Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Berdamai dengan masa lalu ( Part 2 )


__ADS_3

Kantor Polisi


Sosok pria paruh baya dengan tubuhnya yang terlihat kurus itu, nampak sedang duduk meringkuk disudut ruangan jeruji besi. Kedua tangannya menekuk dan menyangga wajahnya yang ada diatas lututnya yang juga ikut tertekuk. Wajah pria itu terlihat menatap sendu dengan tatapan matanya yang kosong terarah kedepan.


Erick, pria itu entah apa yang ada dipikirannya saat ini, mungkin dia menyesali perbuatannya yang sudah dia lakukan pada menantu adiknya itu, atau mungkin dia menyesali sikapnya dulu yang tidak berani membela sang adik hanya karena takut orangtuanya akan membuangnya sama seperti ketika mereka membuang adiknya Barra dari keluarga besarnya.


Didalam renungannya, pria paruh baya itu teringat dengan sang mantan istrinya yang sudah meninggalkan dirinya dengan membawa serta putra semata wayangnya. Jujur saat ini dia sangat merindukan putranya yang dia sendiri tidak tahu dimana keberadaannya. Selama 28 tahun ini dia terus mencari berharap suatu saat bisa bertemu, namun sepertinya Monik benar benar menutup semua pintu akses untuk dirinya.


"Tuan Erick anda hari ini kami nyatakan bebas, ada yang menjamin kebebasan anda. Silahkan ikut dengan kami untuk menyelesaikan prosedur pembebasan anda." Ucap petugas polisi yang menangani kasus Erick.


"Siapa yang sudah membebaskan saya pak ?" Tanyanya dengan kening berkerut.


"Anda nanti bisa melihatnya sendiri Tuan, mereka sudah menunggu anda diruang tunggu." Jawabnya sembari membuka pintu sel.


Walau bingung Erick tetap saja mengikuti langkah kaki petugas polisi tersebut, ,menandatangani sejumlah berkas kebebasannya lalu setelah itu berjalan keluar ruangan setelah sebelumnya mengganti pakaiannya.


Di ruang tunggu...


Aira nampak tidak sabar menunggu kedatangan paman dari suaminya tersebut, wanita itu nampak berjalan mondar mandir kesana kemari layaknya setrikaan yang sedang dipakai. Diujung kursi  nampak  Alvian sedang duduk  dengan wajah cemas karena melihat sang istri yang tidak mau diam.


"Sayang tidakkah kau diam sejenak ? Kamu sedang hamil, jangan sampai anak kita kenapa kenapa kaena kamu yang kelelahan." Tegurnya pada sang istri.


Aira nyengir kuda, namun tetap saja wanita itu tidak berhenti melakukan kegiatannya walaupun sang suami sudah menegurnya, hanya saja dia mengurangi gerakannya saja.


"Maaf mas, aku hanya tidak sabar saja untuk bertemu dengan paman."


Alvian memutar bola matanya jengah, siapa yang punya paman, siapa yang bertingkah aneh. Tapi memang begitulah istrinya, dia akan merasa panik ataupun cemas berlebihan jika itu menyangkut tentang keluarganya, dan Alvian yang sudah hafal sifat istrinya itu hanya bisa membiarkan saja namun tetap mengawasinya.


Sementara itu disudut lainnya nampak Omnya Adi sedang menahan tawa melihat tingkah sepasang suami istri tersebut. Jika ditilik lebih cermat, sepertinya yang punya paman disini adalah Aira, karena justru gadis itu yang terlihat sangat gelisah ketimbang Alvian sendiri.


Namun tidak bisa dia pungkiri, disudut hatinya pria paruh baya itu merasa bahagia karena Aira yang terlihat begitu menyayangi keluarga suaminya itu. Tidak perduli apa dan bagaimana sikap keluarga Alvian padanya, Aira selalu menerimanya dengan senyuman yang begitu tulus. Dan dia patut bangga karena Alvian menikah dengan wanita yang mempunyai sisi kebaikan yang sangat besar.

__ADS_1


"Kalian ! Apa yang kalian lakukan disini ?"


Suara besar dan berat ,membuat mereka semua seketika menoleh secara serempak. Melihat dimana sosok Erick berdiri saat ini dengan kondisi tubuhnya yang semakin kurus, padahal pria itu baru beberapa hari berada dibalik jeruji besi.


"Paman." Pekik Aira sembari berjalan cepat kearah Erick. "Bagaimana keadaan paman selama disini ? Maaf Ara terlalu lama datang kemari paman. Apa paman baik baik saja ? Paman sehat kan ? Kenapa tubuh paman semakin kurus begini ?"


Diberondong pertanyaan yang tiada henti membuat Erick terkekeh kecil, istri keponakannya itu terlihat sangat menggemaskan dimataya.


