Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Mengobati Rasa Penasaran


__ADS_3

🍄 Satu Minggu kemudian . . .


"Sayang, nanti pulang kuliah, aku akan jemput Orang tua ku di Bandara. Kamu mau ikut?" tanya Ivander.


"Mommy dan Daddy kamu?" tanya Charla.


"Iya!" jawab Ivander sembari melajukan mobil menuju kampus mereka.


"Emang boleh?"


"Boleh lah! emang siapa yang berani ngelarang?"


"Kamu nggak sama para saudara kamu?"


"Nggak! mereka menunggu di apartemen!"


"Baiklah, aku mau ikut," jawab Charla dengan senyuman manis. "Tapi jangan kenalin aku sebagai pacar kamu ya?"


"Kenapa begitu? padahal aku mau berbangga - bangga memiliki kamu di depan Daddy dan Mommy!"


"Iiih.. jangan dulu, aku pengen lihat respon mereka dulu, Kak! namanya juga kan baru ketemu pertama kali!"


"Okelah, tapi kalau aku bilang perempuan yang sedang dekat dengan ku boleh kan?"


"Boleh!" jawab Yocelyn. "Tapi bagaimana jika Mommy dan Daddy kamu tidak menyukai ku?"


"Nggak mungkin!" sahut cepat Ivander.


"Yakin banget?"


"Yakinlah!"


"Memangnya kenapa mereka datang ke sini?"


"Jemput Jesselyn, dan sekalian ada urusan."


"Emm," Charla mengangguk.


Sepulang kuliah, Ivander mengajak Charla ke apartemennya untuk menukarkan mobil sport Ivander dengan mobil keluarga.


"Ini apartemen kamu?" tanya Charla melihat apartemen Ivander yang cukup besar bahkan dua lantai.


"Iya, semua pintu yang ada di lantai ini, apartemen kami! Ada Qiandra, Queenara, Argha juga dua apartemen lagi yang saat ini masih kosong!"


"Wow!" seru Charla.


"Duduk, sayang!" ucap Ivander meminta Charla duduk di sofa ruang tengah. Kemudian dia ke kamarnya di lantai atas untuk mengambil kunci mobil.


"Hemm.." bukannya duduk, Charla justru melihat di balik jendela. Yang memperlihatkan kota Oxford.


Mata Charla menangkap sebuah foto keluarga di atas meja televisi. Sebuah foto keluarga yang beranggotakan empat orang. Charla mengambilnya dan mengusap lembut foto itu.


Charla mengangkat sedikit sudut bibirnya, dimana Ivander terlihat masih berusia 15 tahun dan Jesselyn berusia 12 tahun.


Charla memandangi wajah kedua orang tua Ivander bergantian. Lalu mengusap wajah mereka.


Keluarga bahagia.

__ADS_1


Ucap Charla dalam hati.


"Kenapa sayang?" tanya Ivander yang tiba - tiba sudah memeluk tubuhnya dari belakang.


"Eh! ini Mommy dan Daddy kamu?" tanya Charla pada Ivander yang dagunya bertengger di pundak kanannya.


"Iya, sayang!" jawab Ivander. "Dan kalau kamu mau menikah dengan ku suatu hari nanti, maka mereka akan menjadi mertua mu." lanjut Ivander mencium batang leher Charla.


"Kak, geli tau!" Charla menggerakkan pundaknya.


Ivander justru terkekeh, dan semakin menggoda Charla. Dengan mencium batang lehernya kembali sampai di belakang telinga.


"Kaak!" pekik Charla dengan pundak dan tubuhnya yang bergerak menahan geli, sembari meletakkan kembali foto keluarga milik Ivander.


"Semakin kamu bergerak, aku semakin ingin menggoda mu sayang."


"Jangan sembarangan deh!" Charla menahan kepala Ivander agar menghentikan aksinya.


"Aku tidak sabar ingin menyatukan cinta kita!" bisik Ivander sembari menghentikan aksinya.


Charla berbalik menghadap Ivander, menyadarkan bok*ngnya pada meja tv. Melingkarkan kedua tangan di leher Ivander yang sudah mengunci tubuhnya dengan satu tangan di pinggangnya, satu tangannya lagi menyangga di meja tv.


"Baru juga bulan depan kamu berusia 19 tahun, udah sok - sok an bahas pernikahan lah, menyatukan cinta kitalah, apalah!" ejek Charla sembari terkekeh.


"Sayang, usia itu bukan patokan untuk kapan kita bisa menyatukan cinta kita. Yang penting kan kita sudah lewat tujuh belas tahun!"


"Lalu?" Charla menyipitkan matanya.


"Lalu bagaimana jika...." Ivander menggantung kalimatnya. Menatap dalam wajah Charla, menggigit bibir bawahnya seolah merasakan gejolak yang datang tiba - tiba.


"Apa?" tanya Charla dengan senyum menantang.


"Hahaha!" Charla terkekeh. "Jangan mimpi ya kamu, Tuan muda! fuh!" Charla meniup lembut wajah Ivander yang hanya berjarak 10 senti dari wajahnya. Kemudian terkekeh, karena Ivander bukannya marah, justru memejamkan matanya menikmati desiran tiupan Charla di wajahnya.


