan Ivander tanpa tau harus berbuat apa.
__ADS_1
"Aku akan pulang, asal kamu mengakui aku sebagai kekasih mu mulai malam ini! dimana pun kamu berada!" ucap Ivander berbisik di telinga Charla yang berjarak dekat dari bibir Ivander.
"Hah!" pekik Charla menoleh Ivander dengan tatapan tak percaya.
"Berjanjilah padaku, bibir ini hanya akan menjadi milikku!" ucapnya lagi yang membuat Charla semakin bingung. "Termasuk semua yang ada pada tubuhmu! bahkan nama mu!" tegas Ivander.
"Hey bangun! mimpi ya kamu!" Charla mengusap kasar wajah Ivander.
"Tch!" Ivander berdecih sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari memejamkan matanya. "Aku tidak akan pulang sebelum kamu berjanji!" ucap Ivander melepas kedua tangannya yang mengunci pinggang Charla.
"Kamu apa - apaan sih!" Charla menepuk pipi kiri Ivander.
"Tinggal janji apa susahnya!" ucap Ivander tanpa membuka matanya. "Kalau kamu tidak mau berjanji, aku akan tidur di sini! bersama mu!" ancam Ivander.
"What!" pekik Charla memicingkan matanya. "Gila kamu ya!" bentak Charla.
"Come on, baby! berjanjilah!" Ivander masih memejamkan matanya. "Sebelum mata ini benar - benar terlelap di sini!"
"Tch!" Charla berdecih, sementara matanya terus melirik jam dinding yang mana lima menit lagi akan sampai pada jam sebelas malam.
"Hah! baiklah!" jawab Charla, terpaksa atau tidak yang jelas nada bicara Charla seperti orang yang terpaksa menjawab.
Ivander menunjuk pipi kirinya yang tadi di tepuk Charla menggunakan ujung jari telunjuknya. Sebagai kode untuk meminta Charla mencium pipinya.
"No!" ucap Charla yang paham akan perintah Ivander.
"Berarti kamu bohong! aku tidak akan pulang!" Ivander masih betah menutup matanya.
Cup!
Seketika Ivander membuka mata dan mengangkat kedua sudut bibirnya. Merasa puas dengan gerak cepat Charla.
"Tidak puas jika tidak begini, sayang!"
Ivander meraih tengkuk leher Charla, dan mendekatkan bibirnya pada bibir Charla. Dan mengulang apa yang tadi sudah mereka lakukan. Hingga nafas keduanya tersengal. Terutama Charla.
"Sudah jam 11 lewat 15 menit, cepat pulang!" ucap Charla beranjak dari pangkuan Ivander.
"Baiklah, aku sudah puas untuk malam ini!" ucap Ivander berdiri dari duduknya.
Namun bukannya pergi Ivander justru menarik pinggang Charla. Dan menempelkan tubuh ramping itu pada tubuhnya secara sempurna.
"Good night, baby!" bisik Ivander menatap dalam mata Charla.
"Night too!" jawab Charla dengan senyuman tipis.
Cup!
Ivander mendaratkan satu kecupan di bibir kekasihnya. Kemudian pelan - pelan mengendurkan tangannya yang melingkar di pinggang Charla.
Ivander berjalan mendekati pintu. Kemudian berbalik menghadap Charla yang spontan ikut berhenti.
__ADS_1
"Berapa sandi nya?" tanya Ivander menunjuk tombol di pintu.
"Untuk apa?" tanya Charla memicingkan matanya.
"Jika darurat!"
"Maksudnya? jangan macam - macam ya!"
Ivander tersenyum tipis. "Cepat katakan!"
"271xxx" jawab Charla.
"Oke!" Ivander berbalik, belum juga melangkah Ivander kembali menoleh Charla.
"Apa lagi?" Charla terlihat kesal.
"Aku tidak punya nomor ponsel mu, baby!" ucap Ivander mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan pada Charla.
"Butuh?"
"Ya jelas saja dong, Sayang! mana ada orang pacaran nggak punya nomor ponselnya!"
"Heheh!" Charla tersenyum simpul dan merasa lucu.
Charla meraih ponsel Ivander dan memasukkan nomor ponselnya. Ivander segera menekan tombol calling. Dan ponsel di atas meja pun berdering.
"Good!" ucap Ivander mematikan panggilan dan kembali mengantongi ponselnya. "Bye sayang!" ucap Ivander mendaratkan kecupan singkat di kening dan bibir Charla.
"Hemm bye!" jawab Charla.
Ivander keluar dan berjalan mendekati lift. Dan masuk ke dalam lift itu. Melambai singkat pada Charla yang masih memandangnya dari depan pintu apartemennya.
Charla menunggu sampai lift itu benar - benar menghilangkan sosok Ivander Gibran. Setelah lift itu tertutup, Charla segara masuk ke dalam apartemennya. Dan mengunci rapat pintu apartemen nya.
Jreett! klik!
Charla tersenyum bersandar pada balik pintu. Menyentuh bibirnya yang sudah beberapa kali di cium Ivander.
"First kiss?" gumam Charla menyentuh bibirnya dan mengingat ciumannya bersama Ivander barusan. Charla kembali tersenyum.
"Dia mencium ku? aku miliknya? apa itu artinya dia juga milikku?" tanya nya sembari menyungging senyum bahagia.
Tapi tak mungkin dia berekspresi seperti itu jika di depan Ivander. Gadis itu terlalu pemalu untuk menunjukkan perasaannya. Apalagi perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
.
.
🪴🪴🪴
Maaf up nya lama, gara - gara proses review yang lama.
__ADS_1
Padahal hari ini Othor udah crazy up.
Happy reading 🌹🌹🌹