"Satu satu kalau bertanya nak, paman sampai bingung mau menjawab yang mana dulu."


Aira nyengir lalu menggaruk tengkuknya dengan canggung, dia terlalu bahagia hingga tanpa sadar melemparkan pertanyaan bertubi tubi pada pamannya.


"Maaf paman Ara terlalu bahagia karena bertemu dengan paman." Cengirnya.


Erick tersenyum, lalu membelai kepala istri keponakannya itu dengan sayang, pria itu sebenarnya adalah sosok lelaki penyayang. Hanya saja karena masa lalunya yang begitu rumit membuatnya menjadi sosok yang pendendam.


"Kak."


Erick menoleh pada sang adik yang sedang berjalan menuju kearahnya. Pria itu memberikan senyuman tulus tanpa ada beban sedikitpun, sepertinya Erick benar benar sudah mengubur semua amarah dan juga dendam yang ada dihatinya selama ini. Selama beberapa hari dia berada di dalam penjara, rupanya pria itu memikirkan semua kejahatan yang sudah dia lakukan selama ini.


Seketika tuan Adi langsung menghambur kedalam pelukan kakaknya, menumpahkan semua kerinduan dan juga penyesalan selama beberapa tahun ini yang begitu menghimpit dadanya. Rasanya begitu tenang dan damai saat berada didalam pelukan sang kakak tercinta. Rasa itu masih sama seperti beberapa puluh tahun yang lalu.


"Maafkan aku kak, maaf atas semua perbuatan yang sudah aku lakukan padamu." Sesalnya dengan airmata yang sudah keluar dari sudut matanya.


"Apa yang kamu katakan Adi, seharusnya kakaklah yang meminta maaf pada kalian terutama Barra, sebagai seorang kakak tertua kakak tidak bisa melindungi kalian." Lirihnya.


"Apa kita masih bersaudara kak ?" Tanyanya konyol, Adi tetaplah Adi, walaupun usianya sudah tua dia tetaplah seorang adik kecilnya yang polos dimata Erick.


Pria itu tertawa terbahak bahak, melupakan jika saat ini mereka masih berada dikantor polisi.


"Kamu itu bicara apa, kamu tetaplah adikku yang sangat polos dimataku, bahkan aku masih ingat saat  kecil dulu kamu selalu menangis jika belum aku gendong." Celetuknya jahil membuat rona merah tercipta dipipi sang adik.

__ADS_1


"Setidaknya jangan mengungkit masa lalu yang sangat memalukan didepan anak anak kak, kau itu tetaplah seorang Erick yang menyebalkan." Gerutunya karena ulah sang kakak yang dengan seenaknya membuka aibnya dimasa lalu.


"Kenapa harus malu, bukankah itu adalah moment romantis kita sebagai saudara yang tidak mungkin bisa diulang kembali ? Bahkan sekarang aku merasa ragu apa masih bisa menggendongmu seperti dulu mengingat tubuhku sekarang yang sudah tidak sekuat dulu." Ujarnya dengan tersenyum simpul.


Tuan Adi terdiam, matanya memindai tubuh sang kakak yang memang banyak sekali mengalami perubahan, tubuh didepannya ini benar benar terlihat sangat kurus dan tidak terawat.


"Kau mungkin memang tidak bisa lagi menggendongku kak, tapi kau bisa menggenggam tanganku dengan erat dan bersama sama kita melewati masa tua kita. Aku ingin kenangan masa kecil kita dulu akan kembali kita ulangi bersama, mungkin caranya sedikit berbeda tapi percayalah rasa itu tetaplah sama."


Erick kembali tersenyum kemudian memeluk sang adik dengan erat, benar kata orang jika darah itu lebih kental dari apapun juga. Sekental hubungan persaudaraan mereka terlepas dari apapun yang menimpa diri mereka.


"Bagiku kau tetaplah kakakku yang selalu melindungi adik adikmu kak, seperti dulu saat kau selalu memasang badanmu untuk kami berdua saat kami melakukan kesalahan dan kau selalu melindungi kami dari amukan papa."


"Bagaimana lagi, aku mempunyai dua orang adik yang begitu nakal dan selalu membuatku repot."


Tuan Adi tersenyum lalu mengurai pelukan mereka.


"Mari kita lupakan masalalu kak, kedepannya jangan ada lagi pertikaian diantara kita. Kau akan ikut denganku, dan kita akan menghabiskan masa tua kita bersama sama." Tawarnya yang langsung diangguki kepala oleh kakaknya.


"Dan sayangnya aku tidak akan membiarkan rencana kalian berhasil Om." Sebuah suara bas berhasil membuat keduanya menoleh kearah sumber suara.


"Al..."


 


 


TBC


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2