
Setelah mengikuti mata kuliahnya, Charla keluar dari kelasnya. Dan sedikit terkejut karena Ivander sudah berdiri dan bersandar pada tiang koridor.
"Kok sudah di sini, kak?" tanya Charla.
Ivander mengangkat sudut bibirnya. Meraih pinggang Charla. hingga menempel sempurna pada tubuhnya.
"Kak, malu!" seru Charla karena masih banyak mahasiswa yang lain di sana.
"Malu kenapa? aku kan calon suami mu!" ucap Ivander tanpa rasa berdosa.
Sedangkan Charla masih berusaha memberontak.
"Aku tau kak! tapi ini memalukan! di lihat banyak pasang mata!"
"Ini pembuktian sayang! kalau kita sudah bertunangan!" jawab Ivander dengan senyum devil. "Biar mereka semua tau apa status kita!"
"Iya, iya! tapi lepaskan dulu!" Alea mendorong dada Ivander. Namun tetap saja sulit untuk terlepas dari rengkuhan tangan kekar Ivander.
"Aku tidak menyangka, gadis kesayanganku ini sekarang sudah berani menghadapi Lea!" ucap Ivander tersenyum puas.
"Hah!" pekik Charla. "Apa maksudnya?"
"Tadi ada yang lapor padaku, jika kamu berani menunjukkan status kita yang sebenarnya."
"Apaan sih, kak! udah lepas dulu!"
"Nggak!" jawab Ivander masih dengan tersenyum senang.
Sedangkan mata mahasiswi yang melihat mengulum senyum mereka.
"Dari mana kamu punya keberanian itu, sayang?" tanya Ivander.
"Keberanian apa sih?" tanya Charla gemas, karena Ivander tak kunjung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Mengatakan yang sebenarnya pada Lea! karena jika itu benar Little Charla, aku yakin tidak akan berani."
"Karena aku kesal! dia mengatai aku menggoda kamu! dan aku suruhan keluarga untuk mendekati kamu agar perusahaan keluarga ku berkembang pesat! kalau hanya untuk perusahaan untuk apa? Daddy ku sudah cukup kaya raya untuk menghidupi satu putrinya! Lea terlalu ngadi - ngadi!" Charla menyebikkan bibirnya.
"Hahaha!" Ivander terkekeh. "Padahal mendekati ku untuk meraih cinta dari keturunan Devander Gibran." bisik Ivander dengan tersenyum puas.
"Iih! apaan sih!" seru Charla yang malu - malu dengan memukul pelan dada Ivander.
"Jujur sajalah sayang! aku akan terima! hahaha!" Ivander masih saja terkekeh. "Lagi pula kamu berhasil, kenapa harus malu!" Ivander menatap mata Charla dengan penuh cinta.
"Lepaslah kak! malu kaaak!" rengek Charla lirih.
Ivander mengangkat kedua alisnya, dengan mengendurkan kedua tangannya.
"Mau pulang?" tanya Ivander.
"Aku masih ada kelas setengah jam lagi!" jawab Charla.
"Kalau begitu sekarang mau kemana?"
"Ke kantin, laper!"
__ADS_1
"Oke!"
Ivander dan Charla berjalan ke arah kantin. Dengan mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tak percaya jika dia mahasiswa itu sudah bertunangan, bahkan di usia yang belum genap 19 tahun.
***
🍄 Christ Chruch Collage Great Hall (Kantin kampus bergaya restauran)
Ivander dan Charla tengah menyantap menu dengan bahan dasar ikan salmon. Di kantin bergaya restauran itu Ivander dan Charla duduk berdampingan dengan menyantap menu masing - masing.
Di salah satu sudut kantin sepasang mata Lea menatap jengah pada sepasang muda - mudi yang terlihat sangat romantis itu.
Bagaimana caranya merebut Ivander dari gadis bernama Charla itu? Bagaimana bisa mereka bertunangan, bukankah mereka baru kenal?
Tanya Lea dalam hati. Ingin rasanya Lea merangsak masuk di tengah - tengah kursi Ivander dan Charla.
Ivander dan Charla tampak asyik saling menyuapi makanan. Saling incip makanan, dan terakhir mereka minum dari gelas yang sama.
"Kak, udah nggak ada kelas?" tanya Charla.
