
Tempat tidur yang di pesan Devan sudah mendarat sempurna di kamarnya setelah dua jam menunggu. Yocelyn berdiri 2 meter dari tempat tidur barunya dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya. Senyum kepuasan setengah licik terbit dari bibirnya.
"Kau puas, Nona?" tanya Devan yang tiba - tiba memeluknya dari belakang dan bertengger di pundak kirinya.
"Tentu saja, Tuan!" jawab Yocelyn masih dengan senyum yang sama.
"Lalu apa rencana mu dengan tempat tidur pink itu, Nona?" tanya Devan lagi dengan nada dingin setengah mengejek.
Karena menurutnya sangat lucu, kamar seorang Devan ada warna yang melambangkan perempuan itu. Devan menatap ngeri tempat tidur itu.
Yocelyn semakin tersenyum lebar mendengar pertanyaan Devan. Yocelyn memutar tubuhnya menghadap Devan dan langsung melingkarkan tangannya di leher sang kekasih. Senyum licik kembali terbit dari bibir manisnya.
Tanpa aba - aba, Yocelyn berjinjit dan meraih bibir Devan dengan bibirnya. Devan yang juga merindukan ciuman itu, langsung membalas ciuman Yocelyn.
Keduanya memejamkan matanya, menikmati desiran - desiran halus di dalam tubuh mereka. Yocelyn yang beberapa hari terakhir mempelajari ilmu percintaan, mencoba untuk membawa Devan dalam buaian. Meskipun jelas dia bukan ahlinya.
Devan mulai merasa aneh dengan aksi kekasihnya, saat tangan Yocelyn turun dan membuka kancing kemeja yang di pakainya satu persatu.
Tapi Devan yang tengah terbuai dengan ciuman yang masih sangat di rindukannya tak menyadari jika kancing bajunya sudah terlepas semua. Keduanya masih memejamkan matanya.
Lalu Yocelyn membuka kancing bajunya sendiri, dan menurunkan kerah bajunya sampai ke lengannya, hingga pundaknya jelas terekspos. Tapi Devan tak menyadari itu.
Yocelyn mengarahkan Devan ke tempat tidur dan mendorong tubuh Devan hingga keduanya jatuh di atas tempat tidur yang baru. Dengan posisi Devan berada di atas tubuh Yocelyn.
Devan sedikit memiringkan tubuhnya agar tidak sepenuhnya menindih sang kekasih yang tubuhnya lebih kecil darinya.
Devan yang terbuai dengan nafas Yocelyn yang hampir tersengal, akhirnya melepas ciumannya. Dan beralih pada leher Yocelyn. Inilah pertama kali Devan mencium leher jenjang itu.
Dengan sengaja Yocelyn meraih tangan Devan yang berada di samping kiri tubuhnya, dan mengarahkannya ke dadanya bagian kiri.
Devan sang Casanova itu tentu mudah untuk lupa diri saat terbuai dengan godaan di depan matanya. Devan masih asyik menciumi leher dan pundak Yocelyn.
Dan tanpa sadar tangan kanannya pun sudah mulai bermain di gumpalan kenyal Yocelyn sebelah kiri. Merem*snya dengan lembut, sambil terus mencium dan meninggalkan tanda di dada bagian atas yang putih nan mulus itu.
Yocelyn mulai mendes*h, untuk pertama kalinya bagian itu di sentuh dan di rem*s oleh laki - laki. Yocelyn mulai belajar mengatur nafasnya dan menikm*ti sentuhan itu.
Saat Devan menurunkan tangannya ke punggung Yocelyn untuk membuka pengait br*, barulah Devan sadar dengan apa yang terjadi.
Spontan Devan melepas tangan dan bibirnya yang sedari tadi bermain di leher, pundak dan dada atas yocelyn. Seketika Devan duduk saat melihat baju Yocelyn sudah tidak utuh. Menampakkan br* berwarna pink dengan buahnya yang menyembul keluar.
Susah payah Devan menelan saliva nya. Menatap hidangan indah di depan matanya. Tapi dia terus berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Yocelyn kecewa saat Devan tiba - tiba bangkit. Dia masih berbaring dan membiarkan tubuhnya bagian atas di lihat oleh Devan yang masih seperti orang bingung.
Devan duduk di tepi ranjang membelakangi Yocelyn yang masih terlentang dan menatapnya kecewa.
"Kamu kenapa?" tanya Yocelyn lirih.
"Ini belum waktunya, Sayang!" jawab Devan.
"Kenapa?" tanya Yocelyn ketus.
"Aku tidak mau menyakiti mu" jawab Devan.
__ADS_1
"Menyakiti?" tanya Yocelyn.
Devan tidak menjawab, tiba - tiba otaknya buntu. Di saat adik kecilnya naik, namun dengan cepat harus gagal total. Membuat jiwa kelakian nya bergejolak tanpa arah, dan membuat otaknya tidak bisa berfikir jernih.
"Bukankah kamu bilang mencintaiku?" tanya Yocelyn mengintimidasi.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang!" jawab Devan tanpa melihat Yocelyn.
"Lalu kenapa kamu tidak mau bercinta dengan ku?"
