Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Pria pemaksa


__ADS_3

Hah


Lagi, untuk kesekian kalinya helaan nafas kasar kembali gadis itu keluarkan saat dirinya sudah berada didepan pintu ruangan Presdir. Pasalnya dia tahu jika didalam sana  ada sosok orang yang sangat dia hindari keberadannya. Namun dia tidak sadar sejauh apapun dan sekuat apapun dia menghindar jika author sudah berkehendak, maka tidak ada saupun didunia ini yang mampu melawannya.


Akhirnya dengan segenap keberanian yang sudah susah payah dia kumpulkan, Cleo memutuskan untuk masuk dan menghadapi sesuatu yang mugkin nanti akan terjadi padanya. Entah itu tatapan sinis Bian ataupun makian dari laki laki itu.


TOK


TOK


TOK


"Masuk."


Cleo menarik handle pintu dan langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam begitu suara sang Presdir terdengar dan menyuruhnya masuk. Dan benar saja hal pertama yang dia dapatkan saat masuk kedalam adalah tatapan sinis Bian yang seakan ingin menelannya hidup hidup.


Cleo berusaha menampilkan senyum ramahnya walaupun dia rasa sulit.


"Permisi Tuan, sudah waktunya untuk pergi meeting."


"Ah iya Cle, terima kasih sudah mengingatkanku. Ayo kamu juga siap siap, Om akan menunggumu didalam mobil."


"Baik Tuan." Jawabnya sembari membungkukkan tubuhnya, bersikap formal pada atasannya.


"Pa, papa yakin mau bawa dia dalam acara meeting kali ini." Ada nada tidak suka saat dia melontarkan kata kata itu.


"Loh memangnya kenapa Bi ? Dia gadis yang cerdas, dan papa yakin dia mampu membuat rekan bisnis kita nanti akan menyetujui berkas berkas kerja sama kita dengan klien kita nanti."

__ADS_1


"Bian harap apa yang papa katakan itu bisa terwujud, karena sebenarnya Bian tidak mempercayai wanita ini, apalagi dia hanyalah karyawan magang bukan ?" Matanya menatap sinis kearah Cleo.


Sementara gadis itu hanya bisa mengulas senyum simpul, walaupun didalam hatinya dia merasakan sakit karena kemampuannya diragukan oleh orang yang sialnya selain berwajah tampan orang itu adalah orang yang selama ini memenuhi ruang hatinya.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan Muda, saya pastikan kalu saya tidak akan membuat anda malu."


Bian mendengus lalu memalingkan wajahnya, moodnya hari ini langsung berubah buruk semenjak bertemu dengan gadis itu. Jika saja dia tahu kalau gadis itu magang dikantor papanya, dia tidak akan sudi menginjakkan kakinya dikantor ini.


Sementara itu Tuan Adi nampak mengernyit  bingung melihat interaksi keduanya, dia merasa janggal sepertinya telah terjadi sesuatu diantara keduanya. Pasalnya dia sangat megenal sifat dua orang ini, lagipula bukankah selama ini mereka dekat ? Kenapa justru mereka terlihat seperti dua orang yang sedang bermusuhan.


"Sudah sudah, kalau kalian berantem terus nanti kita bisa terlambat." Lerainya pada dua orang didepannya yang saling bersitegang.


Keduanya lantas diam seketika lalu bergegas beranjak dan mengikuti langkah kaki Tuan Adi, dan Cleo yang tahu diri bahwa Bian sangat tidak menginginkannya, dia menolak tawaran Tuan Adi yang memintanya untuk satu mobil dengan Bian.


Dan pria paruh baya itu tidak mengambil pusing, menuruti permintaan Cleo karena alasan gadis itu yang masuk akal. Ya, Cleo beralasan kalau dia ingin satu mobil saja dengan Tuan Adi karena dia ingin membahas sesuatu yang kurang dia pahami untuk bahan meeting nanti.


Mereka tiba di restoran mewah yang sudah dipesan oleh asisten Tuan Adi, dan langsung menuju ke privat room tempat diadakannya meeting kali ini. Setelah satu jam lamanya meeting selesai dengan disetujuinya jalinan kerja sama mereka dengan klien besarnya, Tuan Ferry yang berasal dari Singapore. Bahkan pria paruh baya itu sangat kagum dengan cara penyampaian Cleo yang sempat diragukan oleh orang yang saat ini berusaha menutupi rasa kagumnya dengan berpura pura sibuk dengan ponselnya.


