
Beberapa minggu kemudian, Yocelyn dan Devan juga Oma Opa pergi ke Singapura untuk menghadiri pesta pernikahan sepupu Devan, Fellycia Chirativat.
Dengan gembira Yocelyn ikut berkumpul keluarga besar di Singapura sebagai istri Devander.
Namun kesunyian kembali menghampiri hati Yocelyn, saat Eyang Devan menanyakan kenapa mereka belum juga memiliki anak. Bahkan tidak ada tanda - tanda kehamilan lagi pada Yocelyn.
Malam ini Yocelyn tengah berdiri dekat jendela di kamar yang selalu di tempati Devan saat berada di Singapura. Dengan piyama yang di sediakan oleh para maid di rumah mewah itu.
Yocelyn menatap kosong jalan raya yang cukup banyak pengendara, baik mobil maupun motor meskipun hari sudah gelap. Kilatan cahaya dari kendaraan semakin membuat hati Yocelyn meredup.
Yocelyn menyentuh perutnya yang rata dengan tangan kirinya. Mengusapnya lembut, dan menatapnya dengan tetesan air mata yang meluncur tanpa permisi.
Kenapa aku begitu ceroboh sampai harus kehilangan kamu, baby?
Ucap Yocelyn dalam hati.
Sampai kapan aku harus berpura - pura bahagia dan tidak memikirkan masalah anak?
Meskipun sebagian tidak mempermasalahkan hal itu, tetap saja sebagian orang seolah memberi tekanan akan urusan anak!
Hadirlah kembali di sini, baby!
Yocelyn terus mengusap lembut perutnya, seolah benar - benar mengharapkan kehidupan lain hadir di sana.
"Berhentilah menangis, baby" bisik Devan lembut yang tiba - tiba memeluk tubuh Yocelyn dari belakang.
Spontan Yocelyn mengusap air matanya dengan kedua tangannya. Sungguh dia tidak menyadari kehadiran Devan di kamar itu.
"Air mata mu adalah badai untuk hati ku, Sayang" bisik Devan.
Yocelyn belum sanggup bicara, karena sudah pasti suaranya akan terdengar parau akibat menangis.
"Come on baby" Devan menciumi pipi Yocelyn yang lembab akibat air mata.
"Kenapa kalian tidak jujur saja seperti Eyang?" tanya Yocelyn tanpa menoleh wajah Devan yang bertengger di pundaknya.
"Aku tidak pernah lagi berbohong padamu, Sayang" ucap Devan dengan tatapan yang begitu lembut pada wajah Yocelyn yang mengarah ke jendela.
"Tunjukkan saja kecewa kalian!" ucap Yocelyn sedikit ketus, "aku tidak masalah!" lanjut Yocelyn bersamaan dengan setetes air matanya.
Devan mengusap lembut pipi Yocelyn yang basah dengan ibu jarinya. Kemudian kembali memeluk erat tubuh istrinya.
"Setau ku, bahagia bukan hanya berasal dari anak!" ucap Devan dengan nada setenang mungkin. "Dengan kuta saling setia dan menghargai kita sudah bahagia. Selama ini aku sangat bahagia memiliki mu, Sayang! cukup kamu," bisiknya lembut. "Jika Tuhan memberi anak di antara kita itu adalah bonus untuk kita!"
"Mana mungkin seorang suami tidak menginginkan anak!"
"Sayaang... bukan aku tidak menginginkan. Maksud Tuhan pasti baik memberi atau tidak memberi anak pada kita!"
__ADS_1
"Aku takut lama - lama kamu akan bosan karena hanya melihat ku!" ucap yocelyn kembali meneteskan air matanya. "Tidak ada yang lain yang menghiburmu di rumah! bagaimana jika lama - lama kamu akan bosan pulang ke rumah!"
"Sssttt!" Devan memejamkan matanya seolah tak ingin hal itu terjadi. "Jangan pernah berfikir seperti itu, Sayang! aku mencintai mu, semua yang ada pada dirimu, termasuk kekurangan mu!" ucap Devan penuh penekanan. "Kamu tau, saat pertama kita bertemu, saat itulah aku merasakan kehidupan yang sempurna! dan sampai hari ini, bahkan sampai kita tua nanti!"
Yocelyn masih enggan untuk luluh dengan kalimat Devan. Dia menyandarkan pelipisnya pada daun jendela. Menatap kosong arah luar jendela.
Tanpa banyak bicara dan tanpa aba - aba Devan mengangkat tubuh Yocelyn dengan lembut. Yocelyn reflek melingkarkan tangan di leher Devan.
Devan menggendong manja istrinya yang masih cemberut. Dengan hati - hati Devan meletakkan tubuh Yocelyn di tempat tidur.
