
Fajar telah tiba, Devan tidur setengah tengkurap dengan satu tangannya yang melingkar di perut istrinya. Sementara wajahnya masuk sampai ke ceruk leher sang istri. Selimut tebal berwarna pink tua menutupi tubuh mereka hingga sampai di bawah leher mereka.
Mata Devan mengerjap saat merasakan pagi sudah tiba. Pandangan matanya langsung menangkap wajah sang istri yang masih terlelap dengan memegangi lengannya.
Devan tersenyum melihat wajah cantik istrinya. Dan dia semakin merasa bahagia saat mengingat percintaan mereka semalam sesaat sebelum mereka akhirnya terlelap dengan tubuh polos mereka seperti saat ini.
Flashback On . . .
"Sayang, apa ini normal?" tanya Yocelyn yang tengah duduk bersila di tempat tidurnya.
"Normal apanya, Sayang?" tanya Devan yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kenapa masih sakit sampai sekarang" keluh Yocelyn.
Devan mengangkat punggungnya dari sandaran tempat tidur dengan senyuman tipis.
"Sayang, itu hal yang wajar! karena kamu baru pertama kali melakukannya" ucap Devan meraih kedua tangan istrinya.
"Apa selamanya akan sakit?"
"Tentu saja tidak, Sayang!" jawab Devan meraih dan menciumi punggung tangan Yocelyn yang sedari tadi memegangi bagian inti dan juga bagian dadanya. "Jika kamu sudah terbiasa, semuanya akan terasa biasa dan tidak sakit lagi"
"Sudah terbiasa?" tanya Yocelyn mengerutkan keningnya.
"Iya, Sayang!" jawab Devan dengan mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Mau mencobanya lagi?" tanya Devan dengan seringainya.
"Mencoba apa?"
"Iya, kita lakukan lagi apa yang tadi siang kita lakukan!"
"Tapi kalau semakin sakit bagaimana?"
"Tidak akan, Sayang! awal - awal saja akan sakit, lama - lama kamu akan mulai menyukainya!" ucap Devan.
"Kamu tidak bohong?"
"Mana mungkin aku bohong sama kamu," jawab Devan mentoel hidung istriny. "Setelah sakit di sini hilang, kamu pasti akan ketagihan, hm!" ucap Devan menunjuk bagian inti dan juga buah dada Yocelyn.
"Awas kalau kamu bohong!" hardik Yocelyn.
"Kalau aku bohong kamu boleh memperkos* ku!" goda Devan sambil mendorong tubuh istrinya ke belakang.
"Mana ada perempuan memperkos* laki - laki!" tanya Yocelyn yang sudah berbaring sempurna dan wajah tampan Devan sudah berada di atasnya wajahnya.
"Ada Sayang! suatu hari nanti kamu pasti akan melakukan itu padaku!" Devan menyeringai.
__ADS_1
"Mana mungkin! menjijikkan!"
Devan tidak lagi menjawab, dia hanya menyeringai dengan senyuman aneh. Dengan lembut, Devan meraih bibir istrinya. Bibir manis yang sudah menjadi candu tersendiri bagi Devan.
Yocelyn yang sudah lihai berciuman, membalas gerakan bibir Devan, sambil mengalungkan tangannya di leher Devan. Ciuman dalam yang menuntut.
Tangan kiri Devan secara perlahan membuka kancing piyama Yocelyn satu persatu. Lalu menyingkapnya ke bagian kanan dan kiri saat semua kancing sudah terbuka.
Kini dada putih mulus, dan menonjol terlihat di balut br* berwarna merah menyala. Tangan Devan mulai menggerayangi bagian perut hingga ke atas. Menangkup dua buah kenyal kesukaannya. Meremasnya dengan mata yang masih terpejam karena menikmati gelayar yang dulu sering dia rasakan di dalam tubuhnya. Hanya saja rasanya kali ini sungguh berbeda. Karena dia melakukan dengan cinta.
Tubuh Yocelyn seketika meremang saat tangan Devan mulai menyusup ke punggungnya dan melepas pengait br* yang di kenakan. Dengan gerakan cepat kini Yocelyn sudah tanpa atasan sehelai pun.
Devan dengan asyik bermain - main di gumpalan yang seolah enggan ia lepaskan. Sementara Yocelyn mulai menghangat. Dan tubuhnya meremang saat Devan memainkan jari di puncak pink itu.
"Ah!" ******* pertama Yocelyn yang tidak sengaja keluar di tengah ciumannya.
Mendengar ******* yang menurutnya terdengar sangat seksi itu, Devan langsung melepas pautan bibir mereka. Dan turun menciumi leher, pundak dan dada bagian atas. Tak lupa Devan meninggalkan tanda - tanda kepemilikan di sana.
