Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Merusak suasana


__ADS_3

Pagi hari...


Senyuman yang merekah tidak pernah luntur dari wajah cantik Cleo yang kini sedang berjalan menuju ruangan bosnya sekaligus kekasihnya itu.


Kekasih ?


Membayangkannya saja sudah membuat wajahnya semakin merona dan tersipu malu. Bahkan semenjak berangkat tadi tidak henti hentinya dia tersenyum malu.


Cleo memandang sekeliling ruangan Bian yang sangat luas. Dan kini ruangan ini juga menjadi ruangannya atas keinginan lelaki itu. Bian yang mengatakan kalau dia tidak ingin jauh jauh darinya jadi memutuskan untuk menempatkan kekasihnya itu menjadi satu ruangan dengannya. Dan lagi lagi Cleo tidak bisa membantah ucapan pria yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat itu.


"Apa kamu begitu mencintaiku sampai sampai membayangkan wajahku didalam anganmu sayang." Bisik Bian ditelinga Cleo yang langsung membuat gadis itu terkejut seketika dengan pipi merona.


Blus


Wajahnya memanas dan sudah dipastikan jika saat ini kedua oipinya memerah.


"Kamu malu sampai wajahmu memerah begitu." Bisiknya lagi menggoda Cleo.


"Kak, apa sih." Elaknya sembari menyingkirkan wajah Bian yang berada disampingnya.


Bian terkekeh melihat kekasihnya yang malu malu bila didepannya tapi jika dibelakangnya diam diam Cleo selalu menatapnya dengan mata penuh cinta dan kagum.


Melihat pria itu yang malah tertawa seketika membuat Cleo memberengut manja. Dengan kesal gadis itu berusaha berdiri dan menjauh dari Bian. Namun baru saja kakinya hendak melangkah tiba tiba lengannya ditarik hingga tubuhnya masuk kedalam dekapan dada bidang milik Bian.


"Mau kemana ?" Suara pria itu kini malah terdengar seksi dan manja.


Kalau begini bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya coba.


"A-aku..."


"Hmm."


Cleo mendadak gugup saat pria itu menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut dan memuja. Membuatnya menjadi salah tingkah dengan jantung yang berdegup kencang.

__ADS_1


Cleo bergerak mundur seiring dengan langkah kaki Bian yang berjalan kedepan. Bahkan dia bisa menafsirkan tatapan aneh pria didepannya ini.


"Kakak mau apa ? Berhenti disitu." Ucapnya dengan gugup dan wajah ya g memucat.


Bian menulikan pendengarannya, pria itu semakin meju kedepan hingga dengan terpaksa Cleo pun melangkah mundur kembali. Hingga kini dia tidak mempunyai ruang lagi untuk bisa menghindar dari pria ini, gadis itu terduduk disofa yang ada diruangan Bian.


"Kenapa wajahmu pucat ?" Ujarnya dengan senyuman penuh misteri, bahkan pria itu kini sudah mengunci dirinya dengan tubuh besarnya itu. Kedua tangannya dia letakkan di kedua sisi kanan dan kiri Cleo, sehingga membuat gadis itu tidak bisa melarikan diri lagi.


"Kak, jangan begini." Lirihnya dengan kepala yang menoleh kearah samping ketika Bian semakin mendekatkan wajahnya dan kini nafas hangat pria itu menerpa pipinya.


"Jangan begini bagaimana sayang ? Memangnya aku ngapain kamu." Bisik suara Bian semakin menggoda Cleo.


Entah kenapa melihat rona merah dipipi kekasihnya itu mendatangkan perasaan senang dihatinya. Dia senang melihat raut wajah Cleo yang tersipu malu. Itu terlihat sangat menggemaskan dimatanga.


Dia begitu menggemaskan


Sementara Cleo sendiri saat ini berusaha menormalkan detak jantungnya yang semakin keras bertalu talu, bahkan gadis itu sampai khawatir jika terjadi sesuatu pada jantungnya.


Lama lama aku bisa mati duduk jika terus berdekatan dengannya


"Ekhem !"


Suara deheman dari arah pintu membuat Bian menghentikan godaannya dan langsung menatap tajam pria ya g saat ibi sedang berdiri dengan posisi tubuh yabg membelakangi mereka berdua. Sungguh ingin rasanya Bian mencekik pria sialan ini yang sudah berani mengganggu aktifitasnya. Apalagi jika mengingat bagaimana dulu Cleo yang begitu akrab dengannya ditambah dengan perlakuan pria ini yang sok bersikap romantis dan perhatian pada Cleo, semakin membuatnya ingin segera mengirim pria ini ke Benua Antartika.