"Dari pada kamu memikirkan omongan orang yang tidak penting, lebih baik kita tidur!" ucap Devan yang ikut berbaring di samping Yocelyn.
Devan membawa Yocelyn ke dalam dekapannya. Berusaha menjadikan dadanya sebagai bantal ternyaman untuk istrinya.
"Selamat malam, Sayangku!" bisik Devan sembari mencium bagian atas kepala istrinya dengan lembut.
Secara tidak langsung hati Yocelyn selalu merasa teduh setiap Devan menciumnya dengan tulus dan penuh perasaan.
Yocelyn mendongakkan kepalanya menatap dalam wajah Devan yang matanya tertutup. Devan menyadari jika istrinya tengah memandanginya.
"Ada apa, Sayang hm?" tanya Devan sembari membuka matanya dan menatap lembut wajah istrinya.
"Aku sangat mencintai mu!" ucap Yocelyn lirih.
Devan mengangkat sudut bibirnya. Tangannya terangkat untuk mengusap lembut wajah cantik istrinya.
Yocelyn memejamkan matanya, Devan begitu pandai menenangkan hatinya saat berkecamuk.
"Tidurlah" bisik Devan.
"Hemm" Yocelyn mengangguk, lalu memeluk erat tubuh Devan. Dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
# # # # # #
Beberapa hari kemudian, Devan dan rombongan kembali ke London. Dengan menggunakan private jet, mereka kembali mendarat di London.
Namun Yocelyn dan Devan memilih untuk kembali naik ke pesawat dan menuju Paris, Perancis. Devan memutuskan untuk honeymoon mendadak. Agar istrinya lebih rileks.
Mereka memesan hotel kelas terbaik di sana. Sungguh Devan ingin memanjakan istrinya kali ini. Mereka hanya berlibur berdua.
Yocelyn menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang begitu nyaman. Perjalan panjang benar - benar membuatnya kelelahan.
Mereka sampai saat Perancis sedang malam hari. Di balik jendela yang terbuka, Yocelyn dengan jelas dapat melihat lampu menara Eiffel.
"Kamu suka?" tanya Devan yang langsung mengungkung tubuh Yocelyn di bawahnya.
"Suka!" jawab Yocelyn melingkarkan tangannya di leher Devan.
__ADS_1
"Mau coba malam pertama kita di sini?"
"Coba apa?" tanya Yocelyn.
"Eemm.. jangan pura - pura polos, Sayang" bisik Devan dengan nada menggoda.
"Sayaang" Yocelyn mendorong kepala suaminya yang menempel di telinganya.
Tanpa basa - basi Devan menjalankan aksinya. Rutinitas yang tidak terlewat lebih dari tiga hari itu.
Devan turun menutup gorden jendela dengan rapat, dan kembali menghampiri istrinya sambil melepas satu persatu kancing bajunya dan melempar kemeja itu ke sembarang arah.
Dengan tatapan lapar, Devan mulai menggerayangi istrinya yang terbaring di atas tempat tidur.
Satu persatu baju yang melekat di tubuh mereka sudah melayang entah kemana. Keduanya mulai tenggelam oleh hangatnya percintaan yang panjang.
Tubuh Yocelyn bergetar beberapa kali setiap Devan memberikan sentuhan yang luar biasa menggoda.
Mereka melewati malam pertama di Paris dengan penuh cinta, sampai Yocelyn lupa dengan apa yang sempat membuatnya menangis beberapa waktu lalu.
Tengah malam, Devan duduk di balkon hotel dengan baju tidurnya. Sementara Yocelyn yang sempat tertidur akibat kelelahan melayani suaminya pada akhirnya terbangun.
Dan hal pertama yang dia cari tak lain dan tak bukan adalah Devan, suaminya. Yocelyn membalut tubuh polosnya dengan selimut tebal. Dan berjalan mendekati Devan yang bersantai di balkon menikmati kota Paris saat malam hari.
"Sayang? kenapa bangun?" tanya Devan saat melihat kedatangan Yocelyn.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Yocelyn sembari duduk di pangkuan Devan, dan masing menggunakan selimut tebalnya.
"Belum ngantuk" jawab Devan memeluk erat pinggang istrinya. "Kamu tidur saja gih, kamu pasti lelah kan?" tanya Devan lembut.
"Aku mau tidur lagi, kalau kamu tidur lagi" ucap Yocelyn manja.
"Baiklah, Sayang, kita tidur sekarang!" ucap Devan sembari mengangkat tubuh Yocelyn dan membawanya kembali masuk ke kamar hotel.
Yocelyn kembali tertidur di dada bidang suaminya. Begitu juga Devan yang tertidur tanpa sadar.
.
.
.
.
__ADS_1
**Happy holiday Devan dan Yocelyn 🥳🥳🥳**