Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Shopping


__ADS_3

Setelah makan di salah satu restoran, Devan mengikuti kemana pun Yocelyn menarik tangannya. Mereka tengah berada di salah satu Mall mewah di London. Devan dengan senang hati mengikuti gerak gerik Yocelyn yang memilih pernak pernik di salah satu stand penjual aksesoris. Setelah memilih beberapa aksesoris, Devan membayar seluruhnya.


Beberapa saat kemudian Yocelyn menarik tangan Devan untuk pindah ke toko kelas menengah. Devan mengerutkan keningnya heran kenapa Yocelyn masuk ke toko itu. Dimana barang yang paling mahal hanya di kisaran 50 jutaan. Sebagai salah satu kota dengan biaya hidup termahal seperti London tentu harga itu bukan apa - apa.


Yocelyn adalah anak konglomerat, Devan yakin Yocelyn tidak selevel dengan barang - barang dengan harga itu. Tapi Devan tetap berusaha menuruti langkah kaki Yocelyn.


"Sayang! kenapa masuk ke sini?"


"Aku mau tas yang sederhana saja!" jawab Yocelyn.


"Kenapa?"


"Tidak apa - apa!" jawab Yocelyn sambil memilih - milih tas.


"Kami yakin bisa belanja di sini?" Devan yang masih tidak percaya.


"Kamu tidak percaya aku mau memakai barang seperti ini?"


"Aku selalu percaya apapun yang kamu katakan!" jawab Devan, "hanya saja aku tidak menyangka Tuan Putri seperti kamu mau masuk ke tok seperti ini"


"Kamu mengejek ku?" tanya Yocelyn dengan bergelayut di lengan Devan.


"Bukan begitu, Honey!" ucap Devan mengusap pelan puncak kepak Yocelyn.


"Kalau begitu biarkan aku memilih yang aku suka!" ucap Yocelyn, "kamu duduk di sini saja!" lanjutnya meminta Deva duduk di kursi tunggu dekat jendela kaca.


"Hemm, baiklah!" ucap Devan mengalah.


Devan duduk di kursi tunggu yang di sediakan toko itu. Devan mengeluarkan ponselnya, dan langsung sibuk dengan ponselnya.


Itu bukannya Devan! batin seseorang di luar toko.


Apa yang dia lakukan di toko seperti ini?


Aku pikir dia tidak aken pernah masuk ke toko seperti ini? apa mungkin dia bukan Devan?


Charla mendekati dinding kaca yang memperlihatkan Devan tengah duduk dengan mengangkat satu kakinya, serta menunduk menatap ponselnya.


Benar! itu Devan! batin Charla setelah mengamati lebih dekat.


Ya, seseorang yang tidak sengaja melihat Devan adalah Charla. Charla mengedarkan pandangan matanya ke seisi toko, mencoba mencari tau siapa yang di tunggu Devan di toko yang bukan level Devan. Ada beberapa gadis yang tampak sedang memilih - milih tas di toko itu.


Yang mana yang datang bersama Devan? tanya Charla dalam hati.


Charla masuk ke dalam toko itu dengan menutupi sebagian wajahnya dengan rambut, agar tak terlihat oleh Devan.


Charla melihat beberapa gadis tampak dengan teman mereka atau pasangan mereka masing - masing.


Yang mana yang bersama Devan? tanyanya dalam hati.


Sampai akhirnya, mata lentiknya melihat seorang gadis bermasker yang tampak mencoba beberapa tas kecil di depan cermin. Charla hanya meliriknya sekilas, karena menganggap Devan tak mungkin jalan - jalan dengan gadis yang terlihat sangat polos dan kekanak - kanakan seperti itu.

__ADS_1


Dari penampilannya saja jelas terlihat gadis itu tampak seperti anak remaja yang labil. Charla terus berjalan sambil berpura - pura memilih tas yang di terpajang.


Tak ada satupun yang seperti selera Devan! lalu dengan siapa Devan datang? apa dia hanya numpang duduk? atau toko ini milik temannya?


Pertanyaan demi pertanyaan berputar - putar di kepala Charla. Dia tengah berdiri di pojok toko, memantau Devan dari jarak aman.


Kalau dia sedang sendiri, sebaiknya aku datangi saja! siapa tau setelah melihatku lagi, dia mau menghabiskan malam ini dengan ku!


Charla dengan sengaja membuka kembali dua kancing bajunya. Semula dua kancing terbuka sekarang menjadi empat. Lalu menjatuhkan satu kerah baju beserta tali br* nya ke samping. Sehingga pundak kirinya yang mulus terekspose dengan jelas.


Charla mendekati cermin dan melihat penampilannya yang terlihat sangat cantik dan **** dengan rok mini yang memperlihatkan kaki mulus dan jenjangnya. Dulu Devan menyukai penampilan Charla yang terlihat seksi seperti itu.


