
Hening
Suasana itulah yang saat ini terjadi didalam mobil mewah milik Bian, tidak ada satupun dari keduanya yang ingin mengeluarkan suaranya. Keduanya larut dalam angan dan pikirannya masing masing. Cleo yang enggan mengatakan apapun pasalnya dia masih kesal dengan sikap pemaksa pria itu, lagipula bukankah selama ini dia selalu membencinya ? Selalu menganggap jika keberadaannya adalah pembawa sial untuknya.
Sementara Bian sendiri merasa bimbang, hatinya bertanya kenapa dia bisa bersikap seperti itu pada Cleo. Bukankah selama ini dia membenci gadis ini, oh ayolah bahkan satu sisi dia menginginkan Cleo keluar dari mobilnya, tapi sisi hati lainnya mengharapkan gadis itu untuk selalu bersamanya.
Bian menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bisikan bisikan aneh yang terus berperang dikepalanya. Alam bawah sadarnya kembali, dia begitu membenci gadis ini. Tapi lagi lagi sudut hatinya yang lain mengatakan bahwa dia sangat menginginkan Cleo.
"Apa kau tidak bisa bicara ? Dari tadi kau selalu diam saja." Ujarnya pada gadis disamping dia yang selalu membisu semenjak masuk kedalam mobilnya, bahkan pandangan gadis itu selalu melihat keluar jendela mobil.
"Hei." Sapanya lagi saat gadis itu masih saja diam. "Cleo."
Cleo sendiri hanya melirik sekilas lalu kembali mengalihkan pandangan matanya keluar jendela menatap gedung gedung tinggi yang seolah nampak sedang berlarian. Dia benar benar menjaga jarak dan membatasi dirinya dengan benteng yang begitu tinggi, dia tidak ingin kembali larut ataupun terperangkap lebih dalam pada pesona Bian.
Ckiiitttttttt
Gadis itu terpelantuk kedepan saat Bian dengan mendadak menginjak pedal remnya, membuat kepala Cleo hampir saja terpentok dashboard mobil, untung saja saat ini dia tidak lupa untuk memakai safety belt.
"Apa kau ingin membunuhku ?" Pekiknya ketus dengan mata yang membola.
"Kalau iya kenapa ? Kau keberatan jika mati bersamaku." Jawabnya tidak kalah ketus.
"Jelas keberatan lah, kalau kau mau mati, mati aja sendiri jangan mengajak aku. Aku masih mau hidup lagipula aku masih belum mendapatkan pacar."
"Apa kau bilang !" Kedua mata Bian melotot seakan ingin melompat keluar. "Kau mau mencari pria lain untuk kau jadikan pacar hah."
"Kalau iya kenapa hah, lagian itu juga bukan urusanmu."
"Beraninya kau." Geramnya lalu menarik lengan gadis itu hingga membuat jarak diantara keduanya menipis. "Aku tidak akan pernah membiarkan pria lain untuk memilikimu Cle, awas saja jika kau berani melakukan hal itu, akan aku pastikan laki laki itu tidak akan selamat dariku." Ancamnya dengan memandang lekat wajah cantik Cleo.
__ADS_1
"Apa maumu kak ? Tolong jangan membuatku menjadi bingung dan baper dengan perasaanku sendiri. Tolong jangan membuatku menyalah artikan sikapmu ini padaku. Aku tidak ingin terlalu jauh larut dalam jeratmu kak, please" Ucapnya dengan suara lirih dan mata yang mengunci mata elang didepannya itu.
Cekalan ditangan gadis itu perlahan mengendur dan berganti dengan pria itu yang meraup wajahnya dengan kasar. Bian sendiri merasa bingung kenapa dia melakukan hal ini pada Cleo, gadis yang selama ini dia benci, bahkan gadis itu sendiri tidak mengetahui alasan kenapa dia membencinya.
"Maaf."
Cleo tersenyum hambar, menghadapi pria yang membuat hatinya merasa lelah. Ya, lelah. Dia sudah lelah dengan semuanya, dia lelah mencintai Bian, bahkan dia juga lelah menunggu pria itu membuka pintu hati untuknya.
"Tolong buka pintunya, biarkan aku naik taksi dari sini."
