Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Aku Cemburu!


__ADS_3

Sepulang kerja, Devan langsung melangkah ke lantai atas mencari keberadaan istrinya. Kehamilan Yocelyn membuatnya ingin segera pulang dan selalu memastikan istrinya dalam keadaan baik.


"Baby!" ucap Devan membuka pintu kamarnya.


"Sayaaang!" Yocelyn merentangkan tangan pada Devan.


"Kamu nggak banyak aktifitas kan?" tanya Devan merangkul Yocelyn.


"Nggak cuma tidur aja!" jawab Yocelyn yang tengah menonton drama series di kamarnya.


"Bosen nggak?"


"Banget!" Yocelyn memanyunkan bibirnya.


"Kapan - kapan kita jalan ke mall!" ucap Devan.


"Sama kamu yaaa?" rengek Yocelyn. "Aku bosan kalau harus balik sama Erina lagi dan lagi!"


"Iya, Sayaang!" jawab Devan.


"Yeay!" Yocelyn tersenyum senang.


# # # # # #


Beberapa minggu kemudian . . .


Bersama dengan Erina dan seorang supir berpakaian pengawal, Yocelyn pergi ke salah satu mall yang ada di London.


Yocelyn dan Devan berjanji akan bertemu saat makan siang di restauran yang berada di mall itu.


Yocelyn berjalan berdampingan dengan Erina, sedang seorang pengawal berjarak dua meter di belakang, mengikuti langkah mereka.


Yocelyn masuk ke salah satu toko butik milik salah satu desainer terkenal di London. Yocelyn tampak antusias berbelanja kali ini. Semenjak di nyatakan hamil, baru kali ini dia jalan - jalan ke mall. Setelah kehamilannya berusia menjelang dua bulan.


"Eh!" pekik seseorang saat tidak sengaja bersenggolan saat memilih baju.


"Sorry - sorry!" ucap Yocelyn mengangguk.


"Kau!" pekik Erina melihat orang yang bertabrakan dengan Yocelyn.


Tatapan mereka bertiga bertemu bergantian. Dan mereka tampak saling terkejut.


"Yocelyn!"


"Charla!" ucap Yocelyn.


"Apa kabar kamu?" tanya Charla dengan raut wajah yang masih terkejut. Setelah sekian lama baru kali ini mereka bertemu.


"Baik!" jawab Yocelyn setengah cuek, sembari kembali memilih baju - baju keluaran terbaru.


"Kamu cuek sekali Yocelyn," ucap Charla, "padahal aku sudah menjauh dari Devan!" ucap Charla.


Yocelyn melirik Charla sekilas, seolah masih menyimpan perasaan dongkol pada Charla.


"Ok! aku minta maaf kalau kamu masih marah pada ku!" ucap Charla mencoba mendekati Yocelyn yang terlihat tidak menggubrisnya. "Kita lupakan masa lalu, aku juga sudah tidak berhubungan dengan suami kamu!" lanjutnya.


"Nona Yocelyn sedang sensitif, sebaik kamu jangan memancing yang tidak - tidak!" sahut Erina.

__ADS_1


Charla menoleh Erina yang memasang wajah judes padanya.


"Aku tidak memancing apapun" jawab Erina.


"Kamu tidak menyadari saja!" ketus Erina.


"Songong banget sih kamu!" celetuk Charla pada Erina.


"Seorang Asisten yang baik memang harus songong!" jawab Erina menyebikkan bibirnya.


"Ck!" Charla berdecih melirik Erina sekilas, lalu kembali melihat Yocelyn yang sudah membawa beberapa baju di lengannya. "Yocelyn bisa tidak, kita berteman?" ucap Charla.


Yocelyn menarik nafasnya panjang mendengar ucapan Charla. Satu - satunya gadis yang dia ketahui sebagai rivalnya.


"Berteman dengan mantan teman kencan suamiku?" tanya Yocelyn bernada sebuah jawaban ketus.


"Yocelyn, kuta lupakan masa lalu!" ucap Charla.


"Mana mungkin aku bisa melupakan masa lalu kalian?" tanya Yocelyn menoleh Charla. "Sekarang aku sudah merasakan apa yang kalian lakukan di masa lalu! dengan melihat wajah mu membuatku membayangkan sesuatu yang paling aku benci dari masa lalu suamiku!" ucap Yocelyn bernada kesal, kecewa dan marah bercampur menjadi satu.


"Yocelyn, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan!" ucap Charla dengan wajah seriusnya. "Kalau kita semua tau akan begini jadinya, tidak mungkin ada masa lalu yang buruk! saat itu tak ada di benak kita sekalipun bahwa apa yang kita lakukan adalah suatu kebodohan dan kesalahan!" jelas Charla.


Yocelyn menarik nafasnya dalam sembari menggelengkan kepalanya pelan. Seolah semakin tidak sanggup membayangkan seperti apa suaminya dan Charla di masa lalu.


Tanpa menjawab pertanyaan Charla, Yocelyn menyerahkan baju - baju yang dia pilih pada SPG yang menemaninya. Dia berjalan ke arah meja kasir untuk membayar belanjaannya.


Erina dengan setia mengikuti Yocelyn, dengan melempar tatapan membunuh pada Charla yang membuat Nona nya berubah mood dalam sekejap.


"Yocelyn!" panggil Charla.