"Memangnya kamu tidak mencintai ku?" tanya Ivander kembali menatap dalam mata Charla.


"Aku mencintai mu, Kak! tapi ini terlalu awal jika kita melakukan hal seperti itu! Baru juga seminggu kamu bilang cinta!" jawab Charla manja.


Ivander tersenyum gemas dengan Charla yang begitu menggoda di matanya. Dengan kedua tangan ia memeluk pinggang Charla, menariknya erat hingga menempel sempurna pada tubuhnya.


Dengan gerakan lembut namun pasti, Ivander mendaratkan kecupan sekilas di bibir Charla yang manis. Kemudian kembali meraihnya dan menyesapnya seperti menikmati permen yang manisnya tidak akan pernah habis.


Keduanya spontan memejamkan mata mereka. Charla yang sudah seminggu ini selalu melakukan hal itu, akhirnya mulai terbiasa dengan cumbuan Ivander.


Sedikit demi sedikit dia mulai tau cara menikmati sebuah ciuman. Dan langsung membuka sedikit bibirnya hanya dengan sedikit kode dari bibir Ivander.


Lidah Ivander semakin lama semakin merangsak masuk ke dalam rongga mulut Charla. Menyusuri setiap inchi yang ada di dalam sana.


Charla semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di leher Ivander, saat kehangatan dan desiran aneh mulai menyusuri tubuhnya.


"Emh!"


Suara itu muncul, ketika tiba - tiba tangan Ivander meraba naik dari pinggang Charla hingga sampai di dadanya. Dan dengan gerakan lembut menyentuh salah satu bukit kembar Charla.


Charla yang sebelumnya tak pernah merasakan dadanya di sentuh orang lain, spontan memegangi tangan Ivander. Seolah berkata jangan.


Sungguh dia masih malu dan ragu jika Ivander menyentuhnya. Namun Ivander justru mengembalikan tangan Charla ke pundaknya.

__ADS_1


Dan kembali menyentuh gumpalan yang membuatnya penasaran itu. Seperti apa rasanya menyentuh benda itu.


Dengan lembut Ivander mulai meremasnya sedikit dan pelan. Namun Charla sudah cukup merasa histeris.


Sekuat tenaga Charla mencoba untuk melepas bibirnya yang terpaut dengan bibir Ivander. Namun bukannya terlepas Ivander justru membuat Charla kesulitan bernapas. Tangan Ivander kembali meremvs dada sebelah kiri milik Charla.


"Emh!"


Tangan Charla kembali turun, memegangi tangan Ivander. Tangan dan bibirnya seolah ingin berkata stop. Tapi naluri normalnya merasakan hal yang berbeda. Tubuhnya seperti menikmati sentuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Sehingga tangan Charla hanya memegangi pergelangan tangan Ivander yang tengah berkenalan dengan dadanya. Yang merupakan benda asing bagi tangan Ivander.


"Huh!"


"Huh!"


"Huh!"


Ivander melepas pautan bibir mereka, ketika Charla hampir kehabisan nafas. Ivander mengusap lembut bibir Charla menggunakan ibu jari tangan yang tadi ia gunakan untuk menyentuh bvah dada kekasihnya.


Seulas senyum tak berdosa terbit di bibirnya. Charla mengatur nafasnya agar kembali normal, dengan menjatuhkan kepala di dada Ivander. Dia cukup malu untuk melihat wajah Ivander yang tersenyum penuh kemenangan.


Ivander meraih dagu Charla agar mendongak, namun Charla enggan mendongak dan melihat wajahnya.


"Sayang? marah?" tanya Ivander yang sebenarnya gugup untuk menanyakan hal itu.


"Aku malu!" ucap Charla memukul pelan dada Ivander.


"Kenapa malu?" Ivander mendaratkan kecupan di puncak kepala Charla.


"Kamu bilang dada ku kecil! kamu pasti tidak suka!" ucap Charla memanyunkan bibirnya.


"Hahahaha!" Ivander tertawa mendengar jawaban Charla. "Aku hanya bercanda baby... buktinya sangat pas di tanganku!" ucap Ivander. "Aku menyukainya!" bisik Ivander. "Termasuk semua yang ada pada dirimu!" lanjut Ivander.


Charla yang malu - malu meong kembali memukul lengan atas Ivander.


"Tapi jangan di sentuh lagi! aku malu!" ucap Charla menutupi wajahnya yang masih bersandar di dada Ivander dengan satu tangan.


"Hemm.. yang ada aku malah ketagihan!" jawab Ivander mengulum senyum.


Bug!


Charla memukul lengan Ivander sekeras mungkin. Bukannya merasa bersalah dan sakit, Ivander justru terkekeh.


"Ayo berangkat!" ucap Charla ketus dengan melepas pelukan Ivander.


"Hahah! kamu sangat menggemaskan, sayang!"


Charla memanyunkan bibirnya menanggapi ucapan Ivander.


Mereka meninggalkan apartemen, dan langsung berangkat menuju Bandara.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2