Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Kehebohan sang Nyonya Besar


__ADS_3

Setelah satu minggu lamanya sepasang pengantin itu menghabiskan waktu berdua sebagai pengantin baru, kini keduanya sudah berada di mansion papa Adi Nugraha. Kedatangan keduanya disambut gembira oleh semua keluarga terutama sang Nyonya besar, Mira Nugraha yang terlihat sangat heboh diantara yang lainnya. Bahkan wanita paruh baya itu langsung menarik putra sulungnya itu kekamarnya dan mencercanya dengan banyak pertanyaan.


”Gimana gimana ? Sudah gol belum ? Kira kira cucu mama kapan nih lounchingnya. Nggak sia sia kan mama ngijinin kamu buat nyulik mantu mama itu.” Desaknya dengan raut wajah sok dibuat imut.


Bian menatap jengah wajah mamanya yang begitu antusias memberikan pertanyaan padanya. Bahkan dengan pedenya wanita didepannya ini mengatakan kalau dia memberikan ijin padanya untuk menculik istrinya itu. Yang benar saja, karena pada kenyataannya tadinya mamanya itu marah besar karena dia sudah membawa pergi menantunya tanpa seijin dia. Tapi karena bujukan dan alasan yang diberikan oleh abang lucknutnya tentu saja mama tercintanya itu langsung memberikan ijinnya.


”Ma,, yang benar saja dong masa iya lounching sih. Udah kayak pembuatan film aja. ” Gerutunya kesal dengan wajah jenaka.


”Alaaaah..anggap aja begitu, kan sama sama dibuat.”


”Tapi kan --”


”Udah jangan bantah, sekarang cepat katakan sama mama, kamu udah berhasil cetak gol belum ? Atau jangan jangan memang benar kamu ini nggak suka perempuan ya.” Tuduhnya sembari menelisik tubuh sang putra.


”Mama ini ! Kalau bicara suka ngawur, Bian masih normal ya ma.” Sewotnya.


”Abisnya dari tadi mama nanya ga dijawab jawab.”


”Gimana mau di jawab, lawong nanyanya aja udah kaya kereta ga mau berhenti.”


Mendengar itu membuat Nyonya Nugraha melebarkan senyumnya hingga menampilkan barisan giginya yang putih dan berjejer rapi.


”Iya ya..udah sekarang jawab deh pertanyaan mama tadi. Udah gol belum ?” Lagi pertanyaan itu kembali dilontarkan dari mulutnya.


”Udah dong, Bian.” Sombongnya sembari menepuk dadanya dan tersenyum bangga.


”Beneran ?”


”Iya ma, ga percaya amat sama anak."


Tanpa banyak kata Nyonya Nugraha langsung memeluk putranya erat setelah itu berteriak gembira memanggil sang suami.

__ADS_1


”Yeeee...papa cucu kita sebentar lagi lounching.” Teriaknya keras membahana sembari berlari keluar dari kamarnya.


Membuat Bian menepuk keningnya sendiri.


”Astaga, lounching lagi lounching lagi, jangan jangan nanti anak gue bakal dikasih nama judul lagu atau nggak judul film lagi. Hiii..ga banget deh.” Gumamnya sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang ada dikhayalannya bakal menjadi kenyataan.


Meninggalkan Bian yang masih asik dengan monolognya sendiri, kini beralih pada sang Nyonya besar yang begitu heboh hingga membuat Tuan Adi yang berada diruang kerjanya terpaksa keluar untuk melihat apa yang sudah terjadi. Namun baru saja dia membuka pintu tubuhnya terlonjak kaget hingga mundur kebelakang saat istrinya langsung menerobos masuk kedalam ruang kerjanya.


”Mama ada apa ?” Tanyanya dengan kening berkerut melihat wajah istrinya yang terlihat gembira.


”Papa tau ga ? Cucu kita bakalan lounching.” Lagi sang Nyonya menggunakan kata lounching untuk menanti kehadiran sang cucu.


”Lounching ? Maksudnya lounching ?” Masih bingung dengan maksud kata tersebut.