"Apa kau tidak bisa menggunakan tanganmu itu untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Sepertinya aku harus mencari guru untuk mengajarimu sopan santun Rick." Sentaknya sembari memasang wajah kesal.


Ricko, pria itu terkekeh pelan melihat gerutuan bos sekaligus sahabatnya itu.


"Saya sudah mengetuk pintu sampai seratus kali bos, lihat tanganku bahkan sampai keriting tapi anda tidak juga mendengarnya." Jawabnya dengan mimik wajah dibuat buat.


"Katakan ada perlu apa kau datang kesini." Ketusnya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda bos, dia...."

__ADS_1


"Bian --"


Suara seorang wanita yang langsung menerobos masuk menghentikan ucapan Ricko yang bahkan belum selesai diucapkan. Pria itu mendengus kasar pada wanita yang saat ini sedang tersenyum dengan langkah gemulai menuju kearah Bian.


"Ada perlu apa kau kesini ?" Tatapan Bian mengrenyit heran bercampur kesal, dia menatap bergantian kearah Ricko seakan mengatakan kenapa membiarkan gadis ini masuk kedalam ruangannya.


Seakan mengerti maksud tatapan bosnya, Ricko hanya menggendikkan kedua bahunya acuh. Sementara itu Sherina yang tadinya tersenyum manis langsung berubah masam ketika melihat adanya wanita lain diruangan Bian, apalagi wanita itu kini sedang duduk disofa dengan tampilan yang sedikit berantakan.


Dengan senyum dibuat semanis mungkin, Sherina memandang Bian dengan tatapan memuja. Bahkan suaranya sebisa mungkin dia buat manja dan lembut mendayu.


"Bi, ayo kita makan bersama. Aku sengaja kemari karena ingin makan siang bersamamu." Ujarnya sembari tangannya yang tiba tiba menggelayut manjaa dileher kokoh Bian, seakan menunjukkan pada Cleo kalau pria ini adalah miliknya.


Cleo melotot melihat Bian yang diam saja dipeluk sedemikian rupa oleh nenek lampir didepannya ini. Membuat bara api dihatinya langsung memanas dan seketika bergemuruh. Namun bukan Cleo namanya jika dia mudah terpengaruh oleh adegan dua orang didepannya ini.


Cleo yang sudah terbiasa hatinya tersakiti hanya bisa menatap datar wajah Bian, walau jujur rasa sesak itu ada, namun sekuat tenaga dia berusaha untuk menutupinya.


Berbeda jauh dengan Ricko yang melihat perubahan wajah Cleo yang mendadak muram, walau ada rasa iba dihatinya namun tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Dia hanya bisa menatap Cleo dan berharap semoga gadis itu baik baik saja.


Tatapannya beralih pada Sherina yang masih bergelayut manja dan Bian yang hanya diam tanpa berniat untuo melepaskan belitan tangan wanita itu. Membuat Ricko merasa geram sendiri dan kesal karena sikap Bian yang menurutnya tidak peka sama sekali.


Cleo berdiri dari duduknya, dia memilih keluar dari tempat yang membuat hatinya sesak ini. Lebih baik dia berkutat dengan beberapa porsi makanan daripada dia harus melihat kemesraan yang bisa membuat hatinya semakin panas saja.


"Tuan, saya ijin keluar sebentar. Sepertinya anda tidak bisa diganggu hari ini." Ujarnya dengan menampilkan seulas senyuman tipis.


"Baguslah kalau kamu sadar, keberadaanmu disini jelas mengganggu kami." Ketus Sherina dengan pandangan tidak suka menatap Cleo.


Cleo tersenyum kecil lalu mulai berjalan menuju pintu keluar. Namun baru satu langkah, cekelan kuat dipergelangan tangannya membuat langkahnya harus terhenti.


"Kamu memang harus keluar, keberadaanmu sangat mengganggu kami berdua disini." Ketus Bian dengan suara dingin dan tatapan datarnya yang langsung membuat wajah gadis itu terpaku.


TBC


Mulai besok jadwal update mam akan dibagi 2 kali dalam seminggu ya. yaaitu setiap hari selasa dan sabtu..

__ADS_1


terima kasih.


__ADS_2