Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Ketegangan di Botanic Garden


__ADS_3

"Kalian bisu?"


"Ti..tidak!" jawab mereka serentak.


"Dengarkan aku!" Ivander menatap tiga pasang mata itu secara bergantian, dengan tatapan tajam dan membunuh. "Kalian pernah mendengar nama Devander Gibran?" tanya Ivander dingin.


"Pe..pernah!"


"Kalian tau dia siapa ku?" tanya Ivander dengan nada lebih dingin.


"Tau" jawab mereka bertiga dengan kaki yang mendadak terasa lemas.


"Berarti kalian tau aku siapa?"


"Tentu.. Ivander!" jawab Lea ragu.


"Lalu kenapa kalian berulah?"


"Maa...maaf!" ucap Lea menunduk dalam.


"Ada yang menyuruh mu!" hardik Ivander pada Lea.


Ivander memicingkan matanya tajam. Mengarah pada Lea yang hanya menunduk dengan memutar jari - jari dari kedua tangannya di bawah.


"Jawab!" titah Ivander lirih tapi penuh dengan penekanan.


Lea tak berani bicara, jantungnya berdetak lebih cepat. Seperti tau jika akan di serang harimau.


"JAWAB BRENGSEK!" teriak Ivander menggelegar di telinga ketiga gadis yang bernasib sial hari ini.


Ketiga gadis itu sempat terlonjak kaget, saat suara Ivander menyerbu sepasang telinga mereka. Kaki mereka pun semakin gemetar hebat.


Sungguh ini kali pertama mereka melihat seorang Ivander murka.


Lea, gadis yang menjadi tersangka utama itu pada akhirnya kembali menangis. Karena sedari tadi tatapan tajam dari mata elang Ivander tak lepas darinya. Seolah mengunci keberadaannya tak mungkin bisa lolos lagi.


"JAWAB ATAU AKU AKAN MEMBUANG KALIAN DI HUTAN!" teriak Ivander lagi dengan tingkat kemarahan yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Sontak dua sahabat Lea membulatkan mata mereka menatap wajah Ivander yang tampak geram dan di penuhi amarah dengan nafas yang memburu. Mereka hanya membantu Lea sebagai sahabat mereka yang paling loyal, dan paling kaya di antara mereka berdua. Tapi jika tau endingnya harus berhadapan dengan harimau, tentu mereka memilih mundur.


"Pa.. pa!" jawab Lea lirih.


"Lebih keras!" perintah Ivander dengan tangan yang terkepal kuat.


Lea terisak. Ia mulai menyesali kebodohannya dua hari lalu.


"Lebih keras, bodoh!" ucap Ivander kembali menerkam rahang Charla dengan jari jemari tangan kanannya. "Kau tuli!" ucap Ivander tepat di depan wajah Lea.


Kedua sahabat Lea yang hanya bisa menjadi penonton itu semakin merinding melihat adegan di depan mata mereka. Mereka tak menyangka, pemuda setampan dan secerdas Ivander bisa semurka itu hanya karena seorang gadis bernama Charla.

__ADS_1


Siapa Charla sebenarnya?


Itulah yang ada di dalam benak dua manusia patung bertubuh sintal itu.


"Pa..pa!" jawab Lea yang kesulitan bicara karena menahan sakit di rahangnya yang di cengkeram Ivander.


"Anj*ng!" umpat Ivander tepat di depan wajah Lea yang memejamkan mata karena takut melihat garangnya seorang Ivander saat murka.


Brug!


Ivander mendorong rahang Lea hingga terjungkal kebelakang.


"Lea!" pekik dua sahabat Lea.


Ivander berjalan mendekati Lea yang terduduk di atas rumput dengan langkah dinginnya. Ia kemudian berjongkok tepat di depan Lea yang menunduk karena ngeri.


"Katakan pada Papa brengsek mu itu!" ucapnya dingin dan tegas, "jangan mendapatkan seorang Ivander Gibran, kau menyentuh ku tanpa izin saja sudah bisa ku pastikan riwayat mu akan ku akhiri!" ancam Ivander. "Begitu juga Papa anj*ng mu itu!"


"Tapi aku memang menyukai mu, Ivander" ucap Lea lirih dengan memberanikan dirinya.


