
Ganendra Hospital
Kegemparan terjadi dirumah sakit milik keluarga Ganendra saat mengetahui jika Aira tidak ada didalam kamar rawatnya. Kepanikan yang bercampur rasa takut membuncah keluar hingga membuat wajah para perawat dan dokter disana pucat pasi.
"Bagaimana bisa kalian teledor seperti ini hah. Aira tidak ada dikamarnya dan kalian semua tidak tahu, lalu apa pekerjaan kalian selama ini hah." Suara teriakan Sean melengking diruangan tersebut, bahkan terlihat seorang dokter yang nampak terduduk dilantai karena terkena bogeman mentah dari pria tersebut.
Sean begitu murka, baru beberapa menit yang lalu dia keluar dan saat kembali dia mendapati ruangan Aira nampak kosong. Tadinya dia pikir gadis itu sedang ada didalam kamar mandi, tapi begitu melihat tetesan darah yang tercecer dilantai, seketika membuat tubuhnya menegang.
Klek
Pintu terbuka dan muncul wajah Alex dan Jiza dibelakangnya. Pria itu mengrenyit bingung melihat keberadaan sean didalam kamar ditambah dengan wajah kusut pria itu.
"Ada apa ? Kenapa kamu disini Se." Ketusnya.
Sean menghela nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan kejadian perginya Aira.
"Apa !" Teriak Alex terkejut setengah mati, lalu pria itu berjalan cepat menuju Sean dan tiba tiba..
Bugh
Bugh
"Apa yang kamu lakukan sampai Aira melarikan diri bedebah." Umpat Alex dengan mata yang memerah.
"Aku tidak melakukan apapun Lex." Ucap Sean dengan wajah pucat pasi.
"Aku tidak percaya sama sekali, mengingat bagaimana sikapmu selama ini." Ketusnya lagi lalu mendorong keras tubuh Sean hingga membuat pria itu terhuyung kebelakang.
"Aku akan memeriksa cctv diruangan ini, jika saja sampai aku tahu kalau penyebab larinya Aira itu karenamu, maka bersiaplah Se, aku tidak akan pernah mengampunimu." Sarkasnya dengan kilatan mata memerah.
Alex langsung meraih ponselnya yang memang terhubung dengan sebuah layar monitor yang dia pasang beberapa saat yang lalu sebelum dia pergi. Membuat Sean semakin pucat pasi. Dia tahu kepergian Aira pasti karena kedatangan dirinya dikamar tersebut.
Alex benar benar merasa geram saat melihat rekaman cctv yang menampilkan bagaimana histerisnya Aira saat Sean masuk kedalam ruangan dimana Aira dirawat. Terlihat jelas bagaimana menderitanya gadis itu. Bahkan terlihat jika gadis itu sampai pingsan.
__ADS_1
Dan Alex juga melihat Aira yang keluar dari kamar dengan langkah yang tertatih tatih dan darah yang menetes dipergelangan tangannya.
"Kamu memang benar benar pria brengsek Se." Pekiknya lalu berlari menuju Sean hendak memukulnya kembali. Namun niatnya terhenti saat tangan kekar milik Tuan Andre mencekal tubuhnya.
"Alex ! Apa yang terjadi ? Kenapa kamu memukul Sean ?"
Alex melepas kasar cekalan Tuan Andre, lalu mendengus kasar.
"Tanya pada anak om sendiri, apa yang sudah dia lakukan sampai Aira pergi dari rumah sakit ini."
"Apa ! Aira pergi, bagaimana bisa." Pekik Tuan Andre kaget setengah mati.
Alex tersenyum miring, lalu memberikan cuplikan video dimana Sean yang masuk kedalam ruangan Aira.
Tuan Andre yang melihat itu tentu saja emosinya kembali tersulut. Sementara Nyonya Silvi nampak menutup mulutnya dengan airmata yang sudah berderai.
Sementara Jiza, jangan ditanya bagaimana keadaan gadis itu. Tentu saja gadis itu begitu syok dan terkejut. Tubuhnya bahkan sudah merosot jatuh kelantai, mendapati sahabatnya pergi meninggalkan dirinya.
Ara, kamu dimana ? kenapa kamu pergi ninggalin aku Ra.
"Apa dosa papa dan mama sampai akhirnya bisa melahirkan seorang pria brengsek dan berhati iblis seperti dirimu Sean. Ini semua salah papa dan mama yang begitu memanjakanmu dari kecil sampai kamu tidak bisa membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk.