Kali ini pasti berhasil! seru Charla dalam hati.


Dengan perlahan dan percaya diri Charla berjalan ke arah Devan yang jaraknya cukup jauh. Saat Charla sudah sampai di tengah - tengah jalan, tiba - tiba Devan berdiri dan melihat ke arah lain.


Seketika Charla menghentikan langkah kakinya, dan matanya mengikuti pergerakan Devan. Dan seketika matanya membulat mendapati Devan yang memeluk dari belakang gadis polos yang di lewatinya tadi.


Siapa gadis itu? batin Charla.


Dengan sedikit mengendap, Charla mendekati Devan dan Yocelyn yang berdiri di depan meja kasir. Dia bersembunyi di balik etalase tinggi untuk mendengar percakapan mereka.


"Apa yang kamu beli, Sayang?" tanya Devan.


"Hanya tas, kaca mata dan syal!" jawab Yocelyn sambil membuka tas kecilnya untuk mengambil kartunya. Dengan gerakan cepat Devan menahan tangan Yocelyn.


"Biar aku yang bayar!" ucap Devan.


"Eh! kamu mengejek ku?" tanya Yocelyn melirik Devan yang bertengger di pundaknya.


Spontan tangan Yocelyn keluar dari dalam tasnya, lalu menyungging senyum kikuk.


"Benar juga, Sayang!" ucapnya. "Hehe! kalau begitu kamu yang bayar!" lanjut Yocelyn mengusap kepala Devan di pundaknya, Devan merasa mengecup singkat leher Yocelyn. Lalu mengeluarkan kartunya dan menyerahkan pada kasir.


"Sayang!" pekik Charla lirih mendengar percakapan mereka.


Apa mereka sepasang kekasih? Bagaimana mungkin Devan menyukai gadis lugu seperti itu.


Siapa gadis itu? bagaimana bisa dia membuat Devan jadi budak cinta seperti itu!


Ucap Charla dalam hati melihat kemesraan mereka yang bahkan tak ragu di perlihatkan di depan kasir atau pun pengunjung lainnya.


Setelah membayar, Devan menggenggam tangan Yocelyn keluar dari toko, dan satu tangannya lagi membawa paper bag berisi barang belanjaan Yocelyn.


"Honey! kamu mau beli apa lagi?"


"Sudah!" jawab Yocelyn.


"Yakin?"


"Iya!"

__ADS_1


"Sepatu mungkin?" tanya Devan, "aku lihat koleksi sepatu mu di apartemen tak lebih dari 10!"


"Aku punya banyak barang di mansion! hampir setiap ada barang baru Mama selalu membelikan untukku! dan semua adalah barang mahal!" ucap Yocelyn. "Aku sangat jarang shopping tanpa Mama!"


"Kenapa begitu?"


"Mama selalu memesannya, supaya aku tak perlu susah payah pergi mall dan tak perlu bertemu banyak orang!" jawab Yocelyn, "padahal yang seru kan seperti ini!" lanjutnya. "Dan karena itu juga aku ingin belanja yang bukan barang mahal!"


"Oh!" Devan mengangguk paham, kenapa Yocelyn justru belanja di toko kelas menengah.


Jika dari kecil sudah terbiasa dengan barang mewah, saat dewasa pun dia tidak akan jadi gadis yang kalap akan barang - barang mewah! ucap Devan merasa bangga dengan kekasih polosnya itu.


Di belakang dengan jarak aman, Charla mengikuti langkah kaki Devan dan Yocelyn.


Jadi karena gadis ini, Devan tidak pernah lagi mencari ku?


Charla mengikuti langkah Devan sampai mereka sampai di tempat parkir. Charla pun masuk ke dalam mobilnya.


Devan melajukan mobilnya meninggalkan area parkir mall, begitu juga Charla. Charla mengikuti mobil Devan yang melaju cepat saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam waktu London.


Sampai akhirnya mobil Devan berhenti di depan lobby apartemennya. Devan turun untuk membukakan pintu Yocelyn. Yocelyn keluar dengan paper bag di tangannya. Devan mengambil alih paper bag itu dan menggenggam tangan Yocelyn memasuki lobby. Sementara mobilnya di bawa security untuk di parkir kan.


Jadi mereka tinggal bersama?


Sial! aku bahkan tidak pernah di tawari Devan untuk tinggal bersamanya!


Tapi gadis itu, dengan mudahnya membuat Devan bertekuk lutut tanpa susah payah menjadi tempat sampah seperti ku!


Awas saja kalian!


Charla kembali melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen Devan.


.


.


.




Selamat membaca!



Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kakak 🙏🙏



Terima kasih,

__ADS_1



Salam Lovallena.


__ADS_2