
Keluar dari area London Eye, Devan membawa Yocelyn untuk berjalan - jalan ke Oxford Street, sebagai surga belanja di pusat kota London.
"Kamu pernah kesini?" tanya Devan yang menggenggam tangan Yocelyn.
"Pernah, hanya sekali!" jawab gadis yang seharian ini bermasker itu. "Dan itu bersama mereka!" lanjutnya.
"Bodyguard mu?"
"Of course!" Yocelyn menyebikkan bibirnya malas.
"Bukankah sangat aman kemana - mana bersama mereka?" tanya Devan dengan senyum jahil.
"Jangan mengatai ku!" sahut Yocelyn.
"Hehe! kamu mau beli apa?"
"Apa ya?" gumamnya lirih.
"Atau mau ke toko barang branded?"
"Tidak tidak! barang mewah ku sudah banyak di mansion!"
Beberapa saat berlalu, Yocelyn memilih untuk membeli tas dan sepatu, produk untuk kelas menengah. Tentu saja Devan yang membayarnya.
"Thank you!" ucap Yocelyn mengangkat beberapa paper bag ke hadapan Devan.
"Hemm!" Devan hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Devan kembali melajukan mobilnya menuju Taman Hyde, setelah makan malam di salah satu restauran di sana. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 waktu London.
"Kenapa?" tanya Devan pada Yocelyn yang tiba - tiba menyusup ke bawah.
"Banyak anak buah Daddy!" jawab Yocelyn.
Devan mengedarkan pandangannya ke seluruh taman yang di terangi oleh cahaya lampu malam. Devan melihat banyak orang - orang berseragam hitam. Devan mengatur duduknya agar terlihat lebih rileks.
"Kamu diam di sini!" ucap Devan.
Devan turun dari mobil dengan santainya. Lalu berjalan ke sebuah kursi di dekat parkiran itu. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Berpencar! jangan bergerombol!" ucap salah seorang yang berseragam.
"Siap!" sahutan dari mereka.
Dengan jelas Devan mendengar percakapan orang - orang berseragam di belakangnya itu. Devan segera berdiri dan langsung masuk ke mobilnya.
"Kita pulang saja!" ucap Devan sambil memakai seat belt nya.
Yocelyn yang masih sembunyi hanya mengangguk tanpa berkata apapun.
Beberapa saat kemudian, Devan dan Yocelyn sudah sampai di apartemen Yocelyn.
"Aku numpang mandi disini!" ucap Devan menunjuk kamar mandi tamu.
"Oke!" ucap Yocelyn.
# # # # # #
Setelah mandi Devan duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan game online di ponselnya. Di sampingnya beberapa paper bag dan tas Yocelyn. Sementara Yocelyn belum juga keluar dari kamarnya.
"Yes!" seru Devan karena tim nya menang.
Brugh!
Tas dan paper bag Yocelyn jatuh ke lantai. Sebuah dompet keluar dari dalam tas Yocelyn yang terbuka. Devan melirik tas Yocelyn yang terjatuh karena tersenggol olehnya. Devan mengambil dompet dan tas Yocelyn. Devan hendak memasukkan kembali dompet Yocelyn ke dalam tas, namun dia teringat sesuatu. Devan menoleh arah pintu terlebih dahulu, dan barulah membuka dompet Yocelyn.
"Yocelyn Charlotte Anderson!" baca Devan pada KTP dan kartu Mahasiswa yang ada di dompet Yocelyn.
"Anderson?" Devan mengingat - ingat nama Anderson. "Kenapa nama ini tidak asing di telinga ku?" gumamnya lagi.
Belum sempat Devan membaca alamat Yocelyn, suara kunci pintu terdengar. Dengan cepat Devan mengembalikan dompet Yocelyn ke dalam tas.
"Aku pikir kamu tertidur!" ucap Devan saat Yocelyn keluar dari kamar.
"Aku berendam air hangat!"
"Oh!" Devan mengangguk, "kamu mau tidur sekarang? aku akan kembali ke apartemen ku!" ucap Devan.
__ADS_1
"Iya deh!" jawab Yocelyn.
"Bye!" ucap Devan keluar dari apartemen Yocelyn.
Sepanjang perjalanannya, Devan mengingat - ingat nama lengkap Yocelyn.
Kenapa nama Anderson sangat tidak asing do telinga ku! ucap Devan dalam hati.
# # # # # #
Seminggu berlalu, Yocelyn masih bertahan di apartemen yang di sewa Devan. Sesekali dia keluar dengan menyamarkan penampilannya. Dan kembali lebih cepat dari yang dia inginkan. Tak jarang pula dia bertemu dengan anak buah Papanya.
Tapi pengawal yang di perintahkan Devan untuk mengikuti Yocelyn tak kalah cerdik dari anak buah Keanu. Sehingga mereka pasti bisa meloloskan Yocelyn dari pengamatan anak buah Keanu.
Sesekali Devan membawa Yocelyn untuk makan di luar, dengan memesan ruang VIP. Juga mengajak Yocelyn ke apartemennya yang memang memiliki fasilitas lebih.
Benih - benih cinta dan rasa ingin memiliki mulai tumbuh di antara keduanya. Hanya saja mereka tidak menyadari perasaan yang tumbuh di hati mereka.
Bahkan Yocelyn selalu merajuk jika dalam sehari saja tidak melihat Devan menemuinya. Walau hanya beberapa menit bertemu, Yocelyn sudah sangat bahagia.
Begitu juga Devan, rasanya ada yang kurang jika dalam sehari tak melihat wajah cantik Yocelyn.
