
Setelah makan siang berakhir, Devan dan Yocelyn kembali ke kamar. Kamar yang menunjukkan milik seorang gadis muda.
Yocelyn di penuhi pikiran yang seolah terus berputar - putar di kepalanya. Dan tidak kunjung menemukan jawaban. Setiap bertanya pada Devan, Devan hanya membalas dengan senyuman dan kata yang selalu terucap tak lebih dari sekedar, aku sudah memenuhi janjiku untuk bisa mendapatkan restu daro orang tua mu dengan caraku.
Bagaimana tidak heran, Papa dan Kakaknya seolah tunduk dengan setiap ucapan Devan. Sang kakak yang biasanya sangat over protective, mendadak tak bergeming dengan apapun yang di ucapkan Devan.
Devan yang tengah duduk di tepi ranjang menarik tubuh Yocelyn, hingga terduduk di pangkuannya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Devan mendekap erat tubuh istrinya dan berbicara sambil menciumi pipi dan leher Yocelyn.
"Kamu tau apa yang aku pikirkan" jawab Yocelyn menggeliat karena geli akan ulah suaminya.
"Kenapa harus kamu pikirkan? semua akan baik - baik saja" jawab Devan masih dengan aksinya.
"Tentu saja aku penasaran!" jawab Yocelyn sambil mencoba menghalangi lidah Devan yang menjilati lehernya.
"Apa karena kalian sama? jadi memutuskan untuk kompak?" tebak Yocelyn melirik Devan.
"Sama bagaimana?"
"Sama - sama Casanova!" ucap Yocelyn.
"Mungkin!" jawab Devan cuek dan kembali menciumi leher jenjang istrinya.
"Iishh!" Yocelyn mendesis kegelian.
"Sayang, kalau aku meminta hak ku sebagai suami sekarang, apa kamu mengizinkan?" tanya Devan menghentikan aksinya dan menatap mata Yocelyn penuh harap.
"Tadi bilangnya nanti malam!" ejek Yocelyn.
"Kalau bisa sekarang kenapa harus menunggu nanti malam?" bisik Devan dengan nada setengah nakal. "Aku akan melakukan dengan pelan!" lanjut Devan.
Yocelyn tersenyum melihat suaminya yang di ambang bir*hi. Yocelyn sering melihat suaminya berekspresi seperti itu, tapi tak sekalipun Devan berniat menyalurkan hasratnya bersama dirinya.
Devan selalu beralasan khawatir karena, sang Papa belum tau tentang pernikahan mereka. Dan ini kali pertama Devan bertanya. Jujur saja dia sendiri merasakan pergerakan aneh di pahanya yang berasal dari bagian bawah Devan.
Yocelyn mengangkat kedua alisnya, "Boleh!" jawab Yocelyn kemudian.
Devan mengangkat senyum sempurna di bibirnya. Tanpa banyak bertanya lagi, Devan mengangkat tubuh Yocelyn dengan lembut dan membawanya naik ke atas tempat tidur. Dengan pelan Devan meletakkan tubuh Yocelyn tepat di tengah - tengah bagian tempat tidur dengan menyandarkan kepalanya pada satu bantal super empuk.
Jantung Yocelyn bagai berkejaran dengan burung onta yang langkahnya sungguh lebar. Nafas Yocelyn menderu, untuk pertama kalinya dia akan melakukan tugas inti dari seorang istri.
Devan mengungkung tubuh istrinya, lalu mencium kening Yocelyn cukup lama, menyalurkan rasa cintanya, juga memberi ketenangan pada Yocelyn yang benar - benar terlihat gugup. Devan mencium kedua mata Yocelyn yang tertutup meresapi kecupan Devan di keningnya.
"Rileks, Sayang!" bisik Devan lirih.
Dengan lembut Devan mencium bibir Yocelyn. Meskipun mereka sering melakukan ciuman itu, tapi kali ini benar - benar berhasil membuat Yocelyn berdebar setengah mati. Dia mempersiapkan mahkotanya yang siap di ambil oleh Tuannya.
Devan mencium lembut bibir ranum itu. Semakin lama semakin menuntut. Yocelyn memejamkan matanya menikmati ciuman hangat itu. Dan tubuhnya meremang, saat Devan melepas pagutan bibir mereka dan turun menciumi leher mulusnya.
Devan mulai melepas kancing kemejanya satu persatu, dan melempar ke arah lantai.
Kecupan demi kecupan mendarat di setiap sisi mulus dan menggoda itu. Tak lupa Devan meninggalkan jejak - jejak merah di beberapa sisi. Devan juga menjulurkan lidahnya untuk menjilat, daun telinga juga bagian bawah leher.