Papa terlalu terbuai dengan sikap papa yang begitu menyayangimu, sampai pada akhirnya justru rasa sayang kami yang malah membuatmu berubah seperti monster.
Papa sudah gagal menjadi orangtua yang tidak bisa mendidik putranya. Papa gagal Se..papa gagal." Ucapnya dengan tatapan sendu kearah Sean.
"Pa.." Panggil Sean dengan wajah penuh penyesalan.
Tuan Andre tidak mengindahkan panggilan Sean, pria itu berbalik dengan hati yang hancur. Kegagalan dalam mendidik putra semata wayangnya membuat hatiku patah dan hancur berkeping keping. Hingga kemudian dia merasakan dadanya terasa nyeri dan sesak, dan beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk kelantai dengan begitu kerasnya.
"Papa !!!" Teriak Nyonya Silvi histeris menyaksikan bagaimana suaminya jatuh pingsan didepan matanya.
Begitu juga dengan yang lainnya, tidak terkecuali Sean. Pria itu hendak berdiri menolong papanya, namun tatapan tajam mamanya membuatnya urung mendekat.
__ADS_1
"Jangan mendekat, puas kamu sudah membuat papamu seperti ini hah. Apa salah kami Sean sampai kamu tega berbuat seperti itu." Hardik Nyonya Silvi dengan deraian airmata mengalir deras. dipipinya.
"Ma.." Panggilnya lirih dengan suara tercekat.
Nonya Silvi memalingkan wajahnya lalu bergegas menyusul langkah dokter dan perawat yang sudah membawa lari suaminya untuk segera diberikan pertolongan pertama.
Maafkaan aku ma. Sungguh aku sangat menyesal.
Sean ambruk dilantai dengan perasaan yang hancur, diabaikan oleh mamanya bahkan sekedar memandangpun mamanya enggan seakan merasa jijik. Pria itu menangis tersedu sedu dengan penyesalan yang begitu mendalam dihatinya.
"Maaf pa..maafkan Sean." Lirih pria itu berucap dengan dibumbui isakan disetiap tangisannya.
"Tiada guna kau menangis tuan Sean yang terhormat. Tangismu tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan seperti menjadi seperti semula. Jika saja kau menuruti ucapan kedua orangtuamu untuk tidak muncul terlebih dahulu dihadapan Aira, mungkin saat ini Aira masih ada disini, dan mungkin juga papamu tidak akan pernah terkena serangan jantung." Ketus Jiza sembari menatap jijik pada dosennya itu.
Sean tergugu, apa yang diucapkan gadis itu memang benar. Seandainya dia bisa menahan diri sedikit saja, mungkin kejadian hari ini tidak akan pernah terjadi. Aira tidak akan pergi, papanya akan baik baik saja, dan juga mamanya tidak akan pernah menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Nyonya Silvi menatap tubuh suaminya yang terbaring lemah dengan berbagai peralatan rumah sakit yang menempel diseluruh tubuhnya. Dokter masih berusaha memberikan pertolongan pertama. Dan wanita paruh baya itu menunggu diluar ruangan dengan harap harap cemas.
"Tante tenanglah, om Andre akan baik baik saja." Ucap Alex mencoba memberikan ketenangan pada wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya itu.
"Tante takut Lex sungguh sangat takut. Dia tidak mempunyai riwayat penyakit berbahaya itu, lalu bagaimana bisa dia..astaga Ya Allah...tolong selamatkan suami hamba."
Alex ikut sedih melihat bagaimana rapuhnya wanita yang masih yerlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi itu. Dengan lembut Alex membawa tubuh Nyonya Silvi kedalam pelukannya yang langsung membuat wanita itu menumpahkan tangis yang sedari tadi dia tahan.
"Tante takut Lex, sungguh sangat takut. Hanya dia yang tante punya saat ini."
"Om Andre akan baik baik saja tante, tenanglah. Tidak akan terjadi sesuatu padanya." Hibur Alex pada Nyonya Silvi.
Klek
Pintu terbuka dan muncul wajah seorang dokter dengan raut muka kusutnya. Jelas helaan nafas panjang keluar jelas dari hidungnya.
"Bagaimana suami saya dokter." Seru Nyonya silvi dengan tatapan mata sayunya.
__ADS_1
"Tuan..."
TBC