
"Lea memasukkan sesuatu di minuman yang hampir saja kau minum!"
"Kapan?"
"Kau lupa kemarin pagi, setelah mengantar Charla ke kelasnya, kau duduk sendirian di kantin. Lea mengendap ke dapur dan meletakkan sesuatu di dalam minuman yang kau pesan. Tanpa sepengetahuan waiters."
"Kau serius!"
"Iya! untung saja saat itu aku tengah berada di ruang CCTV kampus menemui Mr. Aro. Dan aku iseng ikut memantau kondisi keseluruhan kampus, sampai aku melihat Lea yang mengendap masuk ke dapur kantin dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sedangkan di bagian kamera lain, aku melihat kau duduk sendirian!
Buru - buru aku menuju kantin, dan jantungku serasa mau lepas saat aku melihat minuman itu sudah di letakkan di atas mejamu! sehingga untuk menghindari kegaduhan dan kecurigaan di kantin, aku berpura - pura menabrak meja mu, agar minuman itu tumpah!
Dan aku langsung mencari keberadaan Lea. Dan benar saja dia tengah mengumpat kesal karena minuman yang hampir saja kau minum itu hancur di lantai.
Tak butuh pemikiran dua kali, aku langsung menyeret Lea. Dan membawanya ke belakang kampus!
Aku hardik habis - habisan. Dan akhirnya ia mengaku, jika ia meletakkan obat per*ngs*ng di di dalam minuman yang kau pesan!"
"What! serius?" Ivander benar - benar tercekat mendengar itu.
"Ya! kau tau? dia bahkan sudah menyiapkan kamera untuk membuat hubunganmu dengan Charla hancur!"
"Nekat sekali dia berulah di lingkungan kampus!"
"Tidak sampai di situ, aku terus menghardiknya! sampai ia mengaku jika ia juga berencana untuk menjebak Charla dengan salah satu mahasiswa di kelas Charla! Dia bahkan sudah menyusunnya! Dan dua sahabatnya yang bergerak."
"Gila!" umpat Ivander.
"Kau harus menjaga Charla dengan baik, brother! dia aset paling penting dalam hidupmu bukan?"
"Tentu saja!" jawab Ivander dingin dengan tatapan yang membunuh, membayangkan menerkam wajah Lea. "Kekuatan apa yang ia punya untuk melawan ku?" gumam Ivander dengan nada yang begitu dingin. "Dia tidak mengenal dengan baik siapa Ivander!"
"Jika saja aku tidak melihat CCTV dan datang terlambat, aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan kalian." ucap Argha lirih.
Ivander menarik nafas dengan menahan geram. Tangan kanannya mengepal, seolah siap untuk mendaratkan tinju pada wajah seseorang.
"Thanks, bro!" ucap Ivander. "Aku harus pergi!" pamit Ivander beranjak dari kursi di depan Argha.
"Hemm!" jawab Argha.
Telinga Charla terlalu polos untuk mendengar obat per*ngs*ng! meskipun ia kini berstatus sebagai calon istri, tapi di adlah gadis lugu dan polos. Bahkan dia masih perawan meskipun sudah sebulan tinggal bersama calon suaminya.
Ucap Argha dalam hati dengan senyuman tipis.
***
Di tempat lain, setelah mata kuliahnya berakhir, Ivander langsung menghampiri Charla di kelasnya. Tak ingin rasanya melewatkan satu detik pun untuk memantau calon istrinya itu.
"Sayang?" sapa Ivander saat Charla berjalan keluar dari kelasnya.
"Tumben kok sudah ada di sini kak?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin ada jarak di antara kita, sayang!"
"Kok tumben sih, aneh. Padahal kita tinggal bersama!"
"Itu tidak menjamin keselamatan kita saat di luar apartemen sayang!"
"Hemm... ya ya ya, sayang!"
# # # # # #
🍄 Keesokkan harinya . . .
Dengan langkah tegap, cepat dan tegas, Ivander menuju salah satu kelas di mana Lea tengah berada di dalam.
Sesampainya di sana, ternyata kelas masih berlangsung. Ivander sengaja mencari dimana Lea duduk melalui dinding kaca transparan.
Tap!
Langkah kaki Ivander terhenti saat sudah menemukan dimana Lea tengah duduk.
Glek!
Lea menelan ludahnya dengan sangat susah. Saat tak sengaja melihat Ivander yang berdiri di luar jendela dengan tatapan membunuh yang bahkan belum pernah sekalipun ia lihat. Dan yang lebih mengerikan adalah mata itu mengarah padanya.
