
Suara desahan saling bersahutan memenuhi room hotel tempat dimana dua anak manusia berbeda jenis saling bergelut dalam permainan panas yang mereka ciptakan. Suasana kamar yang Ber-AC sepertinya membuat kamar itu bukannya dingin, tapi malah semakin memanas.
Disana diatas ranjang yang sudah tidak berbentuk, seorang wanita sangat cantik dengan postur tubuh bak gitar spanyol nampak asik menggeliatkan tubuhnya kesana kemari karena perlakuan nakal pria yang saat ini sedang memainkan semua yang ada ditubuhnya.
"Ahh..faster lex." Serunya dengan nafas yang naik turun.
"Ok Baby..." Sahut sang pria dengan seringaian diwajahnya.
"Baby, kau sangat menggairahkan sekali." Serunya lagi dengan nafas memburu.
"Lex.." Pekiknya dengan tangan yang meremas kuat pundak sang pria.
"Bareng sayang."
Lalu keduanya merasakan tubuh yang sama sama bergetar hebat bersamaan dengan keluarnya larva panas yang membanjiri area sensitif keduanya.
Pria itu tumbang diatas tubuh sang gadis dengan nafas yang tersengal sengal. Lalu beberapa detik kemudian dia berguling disamping sang gadis dengan wajah yang menyiratkan kepuasan.
"Seperti biasa kau sangat memuaskan sayang." Bisiknya mesra ditelinga gadis itu.
Aira, gadis itu hanya mengulas senyum tipis yang menghiasi wajahnya yang sangat cantik. Senyuman yang selalu menghipnotis Alex sang pria yang saat ini memiringkan badannya menatap wajah gadis itu.
"Ra.." Panggilnya lirih.
"eemm."
"Sudah kau pikirkan apa yang aku katakan kemaren ?"
"Ehmm.."
"Ra." Panggilnya lagi, kini dengan suara yang agak meninggi, pasalnya pria itu merasa kesal dengan jawaban sang gadis yang hanya berdehem saja.
Aira hanya menghela nafas kasar, menghadapi sikap Alex membuatnya sangat frustasi. Berkali kali pria itu menginginkannya untuk menjadi istrinya. tapi berkali kali pula Aira selalu menolaknya.
"Lex aku sudah bilang bukan aku tidak ingin terikat dengan siapapun. Cukup kau menjadi pelanggan ku dan aku siap melayanimu. Karena itu memang sudah tugasku."
"Tapi Ra, aku mencintaimu."
"Maaf aku nggak bisa Lex."
"Kenapa Ra ? Apa kau masih mencintai mantan suamimu yang brengsek itu ?"
Aira tersenyum getir, kenyataannya dia memang masih mencintai Sean, mantan suaminya. Pria yang sudah tega membuat hidupnya hancur dalam sekejap. Namun rasa bencinya mengalahkan rasa cintanya pada Sean.
__ADS_1
"Aku membencinya Lex, kau tahu karenanya aku sampai menjadi p****r seperti ini."
"Lalu apa yang membuatmu ragu ?"
Aira menatap wajah Alex dengan tatapan nanar, pria yang berstatus sebagai pelanggan tetap nya itu sekaligus mantan sahabat Sean.
"Hatiku sudah hancur berkeping keping Lex, dan aku sudah mati rasa dengan lelaki manapun. Aku tidak ingin menyakitimu, maka dari itu jangan memaksaku lagi atau aku akan pergi jauh darimu." Ucapnya lirih dengan kepala yang tertunduk.
Alex menghela nafas berat, ditatapnya gadis didepannya dengan perasaan iba. Andai dia dulu yang pertama bertemu dengan Aira sudah pasti saat ini dia sudah membahagiakan gadis itu. Andai bukan Sean yang lebih dulu bertemu dengan Aira. Andai saja..
Aira bergerak turun dari ranjangnya, setelah beberapa saat menetralkan perasaannya yang sedikit terbawa arus.
"Mau kemana ?" Tanya Alex dengan memegang lengan kecil nan mulus itu.
"Aku harus kuliah Lex, ada mata kuliah satu jam lagi, jika terlambat sedikit saja, aku khawatir nanti skripsiku tidak diterima."