Tangan Devan secara perlahan masuk ke bawah punggung dan menurunkan resleting dress Yocelyn.
Dengan lincah dan nyaris tak di sadari tangan Devan sudah menurunkan lengan dress itu. Sambil terus mencium dan menjilat pundak dan dada istrinya.
"Issh.. akh!" desah Yocelyn tanpa di sadari sebelumnya.
__ADS_1
Setelah menyadari dia mengeluarkan suara yang memalukan, Yocelyn langsung membuka matanya dan menutup mulutnya. Tapi dengan cepat, tangan Devan meraih tangan Yocelyn yang menutupi mulutnya.
"Itu bagus, Sayang!" bisik Devan menghentikan aksinya sesaat. "Aku sangat menyukai ******* natural seperti itu!" lanjut Devan mencium singkat bibir Yocelyn.
Yocelyn hanya diam, dia masih merasa malu dengan suara yang tiba - tiba keluar dari mulutnya, tanpa bisa di kendalikan.
Devan kembali menatap bagain dada Yocelyn yang sudah terbuka. Dada bulat dan menggemaskan itu tertutup br* berwarna merah cerah. Yang membuat mata Devan semakin lapar.
Devan kembali meraih bibir Yocelyn dengan bibirnya. Sementara kedua tangannya mulai bergerak lincah dan nakal di bagian bukit kembar yang menjulang.
Dengan gerakan singkat, Devan sudah berhasil membuat pengait br* di bawah punggung Yocelyn terlepas. Devan segera menurunkan kedua tali br* itu, sambil menjilati pundak mulus itu.
"Aaakhh iissshh!" Yocelyn mendesah, melenguh dan berusaha menahannya.
"Jangan di tahan, Sayang!" ucap Devan di sela - sela aksinya.
Devan membuang br* merah itu ke sembarang arah. Dan spontan di menatap dua bukit kembar dengan puncak berwarna pink yang begitu terlihat menggoda di matanya.
"Sayang, kamu yakin belum pernah ada yang menghisapnya?" tanya Devan melihat wajah Yocelyn dan puncak dada Yocelyn
"Apa maksudnya?" tanya Yocelyn mengerutkan keningnya.
"Aku akan menjadi yang pertama menikmatinya, Sayang!" ucap Devan yang langsung melahap puncak yang sudah beberapa kali di remasnya itu.
Tangan lainnya bermain cantik di puncak dada lainnya. Membuat Yocelyn serasa menggila. Tubuhnya memanas, ada sesuatu yang menjalar di sekujur tubuhnya. Yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Apalagi saat dengan nakal lidah Devan bermain - main di puncak dadanya. Dan jari tangannya bermain di puncak lainnya.
"Akhh.. Sa... yang!" desah Yocelyn masih malu mengeluarkan suara yang menurutnya sangat memalukan.
Mendengar desah kenikm*t*n yang di rasakan sang istri membuat Devan semakin bergairah. Adiknya di bawah sana semakin menegang kuat.
Devan semakin lihai menghisap dan memainkan kedua dada itu bergantian. Dengan gemas Devan juga memberi gigitan kecil di puncak itu yang membuat Yocelyn semakin panas.
"Keluarkan, Sayang!" bisik Devan yang tau Yocelyn akan mencapai puncak untuk pertama kalinya.
"Aakhj.. haaah!" Yocelyn mencengkeram punggung Devan erat. Hingga semua kuku - kuku cantiknya menancap di kulit punggung Devan.
Yocelyn mengendurkan cengkeramannya saat rasa yang aneh tapi sangat membuatnya ketagihan itu menghilang. Yocelyn menghela nafasnya yang tersengal.
Sementara Devan kembali beraksi dengan turun menciumi perut istrinya. Dan tangannya beraksi dengan cepat melepas dress Yocelyn. Menyisakan CD dengan warna dan motif yang senada dengan br*.
Devan menciumi area sensitif itu, dan dengan perlahan menurunkan kain tipis yang tersisa. Dan untuk pertama kalinya Devan melihat bagian intim istrinya dengan mata kepalanya sendiri.
Yocelyn merapatkan pahanya karena malu. Tapi dengan lembut Devan membukanya. Yocelyn menutup matanya karena sangat malu ada yang melihat bagian yang selama ini hanya dia sendiri yang pernah melihatnya.
