
Pria itu menatap sendu pada sosok wanita yang saat ini nampak berbaring lemah diranjangnya yang besar. Ada selang infus yang menempel dipunggung tangannya, dan lukanya pun sudah berhasil dibersihkan kembali.
Alvian Aditya Siregar, seorang pengusaha yang mampu bersaing dan meraih kesuksesan diusianya yang masih sangat muda, 27 tahun. Kerajaan bisnisnya merajalela hingga kepasar dunia, dan dia menduduki peringkat ketiga dari sepuluh orang terkaya didunia.
Alvian, putra dari sepasang suami istri keluarga Barra dan Tania Siregar. Namun sayang orangtuanya sudah lama meninggal saat dia berusia 10 tahun karena sebuah kecelakaan dan kini dia hanya hidup ditemani oleh nenek tercintanya, Tamara Siregar.
Ditinggal oleh kedua orangtuanya diusia yang masih sangat belia, dan juga tekanan dari sang nenek untuk mengelola perusahaan ayahnya mau tidak mau membuat pribadi Alvian kecil menjadi terbelenggu. Dan itu semua membuat pribadi Alvian yang sebelumnya adalah bocah belia yang begitu ceria, berubah drastis menjadi sosok orang yang dingin dan introvert.
Mengenal dunia bebas adalah hal yang biasa untuknya, apalagi wajahnya yang sangat rupawan, dengan rahangnya yang kokoh dan ditunjang dengan badannya yang kekar dan berotot. Warna kulit tubuhnya tidaklah putih layaknya seorang pria didalam novel, Alvian adalah pria tampan berkulit sawo matang, namun justru itulah yang membuat dirinya semakin digilai oleh lawan jenisnya.
Wajah dan kulitnya hampir mirip dengan aktor india Ram Charam. Bahkan ada yang sampai menyebutnya kembaran dari aktor tersebut.
Sosok dingin Alvian perlahan menyurut saat pertama kali bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik yang mampu membuat jantungnya bergetar. Pertama kali dia melihat Aira saat bertemu secara tidak sengaja disebuah restoran. Waktu itu Aira tidak sengaja menumpahkan minumannya kebaju Alvian.
Setelah kejadian tersebut, nampaknya Aira sudah lupa akan dirinya, namun tidak dengannya yang malah penasaran akan siapa sosok gadis tersebut. Alvian pun mulai mencari tahu siapa sosok Aira.
Dan kenyataan yang begitu mengejutkan dirinya saat dia berhasil mengetahui siapa jati diri sesungguhnya Aira. Pria itu begitu terkejut mengetahui bahwa Aira adalah seorang wanita malam. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah saat dia tahu penyebab gadis itu melakukan pekerjaan hina itu.
Alvian nampak memerah menahan amarah saat itu, entah kenapa terbongkarnya identitas Aira membuat sesuatu dalam dirinya seakan tidak terima. Dan malam itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia harus menuntaskan hasratnya pada seorang wanita malam. Hal yang selama ini tidak pernah dia lakukan, karena jika dia ingin melakukannya, Alvian mencari sosok yang benar benar bersih.
Satu kata yang dia rasakan saat pertama kali melakukannya dengan Aira, perfect. Alvian bahkan tidak menyangka jika servis gadis itu begitu luar biasa. Dan sejak malam itu dia terus saja memikirkan Aira, dan ada rasa ingin memiliki gadis itu, tidak perduli apa dan bagaimana kehidupan Aira.
Alvian tidak suka memainkan perasaan wanita. Jika dia memang menginginkannya, maka dia akan sekuat tenaga memperjuangkannya. Dan yang pertama kali yang harus dia lakukan adalah meminta restu sang nenek.
Dengan tanpa rasa takut sedikitpun, Alvian menceritakan keinginannya, dan tidak lupa dia memberikan selembar foto Aira pada oma Tamara. Saat dia menceritakan sosok Aira yang sebenarnya, Alvian sebenarnya pasrah saja jika sang nenek tidak memberinya restu. Namun siapa sangka reaksi yang diberikan neneknya ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dipikirannya.
"Semua orang pasti mempunyai sebab dan alasan kenapa mereka melakukan perbuatan hina itu. Pada dasarnya semua manusia itu sama , hanya satu yang membedakan, nasib, ya nasib seseorang yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya. Mendengar cerita tentang gadis ini, entah kenapa hati oma ikut merasakan kesedihan gadis itu. Cari dia dan bawa dia kehadapan oma, jika kamu serius makan oma akan menikahkan kalian berdua."
Alvian bersorak dalam hati, namun rasa senangnya berubah menjadi keputusasaan saat dia kehilangan sosok Aira. Semenjak malam itu dia kehillangan Aira, Alvian terus saja mencarinya. Dia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya namun usahanya sia sia. Hingga sampai hari ini tanpa disengaja mobilnya hampir menabrak seseorang.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya dia saat tahu orang yang hampir dia tabrak adalah Aira, gadis yang selama ini dia cari cari keberadaannya. Wajah yang tadinya senang langsung berubah panik saat melihat kondisi gadis itu yang terlihat mengenaskan. Dengan cepat Alvian menggendongnya masuk kedalam mobil dan membawanya pulang kemansionnya.