"Aku akan mengantarmu." Sahut pria itu cepat, lalu menyusul langkah Aira menuju kekamar mandi.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah rapi kembali lalu bergegas keluar dari kamar hotel menuju mobil Alex diparkir. Tidak membutuhkan waktu lama, Alex sudah sampai didepan gerbang kampus jurusan arsitek. Kampus tempat Aira menimba ilmu saat ini.
"Thanks Lex." Senyum gadis itu merekah dibibirnya yang merah delima.
"Hati hati, aku sudah mentransfernya ke rekening mu. Gunakan lah uangmu untuk membayar biaya kuliahmu semester ini, aku tahu kau belum membayarnya."
"Makasih Lex."
"Pergilah." Sahut Alex sendu.
Alex menatap sendu punggung gadis itu yang semakin jauh dari pandangannya. Mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya. Hatinya menggeram saat dia mengingat bagaimana perlakuan buruk sahabatnya itu pada gadis yang saat ini sudah mulai masuk kedalam gedung tersebut.
Sean, kau membuang sebongkah berlian yang begitu berharga, tanpa kau sadari begitu banyak peminat yang ingin mendapatkannya. Aku harap saat ini kau tidak menyesali tindakanmu itu.
***
Langkah kaki yang begitu anggun itu masuk kedalam ruangan kelas yang begitu luas. Aira mengedarkan pandangan matanya menyapu seluruh ruangan mencari sosok yang sedari tadi tidak dia temui.
"Cari siapa bu." Pekik sebuah suara cempreng mengagetkan dia dari arah belakang, sontak gadis itu memegang dadanya yang seakan mau copot.
"Astaga Za kau membuatku kaget tahu nggak, mau aku mati ya." Ketus Aura memasang wajah kesal.
Jiza Azzahra, gadis bersuara cempreng itu hanya meringis kecil melihat wajah kesal sahabatnya. Dengan senyuman jahil yang tiada putus dari bibirnya, gadis itu melangkah masuk mendahului Aira, dengan diikuti pandangan kesal.
"Ra, kau tahu nggak."
__ADS_1
"Nggak."
"Ih..Ra serius ini."
"Ya emang nggak tahu."
"Raaa.."
"Jiza sayang, gimana aku mau tahu jika kamu saja belum bilang apa apa padaku coba."
"Iya..ya..hehehe." Sahutnya dengan cengiran diwajahnya.
"Sekarang katakan dengan jelas, kau itu ingin mengatakan apa padaku."
"Hehe..itu kau tahu Pak Gio dosen killer kita ? Dia akan segera pindah kekota lain, dan sebentar lagi kita akan bebas dari dosen killer itu." Ucapnya dengan wajah sumringah.
"Lalu ? Bukankah itu bagus ? Trus kenapa wajahmu terlihat sangat bahagia gitu."
"Hehhe..sebenarnya bukan masalah pak Gio yang mau pindah yang bikin heboh."
"Trus ?" Kening gadis itu sampai berkerut karena ucapan Jiza yang setengah setengah.
"Yang bikin heboh seisi kampus ini karena kabar tentang pengganti pak Gio ini. Kabarnya anak pemilik kampus ini akan menggantikan posisi pak Gio sebagai dosen mata kuliah kita yaitu arsitek."
"Oo.."
"Ih..Aira kenapa ekspresimu itu biasa saja sih." Sahut Jiza kesal.
"Lah trus aku harus bagaimana ? Bukankah biasa saja ya jika seorang dosen itu silih berganti datang dan pergi."
"Iya aku tahu, tapi yang ini beda Ra."
"Apanya yang beda Za ?"
"Dosen yang ini sangat tampan tahu, banyak gadis yang tergila gila padanya."
"Termasuk kamu ?"
"Hehe iya sih, aku juga mengidolakannya Ra." Senyum malu malu terukir dibibir Jiza. " Aku terpesona saat pertama kali melihatnya. Kemaren saat kamu nggak masuk, dia datang kekampus ini untuk memperkenalkan diri. Dia benar benar sangat tampan Ra. Kalo nggak salah namanya Se.."
"Selamat siang."
Tiba tiba suara Pak Gio memutuskan ucapan Jiza yang sebentar lagi akan keluar dari bibirnya. Seketika suasana berubah hening dan senyap. Semua siswa nampak mengikuti pelajaran sang dosen killer dengan khidmat. Tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara berisik nya, mereka tidak ingin menerima akibat yang pasti akan membuat nilai mereka menjadi merah.
__ADS_1
BERSAMBUNG..