
"Apa kalian benar - benar memaafkan istri saya?" tanya Darren ragu.
"Tentu saja, Tuan Darren!" jawab Devan dan Yocelyn bersamaan.
"Istri saya merasa bersalah sepanjang dia berada di Swiss! jika kalian memang benar - benar sudah memaafkannya, saya yakin dia sudah tenang di alam sana." lanjut Darren menatap langit kota London.
"Kalau boleh tau, dimana Charla di makamkan?" tanya Yocelyn.
"Highgate!" jawab Darren.
"Boleh kah kami mengunjunginya?" tanya Devan.
"Tentu saja boleh, Tuan!" jawab Darren cepat. "Dia pasti akan sangat senang di kunjungi oleh kalian!" lanjut Darren dengan mata berbinar. "Kehadiran kalian di makamnya adalah sesuatu yang saya impikan selama enam bulan terakhir! karena itu adalah satu - satunya yang masih bisa saya usahakan untuk dia!"
"Kapan kami boleh mengunjungi makamnya, Tuan?" tanya Devan lagi.
"Kapanpun jika Tuan berkenan!"
"Sekarang bagaimana?" tanya Yocelyn.
"Boleh!" jawab Darren cepat.
Akhirnya para bayi di bawa pulang oleh baby sitter masing - masing dengan di jemput oleh supir. Sementara Yocelyn dan Devan menggunakan mobil sendiri untuk mengikuti mobil Darren menuju tempat pemakaman Charla.
Sepanjang perjalanan, air mata Yocelyn terus saja membasahi pipinya. Ada rasa penyesalan karena sempat membenci Charla saat itu. Tapi mau bagaimana lagi, hormon ibu hamil yang mendorong semua itu terjadi.
Sesekali tangan Devan menggenggam dan mengusap tangan istrinya juga menghapus air mata Yocelyn. Bagaimanapun Devan harus lebih kuat di banding istrinya.
Air mata di pipinya memang telah mengering. Tapi kekalutan, perasaan tidak menyangka dan bersalah terus saja menggelayut di hati Devan.
Devan menghentikan mobilnya tepat di samping mobil Darren. Meskipun kaki Darren cacat sebelah, Darren tetap bisa mengemudikan mobil sendiri. Mereka keluar, dan berjalan mendekati pintu masuk pemakaman.
"Mari, Tuan Devan!" ucap Darren pada Devan dan Yocelyn.
Devan mengangguk, lalu mereka berdua mengikuti langkah kaki Darren mendekati area pemakaman Charla. Darren menggunakan satu tongkat di tangan kanannya, yang memang tidak selalu dia bawa. Hanya saat akan berjalan jauh saja dia akan membawa tongkat itu.
Langkah kaki Darren belum berhenti, tapi Yocelyn yang sedari tadi memeluk lengan Devan sudah membaca sebuah nama di batu nisan yang tak asing baginya, CHARLA CAROLINE.
Air mata yang sempat berhenti kembali menetes. Kali ini dia benar - benar percaya jika Charla benar - benar tiada. Devan membawa Yocelyn ke dalam dekapan. Kaca mata hitam yang di pakai Devan, membuat matanya tak terlihat jika dia tengah bersedih.
Sampai akhirnya langkah Darren berhenti diikuti Devan dan Yocelyn. Darren duduk di samping batu nisan Charla. Darren memang sedikit susah untuk duduk di bawah. Tapi dia tetap berusaha melakukan itu.
"Sayangku, Charla, lihat! siapa yang datang?" ucap Darren mencoba untuk tersenyum, bagaikan sedang mengajak bicara Charla yang masih hidup. "Aku membawa orang - orang yang terakhir kali ingin kamu temui. Mereka sudah ada di sini, Sayang! Tuhan mempertemukan kami dengan cara yang unik. Putra mereka yang mendekati putri kita! Tuhan begitu baik, Sayang!" setetes air mata Darren kembali menetes.
Devan mengajak istrinya untuk ikut duduk di sisi makam Charla yang lainnya. Dengan tangan sedikit gemetar, Devan menyentuhkan jari - jari putihnya pada batu nisan yang bertuliskan nama yang sangat dia kenal.
Perlahan tangan Devan meraba, nama dan tanggal kematian yang tertera di sana. Tepatnya enam bulan yang lalu. Hati Devan kembali merasakan desiran yang sulit di artikan. Yang jelas kesedihan mendalam masih bergelayut di sana.
Charla? jika kau ingin menemui kami, kenapa kau tidak datang? Kau bahkan tau di mana mansion kami!
__ADS_1
Kejadian di mall waktu bukan sepenuhnya salah mu, Charla.
Dan lagi, kami sudah memiliki pengganti.