Bian menggeram, matanya menatap tajam wajah cantik yang duduk disebelahnya.
"Aku akan mengantarmu."
"Kak tolong jangan mempersulitku, aku mohon." Pintanya dengan tatapan mengiba, bahkan dia sampai harus memanggil kembali pria itu dengan panggilan kakak seperti biasanya.
Tanpa menjawab dan memperdulikan tatapan mengiba gadis itu, Bian malah menancap laju pedal gas mobilnya dengan kencang. Membuat Cleo hanya bisa pasrah dan kembali diam, rasanya percuma saja dia memohon pada pria pemaksa disebelahnya ini.
Gadis itu tersenyum getir, bahkan sekedar untuk menjawab pertanyaannya saja Bian enggan melakukannya. Kini keputusannya untuk move on dan melupakan pria ini semakin kuat.
Sabar Cle, kamu hanya butuh 3 bulan saja, selama itu kamu harus benar benar menguatkan hatimu menghadapi manusia menyebalkan yang sayangnya sangat kau cintai ini. Gumamnya dalam hati.
Mobil yang dikendarai Bian dan Cleo sudah sampai dipelataran parkir kantor BA, Group. Cleo bergegas membetulkan pakaiannya yang sedikit kusut dan juga wajahnya yang disana terdapat jejak airmatanya tadi. Dia tidak ingin menimbulkan spekulasi buruk para karyawan lain tentangnya. Bagaimanapun dia adalah karyawan magang dan ini juga pertama kalinya dia masuk kerja. Setelah dirasa cukup, gadis itu lalu meraih handle pintu mobil yang masih terkunci.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya Tuan, tolong buka pintunya karena saya sudah benar benar terlambat." Pintanya lirih tanpa berpaling pada Bian.
Pria itu masih mematung dengan pandangan matanya tertuju kearah depan. Entah apa yang dia pikirkan saat ini yang pasti dia sedikit tidak rela jika Cleo harus turun dari mobilnya.
"Tuan, kumhon jangan mempersulit saya."
__ADS_1
Bian tersentak mendengar nada suara Cleo yang sedikit tinggi, hingga tanpa sadar karena saking kagetnya membuatnya menekan tombol kunci on/of untuk membuka pintu mobil.
Cklek
"Terima kasih Tuan, saya undur diri, maaf jika sudah merepotkan anda." Pamitnya dengan bahasa formal, namun kemudian gadis itu menghentikan gerakan kakinya yang hampir menyentuh tanah dan mengucapkan sesuatu yang membuat detak jantung Bian terasa berhenti berdetak.
"Selebihnya saya berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi, jikapun kita harus bertemu anggap saja kita seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Dan jika suatu hal yang mengharuskan kita bersama saya ingin kita hanya mengenal tidak lebih dari sekedar atasan dan bawahan saja. Bahkan jikapun saya terluka dan sedang dekat dengan anda, saya mohon anda jangan menolong saya, jangan perduli pada saya. Anggap saja anda tidak mengenal saya dan anda bisa langsung pergi menjauh dari saya. Saya permisi Tuan Muda."
Brakk
Pintu mobil tertutup sempurna saat Cleo sudah keluar dari mobil tersebut, meninggalkan Bian yang masih terdiam meresapi maksud dari kata kata Cleo tadi. Bibirnya menggeram saat dia memahami maksud ucapan Cleo dan juga keinginan gadis itu yang diartikan supaya dia menjauhi gadis itu didalam kondisi dan situasi apapun.
"Shitt."
Geramnya sambil memukul stir mobilnya dengan keras hingga menimbulkan bekas kemerahan ditelapak tangannya yang putih. Dengan emosi yang membara, Bian akhirnya memutar balik mobilnya dan melajukannya menuju kantor kakak sepupunya.
Sementara dibalik tiang tembok Cleo menatap kepergian mobil Bian dengan tatapan sendu. Sesekali gadis itu mengusap airmatanya yang terus mengalir.
"Maafkan aku, tapi aku tidak ingin terlalu larut tenggelam dalam jeratanmu kak, Aku hanyalah gadis pembawa sial dan selamanya akan tetap seperti itu."
TBC
__ADS_1