
Dentuman musik DJ yang dimainkan oleh salah satu pegawai Marcell diclub milik pria itu terdengar keras membahana. Membuat lautan manusia yang ada dilantai bawah ikut bergoyang seirama musik. Begitu juga dengan gadis yang saat ini berada dimeja bar, tepatnya dihadapan Marcell.
"Ra.." Panggilnya keras, pasalnya suaranya bagaikan hilang ditelan kerasnya musik.
"Apa " Gadis itu membalas dengan suara yang tidak kalah keras.
"Ditunggu Tuan Alvian disofa sebelah sana." Ujarnya lagi dengan memberi isyarat dengan kepalanya.
Aira menoleh, lalu tersenyum manis pada sosok pria tampan yang melambaikan tangannya sembari memasang senyum manis. Aira bergegas menuju pria itu lalu segera duduk di pangkuannya setelah melabuhkan kecupan singkat dibibir pria tersebut.
"Aku merindukanmu Honey." Bisiknya sensual.
Aira tertawa lalu bergulir disebelah pria itu.
" Mau berangkat sekarang ?" Tanya pria tersebut.
"Boleh, tapi ijinkan aku ketoilet sebentar ya, aku janji tidak akan lama." Pintanya yang langsung diangguki kepala oleh Alvian.
Aira lalu bergegas menuju kekamar mandi untuk menuntaskan hajatnya yang sedari tadi dia tahan. Nafas lega terlihat jelas diwajahnya saat perutnya sudah kembali nyaman. Gadis itu membuka pintu kamar mandi lalu bergegas hendak kembali ketempat Alvian menunggunya.
Namun belum sempat kakinya melangkah, seseorang menarik tangannya kuat lalu mendekap erat tubuhnya. Aira berontak sekuat kuatnya, tapi tenaganya kalah besar dengan sosok pria dibelakangnya.
Ditengah berontak nya dia, tiba tiba pria itu membekap mulutnya yang sudah diberi obat bius didalam saputangan milik pria itu. Sedetik sebelum kesadarannya hilang, indra penciumannya menghirup aroma wangi tubuh, khas milik orang yang begitu dia kenal.
Sean,
Setelah itu Aira tidak mengingat apapun lagi. Tubuhnya lemas berada di gendongan pria tersebut yang membawanya keluar dari club tersebut.
***
Aira mengerjakan kedua matanya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruanghan tersebut. Ingin beranjak bangun tapi kepalanya terasa sangat pusing, sehingga membuatnya kembali roboh diatas pembaringan.
Aku dimana ?
Sekilas dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya. Kepingan ingatannya mulai bermunculan. Ingatannya melayang pada saat dia yang baru keluar dari toilet dan tiba tiba ada seseorang yang menarik tangannya lalu membiusmya.
Astaga, apa ada pria yang sudah memperkosaku ?
Gadis itu mulai meraba seluruh tubuhnya, mendesah lega saat dia tahu jika pakaiannya masih melekat utuh ditubuhnya.
__ADS_1
Siapa yang membawaku kesini ? Apa Sean ? Tadi aku sempet mencium wangi parfum pria itu. Semoga saja bukan dia.
Harapan tinggal harapan, nyatanya kenyataan tidak sesuai dengan apa yang hadis itu harapkan. Badannya membeku saat pintu kamar mandi terbuka dan memunculkan sosok Sean yang keluar dari sana hanya dengan berbalutkan sehelai handuk yang melilit pinggangnya.
Aira memalingkan wajahnya saat tidak sengaja tatapan keduanya bertemu, disana Sean nampak mengurai senyuman miring melihat Aira yang enggan menatapnya.
"Kau sudah bangun ?"
"Kenapa kau membawaku kemari." Ketus Aira dengan nada dingin.
Gadis itu bangun lalu berjalan menuju pintu setelah sebelumnya meraih tas selempangnya yang ada disofa. Dahinya mengernyit saat dia menarik handle pintu yang terasa sangat susah dibuka.
"Percuma, pintunya didesain khusus jadi hanya aku yang bisa membukanya." Ucap Sean santai sembari memakai celana didepan Aira.
Gadis itu menggeram keras hingga membuat urat diwajahnya yercetaak jelas. Terlihat sangat marah dengan api yang mulai berkobar.
"Buka pintunya."
"Akan kubuka."
"Bagus."
Deg
Hati Aira kembali berdenyut sakit, pria itu masih tetap bersikukuh terhadap dirinya.
"Tidak akan pernah."Tatapan kebencian terlihat jelas disana.
"Apa kau yakin ? Karena aku yakin kau sendiri yang akan datang menghampiriku."