Bayi kecil yang menggemaskan, yang sangat kami sayangi.
Charla, kami benar - benar melupakan kejadian itu, meskipun kami tidak akan pernah lupa pada calon anak kami yang tiada.
Damailah kau di sana.
Aku tidak akan pernah melupakan mu, Charla! aku akan menganggap anak mu sebagai anak kami juga!
Ucap Devan dalam hati.
Devan mengusap genangan air yang ada di pelupuk matanya. Sungguh tidak baik jika sampai air mata itu jatuh di atas makam Charla.
Sedang tangan Yocelyn pada akhirnya ikut meraba nisan itu. Sepenggal nama yang sempat dia benci, semasa nama itu masih hidup.
Charla, maafkan aku yang pernah membenci mu. Apalagi saat aku hamil, sifat sensitif ku begitu dominan.
Aku sampai tidak mempercayai suami ku yang sudah merubah dirinya.
Tapi sungguh Charla, aku ingin berteman dengan mu sejak kita berdamai. Sungguh aku ingin mengubah rival menjadi sahabat.
Sekali lagi aku minta maaf, Charla.
Dan aku tidak akan pernah melupakan, jika dalam diriku ada darah mu, Charla.
Charla? marah kah kamu, jika aku akan menganggap Little Charla sebagai putri ku juga?
Aku harap kamu tidak marah.
Kalaupun putri mu pada akhirnya kembali ke Swiss, aku berharap kami akan bisa bertemu suatu hari nanti.
Istirahat yang tenang, Charla. Do'a kami selalu bersama mu.
Ucap Yocelyn dalam hati.
Air mata Yocelyn hampir menetes, tapi dengan cepat Yocelyn menghapusnya.
Sesi di pemakaman itu berlangsung kurang lebih 40 menit. Sedikit drama kesedihan mendalam terjadi di sana.
Setelah itu, mereka kembali berjalan bersama. Kali ini Devan berjalan di tengah. Charla di sisi kirinya dengan memeluk lengannya, dan Darren di sisi kanannya berjarak satu jengkal dari lengan Devan.
"Apa Tuan Darren akan kembali ke Swiss?" tanya Devan.
"Benar, Tuan! karena pusat bisnis kami ada di sana"
"Little Charla ikut?"
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan! dia adalah kenangan terindah dari mendiang istri saya."
"Apa Tuan tidak ada keinginan untuk menetap di London?"
"Sebenarnya saya sangat ingin, Tuan. Mengingat makan istri tercinta saya ada di sini. Tapi perusahaan di Swiss juga membutuhkan saya. Belum lagi untuk sementara saya harus membantu Opa Charla mengatasi perusahaan beliau. Setidaknya sampai cucu keduanya berusia 17 tahun. Jadi untuk sementara mungkin saya hanya akan berkunjung sesekali ke kota ini."
Devan tampak mengangguk paham. "Memangnya sekarang dia berusia berapa?"
"Sekarang dia berusia 15 tahun."
Devan kembali mengangguk pelan. "Jika suatu saat Tuan Darren punya niat untuk menetap di Inggris, jika Tuan berkenan, kita bisa membangun kerja sama di sini!"
"Wah! terima kasih, Tuan! tawaran seorang pimpinan FG corp benar - benar sangat menggiurkan! Tentu jarang di dapatkan oleh pebisnis kecil seperti saya!"
"Ah! bisnis Tuan juga besar!" sahut Devan yang membuat Darren laki - laki yang seusianya itu tersenyum.
"Saya hanya memiliki bisnis kecil di sini, Tuan!" ucap Darren. "Saya baru memulainya delapan bulan yang lalu."
"Sepertinya jiwa bisnis anda memang luar biasa ya, Tuan?"
"Sama seperti Tuan Devan!"
Keduanya tersenyum kecil.
"Bagaimana jika kita bicara formal saja? bicara menggunakan kata Tuan sepertinya terlalu formal untuk di ucapkan di luar urusan pekerjaan." ucap Devan.
"Emm.. boleh lah!" Darren melirik Devan di sampingnya. "Darren" ucap Darren mengulurkan tangannya pada Devan.
"Devan!" jawab Devan menyambut uluran tangan Darren.
Mereka pun akhirnya meninggalkan area pemakaman menggunakan mobil masing - masing. Sebelumnya mereka sempat saling bertukar nomor ponsel.
Darren juga berjanji akan mengajak Little Charla untuk bermain ke mansion Devan sebelum mereka kembali ke Swiss.
.
.
**Reader : Kenapa Charla di buat meninggal**?
**Othor : Biar berbeda dengan kisah Alexander dan Rakha, dimana rival di buang secara paksa, hehe ✌️**
__ADS_1
**Happy reading 🌹🌹🌹**