Lea yakin sudah pati mata itu tertuju padanya. Karena hanya dia yang baru saja berurusan dengan Ivander di kelas itu.
Clekk!
Antara keluar kelas atau tetap berada di dalam kelas. Namun apapun pilihan mereka, tetap saja tidak akan pernah lepas dari mata elang Ivander Gibran.
Dengan saling tatap, akhirnya tiga gadis itu berjalan mendekati pintu dengan langkah ragu.
Tap tap tap!
Ivander sudah menghadang di depan pintu. Satu persatu sepasang mata tiga gadis itu di tatap Ivander dengan tatapan dingin dan membunuh.
"Jika kalian ingin selamat, temui aku di Botanic Garden! jam 11!" ucap Ivander dingin dan penuh penekanan.
"Ba.. baik!" jawab Lea.
"Ba..baik!" sahut dua sahabat Lea.
Ivander meninggalkan tiga gadis itu tanpa bicara lagi.
***
Jam sebelas pun tiba . . .
Ivander memilih jam sebelas, karena Charla masuk kelas jam sebelas. Setelah memastikan Charla mengikuti mata kuliahnya, barulah Ivander melangkah menuju Botanic Garden. Yang berada tak jauh dari kampusnya. Karena masih bagian dari University of Oxford.
Ivander berdiri di salah satu sisi taman. Menunggu tiga gadis yang menjadi tersangka di matanya. Ia bahkan melewatkan satu mata kuliah kali ini. Dan sepertinya tiga gadis yang akan menghampirinya juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Dari jarak 500 meter, Ivander dapat melihat tiga orang mahasiswi yang tampak berjalan dengan ragu menuju ke arahnya.
Mata elang Ivander begitu tegas dan tajam. Ingin rasanya ia segera mengoyak tiga ekor ayam yang berjalan mendekatinya.
Tap!
Langkah kaki ketiga gadis itu berhenti tepat di jarak tiga meter dari Ivander. Jelas saja mereka tidak berani lebih dekat dengan Ivander.
"Apa ku masih punya banyak rencana, Lea?" tanya Ivander dingin, tegas tapi dengan nada yang tidak terlalu keras.
"Ti..tidak Ivnder!" jawab Lea ragu.
"Kau pikir mata ku sebodoh itu, sampai tidak bisa membaca matamu!" hardik Ivander.
Ivander berjalan mendekati Lea yang berdiri dengan kaki gemetar. Ia bahkan belum lupa akan ancaman Argha. Namun kali ini justru orang yang di kejarnya lah yang tengah menghakimi dirinya.
Dengan erat jari jemari Ivander mencengkeram dagu Lea. Membuat kepala menunduk itu menjadi mendongak, menghadap wajahnya penuh.
"Jangankan rencana busuk mu waktu itu, ujung kuku mu menggores kulit Charla saja sudah bisa di pastikan aku akan membuat dirimu di buang dari kampus manapun di negeri ini!" ucap Ivander tegas tepat di depan wajah Lea.
Lea mulai merinding mendengar nada bicara Ivander. Ingin rasanya ia tenggelam dan masuk ke bumi. Dari pada harus berada di bawah ancaman serius seorang Ivander Gibran.
"Ivander, aku hanya ingin memperjuangkan cinta ku padamu!" ucap Lea dengan penuh ketakutan.
"Sampai kau mencium bibir monyet sekalipun, mimpimu itu tidak akan terwujud!" tukas Ivander.
"Ivander?" panggil Lea dengan susah payah, karena cengkeraman tangan Ivander semakin kuat di dagunya.
"Berhenti menyebut namaku!" bentak Ivander membuat air mata Lea spontan menetes. "Hentikan air nata mu itu! aku benci air mata buaya seperti ini!"
"Hiks.. ma..maaf!" ucap Lea.
Mata Ivander beralih pada dua gadis di samping Lea, tanpa melepas tangannya dari dagu Lea.
"Di bayar berapa kalian?" tanya Ivander sembari melepas tangannya yang mencengkeram Lea.
Dua gadis itu hanya menggeleng pelan tanpa bisa berkata apapun. Tenggorokan mereka tercekat saat melihat Lea yang mengatur nafas dan memegang rahangnya yang sakit.
"Jadi ini misi persahabatan?" hardik Ivander.
Dua gadis itu kembali menggeleng pelan, dengan mata yang tampak menganak sungai.
.
.
🪴🪴🪴
Duh, apalagi yang di lakukan Ivander pada mereka? 🤔
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan dukungannya ya kakak 🙏🥰