"Jangan berharap, bahkan walau hanya sekedar dalam mimpi pun aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Sean menggeram lalu berjalan cepat kearah Aira dengan membawa selembar kertas yang gadis itu tahu adalah selembar cek.
"Apa kurangnya aku ? Bahkan aku bisa membayarmu tiga kali lipat dari yang diberikan oleh pelangganmu. Aku sudah bilang batalkan janjimu, dan layani aku semalaman. Dan ini cukup untuk membayar tubuhmu." Ucapnya dengan melempar selembar cek itu ditubuh Aira.
Aira terpaku dalam diam saat mendapat perlakuan yang begitu menginjak harga dirinya. Hatinya kembali teriris, setiap dia bertemu dengan pria itu hanya luka yang dia dapatkan.
Aira meraih cek tersebut yang didalamnya tertulis dengan nominal angka yang besar. Tiga ratus juta.
__ADS_1
Aira memejamkan matanya dengan hati yang sangat perih.
Jadi tubuhku kau hargai dengan nilai sebesar itu Se. Betapa menyedihkan hidupku ini. Orang yang kucintai menginjak harga diriku hingga hancur tak bersisa. Memang apa yang kuharapkan darimu Se. Aku terlalu bermimpi berharap mendapatkan cintamu. Dari awal kau memang hanya menginginkan tubuhku.
"Apa yang kau tunggu ? Cepat kemari dan mulai lakukan tugasmu. Aku dengar servismu begitu memuaskan Ra, jadi ayo puaskan aku maka aku akan menambah harga tubuhmu."
Lagi..lagi..dan lagi..pria itu menghempaskan hatinya berkali kali ke dasar jurang dengan tidak berperasaan. Aira harus bisa menahan airmatanya yang mendesak ingin keluar.
Melihat gadis itu hanya terdiam, Sean menjadi geram sendiri. Ditariknya tubuh Aira lalu dihempaskan kasar diatas ranjang. Bahkan pria itu mulai melucuti pakaian Aira dan juga dirinya.
Dengan kejamnya Sean mulai menyatukan dirinya dengan gadis itu dengan sangat kasar. Sementara Aira terlihat hanya diam seakan nyawanya tidak ada didalam raganya. Hati gadis itu sudah patah dan tidak bisa disatukan lagi.
"Aku membencimu Se. Sangat membencimu." Ucapnya saat berkali kali pria itu menghujamkan senjatanya dengan sangat ganasnya tanpa memperdulikan derai airmata yang sudah mengalir deras di pipi Aira.
Tubuh lemah itu bangun dengan sekujur tubuhnya yang terasa remuk dan hancur, sehancur hati dan perasaannya yang sudah tidak berbentuk. Mengabaikan Sean yang berbaring disampingnya, raga tanpa nyawa itu berjalan pelan menuju kamar mandi dengan langkah yang terseok seok.
Bahkan gadis itu membiarkan pintu kamar mandi terbuka lebar. Aira terus berjalan menuju bathup lalu merebahkan tubuhnya disana dengan shower yang mengalir derar membasahi ujung kepala hingga seluruh tubuhnya.
Diatas guyuran air mengalir Aira mencurahkan seluruh perasaannya yang sedari tadi dia tahan. Menangis tertahan dengan tangan yang terus berulang kali memukul dadanya yang sangat sesak dan sakit.
Sakit sekali, sungguh aku sangat hancur. Harga diriku benar benar tidak tersisa. Lalu untuk apalagi aku hidup didunia ini ? Aku begitu menjijikkan dan hina. Aku begitu kotor dan seperti sampah yang busuk. Sakit Tuhan sangat sakit.
Gadis itu terus menangis dalam guyuran air shower, mengabaikan tubuhnya yang semakin menggigil. Hingga pada akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya
Dengan tangan yang gemetar Aira meraih benda itu. Gadis itu memejamkan kedua matanya erat lalu setelah itu dia merasakan semakin lama kesadarannya semakin hilang hingga benar benar hilang.
Sementara sean yang sudah kembali memakai celana pendek dan kaosnya nampak mengernyit heran dengan tatapan matanya terus mengarah kekamar mandi. Mendadak pria tampan itu gelisah dengan sendirinya.
Ini sudah 30 menit lamanya, kenapa dia lama sekali. Apa yang dilakukan Aira didalam sana.
Karena sudah tidak sabar lagi, akhirnya Sean melangkah kekamar mandi. Lagi keningnya berkerut saat melihat pintu kamar mandi yang terbuka.
Dia tidak menutup pintunya.
Semakin penasaran Sean terus melangkah semakin kedalam. Seketika kedua matanya membelalak lebar dan bisa dia rasakan detak jantungnya sempat terhenti.
"AIRA !!"
TBC
__ADS_1