Devan tersenyum tipis, sangat jelas terlihat jika istrinya adalah perawan ting - ting. Dan dia benar - benar menjadi lelaki pertama yang menyentuh istrinya itu.
"Jangan melihat nya seperti itu!" ucap Yocelyn lirih mencoba menutupi dengan tangannya.
"Ini sangat sempurna, Sayang!" jawab Devan. "Biarkan aku memandangi keindahan yang hanya boleh aku sentuh!" ucap Devan.
"Tapi sepertinya sangat basah, sangat buruk bukan!"
Devan menggelengkan kepalanya cepat. "Ini sempurna, Sayang!" jawab Devan lirih.
Jari jemari Devan mulai menyentuh rambut - rambut halus dan tipis. Seolah baru saja di bersihkan oleh sang istri.
Dan apa yang di lakukan Devan itu berhasil membuat Yocelyn kembali meremang. Apalagi saat satu jari Devan menekan pelan hingga melesak masuk ke dalam.
"Aakh!" des*h Yocelyn spontan.
__ADS_1
Devan segera mendaratkan lidahnya di area itu. Memainkan dengan cantik lidah yang sudah kama tidak di pakai untuk kegiatan itu.
Tangan kiri Yocelyn mencengkeram kuat rambut Devan. Sementara tangan kanannya mencengkeram sprei dengan kuat.
Devan semakin lihai menggerakkan jarinya maju mundur. Seolah tengah membuat jalan terbaik untuk adik kecilnya nanti.
"Sayang, ini!"
"Lepaskan, Sayang!" ucap Devan.
"Aaah!" Yocelyn kembali mendapat pelepasan keduanya.
Dan dengan sangat jelas pelepasan itu membasahi tangan Devan juga bibirnya. Tapi Devan sangat menikmatinya. Dengan gerakan cepat Devan melepas baju dan celananya yang langsung di buang ke sembarang arah.
Devan menaikkan kaki Yocelyn, dan duduk di antara kedua paha mulus itu. Devan membungkuk dan kembali mencium bibir istrinya dengan sangat lembut. Tak lupa tangannya pun bergerak lincah di kedua benda kenyal istrinya.
"Jika sakit, kamu boleh menggigit bagian manapun dari tubuhku!" bisik Devan.
Yocelyn mengangguk pelan. Devan menenggelamkan wajah di tengkuk leher istrinya dan mencium leher itu dengan lembut.
Dan benar saja senjata Devan mulai bergerak, mencoba menembus dinding yang masih sangat rapat itu. Devan sedikit kesulitan untuk memasukkan senjatanya dengan sempurna.
Sementara kuku - kuku cantik Yocelyn sudah menancap di punggungnya. Yocelyn juga menggigit giginya sendiri. Namun dia semakin tidak tahan saat senjata suaminya berhasil merobek selaput daranya.
"Akh!" pekik keduanya saat senjata itu melesak sempurna hingga menyentuh dinding rahim Yocelyn.
Devan diam sesaat, agar Yocelyn sedikit menyesuaikan dengan senjatanya yang mengganjal di bagian bawah istrinya.
"Siap, Sayang?" tanya Devan lirih menatap dalam mata istrinya.
Yocelyn hanya mengangguk dan bersiap - siap mencari pegangan, jika jika rasanya akan sangat sakit.
Hentakan demi hentakan mulai Devan lakukan. Dengan intonasi yang sangat lembut. Devan berulang kali mendaratkan kecupan agar istrinya sedikit merasa nyaman.
30 menit berlalu, Yocelyn hampir kembali mencapai pelepasannya kembali.
"Lepaskan, Sayang!" bisik Devan.
Setelah Yocelyn mencapai pelepasan giliran Devan. Namun dengan cepat Devan menarik senjatanya dan membuang benihnya di atas perut sang istri.
"Akhh!"
Kepuasan tiada tara di rasakan oleh Devan. Untuk pertama kalinya Casanova itu melakukan dengan cinta dan kasih sayang. Tapi Devan memilih tembak luar, karena takut jika akan tumbuh benih sebelum mereka menikah secara sah di mata hukum.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Devan mencium dalam kening istrinya.
Devan meraih tisu dan membersihkan cairan yang keluar dari senjatanya tadi. Devan sangat puas melihat bercak darah dan cairan yang berasal dari Yocelyn menempel sempurna di sprei.
"Sayang, bagaiman kalau pelayan yang mencuci tau noda itu?"
"Sudah sewajarnya mereka tau!" jawab Devan santai.
Berbeda dengan Yocelyn yang di landa rasa malu.
.
.
.
.
__ADS_1
.