"Apa tidak apa apa ? Saya tunggu saja dimobil Cle." Jawabnya, bagaimanapun Cleo sudah seperti anaknya sendiri, jadi wajar saja kalau dia merasa khawatir.


"Tidak apa apa Om, Cleo akan baik baik saja."


"Baiklah, jika butuh sesuatu langsung hubungi Om atau Cherry ya."


"Siap bos." Tegasnya sembari memberi hormat pada pria paruh baya didepannya.


Tuan Adi terkekeh lalu menepuk lembut pucuk kepala gadis itu sebelum akhirnya dia masuk kedalam mobilnya, sementara Cleo langsung berjalan masuk kembali kedalam restoran menuju ke toilet. Sudah agak lama dia menahan keinginan buang hajatnya, dan tanpa menunggu lama gadis itu langsung masuk kedalam toilet wanita.

__ADS_1


Selang sepuluh menit kemudian, dia keluar dengan wajah yang nampak lega. Rasa tidak enak diperutnya sudah menghilang, kini dia bisa bergegas untuk segera kembali kekantor. Dengan santai Cleo keluar toilet dan berjalan menuju ke pintu keluar.


"Jangan kau pikir karena kehebatanmu bisa membuatku kagum dan tertarik padamu, mungkin papa bisa kau jerat dengan tipu dayamu, tapi aku tidak. Bagiku kau tetaplah wanita pembawa sial yang selalu membuat hidupku selalu sial tiap bertemu denganmu."


Deg


Gadis itu mematung dengan jantung yang bergemuruh, ucapan menusuk yang keluar dari suara familiar itu terdengar menyakitkan ditelinganya. Cleo, lagi lagi harus kuat menahan bongkahan air hujan yang siap turun, berusaha bersikap normal seakan dia tidak perduli dengan kata kata itu, Cleo berbalik dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Terima kasih atas pujiannya tapi maaf saya tidak mempunyai maksud apapun selain murni karena tanggung jawab saya dalam menjalankan pekerjaan saya. Jika Tuan Muda keberatan dengan hal ini, anda bisa bicarakan langsung dengan Tuan Besar. Permisi saya sudah terlambat untuk kembali kekantor." Ucapnya santai lalu kembali berbalik meneruskan langkahnya.


Bian nampak mematung dengan kedua tangan yang terkepal kuat, rahangnya mengeras melihat bagaimana gadis itu tidak terpengaruh sama sekali akan kata katanya. Bahkan Cleo berkesan cuek dan acuh padanya, dan entah kenapa di sudut hatinya dia tidak menerima keadaan ini.


Bergegas disusulnya gadis itu dan setelah jarak antara keduanya berdekatan, Bian langsung menarik lengan Cleo dan membawanya menuju tempat dimana mobilnya berada.


"Apa yang anda lakukan ! Lepaskan saya." Teriak Cleo mencoba melepaskan cekalan tangannya yang terasa kuat.


"Diam dan ikut saja." Bentaknya pada Cleo, dia tidak suka Cleo berbicara formal padanya sementara saat bersama papanya gadis itu bersikap hangat dan ceria.


"Nggak, lepasin saya mau pulang sendiri."


"Kalau aku bilang diam ya diam, kalau aku bilang ikut ya ikut."


"Nggak ! Lepasin nggak, kalau nggak saya akan teriak biar anda dipukuli warga disini." Ancamnya.


"Dan jika kau lakukan itu, maka aku akan menciummu disini tepat didepan banyak orang."


Glek

__ADS_1


Cleo tercekat, yang benar saja, jika pria gila ini benar benar melakukannya tentu saja dia tidak akan pernah memaafkannya. Walaupun memang dia mencintainya tapi nggak begini juga. Melihat Cleo yang langsung terdiam Bian menyeringai penuh kemenangan. Dengan cepat dia kembali menarik lengan gadis itu yang hanya bisa pasrah dan membisu.


TBC


__ADS_2