"Ada, satu lagi!"
"Kok tadi ngajak pulang?"
"Ya, kalau kamu pulang aku juga pulang, sayang!"
"Hemm.." Charla mengangguk.
"Nanti kalau kamu keluar duluan tunggu aku ya?" ucap Ivander sembari membelai rambut Charla yang menjuntai.
"Iya!" jawab Charla.
"Kenapa?"
"Aku khawatir ada yang jail sama kamu, terus gangguin kamu saat aku tidak ada!"
"Haha! kalau ada kamu, mana ada yang berani gangguin aku!" ucap Charla sedikit keras. "Mereka pasti hanya berani menggangguku, saat aku jauh dari kamu!" ucap Charla lebih keras seolah menyindir seseorang.
Ivander mengerutkan keningnya melihat Charla yang berbicara dengan nada tak biasa. Ivander tersenyum lalu meminum minumannya sembari melirik sekitar. Dan barulah dia tau tujuan Charla bicara dengan nada seperti itu. Ada tiga pasang mata yang menatap sinis pada Charla.
Ivander menyungging senyum sinis, kembali menatap wajah Charla. Dengan sengaja, Ivander membelai wajah cantik Charla.
"Jika ada yang mengganggu kamu saat tidak ada aku, tanpa kamu mengadu pada ku, aku pasti tau jika ada yang mengganggu mu, my baby!" ucap Ivander dengan nada tinggi dan dingin.
"Beneran?" tanya Charla antusias.
"Of course!" jawab Ivander serius.
Charla menyungging senyuman manis dan wajah imutnya dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Ivander. Seolah sengaja menyalakan bara api di mata Lea.
Ivander yang tidak tahan, langsung saja membenturkan bibirnya pada bibir Charla sekilas. Kemudian menatap wajah cantik Charla dengan penuh cinta. Seolah sengaja menyiram bensin pada api yang menyala.
Panas! sungguh panas mata Lea menyaksikan hal itu. Ia meremas garpu di tangannya dan menancapkan pada meja, meskipun tidak tembus sama sekali.
Apa lagi yang ingin kau lakukan, Lea?
__ADS_1
Tanya Charla dalam hati dengan sinis nya.
"Ke kelas yuk?" Charla berdiri dari duduknya.
Namun tangan Ivander justru menarik pinggang Charla hingga jatuh di pangkuannya.
"Kak!" pekik Charla yang shock bercampur malu.
Ivander membelai rambut Charla, dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Sayangku ini sudah pandai menyindir rupanya." bisik Ivander lirih, dengan senyum sinis.
"Hehehe! kan ada kamu!" jawab Charla lirih.
"Begitu ya, nona?" tanya Ivander.
"Iya dong!" jawab Charla.
Cup!
Charla memberanikan diri untuk mencium pipi Ivander lebih dulu.
Spontan Ivander tersenyum senang. Mendapatkan kejutan yang pasti sangat jarang dia dapatkan dalam waktu dekat ini. Ingin rasanya membalas kecupan Charla dengan ciuman yang dalam. Tapi apalah daya, kondisi tempat sedang tidak mendukung.
"Semakin berani ya sekarang?" ucap Ivander lirih dengan menahan gemas.
"Hehehe!" Charla tersenyum malu.
Melepuh! mungkin itulah kondisi hati Lea. Saking panasnya menyaksikan siaran langsung di depan matanya itu.
# # # # # #
Jam dua siang, Ivander dan Charla sampai di apartemen setelah di sibukkan dengan materi kuliah.
Setelah mengunci pintu, Ivander langsung menarik tubuh Charla dan mendekapnya erat, hingga tak ada jarak di antara tubuh mereka.
"Kenapa sih, kak?" tanya Charla yang shock dengan ulah Ivander.
"Kecupan mu di pipi ku tadi seperti buah durian yang jatuh di kepala ku, sayang!" ucap Ivander.
"Terus?" tanya Charla menyipitkan matanya.
"Sekarang aku mau membalasnya!" jawab Ivander.
"Dengan?" tanya Charla.
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading kakak 🌹🌹🌹
Di episode selanjutnya, siap - siap tahan nafas ya 🤭
__ADS_1
Jika punya lawan bolehlah di praktekan.
Tipis kok, nggak dalam - dalam amat 🤭🤩