Cinta Tuan Casanova

Cinta Tuan Casanova
Rindu


__ADS_3

Sementara keributan hebat terjadi di mansion Keanu. Semua mencari - cari keberadaan Yocelyn yang tiba - tiba menghilang. Semua seisi mansion seketika panik bukan kepalang. Saling menyalahkan, juga saling mengatai bodoh.


Dan yang paling murka, tentu saja sang tuan rumah, alias pemilik mansion. Keanu berapi - api menghardik penjagaan yang tidak becus dari para pengawalnya.


Erina pun kembali terkena semprotan maut dari Keanu. Padahal semua orang tau, tadi Yocelyn sendiri yang enggan di ikuti.


Bahkan Charla yang baru datang pun langsung kembali di seret keluar oleh dua pengawal.


"Aku ini tamu!" ucap Charla tegas.


"Dengan tegas Tuan besar meminta anda untuk keluar!"


"Ck!" Charla berdecih kembali meninggalkan mansion Keanu.


Dan di dalam mansion, pikiran Keanu langsung tertuju pada Devan. Sekilas benaknya yakin, Devan kembali membawa kabur putrinya.


"Temukan Devan dimana pun dia berada!" ucap Keanu tegas pada para pengawalnya. "Terutama apartemennya!" lanjutnya mengeratkan giginya.


"Kami pasti kesulitan masuk ke wilayah FG corp, Tuan!" ucap salah seorang pengawal. "Pengawal FG corp sudah pasti bertambah!"


"Aaakkh!" Keanu berteriak kesal, menyadari apa yang di ucapkan pengawal itu benar.


Membawa Yocelyn kembali, itu artinya Devan telah mengibarkan bendera perang. Yang artinya semua hanya akan bisa menempati wilayah masing - masing.


Keanu tampak menarik nafas dalam dan berat. Dia juga bingung akan bisnisnya yang bersama Devan. Karena sebagian besar bisnisnya bergerak atas bersedianya FG corp bekerja sama dengannya.


Saat melanjutkan menjalin bisnis dengan FG corp yang beralih pada Devan, Keanu berfikir mereka memiliki sifat yang sama. Selain sama - sama Casanova, mereka juga sama - sama gigih dalam berbisnis. Jadi semua bisa berjalan sesuai rencana. Dan hal itu memang benar terjadi. Kesuksesan kedua perusahaan itu tak lepas dari tangan dingin keduanya.


Tapi siapa sangka, semua akan rumit setelah mendapati kenyataan putrinya mencintai seorang Casanova.


"Devan brengsek!!" umpat Keanu.


Keanu berjalan dengan langkah cepat menuju ruang kerjanya. Dia mencoba memikirkan cara terbaik untuk bisa mengambil Yocelyn kembali.


Sementara istrinya masuk ke kamar, memikirkan apa yang di ucapkan Devan. Mama Yocelyn bersandar di sandaran tempat tidur.


"Memangnya siapa Keanu sebenarnya?" gumamnya.


"Dia laki - laki yang sangat baik. Sejak usia muda banyak sekali prestasi yang dia raih! Tidka mungkin dia seorang penjahat kan?"


"Dan putriku? kenapa dia bisa mencintai seorang Casanova?"


"Bahkan dia sampai berakting sebagus itu!"


"Casanova itu tidak pantas untuk di jadikan suami Yocelyn!" gumam Mama lirih. "Meskipun mereka tampan dan kaya raya! tapi sangat menjijikkan memakai bekas wanita lain!" gumam Mama Yocelyn dengan polosnya.


"Kenapa di luar heboh sekali sih, Ma?" tanya seorang laki - laki yang masuk ke kamar Mamanya tanpa mengetuk pintu.


"Kamu itu dari mana saj sih, Rey!" seru Mama.


"Rey mengerjakan tugas dari Papa, Ma!"


"Kamu tau, adikmu di bawa pergi seorang Casanova?"


"What!" pekik Rey. "Siapa namanya?" tanya Rey tegas.


"Devan!"


"Devan?" Rey tampak mengingat - ingat sesuatu. "Devander Gibran? CEO FG corp?"


"Iya!" jawab Mama singkat.


"Bagaiman bisa?"


"Adikmu sangat mencintai Casanova itu, sampai dua kali kabur!"


"Kenapa Rey tidak tau?"


"Papa tidak mau mengganggu konsentrasi mu menjalankan bisnis!" ucap Mama, "tapi Mama tidka menyangka, kamu tidak pulang - pulang sampai sudah berapa bulan ini!"


"Oh, Mom! Rey ini masih muda. Rey juga butuh liburan setelah pusing dengan cabang baru di Perancis!"


"Sekarang kamu sudah tau adikmu kabur dengan Casanova, apa yang bisa kamu lakukan?"


"Ma, saran Rey. Kalau itu Devan sebaiknya kita berdamai!"


"Apa maksudmu!" bentak Mama.