Yocelyn tidak menghiraukan Charla sedikitpun. Setelah membayar, dia berlalu dari butik itu, tanpa menoleh pada Charla yang masih berusaha mendekatinya.


Yocelyn langsung menuju restauran yang sudah di janjikan sebagai tempat untuknya bertemu dengan suaminya.


Erina kwalahan mengikuti langkah Yocelyn yang cepat, seolah menunjukkan emosi dalam dirinya.


"Nona, jangan terlalu cepat jalannya!" ucap Erina yang membawa dua papar bag berukuran besar.


"Kamu tidak tau rasanya jadi aku!" ucap Yocelyn ketus dengan nafas menggebu dan raut wajah di penuhi amarah dan cemburu.


"Tapi Nona harus menjaga emosi Nona, demi baby Nona!" ucap Erina.


Yocelyn tidak menggubris ucapan Erina. Entah kenapa hatinya bergemuruh sejak kembali melihat wajah Charla.


Sedang pengawal yang mengikuti mereka, membawa beberapa paper bag di belakang Yocelyn di tangan kirinya. Dan tangannya sibuk mengetik di ponselnya.


Yocelyn duduk dengan kasar di kursi restauran yang akan menjadi tempat mereka makan siang. Berulang kali Yocelyn melihat jam tangannya. Berharap Devan segera datang. Meskipun dia kesal membayangkan masa lalu suaminya. Tapi tidak dapat di pungkiri, jika dia sangat mencintai suaminya.


Erina menarik nafas dalam, duduk di meja samping Yocelyn bersama pengawal. Sesekali Erina dan pengawal saling pandang seolah memberi kode, jika suasana sedang panas dan tidak baik - baik saja.


Seolah bisa bertelepati, keduanya kompak menelan ludah mereka kemudian mengangkat kedua pundak mereka dengan raut wajah yang tidak tau harus berbuat apa.


Beberapa saat kemudian, munculah Devan dari dalam lift yang sedari tadi di lihat Yocelyn dari restauran.


Mata Devan langsung menuju restauran yang sudah di janjikan. Dengan berjalan cepat Devan berjalan ke arah istrinya, setelah menemukan Yocelyn yang menatapnya dengan raut wajah cemberut seolah balita ingin menangis.


"Sayaaang" sapa Devan lembut yang langsung duduk di samping Yocelyn dengan merangkul pundaknya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang campur aduk, Yocelyn memukuli paha, dada dan juga lengan Devan. Kehamilannya benar - benar membuatnya menjadi perempuan paling sensitif.


"Sayaang?" panggil Devan lembut mencoba menahan tangan Yocelyn yang memukulinya.


Meskipun tidak terasa sakit sedikitpun di tubuh Devan, tetap saja Devan harus membuat Yocelyn tenang. Dia tau istrinya tengah meluapkan rasa cemburu akibat hormon kehamilan. Padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun Yocelyn cemburu dengan Charla atau gadis manapun.


"Kenapa kamu mengenal dia lebih dulu dari pada aku!" ucap Yocelyn memanyunkan bibirnya.


"Sayaang... semua ini bukan rencana ku," ucap Devan, "semua sudah ketentuan Tuhan!"


"Kenapa kamu harus nakal dulu!" Yocelyn menyilangkan tangan ya di dada, membuang pandangannya keluar restauran.


"Supaya aku tau, kalau nakal itu merugikan! dengan begitu aku akan menghargai masa depan kita, Sayang" jelas Devan.


"Aku tidak suka melihat dia!" ucap Yocelyn.


"Jangan lagi jalan tanpa aku ya!" ucap Devan yang tau, dia yang di maksud istrinya adalah Charla. Berkat pengawal yang selalu mengirim laporan padanya.


"Justru kalau aku lihat kamu dan dia dalam waktu yang bersamaan rasanya aku ingin mencakar wajah kalian berdua!" ucap Yocelyn yang tiba - tiba meneteskan air matanya.


"Baby, please!" bisik Devan, "don't cry" ucap Devan lembut sembari mengusap air mata istrinya.


"Aku cemburu!" ucap Yocelyn berterus terang.


"Aku tau, Sayaang!" ucap Devan menyelipkan rambut Yocelyn ke daun telinganya. "Tapi itu adalah masa lalu, tidak dapat aku rubah! yang jelas sekarang, aku adalah milikmu, hanya milik mu!" tegas Devan dengan nada yang begitu lembut.


Devan terus mencoba membuat emosi Yocelyn mereda. Sesekali dia mengusap perut istrinya, dimana tempat buah hati mereka sekarang berada.


"Sayang, kalau kamu marah - marah, dia tidak akan nyaman di sini" ucap Devan mengusap perut istirnya dengan lembut.


Tanpa banyak bicara Yocelyn langsung masuk ke dalam pelukan Devan yang sedari tadi duduk menghadap dirinya. Meluapkan seluruh perasaanya, seolah tak ingin lagi Devan di sentuh wanita lain selain dirinya.


"Jangan pernah menyentuh perempuan lain lagi!" ucap Yocelyn.


"Never!" ucap Devan mencium dalam kening istrinya.


.


.


.


.




**Kalau kalian tipe pencemburu bukan**?


**Kalau Author ini tipe pencemburu berat! heheh 😂**



**Jangan lupa mampir di 🌸** ***AKU PELAKOR? 🌸***


__ADS_1


"*Sungguh tidak pantas gadis itu di sebut pelakor*!"


__ADS_2