
Keesokan harinya . . .
Devan kembali mengantar Yocelyn ke kampus.
"Belajar yang rajin!" ucap Devan mencium kening Yocelyn singkat.
"Siap Sayang!" mengangkat tangan kanan hormat pada Devan yang menyandarkan pantatnya di badan mobil.
"Yaudah, masuk gih!" ucap Devan menunjuk gerbang kampus dengan sedikit menggerakkan dagunya.
"Okey!"
Cup!
Yocelyn mencium sekilas pipi Devan. Spontan Devan tersenyum akan hal itu.
"Bye, Sayang!" ucap Yocelyn sambil melangkah menuju gerbang kampus.
"Bye!" jawab Devan sembari melambaikan tangan singkat.
Devan terus menatap punggung Yocelyn yang sudah memasuki area kampus.
Sliipp
Secepat kilat tiba - tiba ada yang merangkul lengan kiri Devan yang tengah fokus mengawasi istrinya.
"Siapa kamu! lepas!" hardik Devan.
"Tuan Devan lupa?" tanyanya tanpa melepas tangannya yang melingkar di lengan Devan.
"Lepas!" Devan menarik tangannya dengan kasar.
Gadis itu melepas dengan terpaksa, dia juga takut jika Devan marah.
"Dulu kita sering ketemu di klub! tapi sudah lama Ayra tidak melihat Tuan Devan di sana! Tau - tau muncul di sini bersama Yocelyn. Bahkan dia bilang kalian sudah menikah!" ucap Ayra. "Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Ayra penasaran.
"Bukan urusan mu!" jawab Devan berbalik dan hendak berlalu dari tempat itu.
Namun dengan cepat Ayra mengejarnya dan menahan tangan Devan.
"Jawab dulu Tuan!"
"Ck!" Devan berdecih kesal. "Ya! aku sudah menikah dengan Yocelyn!" jawab Devan dengan nada tegas dan kesal.
"Kenapa Tuan menikah dengan Yocelyn? bahkan saat aku belum dapat kesempatan untuk berkencan dengan Tuan Devan!" ucap Ayra.
"Apa urusanmu!" jawab Devan cuek sembari kembali berjalan ke arah pintu kemudi.
"Tuan! bagaimana kalau kita berkencan sekarang!" tawar Ayra mencegah Devan untuk membuka pintu.
"Apa kau yang di maksud Yocelyn teman baru?" tanya Devan tanpa menjawab ajakan Ayra.
"Teman baru?" Ayra mengerutkan keningnya.
"Ya!"
"Emm.. kami sudah satu kelas sejak semester satu! hanya saj kemarin kami baru bisa mengobrol!" jawab Ayra.
Devan hanya menggelengkan kepala menatap jengah pada gadis yang ternyata bedebah untuk istrinya.
"Ingat!" ucap Devan dengan nada dingin dan tegas. "Istriku menganggap mu sebagai teman baik! kalau kau berani mengkhianatinya, itu artinya kau berurusan dengan ku!" ancam Devan dengan nada yang sangat seram. "Kalau kau memang mengenalku, tentu kau tau apa yang bisa aku lakukan!"
Ayra menelan ludahnya dengan sangat susah. Suara Devan terdengar sangat angker di telinganya.
"Minggir!" bentak Devan menyingkirkan Ayra yang menghalangi pintunya.
Ayra pasrah, dia menyingkir tanpa protes lagi.
Sementara Devan langsung melajukan mobilnya meninggalkan Ayra yang menatap mobilnya seperti gadis bodoh.
__ADS_1
"Dasar nekat!" ucap seseorang dari arah belakang Ayra.
Ayra menoleh ke arah sumber suara sekilas, lalu kembali menatap mobil Devan yang semakin jauh.
"Aku benar - benar mengidolakan pria itu!" ucap Ayra tanpa menoleh Cleo yang sudah berdiri di sampingnya.
"Jangan mimpi kamu!" ucap Cleo, "apa kamu tidak melihat, kalau jelas Tuan Devan itu terlihat sangat mencintai Yocelyn! sorotan mata seseorang tidak bisa bohong, Ra!"
Ayra hanya menyilangkan tangan di dadanya mendengar ocehan Cleo.
"Kau juga menginginkan Tuan Devan kan?"
"Tentu saja! aku tidak munafik!" jawab Cleo cepat. "Tapi dia sudah menikah, aku tidak mau jadi pelakor! walau hanya sekedar coba - coba!"
"Ck!" Ayra berdecih, "kalau aku berhasil mendapatkan Tuan Devan walau hanya semalam, kau pasti mau mencobanya kan?" ucap Ayra dengan nada menyindir.
"Gila kamu!" seru Cleo. "Lagi pula kamu pasti kesulitan mendekatkan Tuan Devan! dulu saja kau kesulitan, apa lagi sekarang! sudah beristri! Sangat tidak mungkin!"
"Tidak ada yang tidak mungkin baby!" ucap Ayra mentoel sekilas dagu sahabatnya itu.