"Persetan dengan kalimat mu!" jawab Ivander tajam.


ivander berdiri, dengan tatapan bengis ia melangkahkan kakinya menjauh. Baru tiga langkah ia berhenti.


"Ingat! seujung saja kuku mu menyentuh Calon istri ku, akan ku potong jari mu!" ancam Ivander tanpa menoleh pada tiga gadis yang semakin merinding membayangkan jari mereka terpotong.


# # # # # #


🍄 Beberapa bulan kemudian . . .


Sejak mendapat peringatan dari Ivander, tiga gadis itu menghilang bagai di telan bumi. Tak ada satu mahasiswa pun yang tau persis mereka pindah kemana.


Kabar terakhir yang beredar, mereka pindah karena permasalahan ekonomi keluarga. Yang mana pendidikan di Oxford University memang membutuhkan dana lebih bagi mereka yang tak memiliki beasiswa.


Tapi entahlah, itu hanyalah kabar burung semata. Yang tidak diketahui kebenarannya.


Hari - hari Charla semakin tenang semenjak menghilangnya tiga monster betina itu. Charla pun menjadi lebih fokus dalam kuliahnya.


Dan hari ini, Ivander, Charla dan para sepupu lainnya tengah berada di dalam kabin sebuah private jet.


Pesawat itu membawa mereka menuju kota yang mendapat julukan dengan biaya hidup paling mahal, London.


***


"Tidur yang nyenyak, sayang! aku tidak mau di pesta ulang tahun mu besok kamu kelelahan." ucap Ivander saat mengantar Charla pulang ke rumah Daddy nya.


"Ok, kak!" jawab Charla tersenyum.


"Aku pulang!" pamit Ivander.

__ADS_1


"He'emm... hati - hati!"


"Iya!" balas Ivander dengan senyum tak kalah manis. "Uncle, Ivander pamit!" ucap Ivander menunduk hormat pada Darren yang duduk di sofa.


"Daddy!" tegas Darren menjelaskan pada Ivander untuk memanggilnya Daddy.


"Ah, iya! Daddy! Ivander pamit pulang!" ulang Ivander.


"Ya, terima kasih sudah menjaga putri ku tetap perawan sampai detik ini!" ucap Darren.


Seketika Ivander dan Charla saling pandang. Dari mana Darren tau sampai sejauh itu.


"Maksud Daddy?" tanya Charla penasaran.


"Daddy sengaja membuat kamu tinggal bersama Ivander. Daddy hanya ingin tau, apa Ivander termasuk laki - laki brengsek atau bukan!"


"What!" pekik Ivander dan Charla bersamaan.


"Dan nyatanya tujuh bulan kalian tinggal bersama, kamu masih perawan kan?" tanya Daddy pada Charla.


"E... iya sih, Dad!" jawab Charla yang malu membahas hal itu dengan Daddy nya.


"Tapi dadi mana Daddy tau, kalau Charla masih perawan?" sahut Ivander.


Darren hanya menjawab dengan seutas senyum. Karena sebenarnya itu hany pancingan. Tapi dari gestur Charla dapat di lihat jika gadis itu masih perawan.


Karena belum pernah sekalipun Ivander menyentuh area itu. Jangankan memasukkan senjatanya, jemarinya saja belum pernah nyelonong masuk ke dalam CD Charla.


Berbulan - bulan ia hanya menikmati bibir, dua buah kenyal milik Charla, dan meraba - raba bagian bok*ng, paha dan menyentuh bagian inti dari luar CD saja. Tanpa berani menyelinap masuk. Meskipun Charla pernah bilang jika ia siap untuk bercinta jik memang Ivander tak sanggup menahan hasrat.


Tapi Ivander ingin membuktikan, bahwa ia bukan buaya darat, atau bahkan Casanova seperti sang Daddy.


Jujur saja dia memang pernah bermain solo, dengan menjadikan Charla sebagai objek fantasinya. Saat itu, ia terlalu asyik bermain dengan buah dada Charla. Demi menjaga keperawanan Charla ia memilih bermain solo.


"Pulanglah, istirahat! bersiap untuk pesta besok pagi!"


"Baik, Dad!" jawab Ivander mengangguk.


.


.


🪴🪴🪴


Selamat berpesta besok Ivander dan Charla 🥰


Happy reading untuk kakak - kakak 🌹🌹🌹


Jangan lupa dukungannya ya kak! 😘

__ADS_1


__ADS_2