💕 💕 💕
Aira menggeliatkan tubuhnya pelan berusaha untuk melemaskan otot ototnya yang terasa kaku. Kedua matanya sedikit memicing saat dia mengedarkan pandangannya kesekeliling.
Ini rumah siapa ? Kenapa aku ada disini ?
Aira mencoba mengumpulkan memory ingatannya perlahan lahan. Namun sugguh gadis itu tidak bisa mengingat sama sekali. Malah kini kepalanya mendenyut sakit seakan ditusuk tusuk jarum.
"Kamu baik baik saja sayang ?"
Sebuah suara lembut terdengar dari balik pintu, nampak seorang wanita yang sudah berumur namun masih terlihat sisa kecantikannya sedang tersenyum manis padanya. Tubuh rentanya ditopang dengan sebuah tongkat kecil yang dia pegang ditangan kanannya.
"Ini dimana ? Lalu anda siapa Nyonya ?" Tanya Aira lirih.
Oma Tamara tersenyum lalu mengusap kepala Aira penuh kasih.
"Maksud Nyo..eh oma ?" Tanya Aira tidak mengerti.
"Apa kamu tidak mengingat sesuatu ?" Tanya Oma balik.
Aira terdiam berusaha mengingat ingat semuanya. Dan helaan nafas terdengar keluar dari hidungnya saat dia berhasil mengingat semuanya.
"Maaf oma, saya yang salah, tidak melihat kekanan dan kekiri saat mau menyebrang jalan. Apa cucu oma baik baik saja ? Tidak terjadi apapun kan oma ?" Tanyanya beruntun.
Oma Tamara melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Bagaimana mungkin gadis ini masih bisa mengkhawatirkan orang lain disaat dirinya sendiri sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
Melihat itu senyum Oma Tamara kembali terbit dibibirnya. Cucu kesayangannya memang tidak salah pilih, persetan dengan masalalu gadis itu yang buruk. Saat ini dia hanya menginginkan gadis ini untuk bisa menjadi cucu menantunya.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan cucu oma, palingan juga cuma gegar otak saja." Kicaunya sembari tertawa.
"Ck, jangan suka mengarang cerita oma, gimana kalau Al benar benar gegar otak seperti yang oma bilang." Sungut sebuah suara bass yang tiba tiba muncul dikamar besar tersebut.
Oma Tamara terkekeh pelan, lalu berdiri dan melangkah kearah sosok pria yang masih terlihat muda itu, siapa lagi jika bukan Alvian cucu tunggalnya.
"Gegar otak tidak akan sampai membuatmu lupa sama omamu ini nak." Goda oma Tamara pada cucunya.
"Tetap saja doa oma itu tidak bagus tahu." Gerutu sang cucu dengan wajah sok polosnya.
Oma Tamara masih tertawa, lalu dibantu oleh asistennya yang setia menemaninya kemanapun dia melangkah, Oma Tamara keluar dari kamar cucunya.
"Jaga calon cucuku, awas saja kalau kamu malah menyerangnya." Godanya lagi dengan kekehan yang semakin keras terdengar.
Alvian mendengus karena ulah omanya yang selalu menggodanya, namun sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan kecil. Melihat senyum omanya yang sudah lama tidak muncul membuat sudut hatinya merasa bahagia.
Alvian berdehem keras setelah menutup pintu kamarnya. Pandangannya beralih pada sosok gadis cantik yang saat ini sedang duduk bersender dihead badnya dengan mata menjurus padanya.
Alvian tersenyum lalu duduk dipinggiran ranjangnya dengan posisi menghadap wanitanya. Ya, semenjak dia menemukan Aira, Alvian sudah mengakuisisi Aira sebagai wanitanya, dan tidak mengijinkan siapapun untuk menyentuhnya bahkan sekedar meliriknya saja dia tidak akan pernah membiarkannya.
"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Alvian lembut dengan tangan yang mengusap lembut pipi Aira.
Aira mengrenyit, berusaha mengingat sosok pria didepannya yang agak familiar untuknya.
Melihat ekspresi bingung Aira membuat Alvian tersenyum tipis. Tanpa diduga oleh gadis itu, tiba tiba Alvian mengecup singkat bibir Aira, lalu menempelkan lagi dan sekarang sedikit m****tnya.
Aira melotot dengan perasaan yang bercampur aduk, jantungnya tiba tiba berdetak sangat kencang. Dan sekarang yang dia rasakan adalah pipinya memanas yang sudah dia duga jika sekarang pipinya itu pasti berubah merah.
"Apa kamu tidak mengingatku baby." Bisiknya mesra ditelinga Aira, lalu mata cokelatnya menatap penuh kelembutan pada gadis didepannya.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu baby."
TBC