"Semboyan sejak nenek moyang! nyatanya sampai sekarang tidak ada hasil!" sindir Cleo.
"Jangan membuat aku patah semangat dong Cleo ku sayang!"
"Aku hanya bicara seadanya, Ayra sayang!"
"Dah, ah! ayo masuk!" ucap Ayra menarik tangan Cleo.
Kedua gadis yang bersahabat sejak SMA itu memasuki gerbang kampus. Dan langsung menuju kelasnya, dimana itu adalah kelas yang sama dengan Yocelyn.
# # # # # #
"Yocelyn di antar suami lagi?" tanya Lolita.
"Iya" jawab Yocelyn dengan senyumannya.
"Boleh dong!"
"Apa benar suami kamu itu casanova?"
"Dulu iya! tapi sejak bersama ku dia bilang sudah tobat! hehe!" jawab Yocelyn.
"Kamu yakin?"
"Aku percaya dengan suamiku!"
"Hemm!" Lolita mengangguk.
Semoga benar! laki - laki itu bukan lagi casanova!
Ucap Lolita dalam hati.
"Halo Yocelyn, halo Lolita!" sapa Ayra dari arah pintu.
"Hai!" jawab Yocelyn dan Lolita bersamaan.
Dua gadis yang baru masuk itu langsung duduk di bangku mereka yang berada di belakang Yocelyn dan Lolita.
Ayra sedikit menundukkan kepalanya untuk bisa berbicara dengan Yocelyn.
"Yocelyn? tadi kamu di suami kamu lagi?" tanya Ayra pura - pura tidak tau.
"Iya" jawab Yocelyn sembari mengangguk.
"Wah, casanova bisa romantis juga ya? tiap hari antar jemput istrinya!" ucap Ayra.
Cleo menyebikkan bibirnya heran dengan nada bicara Ayra. Karena dia tau maksud ucapan sahabatnya itu.
"Bukankah memang laki - laki yang terbiasa dengan wanita pasti tau cara bersikap romantis?" ucap Yocelyn.
__ADS_1
Spontan Ayra mengangkat kepalanya. Merasa malu mendengar jawaban Yocelyn yang di luar ekspektasinya.
"Iya juga ya!" jawab Ayra salah tingkah.
"Haha!" Cleo tergelak kecil. Niat hati untuk menertawai Ayra yang melontarkan kalimat bodoh.
Yocelyn kembali berbalik menghadap depan. Dia ingat dengan penuturan suaminya kemarin. Kalau teman itu ada banyak macamnya. Dan kini seperti nya dia mulai tau mana yang teman dan mana yang lawan.
Tapi Yocelyn yang memang memiliki dasar gadis yang baik, tidak berniat untuk menjauhi Ayra dan Cleo. Dia akan bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
# # # # # #
Devan menuju kantornya setelah mengantar Yocelyn. Devan langsung duduk berhadapan dengan Christ.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan kan Christ?"
"Tentu, Tuan!" jawab Christ.
"Hemm!" Devan mengangkat kedua alisnya pertanda puas dengan kinerja Christ yang cepat dan selalu tepat.
Christ berselancar dengan gadget yang ada di tangannya. Sampai beberapa saat berlalu dia mulai menyunggingkan senyum.
"Gadis itu bernama Ayra Wilson. Dia bersahabat dengan Cleo Angelia. Ayra ternyata gadis yang sering menanyakan tentang Tuan di klub biasa! Klub milik Tuan Erastus!"
"Hmm!" Devan mengangguk sambil mengingat - ingat siapa yang sering muncul di matanya saat berada di klub itu.
"Dan Ayra Wilson tercatat pernah kencan dengan Erastus selama satu bulan, Tuan!" ucap Christ.
"Wow! satu bulan bersama Erastus, apa jadinya dia?" ucap Devan dengan gelak tawanya.
"Pasti keluar dari apartemen Tuan Erastus sudah tidak berbentuk! Tuan Erastus kan terkenal gila di atas ranjang! haha!" sahut Christ yang tak mampun menahan tawa di depan bosnya. "Seperti itu masih berani mendekati Tuan!"
"Tapi pasti dia dapat milyaran!"
"Sepertinya begitu bos!" jawab Christ.
"Lalu?"
"Dia memang gadis pengincar pria - pria tajir!"
"Oh!" Devan paham.
"Dan jika tadi Ayra terlihat mendekati Tuan, saya yakin dia sekarang mencoba menghasut Nona Yocelyn!"
"Aku tau itu!"
"Kirimkan saja pengawal untuk menjaga istriku dari jarak aman!" perintah Devan.
"Baik, Tuan!" jawab Christ kembali menghubungi pengawal yang bertugas untuk mengikuti Yocelyn selama bersama teman - teman barunya.
"Berikan juga pengawasan pada gerak gerik gadis bernama Ayra itu!"
"Siap Tuan!"
.
.
.
.
.
***Happy reading 🌹🌹🌹***
__ADS_1