"Ma, kalau kita mengambil jalur hukum, dia jauh lebih berkuasa!" jelas Rey. "Kalau kita mengambil secara paksa, bisa - bisa Papa akan bangkrut!"


"Bisa begitu?" tanya Mama penasaran.


"Tentu saja Mommy ku sayang!" jawab Rey. "Meskipun Rey tidak mengenal dekat seorang Devan, tapi Rey yakin kalau seandainya mereka saling mencintai, Devan akan meninggalkan kelakuan buruknya!"


"Kamu jangan terkecoh Rey, dari mana kita bisa tau, Devan benar - benar mencintai Yocelyn atau tidak?"


"Saat Mama bertemu Yocelyn apa dia terlihat tersiksa?"


"Tidak!"


"Apa saat bertemu Devan, Mama melihat dia sangat mencintai Yocelyn?"


"Iya!" jawab Mama mengangguk pelan.

__ADS_1


"Lebih baik kita berdamai, jika Devan berniat untuk menikahi Yocelyn, nikahkan saja!" jawab Rey.


"Rey!" tegas Mama, "apa kamu rela adikmu menikah dengan Casanova?"


"Mama, kalau yang menikahi Yocelyn itu Casanova lainnya, mungkin Rey akan mematahkan tulang mereka!" ucap Rey. "Tapi ini Devan, selain bisa memperbesar perusahaan kita. Di balik kebiasaan buruk Devan, dia juga orang yang baik!"


"Dari mana kamu tau!"


"Pokoknya Rey tau!"


"Rey! bagaimana kalau suatu saat adikmu di tinggalkan?"


"Tidak mungkin!" jawab Rey.


"Kamu sudah tidak waras Rey!"


"Mommy, please! percaya pada Rey.


"Percaya bagaimana? jelas adikmu hanya di manfaatkan oleh Casanova itu! jangan buat Mama jantung Mama kumat deh!"


"Haah!" Rey membuang nafas berat.


Aku sebenarnya juga tidak akan rela Yocelyn menikah dengan Casanova! tapi mau bagaimana lagi, keluarga kita ini sudah turun temurun menjadi Casanova. Papa, Kakek, Opa, termasuk aku sendiri Mommy! Tapi kami semua pada akhirnya berhenti saat menemukan istri yang polos, seperti Mama, nenek dan oma.


Ucap Rey dalam hati.


Kalau Casanova lain, pasti aku akan menentangnya! tapi ini Devan! FG corp sangat berkuasa di negara ini! Itu akan menguntungkan untuk kita!


Reyhan Anderson, seorang Casanova juga. Hanya saja dia tidak setenar sang Papa di masa mudanya. Reyhan sudah cukup lama meninggalkan London, untuk melebarkan sayap perusahaan milik keluarganya. Dan beberapa bulan terakhir dia tinggal di Perancis.


# # # # # #


Setelah berjarak cukup jauh dari mansion nya, Yocelyn langsung berpindah duduk di kursi penumpang sebelah Devan.


"Sayang, bagaimana bisa kamu ada di mobilku?" tanya Devan menoleh pada Yocelyn, dengan tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Maaf, aku tadi menamparmu terlalu keras." ucap Yocelyn tanpa menjawab pertanyaan Devan.


"Kamu meninju pipi ku pun, aku tidak akan marah," jawab Devan yang sangat senang Yocelyn yang dia pikir sedang marah tiba - tiba ada di mobilnya.


"Hehe!" Yocelyn tersenyum kikuk.


"Katakan, sekarang kamu mau kemana?" tanya Devan.


"Ke apartemen kamu!" jawab Yocelyn yakin.


"Baiklah," jawab Devan, "lagi pula tempat teraman untuk saat ini hanya yang berada di bawah kekuasaan ku!" ucap Devan.


"Karena kalau sampai Papa kamu tau aku membawa mu, itu artinya aku yang mengibarkan bendera perang!"


"What!" pekik Yocelyn. "Apa artinya kamu dalam bahaya?" tanya Yocelyn.


"Jangan khawatir, semua akan baik - baik saja, Sayang!" jawab Devan santai, agar Yocelyn tidak khawatir.


Yocelyn menyunggingkan senyum manisnya pada Devan yang menoleh nya sekilas.


Devan memasuki area apartemennya. Dan mata Yocelyn membulat mendapati banyak sekali orang - orang berpakaian pengawal yang berdiri tegap di depan apartemen. Dan semua yang masuk harus melalui pemeriksaan yang sangat ketat.


"Kenapa banyak sekali penjagaan?" tanya Yocelyn.


"Aku meminta untuk memperketat tempat kita berada!" jawab Devan sambil memarkirkan mobilnya.


Devan memasuki lobby dengan menggenggam tangan Yocelyn. Mereka langsung melesat menuju apartemen Devan.


"Aku merindukan apartemen ini!" ucap Yocelyn yang langsung menarik tangan Devan ke ruang tengah dan menaiki tangga.