# # # # # #
Pagi ini Devan ada meeting dengan beberapa rekan bisnisnya di Langham hotel. Devan berjalan beriringan dengan Christ dan salah seorang pengawalnya yang membawa salah satu contoh desain arsitek yang berada di bawah naungan FG corp. Menuju ruangan yang sudah di janjikan.
Beberapa kali Devan di sapa pimpinan dari perusahaan lain yang juga membawa contoh desain mereka.
"Devan!" sapa seseorang yang menepuk pundaknya.
"Ken!" pekik Devan. "Kenapa kau terlihat kurus?" tanya Devan yang berjalan beriringan.
"Masalah ku sudah sepekan lebih berlalu, tak kunjung berakhir!"
"Ceritakan lah!"
Keanu hanya menggelengkan kepalanya kecil.
"Keanu! Devan!" panggil orang lain lagi dari arah belakang.
Spontan Devan dan Keanu menoleh ke belakang bersamaan.
"Zayn!" pekik mereka bersamaan.
Zayn berjalan cepat menyusul posisi Devan dan Keanu. Mata Devan menangkap pengawal yang mengikuti langkah Keanu dan asistennya.
"Kenapa tampang mu seperti itu Ken?" tanya Zayn.
"Dia punya masalah yang sudah sepekan berlalu tak kunjung usai!"
"Hahaha! mana mungkin seorang Keanu Anderson tidak dapat menyelesaikan masalahnya lebih dari satu minggu!" seru Zayn.
Anderson? batin Devan.
Spontan Devan menoleh pada Keanu yang tersenyum malas dan terpaksa.
Keanu Anderson? Yocelyn Charlotte Anderson? batin Devan lagi.
Apa mungkin Yossy anak Keanu?
Ingatan Devan mulai berkelana, dimana dia bertemu Yocelyn tepat semalam sebelum Keanu bilang ada masalah saat sedang meeting sebelum pesta yang di gelar Erastus.
Flashback On . . .
"Senior?" panggil Devan pada Keanu.
"Apa Junior?" jawab Keanu.
"Apa anda mendapatkan undangan dari kawan lama mu, Erastus!" ucap Devan.
"Tentu saja Junior!" jawab Keanu.
"Lalu apa anda akan datang!"
Keanu mengangkat kedua pundaknya, sambil membuang nafasnya kasar.
"Ada masalah serius di rumah!"
"Apa?"
"Maaf! kali ini aku tidak bisa berbagi cerita denganmu!"
"Baiklah, terserah kau saja!"
"Sebelum kau jadi Casanova aku sudah lebih dulu berhenti!" jawab Keanu, "tapi entahlah, mereka masih saja sering mengirim undangan ke kantorku!" keluh Keanu. "Aku hanya takut jika istriku tau! meskipun sebenarnya aku sudah puluhan tahun berhenti!"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menyuruh mereka berhenti mengirim undangan padamu?"
"Mereka mengancam ku untuk mengirim undangan ke rumah! itu akan jauh lebih berbahaya!"
"Apa Nyonya Keanu tidak tau siapa anda dulu?"
"Tentu saja tidak!" sahut Keanu.
"Jadi kau tidak akan datang?"
"Aku akan datang sebentar, hanya untuk melihat - lihat, sebagai penghargaan atas undangan Erastus!"
"Melihat - lihat bagaimana?"
"Secantik apa gadis yang kini tengah tenar! haha!"
"Anda tidak berniat mencoba atau mengulang masa lalu!"
"Aku enggan bermain - main! aku sudah memutuskan untuk bertobat!" jawab Keanu, "tapi kalau untuk melihat - lihat boleh lah yaa! Hahahah!" tawa kencang Keanu.
"Yakin hanya melihat - lihat?" tanya Devan mengangkat beberapa kali alisnya.
"Tentu saja! aku tidak akan mengkhianati istriku!" jawab Keanu, "lagi pula aku sudah bosan membuangnya sembarangan!"
"Hahahaha!" Devan tertawa keras dengan istilah yang di lontarkan Keanu. "Apa istrimu tau, kalau kau masih suka lihat - lihat?"
"Tentu saja tidak!" jawab Keanu cepat. "Aku akan bilang ada meeting! kalau dia tau bisa gawat! dia jauh lebih buas dari macan liar!"
"Hahaha! seorang Keanu takut dengan istri rupanya!"
"Lagi pula ada hal penting lain yang harus aku selesaikan!"
"Oh ya?"
"Iya!" jawab Keanu, "ini sangat penting!"
"Jangan ragu untuk meminta bantuan ku!" ucap Devan, "jika anda memang membutuhkan!" lanjutnya.
"Hahaha! tentu saja!" jawab Keanu, "tapi ini sangat sensitif, cukup keluarga saja yang tau!"
Devan mengangguk paham.
"Aku pergi dulu, kau harus menikmati pesta mu nanti malam Tuan Casanova muda!" ucap Keanu menepuk pundak Devan.
"Aku akan menyusul mu untuk bertobat Tuan Senior!"
"Good!" sahut Keanu.
Flashback Off . . .
Apa mungkin Yossy anak Keanu?
Apa mungkin masalah Keanu adalah hilangnya Yossy?
Pantas saja aku tidak asing dengan seragam pengawal itu!
Apa yang harus aku lakukan?
Aku tidak ingin Keanu mengambil Yossy dariku!
Aku rasa aku mulai menyukai Yossy!
Bagaimana kalau Keanu menolak memberikan Yossy untukku!
Sepertinya aku harus mengikat Yossy terlebih dahulu! dia adalah kunci untuk utama ku!
Aku harus membuat Yossy tidak mau menjauh dariku!
Yossy! aku harus mendapatkan mu!
Apa yang akan di lakukan Devan untuk membuat Yocelyn tetap bersamanya?
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya. Juga dukungannya ya kakak.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.