”Iiih....papa ga asik deh, ga gaul. Masa lounching aja ga tahu.” Sungutnya.


Tuan Adi nampak menghela nafas kasar, sifat bar bar istrinya memang tidak pernah bisa hilang walau istrinya itu sudah berumur.


”Papa tau ma, cuma yang papa ngga ngerti itu launching gimana ?” Ucapnya dengan sabar walau dalam hati merasa kesal.


Gol ?


Lounching ?


Sejenak pria paruh baya itu termenung mencerna maksud ucapan istrinya sebelum akhirnya kedua matanya membola lalu menatap wajah wanita didepannya yang sudah bertahun tahun selalu setia menemani hidupnya itu dengan tatapan jengah.


”Astaga sayang, papa pikir apaan.” Desahnya kasar sembari mengggaruk tengkuknya. ” Tidak perlu seheboh itu.”


”Harus dong, ini perdana pa. Ternyata anak kita itu benar benar masih normal. Mama kan takut kalau selama ini putra kita itu belok pa." Ujarnya berapi api.


Lagi pria paruh baya itu menghela nafas kasar menanggapi sikap heboh istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang daripada membahas anak nggak normal itu bagaimana kalau kita olahraga enak yang menguras keringat saja, hm.” Ucapnya sembari merangkul pundak istrinya lalu mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


”Ih..ingat umur pa. Udah tua masih saja mesum.” Cibirnya melirik suaminya yang menampilkan senyum mesumnya.


"Mesum mesum tapi kamu selalu senang kalau diajak mesum, malah suka minta tambah. Ayolah papa lagi stres ini butuh suntikan vitamin.” Desaknya dengan tangan yang sudah bergerilya kemana mana.


”Ini masih siang pa.” Tolaknya dengan berbagai macam alasan.


"Ngga perduli ma, mau siang, pagi atau malam, toh rasanya tetap sama, sama sama enak." Sambutnya ambigu lalu bergerak cepat mengunci pintu dan membawa sang istri menuju sofa yang ada diruangan tersebut.


Sementara Nyonya Nugraha sendiri hanya bisa pasrah meladeni suaminya yang saat ini begitu menginginkan dirinya. Toh menolak pun percuma karena pada akhirnya dia akan selalu menyerah karena rayuan maut suaminya itu begitu membuatnya terlena.


Tau begini menyesal dia sudah datang ke ruang kerja sang suami, keluhnya dalam hati.


Sementara itu Bian yang saat ini sudah berkumpul kembali dengan istrinya dan juga Chery sang adik, lagi lagi dibuat terkejut akan kedatangan seseorang yang membuat moodnya kembali berantakan. Siapa lagi kalau bukan sepupu lucknutnya yang saat ini sedang duduk santai di sofa dengan senyuman misteriusnya.


”Kenapa dengan wajahmu Bi ? Apa kau sedang merindukanku ?" Tanya Alvian dengan senyum smirknya.


”Jangan basa basi deh kak, aku tahu apa yang kau inginkan dariku.” Ketusnya dengan wajah jengah.


”Baguslah kalau kau sudah mengerti jadi aku tidak akan susah payah lagi mengatakannya padamu kan.” Balasnya santai. ” Lagipula bukankah seharusnya kau itu berterimakasih padaku ?”


”Berterimakasih untuk apa ya kak ?” Sela Cleo yang langsung membuat wajah Bian berubah panik.


Sial, dasar sepupu lucknut. Umpatnya dalam hati.


”Tentu saja dia harus berterimakasih karena.....”


”Apa yang harus aku lakukan kak ?” Potong Bian dengan wajah jengahnya sembari menatap sang kakak lucknutnya yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan.


Sementara Alvian yang mendapat pertanyaan dari sang adik tentu saja dia tidak akan pernah menyia nyiakan kesempatan yang ada. Dengan segera pria tampan paripurna itu berjalan sebentar keluar rumah dan tidak lama kemudian dia kembali masuk dengan membawa seseorang.

__ADS_1


” Kalian ----?”


TBC


__ADS_2