Devan menghela nafasnya kasar. Devan menoleh Yocelyn yang menghadapnya, menjadikan satu sikunya sebagai sandaran tubuhnya. Devan menatap leher, dada dan pundak Yocelyn yang sudah di penuhi tanda merah darinya.
Devan mengarahkan Yocelyn untuk duduk, lalu memperbaiki baju Yocelyn yang melorot. Dan kembali membenahi kancing bajunya.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Devan. "Bukan aku tidak mau bercinta dengan mu. Aku sungguh ingin bercinta dengan mu. Tapi aku ingin merubah diriku yang buruk ini." jelas Devan.
"Maksud kamu?"
"Aku ingin melakukannya setelah kita menikah!" jawab Devan sambil merapikan rambut Yocelyn yang berantakan.
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak mau memperlakukan kamu sama seperti gadis - gadis yang pernah tidur dengan ku!" jawab Devan dengan raut muka serius.
"Kamu yakin itu alasan kamu?"
"Iya, Sayang!" jawab Devan yakin.
"Hah?" pekik Devan mengerutkan keningnya.
"Iya, bukan karena aku yang tidak pernah bercinta, lantas kamu tidak mau bercinta dengan ku. Karena sudah pasti membosankan dan tidak handal menaklukkan adik kecilmu!" ucap Yocelyn sedikit kesal.
Spontan Devan mengangkat kedua sudut bibirnya. Wajah seriusnya berubah menjadi ingin tertawa terbahak - bahak. Tapi sekuat tenaga dia menahannya.
"Hahaha!" gelak Devan lirih. "Sayang, justru aku akan sangat senang saat bercinta dengan mu pertama kali!" ucap Devan. "Selain aku mendapatkan keperawanan kamu, aku juga bisa menjadi guru buat kamu!"
"Guru?" tanya Yocelyn bingung.
"Aku akan mengajari mu bercinta! dari yang slow sampai yang hard!"
"What!" pekik Yocelyn.
"Hahahaha! Sayang, ekspresi mu sangat menggemaskan!" ucap Devan menggoyangkan hidung Yocelyn dengan gemas.
"Sayang! sakit!" pekik Yocelyn menyingkirkan tangan Devan.
"Jadi kamu meminta tempat tidur hanya untuk merayuku?" tanya Devan yang ingat dia sama sekali tidak membuka kancing bajunya dan baju Yocelyn.
"Aku hanya ingin tidak ada bekas wanita lain di kamar ini!" jawab Yocelyn menutupi rasa malunya sudah bertindak konyol. "Aku ingin memulai sesuatu yang baru!" lanjutnya.
"Oh, begitu!" Devan mengangguk dengan senyum setengah mengejek.
"Aku sangat malu!" ucap Yocelyn tiba - tiba dan langsung menarik bedcover, lalu menutupkan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Hahaha!" Devan semakin tergelak, lalu ikut berbaring di samping Yocelyn.
Tuh kan! di pasti akan menertawai ku terus menerus! menjengkelkan! kenapa juga aku jadi bodoh! ucap Yocelyn dalam hati.
"Kenapa harus malu?" tanya Devan memeluk tubuh Yocelyn yang tertutup bedcover.
"Aku yakin sebenarnya kamu ingin menertawai ku dengan keras kan?" tanya Yocelyn dari balik bedcover nya.
"Mana mungkin!" ucap Devan mengulum senyumnya.
"Bilang saja iya!" sahut Yocelyn.
"Hahahahahaha!" barulah Devan tertawa keras, karena tidak sanggup lagi menahan tawanya.
"Tuh kan!" seru Yocelyn membuka bedcover dengan kesal. "Kamu jahat!" umpat Yocelyn memukul wajah Devan dengan bantal, lalu kembali menutupi kepalanya dengan bedcover.
"Hahaha!" Devan masih tertawa sambil menyingkirkan bantal. "Tapi dengan begitu aku jadi tau, ternyata dada mu sangat berisi!" ucap Devan berbisik di dekat kepala Yocelyn dengan senyum jahil.
Yocelyn membulatkan matanya di balik bedcover. Dia benar - benar merasa malu dengan ulah konyolnya.
"Dasar mesum!" pekiknya kemudian.
"Hahahahah!" Devan semakin tertawa. "Come on baby! kita tidur bersama!" ucap Devan menarik paksa bedcover yang menutupi kepala Yocelyn.
Devan tersenyum karena Yocelyn menutup matanya erat. Seolah menutupi rasa malunya. Devan memutar tubuh Yocelyn untuk menghadapnya. Akhirnya mereka tidur dengan berpelukan saat waktu menunjukkan jam dua siang.
# # # # # #
"Sayang! dua hari lagi kita akan menikah secara agama! istilah kasarnya kawin lari!" ucap Devan setelah keduanya selesai menyantap makan malam mereka di ruang makan apartemennya.
.
.
.
.
.
**Selamat membaca 🌹🌹🌹**
**Tunggu tanggapan Yocelyn tentang rencana Devan di episode selanjutnya! 😍😍**
**Jangan lupa, tinggalkan like dan komennya 🤩🥰**
__ADS_1