Tubuh Yocelyn mulai tau, cara menikmati sentuhan - sentuhan suaminya. Apalagi saat dengan lembut, lidah suaminya mulai menyentuh buah dadanya yang sudah menegang.
"Aah, Sayang!" ******* Yocelyn mulai tak terkontrol. Yocelyn malu sendiri dengan suara yang keluar dari bibirnya.
Mendengar suara maut di telinganya, Devan semakin membuat istrinya mendesah terus menerus. Tangan dan bibirnya dengan kompak bergerilya di bagian dada Yocelyn.
"Sayang, ah aku...iisshh!"
"Lepaskan, Sayang!"
"Aaakh!" tanpa banyak bicara lagi Yocelyn sudah mencapai pelepasan pertamanya dengan mendekap erat kepala suaminya yang masih asyik dengan mainannya.
Devan turun menciumi perut istrinya, saat dekapan Yocelyn mengendur. Tangan Devan sudah berusaha untuk menurunkan celana piyama Yocelyn. Menyisakan CD nya yang berwarna sama dengan br* nya.
Devan memainkan lidah dan tangannya di bagian yang masih tertutup CD itu. Yocelyn semakin panas saat melihat aksi buas suaminya di bawah sana. Tangan Devan membuka dua kaki istrinya. Dan kini dia sudah berada di antaranya.
Dengan gerakan cepat, CD itu sudah tidak ada di tempatnya semula. Devan kembali memandangi hidangan lezat di depan matanya. Sebuah lubang dengan bulu - bulu tipis di sekitarnya, yang mana orang bilang sebagai surganya dunia ini.
Yocelyn menarik sprei dengan kuat, dan satu tangannya menarik rambut suaminya, saat dia melihat kepala suaminya sudah masuk ke sel*ngkang*nnya. Dan dengan agresif lidah Devan bermain - main di sana.
Yocelyn semakin tidak karuan, antara rasa nikmat dan rasa gila yang merasuki tubuhnya. Yocelyn semakin mencengkeram apa yang ada di genggamannya, saat lidah Devan semakin masuk. Di tambah satu jari tengah Devan yang ikut masuk dan bergerak di dalam sana.
Rasa sakit yang di rasakan Yocelyn sebelumnya sudah pergi entah kemana. Terkalahkan oleh rasa nikm*t yang di berikan suaminya.
"Aakh!" lenguh Yocelyn dengan menutup matanya rapat.
"Akhh!" cairan bening kembali menyembur dari lubang nya.
__ADS_1
Devan kembali naik dan kembali mencium bibir istrinya setelah mengusapnya. Dengan gerakan cepat tubuh Devan kini sudah polos tanpa benang sehelai pun.
Dengan lembut Devan memasukkan senjatanya ke bagian inti istrinya. Secara perlahan namun pasti, Devan mulai memasukkan hingga setengahnya dengan mencium dalam dahi istrinya.
"Akh!" desah keduanya saat milik mereka menyatu sempurna.
Devan berhenti sesat, membiarkan tangan Yocelyn yang masih mencengkeram punggungnya. Pinggang Devan mulai bergerak perlahan saat cengkeraman Yocelyn mengendur.
Permainan panas itu berlangsung cukup lama. Hingga Yocelyn merasa kwalahan dengan aksi suaminya. Malam semakin larut, tapi Devan masih asyik membuat istrinya kelelahan.
"Akkhh!" keduanya melepas hasrat mereka bersamaan. Bedanya Devan melepas hasratnya itu di bagian luar inti istrinya. Tepatnya menembakkannya tepat di puncak dada Yocelyn.
Devan membersihkan bagian itu setelah berhasil menuntaskan hasratnya. Sementara Yocelyn seolah tak sanggup lagi membuka matanya. Dia langsung terlelap begitu aksi suaminya berakhir.
"Terima kasih, Sayangku!" bisik Devan mencium kening istrinya, yang entah di dengar atau tidak oleh istrinya.
Devan menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuhnya juga tubuh istrinya. Keduanya langsung terlelap begitu saja.
Flashback Off . . .
Devan kembali menyeringai, saat mengingat aksinya agar istri polosnya itu mau bercinta di tengah kesakitan bagian intimnya.
"Bukannya aku tega, Sayang! aku hanya ingin kamu tau jika kegiatan seperti itu perlu di nikmati! jadi kamu terbiasa dan tidak lagi mengeluhkan sakit!" gumam Devan lirih sambil membelai wajah cantik istrinya.
"Sayang?" panggil Devan lirih di telinga istrinya.
Yocelyn tidak bergeming. Dia tetap terlihat tidur sangat pulas.
"Sayang?" panggil Devan lagi sambil membelai wajah cantiknya.
.
.
.
.
.
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1