Devan hanya mengikuti pergerakan Yocelyn. Bibirnya tidak mampu menahan rasa bahagianya saat kembali melihat Yocelyn di apartemen. Biasanya dia hanya bisa melihat baju - baju Yocelyn di almari walk in closed nya.


Yocelyn langsung membawa Devan masuk ke kamar Devan. Spontan langkah Yocelyn berhenti saat matanya menangkap tempat tidur Devan. Dan ingatannya kembali pada perkataan Charla beberapa waktu yang lalu.


"Aku mau tempat tidur ini di ganti sekarang juga!" ucap Yocelyn tiba - tiba.


"Kenapa, Sayang!"


"Aku tidak mau tempat tidur ini!"


"Ini masih baru, Sayang! belum juga genap setahun!"


"Tapi Charla sudah pernah tidur di situ kan!" bentak Yocelyn.


Spontan Devan menelan saliva nya dengan susah payah.


"Kalau kamu tidak mau menggantinya, aku akan tidur di sofa saja!" ancam Yocelyn.


"Eh, iya iya, baiklah!"


Devan langsung mendial nomor Christ.


"Halo?" jawab Christian dari sebrang.


"Kirimkan tempat tidur yang baru untuk di kamarku! ukuran king size yang paling berkualitas, dan sesuai dengan seleraku!"


"Seleraku!" sahut Yocelyn cepat.

__ADS_1


"Kamu mau yang seperti apa?" tanya Devan pada Charla.


"Emm... Di dominasi warna pink!" ucap Charla.


"What!" pekik Devan. "Pink?"


"Iya!" jawab Yocelyn yakin. "Kamu tidak mau? aku tidur di sofa saja kalau begitu!"


"Iya iyaa boleh!" jawab Devan mengalah. "Kau pasti dengar kan, Christ!"


"Iya, Tuan!" jawab Christ sambil mengulum senyum di bibirnya.


"Jangan tertawa!" bentak Devan. "Kau sudah bosan bekerja dengan ku!"


"Maaf, Tuan!" ucap Christ.


"Cepat kerjakan tugasmu! dua jam tempat tidur itu harus sudah sampai!"


"Baik, Tuan!" jawab Christ.


Devan langsung mematikan panggilan di ponselnya. Dan langsung menghampiri Yocelyn yang menyilangkan tangan di dada tanpa rasa bersalah sudah memasukkan warna pink ke dalam kamar Devan sang Casanova.


Devan berjalan pelan dengan menyungging senyum gemas pada kekasihnya itu. Tanpa basa basi langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yocelyn.


"Nona manis, kamu tidak merasa bersalah kah sudah memasukkan warna pink ke dalam kamar ku?" tanya Devan lirih tapi sangat mendominasi di telinga.


"Hehe! kamu saja tidak merasa bersalah sudah memasukkan banyak gadis ke kamar mu ini! iya kan?" hardik Yocelyn dengan melingkarkan tangan di leher Devan.


"Hanya dua gadis saja yang pernah aku bawa ke sini!"


"Jika Charla pernah ke sini, satu lagi siapa?" tanya Yocelyn dengan tatapan mengintimidasi.


"Emm.." Devan berpura - pura berpikir.


"Siapa!" tanya Yocelyn yang tidak sabar.


"Mrs. Gibran!" jawab Devan.


"Mrs. Gibran?" tanya Yocelyn membulatkan matanya.


"Hahaha!" Devan tergelak. "Tentu saja kamu, Sayang!" lanjut Devan mencium sekilas bibir Yocelyn.


Yocelyn tersenyum malu, wajahnya memerah. Devan selalu memperlakukan dirinya dengan lembut. Dengan kalimat - kalimat lembut yang mampu membuatnya terbuai.


"Lalu yang lainnya?" tanya Yocelyn.


"Apa kamu siap mendengar cerita masa lalu ku yang buruk?" tanya Devan ragu.


"Lebih baik aku mendengar dari mulutmu sendiri, daripada dari mulut jal*ng!" ucap Yocelyn serius.


Devan mengangkat kedua sudut bibirnya tipis. Menatap dalam mata Yocelyn. Meski ragu akhirnya Devan memilih untuk menjawab.


"Dulu kami melakukannya di hotel, ataupun di kamar VIP yang ada di klub!"


Yocelyn memanyunkan bibirnya, dengan nafas yang tiba - tiba menggebu. Sebenarnya dia kesal dan jijik mendengar jawaban itu. Tapi lebih baik dia tau dari mulut Devan sendiri.


"Aku lapar!" ucap Yocelyn tiba - tiba.


Devan paham kenapa Yocelyn mendadak bilang lapar.


"Sayaang, aku sangat merindukan mu!" ucap Devan yang langsung menautkan bibirnya pada bibir Yocelyn yang manyun. Tanpa peduli dengan ucapan Yocelyn yang bilang lapar.


.


.


.


.


.




Selamat membaca 🌹🌹🌹



Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya...



Jika berkenan mohon Vote nya dong Kakak.



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2